Yayasan Tunas Ilmu Purbalingga

Hikmah dalam berdakwah

ungkapan cinta kepada rasulullah

October 18, 2014
by
0 comments

UNGKAPAN CINTA PADA RASUL shallallahu’alaihiwasallam

Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc, MA

Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 29 Dzulhijjah 1432 / 25 November 2011

 

KHUTBAH PERTAMA:

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.

“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah…

Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.

Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…

Cinta merupakan sesuatu yang membutuhkan pembuktian dan memiliki pertanda, agar cinta tersebut tidak menjadi klaim dan pengakuan kosong belaka. Di antara pertanda besar kecintaan seseorang kepada sesuatu, ia akan sering menyebut dan memujinya.

Cinta kepada Rasul shallallahu’alaihiwasallam adalah merupakan salah satu amalan yang diwajibkan dalam agama kita, bahkan kecintaan tersebut harus mengalahkan kecintaan kepada seluruh insan selain beliau, siapapun ia.

Cinta Rasul shallallahu’alaihiwasallam ini membutuhkan pembuktian dan memiliki pertanda. Baik itu melalui lisan, hati maupun amalan keseharian seorang hamba. Di antara pertanda terbesarnya dalam lisan, seorang insan tidak akan membiarkan hari-harinya lewat begitu saja tanpa menyebut nama beliau, mendoakan dan memujinya. Doa serta pujian tersebut, lazim diistilahkan dalam bahasa syariat dengan shalawat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepada beliau”. QS. Al-Ahzab: 56.

Maksud ayat ini, kata Imam Ibn Katsir dalam Tafsirnya[1], “Allah ta’ala memberitahu para hamba-Nya akan kedudukan Rasulullah di sisi-Nya di hadapan para malaikat. Di mana Allah memuji beliau di hadapan mereka, begitu pula mereka bershalawat kepada beliau. Lalu Allah ta’ala memerintahkan kepada para penghuni bumi untuk bershalawat dan mengucapkan salam kepada beliau; agar berpadu pujian para penghuni langit dan para penghuni bumi semuanya untuk beliau”.

Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati

Membaca shalawat kepada Rasul shallallahu’alaihiwasallam merupakan suatu ibadah mulia yang bertabur pahala dan keistimewaan. Sehingga amat merugilah orang yang tidak memperbanyak amalan ini semasa hidupnya. Di antara ganjaran istimewa yang disediakan untuk mereka yang gemar membaca shalawat:

Keistimewaan pertama: Orang yang bershalawat dijanjikan pahala berlipat ganda

Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

“صَلُّوا عَلَيَّ؛ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً؛ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا”

“Bershalawatlah kalian padaku. Sesungguhnya barang siapa bershalawat padaku satu kali niscaya Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali”. HR. Muslim (I/288-289 no. 384) dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma.

Dalam kitab Tuhfah al-Ahwadzi, al-Mubarakfuri menjelaskan, bahwa maksud dari shalawat Allah untuk para hamba-Nya adalah: Allah akan merahmati mereka dan melipatgandakan pahalanya.

Keistimewaan kedua: Orang yang bershalawat akan dihapuskan banyak dosanya dan ditinggikan derajatnya

Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam menerangkan, 

“مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً؛ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ، وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ”

“Barang siapa bershalawat padaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali, akan dihapuskan sepuluh dosanya dan akan diangkat derajatnya sepuluh tingkatan”. HR. An-Nasa’i dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim.

Subhanallah, dengan amalan yang ringan, seorang hamba bisa mengurangi tumpukan dosa yang membebaninya, juga meninggikan derajatnya di surga yang luasnya melebihi langit dan bumi. Betapa besar karunia dan belas kasih Allah kepada para hamba-Nya. Namun amat disayangkan kebanyakan manusia tidak menyadarinya!

Keistimewaan ketiga: Shalawat merupakan salah satu sebab terkabulnya doa hamba

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

“كُلُّ دُعَاءٍ مَحْجُوْبٌ حَتَّى يُصَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”

“Setiap doa akan terhalang (untuk dikabulkan) hingga dibacakan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya”. HR. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albany.

Umar bin Khatthab radhiyallahu’anhu memperjelas maksud hadits di atas,

“إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، لَا يَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ، حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”

“Sesungguhnya doa itu akan tertahan di antara langit dan bumi, tidak akan diangkat; hingga engkau bershalawat kepada Nabimu shallallahu’alaihiwasallam”. Diriwayatkan oleh Tirmidzy dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany.

Jadi setiap doa yang dilantunkan hamba tidak akan diangkat kehadapan Allah tabaraka wa ta’ala sampai disertai dengan shalawat. Sebab shalawat merupakan pengantar terkabulnya sebuah doa. Demikian keterangan al-Munawy dalam Faidh al-Qadîr.

Karena itu, para ulama telah berijma’, sebagaimana dinukil Imam Nawawy dalam al-Adzkâr, bahwa sebelum berdoa disunnahkan bagi seorang muslim untuk memanjatkan pujian kepada Allah ta’ala dan membaca shalawat kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam.

Keistimewaan keempat: Shalawat adalah salah satu sarana untuk meraih syafa’at Rasul shallallahu’alaihiwasallam

Dalam Shahih Muslim disebutkan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ؛ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ؛ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ. فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ”

Dari Abdullah bin ’Amr radhiyallahu’anhuma, bahwa beliau mendengar Nabi shallallahu’alaih wasallam bersabda, ”Jika kalian mendengar muadzin maka tirukanlah ucapannya, kemudian bershalawatlah kepadaku. Sesungguhnya orang yang bershalawat padaku sekali; maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Lalu mintakanlah kepada Allah wasilah untukku, karena wasilah adalah sebuah tempat di surga yang tidak akan dikaruniakan melainkan kepada salah satu hamba Allah. Dan aku berharap bahwa akulah hamba tersebut. Barang siapa memohonkan untukku wasilah, maka ia akan meraih syafa’at”.

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…

Satu saja dari berbagai keutamaan di atas telah cukup untuk memotivasi kita guna memperbanyak bershalawat kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Bagaimana halnya jika masih banyak keutamaan lain selain apa yang tersebut di atas. Maka perbanyaklah membaca shalawat kepada Sayyidina Muhammad shallallahu’alaihiwasallam, apalagi di hari istimewa ini; hari Jum’at.

Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,

“إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ … فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ”

“Sesungguhnya di antara hari-hari kalian yang paling istimewa adalah hari Jum’at … Maka perbanyaklah membaca shalawat untukku di dalamnya”. HR. Abu Dawud dari Aus bin Aus radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Hakim, Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban.

أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

KHUTBAH KEDUA:

الحمد لله الواحد القهار، الرحيمِ الغفار، أحمده تعالى على فضله المدرار، وأشكره على نعمه الغِزار، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له العزيز الجبار، وأشهد أن نبينا محمداً عبده ورسوله المصطفى المختار، صلى الله عليه وعلى آله الطيبين الأطهار، وإخونه الأبرار، وأصحابه الأخيار، ومن تبعهم بإحسان ما تعاقب الليل والنهار

Jama’ah Jum’at rahimakumullah

Sebagaimana telah maklum, berdasarkan dalil dari al-Qur’an dan Sunnah juga keterangan para ulama Islam, bahwa setiap ibadah, agar diterima di sisi Allah jalla wa ‘ala harus memenuhi dua syarat. Yakni; menjalankannya secara ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam.[2]

Berhubung shalawat merupakan ibadah dan amal shalih, maka supaya amalan tersebut diterima oleh Allah ‘azza wa jalla; harus pula terpenuhi dua syarat tersebut di atas, yakni ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasul shallallahu’alaihiwasallam.

Ikhlas dalam bershalawat berarti:

-                   Semata-mata mengharapkan dari amalan tersebut ridha Allah ta’ala dan pahala dari-Nya. Bukan dalam rangka unjuk gigi kekuatan massa atau menonjolkan fanatisme golongan.

-                   Redaksi shalawat yang dilantunkan tidak mengandung unsur-unsur yang bertentangan dengan prinsip ikhlas. Atau dengan kata lain: tidak berbau kesyirikan dan kekufuran, semisal istighatsah kepada selain Allah, menisbatkan sesuatu yang merupakan hak prerogatif Allah kepada selain-Nya dan yang semisal. Aturan kedua ini tentunya diterapkan atas redaksi shalawat buatan selain Rasul shallallahu’alaihiwasallam. Adapun jika redaksi shalawat itu bersumber dari sosok yang maksum shallallahu’alaihiwasallam, maka ini di luar konteks pembicaraan kita; sebab tidak mungkin Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan sesuatu yang berisi kesyirikan.

Adapun meneladani Rasul shallallahu’alaihiwasallam dalam bershalawat maknanya adalah:

-  Mencontoh shalawat yang diajarkan beliau dan tidak melampaui batas sehingga memasuki ranah ghuluw (sikap ekstrim) dan lafaz syirik.

-  Bershalawat pada momen-momen yang beliau syariatkan.[3]

- Memperbanyak membaca shalawat semampunya, dalam rangka mengamalkan firman Allah ta’ala dalam QS. Al-Ahzab: 56 dan sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, tersebut di atas.

-  Tidak menambahkan aturan-aturan baru dalam pembacaan shalawat, yang sama sekali tidak ada landasannya dari al-Qur’an maupun hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam.

Ibn Hajar al-Haitamy rahimahullah (909-974 H) menasehatkan, bahwa pengagungan terhadap Nabi shallallahu’alaihiwasallam hendaknya dengan sesuatu yang ada dalilnya dan yang diperbolehkan, jangan sampai melampaui batas tersebut.[4]

ألا وصلوا وسلموا -رحمكم الله- على الهادي البشير، والسراج المنير، كما أمركم بذلك اللطيف الخبير؛ فقال في محكم التنـزيل: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…

 

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 29 Dzulhijjah 1432 / 25 November 2011


[1]  (VI/457).

[2]  Baca antara lain: Tafsîr ar-Râzy (XX/180) dan Tafsîr Ibn Katsîr (I/385).

[3] Dalam kitabnya Jalâ’ al-Afhâm (hal. 380-520) Ibn al-Qayyim menyebutkan 41 momen disyariatkannya membaca shalawat kepada Rasul shallallahu’alaihiwasallam.

[4] Periksa: Al-Jauhar al-Munazham fî Ziarah Qabr an-Nabi shallallahu’alaihiwasallam wa Karram (hal. 64) dinukil dari Ârâ’ Ibn Hajar al-Haitamy al-I’tiqâdiyyah ‘Ardh wa Taqwîm fî Dhau’I ‘Aqîdah as-Salaf karya Muhammad bin Abdul Aziz asy-Syayi’ (hal. 450).

Kisah wafatnya Rosulullah

October 18, 2014
by
0 comments

SEPENGGAL KISAH WAFATNYA RASULULLAH shallallahu’alaihiwasallam

Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc, MA

 

KHUTBAH PERTAMA:

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.

“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah…

Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.

Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…

Banyak kejadian sejarah yang meninggalkan pesan, kesan dan pelajaran berharga untuk kita. Apalagi seandainya obyek sejarah tersebut adalah orang-orang besar. Terlebih lagi jika sejarah itu berbicara tentang manusia teragung sepanjang masa; Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Namun demikian, realita yang ada amatlah memprihatinkan. Sejarah Nabi shallallahu’alaihi wasallam dibaca hanya di ritual-ritual tertentu yang amat jarang, yang dalam setahun bisa dihitung dengan jari.

Ini baru intensitas pembacaannya yang dikritisi. Belum jika kita cermati sejauh mana pesan sejarah tersebut digali, dipahami lalu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari? Ironis memang, di tengah gempuran dahsyat budaya dan peradaban barat, masih banyak kalangan yang kerap berkomat-kamit membaca sejarah nabinya hanya bagaikan mantra-mantra yang tidak dipahami maknanya. Hanya kepada Allah sajalah kita mengadu…

Hadirin dan hadirat rahimakumullah…

Di antara penggalan sejarah yang bertaburkan banyak hikmah mulia dan pesan istimewa; kejadian meninggalnya Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam.

Peristiwa wafatnya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam merupakan musibah terbesar umat ini dan menorehkan duka yang begitu mendalam di hati mereka. Namun detik-detik peristiwa wafatnya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dan berbagai kejadian di hari-hari terakhir beliau di dunia yang fana ini, memberikan begitu banyak pelajaran berharga untuk kita.[1]

Saat beliau menderita sakit parah menjelang wafatnya, para sahabat datang silih berganti untuk membesuk. Di antara mereka, adalah Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu. Dia bercerita,

“دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُوعَكُ، فَوَضَعْتُ يَدِي عَلَيْهِ، فَوَجَدْتُ حَرَّهُ بَيْنَ يَدَيَّ فَوْقَ اللِّحَافِ”.

“Aku mengunjungi Nabi shallallahu’alaihiwasallam, saat beliau dalam keadaan sakit parah. Aku pun meletakkan tanganku di atasnya. Hingga aku bisa merasakan panasnya tubuh beliau, padahal saat itu aku meletakkan tanganku di atas selimut yang dipakainya”. HR. Ibnu Majah (IV/111 no. 4096 no. 4096) dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Bushiry.

Dalam kondisi separah itu, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam masih tetap pergi ke masjid untuk mengimami para sahabatnya. Ummul Fadhl radhiyallahu’anha bercerita,  

“خَرَجَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَاصِبٌ رَأْسَهُ فِي مَرَضِهِ، فَصَلَّى الْمَغْرِبَ فَقَرَأَ بِالْمُرْسَلَاتِ. قَالَتْ: فَمَا صَلَّاهَا بَعْدُ حَتَّى لَقِيَ اللَّهَ”.

“Saat sakit, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam keluar (dari rumahnya) menuju ke kami (yang saat itu sedang menunggu di masjid). Beliau mengikatkan kain di kepalanya (untuk mengurangi rasa pening). Lalu beliau mengimami kami shalat Maghrib, dan membaca surat al-Mursalat. Itulah shalat Maghrib terakhir beliau sebelum bertemu dengan Allah”. HR. Tirmidzy (hal. 86 no. 308) dan dinyatakan hasan sahih oleh beliau.

Perlu dicatat di sini bahwa surat al-Mursalat terdiri dari lima puluh ayat!

Sidang Jum’at yang diberkahi Allah…

Bagaimana dengan hari-hari terakhir beliau setelah menunaikan shalat di rumahnya? Mari kita dengarkan Ummul mukminin Aisyah radhiyallahu’anha mengisahkannya,

“ثَقُلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: “أَصَلَّى النَّاسُ؟”. قُلْنَا: “لَا هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ”. قَالَ: “ضَعُوا لِي مَاءً فِي الْمِخْضَبِ”. قَالَتْ: فَفَعَلْنَا فَاغْتَسَلَ فَذَهَبَ لِيَنُوءَ فَأُغْمِيَ عَلَيْهِ.

ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَصَلَّى النَّاسُ؟” قُلْنَا: “لَا، هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ”. قَالَ: “ضَعُوا لِي مَاءً فِي الْمِخْضَبِ” قَالَتْ فَقَعَدَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ ذَهَبَ لِيَنُوءَ فَأُغْمِيَ عَلَيْهِ.

ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ: “أَصَلَّى النَّاسُ؟” قُلْنَا: “لَا هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ”. فَقَالَ: “ضَعُوا لِي مَاءً فِي الْمِخْضَبِ” فَقَعَدَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ ذَهَبَ لِيَنُوءَ فَأُغْمِيَ عَلَيْهِ.

ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ: “أَصَلَّى النَّاسُ؟” فَقُلْنَا: “لَا هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ” وَالنَّاسُ عُكُوفٌ فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُونَ النَّبِيَّ عَلَيْهِ السَّلَام لِصَلَاةِ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ, فَأَرْسَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ بِأَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ. فَأَتَاهُ الرَّسُولُ فَقَالَ: “إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُكَ أَنْ تُصَلِّيَ بِالنَّاسِ” فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ, وَكَانَ رَجُلًا رَقِيقًا: “يَا عُمَرُ صَلِّ بِالنَّاسِ” فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: “أَنْتَ أَحَقُّ بِذَلِكَ” فَصَلَّى أَبُو بَكْرٍ تِلْكَ الْأَيَّامَ.

 “Saat sakit Nabi shallallahu’alaihiwasallam semakin parah, beliau berkata, “Sudah shalatkah orang-orang?”.

“Belum, mereka menunggumu” jawab kami.

“Ambilkan untukku air di ember” perintah beliau.

Kami segera melakukan perintahnya, lalu beliau mandi. Tatkala akan bangkit berdiri, beliau tidak sadarkan diri.

Kemudian saat siuman beliau bertanya, “Sudahkah orang-orang shalat?”.

“Belum, mereka menunggumu wahai Rasulullah” jawab kami.

“Ambilkan untukku air di ember” perintah beliau.

Beliau duduk lalu mandi. Tatkala akan bangkit berdiri, beliau kembali tidak sadarkan diri.

Setelah siuman beliau bertanya, “Sudahkah orang-orang shalat?”.

“Belum, mereka menunggumu wahai Rasulullah” jawab kami.

“Ambilkan untukku air di ember” perintah beliau.

Beliau duduk lalu mandi. Tatkala akan bangkit berdiri, beliau kembali tidak sadarkan diri. Kemudian saat siuman beliau bertanya, “Sudahkah orang-orang shalat?”.

“Belum, mereka masih menunggumu wahai Rasulullah” jawab kami.

Saat itu para sahabat berdiam di masjid menunggu kedatangan Nabi shallallahu’alaihiwasallam untuk mengimami shalat Isya di akhir malam.

Nabi shallallahu’alaihiwasallam mengirim utusan ke Abu Bakar, memerintahkan beliau mengimami orang-orang.

Utusan Rasul mendatangi Abu Bakar seraya berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menginstruksikan padamu agar engkau mengimami kaum muslimin”.

Abu Bakar adalah seorang yang amat perasa, beliau berkata, “Wahai Umar imamilah mereka!”.

“Engkau lebih pantas untuk itu”.

Abu Bakar pun mengimami kaum muslimin hari-hari itu”. HR. Bukhari (hal. 138 no. 687).

Pembantu kesayangan Rasul shallallahu’alaihiwasallam; Anas bin Malik radhiyallahu’anhu menambahkan,

“أَنَّ أَبَا بَكْرٍ كَانَ يُصَلِّي لَهُمْ فِي وَجَعِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ، حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمُ الِاثْنَيْنِ وَهُمْ صُفُوفٌ فِي الصَّلَاةِ، فَكَشَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتْرَ الْحُجْرَةِ يَنْظُرُ إِلَيْنَا، وَهُوَ قَائِمٌ، كَأَنَّ وَجْهَهُ وَرَقَةُ مُصْحَفٍ، ثُمَّ تَبَسَّمَ يَضْحَكُ، فَهَمَمْنَا أَنْ نَفْتَتِنَ مِنْ الْفَرَحِ بِرُؤْيَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَكَصَ أَبُو بَكْرٍ عَلَى عَقِبَيْهِ لِيَصِلَ الصَّفَّ، وَظَنَّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَارِجٌ إِلَى الصَّلَاةِ، فَأَشَارَ إِلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتِمُّوا صَلَاتَكُمْ، وَأَرْخَى السِّتْرَ، فَتُوُفِّيَ مِنْ يَوْمِهِ”.

“Saat Nabi shallallahu’alaihiwasallam sakit menjelang wafatnya, Abu Bakar lah yang mengimami para sahabat.

Ketika masuk hari Senin, saat itu para sahabat sedang duduk berbaris-baris menunggu shalat. Tiba-tiba Nabi shallallahu’alaihiwasallam membuka tirai pintu rumahnya untuk melihat kami. Beliau berdiri, wajahnya (bersinar indah) bagaikan kertas mushaf. Lalu beliau tersenyum bahagia. Hampir saja kami bubar karena amat bergembira melihat Nabi shallallahu’alaihiwasallam.

Abu Bakar bergerak mundur untuk bergabung dengan shaf para makmum, Karena mengira bahwa Nabi shallallahu’alaihiwasallam akan keluar untuk shalat. Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengisyaratkan agar kami meneruskan shalat. Lalu menutup tirai pintunya dan wafat pada hari itu”. HR. Bukhari (hal. 136 no. 680).

Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…   

Pelajaran berharga yang bisa dipetik bertaburan dalam sepenggal kisah wafatnya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam tersebut di atas.

Di antara pelajaran yang terpenting adalah: betapa besar perhatian beliau terhadap perkara shalat. Di shalat Maghrib, yang merupakan shalat terakhir beliau mengimami kaum muslimin, dalam kondisi sakit yang luar biasa parahnya, beliau membaca surat al-Mursalat, yang panjangnya 50 ayat!

Bagaimana dengan kebanyakan kita, yang selalu memilih surat-surat pendek, terutama saat shalat sendirian. Sehingga hampir-hampir selama sekian puluh tahun melakukan shalat, surat yang dibaca tidak lepas dari al-Ikhlas, al-‘Ashr dan al-Kautsar. Panjang-panjangnya: surat al-Falaq dan an-Nas!

Kemudian, lihatlah bagaimana perjuangan Nabi shallallahu’alaihiwasallam agar bisa menunaikan shalat Isya bersama para sahabatnya! Beliau ‘jatuh-bangun’, dan sempat tidak sadarkan diri tiga kali, serta mandi hingga berkali-kali, demi menyegarkan tubuhnya, supaya bisa ke masjid! Padahal sebenarnya, seorang insan yang dalam kondisi sakit seperti itu, ia berhak mendapatkan keringanan untuk shalat di rumah.

Bagaimana dengan kita yang kerap ogah-ogahan ke masjid? Shalat sering dikalahkan dengan tugas kantor, pekerjaan sekolah, menjaga toko, menunggu sawah dan seabreg urusan duniawi lainnya.

Tubuh sehat dan badan bugar, namun masih sering enggan pergi ke masjid! Bahkan mungkin ada sebagian orang yang tatkala ditegur mengapa tidak ke masjid, dia menjawab, “Sedang sakit!”. Manakala ditanya apa sakitnya, dengan enteng dia menimpali, “Sakit panu!”. Hanya kepada Allah sajalah kita mengadu..

Bandingkan dengan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam yang saat menderita sakit parah seperti itu tetap berusaha pergi ke masjid, walaupun harus dipapah oleh dua orang sahabat. Aisyah radhiyallahu’anha mengisahkan,

فَوَجَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ نَفْسِهِ خِفَّةً فَخَرَجَ يُهَادَى بَيْنَ رَجُلَيْنِ كَأَنِّي أَنْظُرُ رِجْلَيْهِ تَخُطَّانِ مِنْ الْوَجَعِ

“(Suatu hari) Nabi shallallahu’alaihiwasallam merasa agak mendingan, maka beliaupun keluar (menuju masjid) dengan dipapah dua orang. Aku melihat kedua kakinya tidak menapak tanah karena sakit yang dideritanya”. HR. Bukhari.

Semoga sepenggal kisah wafat Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bisa memberikan inspirasi pada kita untuk lebih meningkatkan kembali perhatian kita pada ibadah amaliah teragung dalam Islam, yakni: shalat.

Amîn yâ Mujîbas sâ’ilîn…

نفعني الله وإياكم بالقرآن العظيم، وبسنة سيد المرسلين.

أقول قولي هذا، وأستغفره العظيم الجليلَ لي ولكم، ولجميع المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه؛ إنه هو الغفور الرحيم…

Khutbah Kedua

الحمد لله الواحد القهار، الرحيمِ الغفار، أحمده تعالى على فضله المدرار، وأشكره على نعمه الغِزار، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له العزيز الجبار، وأشهد أن نبينا محمداً عبده ورسوله المصطفى المختار، صلى الله عليه وعلى آله الطيبين الأطهار، وإخونه الأبرار، وأصحابه الأخيار، ومن تبعهم بإحسان ما تعاقب الليل والنهار.

Kaum muslimin dan muslimat yang kami cintai…

Di antara bentuk perhatian ekstra Nabi shallallahu’alaihiwasallam kepada perkara shalat, wasiat beliau kepada para orang tua agar memperhatikan pendidikan shalat untuk putra-putri mereka.

Beliau berpesan,

“مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْر”.

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat saat berumur tujuh tahun, dan pukullah jika enggan saat mereka berumur sepuluh tahun”. HR. Abu Dawud (I/239 no. 495) dan dinilai sahih oleh al-Albani[2].

Alangkah indahnya saat adzan dikumandangkan, para bapak beserta putra-putranya berbondong-bondong menuju ke masjid memenuhi panggilan suci itu.

Namun kenyataan yang ada saat ini amat menyedihkan! Betapa banyak anak-anak yang telah berusia dewasa, sama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya ke masjid! Apakah kiranya jawaban yang dipersiapkan orang tua mereka, manakala kelak ditanya oleh Allah tabaraka wa ta’ala di padang mahsyar, tentang amanah anak yang telah diembankan-Nya pada mereka?

هذا؛ وصلوا سلموا -رحمكم الله- على سيد الأولين والآخرين، كما أمركم بذلك رب العالمين، فقال تعالى قولاً كريماً: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Rajab 1432 / 3 Juni 2011



[1]

[2] Sebagaimana dalam Irwâ’ al-Ghalîl (I/266 no. 247).

Persatuan umat islam

October 18, 2014
by
0 comments

PERSATUAN UMAT ISLAM; DARI MIMPI MENUJU KENYATAAN

Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc, MA

Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 5 Shafar 1433 / 30 Desember 2011

 

KHUTBAH PERTAMA:

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.

“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah…

Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.

Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…

Tentu banyak di antara kita yang masih ingat, salah satu falsafah hidup yang kerap diajarkan oleh bapak dan ibu guru di sekolah dulu, yang juga merupakan warisan turun menurun nenek moyang kita dari zaman ke zaman. Yaitu: perumpamaan tentang sapu lidi. Sebuah perumpamaan yang sederhana namun penuh dengan makna.

Sebatang lidi tidak akan ada artinya bagi tumpukan sampah yang menggunung. Sebatang lidi tidak akan membersihkan sampah di sekeliling kita. Bahkan bukan tidak mungkin sebatang lidi akan patah-patah bila dipaksa menjadi alat pembersih. Namun tidak demikian, bila batangan-batangan lidi itu dikumpulkan menjadi satu lalu diikat di pangkalnya. Tenaga yang kecil dari sebatang lidi akan menjadi kekuatan yang besar bila menyatu dalam satu kesatuan yang terikat kokoh dengan kebersamaan. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, itulah filosofinya.

 Kehidupan manusia dapat berjalan baik, sebagaimana sebuah sapu lidi, jika manusia mempererat ikatannya. Disadari ataupun tidak, manusia membentuk kumpulan berdasarkan ikatan tertentu. Umat Islam merupakan kumpulan dari para muslim yang terikat oleh kesamaan akidah.

Persatuan antar umat Islam dan ukhuwah islamiyyah merupakan salah satu prinsip yang amat mendasar dalam agama kita. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memotivasi kita untuk merealisasikannya dalam sabdanya,

“كُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا! الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ”.

“Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak boleh ia menzaliminya, menterlantarkannya dan menghinanya. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Persatuan akan menghasilkan begitu banyak manfaat. Persatuan akan membuahkan kekuatan, persatuan akan menumbuhkan ketenangan batin, persatuan akan memunculkan solidaritas, persatuan akan membangun empati dan kepedulian sosial dan masih banyak buah manis lain yang akan dihasilkan oleh persatuan.

Karenanya, begitu banyak ibadah dalam agama kita yang disyariatkan untuk dilaksanakan secara berjamaah. Dari ibadah yang bersifat harian, seperti shalat lima waktu, mingguan semisal shalat jum’at, hingga yang bersifat tahunan seperti idhul fitri, idhul adha serta pelaksanaan ibadah haji.

Mengapa berjama’ah? Antara lain adalah dalam rangka merealisasikan persatuan dan meretas kebersamaan serta kasih sayang di antara kaum muslimin.[1]

Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati

Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam membuat sebuah perumpamaan yang sangat indah, tentang bagaimana seharusnya kaum muslimin bersaudara di antara mereka,

“مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ؛ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى”.

“Perumpamaan kaum mukminin dalam ukhuwah, kasih sayang dan kepedulian sesama mereka bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh bagian tubuh akan bersolidaritas dengan ikut begadang dan merasa sakit”. HR. Bukhari dan Muslim dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu.

Subhanallah, alangkah indahnya andaikan perumpamaan tersebut benar-benar dibumikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Niscaya kita tidak akan lagi mendengar jeritan si miskin yang dililit oleh bunga pinjaman para lintah darat, yang ternyata baik si fakir maupun si rentenir sama-sama beragama Islam di KTPnya! Pinjam meminjam yang sebenarnya dalam agama kita berdimensi ibadah serta kepedulian sosial, disulap menjadi sarana untuk menghisap harta orang-orang tak berdaya tanpa adanya rasa belas kasihan sedikitpun.

Andaikan wasiat Nabi shallallahu’alaihiwasallam di atas benar-benar dipraktekkan, niscaya kita tidak akan lagi mendengar keluhan para orang miskin, yang seharusnya perbulannya ia menerima jatah raskin sebanyak 15 kg, ia harus rela menerimanya hanya 3 kg saja! Mengapa? Karena ternyata orang-orang kaya dan yang sebenarnya berkecukupan, merasa iri dan menuntut untuk diberi jatah pula! Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, sudah matikah hati dan perasaan mereka? Bukannya menyisihkan sebagian hartanya untuk diinfakkan kepada kaum papa, malah menyerobot jatah mereka! Anak SD pun tahu arti raskin; beras untuk orang miskin, bukan beras untuk orang kaya!

Jika nasehat Nabi shallallahu’alaihiwasallam tadi diejawantahkan dalam kehidupan kita, niscaya kita tidak akan lagi membaca berita tentang bayi-bayi yang kekurangan gizi atau anak-anak yang mati karena terserang penyakit busung lapar!

Andaikan petuah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam  dijalankan, andaikan dan andaikan…

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…

Dengan melihat fenomena begitu terkotak-kotaknya tubuh kaum muslimin, sebagian kalangan merasa pesimis untuk bisa mewujudkan persatuan tersebut. Mereka memilih menyerah terhadap realita.

Padahal seharusnya seorang muslim senantiasa menjunjung tinggi optimisme dalam setiap permasalahan yang mereka hadapi. Ia berusaha memadukan antara ikhtiar dan tawakkal serta mengkombinasikan antara keduanya.

Terkait dengan jalan apakah yang seharusnya ditempuh kaum muslimin guna mewujudkan mimpi indah persatuan tersebut, ayat al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam telah memberikan keterangan yang amat jelas.

Allah ta’ala berfirman,

“وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا”.

“Berpeganglah kalian semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai”. (QS Ali Imran:103)

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

“إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا. فَيَرْضَى لَكُمْ: أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا، وَأَنْ تُنَاصِحُوا مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ. وَيَكْرَهُ لَكُمْ: قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةِ الْمَالِ”.

”Sesungguhnya Allah meridhai tiga hal dan membenci tiga hal atas kalian. Dia ridha jika (1) kalian beribadah pada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun, (2) kalian semua berpegang teguh dengan tali Allah dan tidak berpecah belah, (3) menasehati pemerintah kalian. Dan Allah membenci (1) perbincangan yang tidak ada gunanya, (2) banyak meminta dan bertanya, serta (3) membuang-buang harta”. HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Ayat dan hadits di atas menjelaskan pada kita asas apa yang seharusnya dijadikan sebagai landasan persatuan kaum muslimin, yakni tali Allah.

Menilik keterangan yang disampaikan para ulama Islam, bisa disimpulkan bahwa tali Allah yang dimaksud adalah: ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam dengan pemahaman para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam.[2]

Persatuan antar kaum muslimin tidak akan pernah tercapai selama mereka belum kembali kepada ajaran agamanya yang benar. Dalam akidah, ibadah, akhlak dan seluruh sisi kehidupan mereka.

Konsekwensinya, manakala ada ideologi, keyakinan atau perilaku kaum muslimin yang tidak sejalan dengan ajaran Islam, maka penyimpangan tersebut harus diluruskan. Walaupun telah mengakar, mengurat dan membudaya ratusan tahun sekalipun.

Di sinilah egoisme individu, golongan, kelompok, organisasi, partai, suku atau apapun juga harus dikesampingkan dan dikalahkan.

Para ulama, ustadz, kyai, mubaligh dan da’i, dalam tugas pelurusan ini memegang peranan yang amat besar dan signifikan. Mereka adalah salah satu pihak yang paling bertanggungjawab untuk mengemban amanah mulia tersebut.

Maka andaikan mereka berusaha menjalankan tugas berat tersebut sebaik-baiknya; dengan mengajak umat kembali kepada jalan lurus Nabi mereka shallallahu’alaihiwasallam dan membenahi akidah atau tata cara ibadah mereka yang belum benar, dengan cara yang hikmah dan tutur kata yang santun, janganlah mereka dituduh sebagai biang  perpecahan dan perselisihan. Sebab sejatinya mereka para pahlawan pembela persatuan.

Adapun faktor yang membuat kaum muslimin berpecah belah adalah ulah sebagian orang yang telah dijelaskan kepadanya dalil dari al-Qur`an, al-Hadits, dan perkataan para ulama Ahlus Sunnah dengan sejelas-jelasnya bahwa perbuatan yang mereka lakukan adalah keliru. Akan tetapi, mereka masih saja ngotot dan bersikeras untuk menjalankan dan mem­budayakan kegiatan tersebut. Orang-orang seperti inilah sebenarnya yang menimbulkan perpecahan di barisan kaum muslimin, sebagaimana yang disinggung oleh Allah tabaraka wa ta’ala dalam firman-Nya,

“وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ، وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ”.

   Artinya: “Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”. QS. Ali Imran: 105.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِسُنَّةِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، وَهَدَانَا صِرَاطَهُ الْمُسْتَقِيْمَ، وَأَجَارَنَا –بِمَنِّهِ وَكَرَمِهِ– مِنَ الْعَذَابِ الْأَلِيْمِ، وَتَابَ عَلَيْنَا أَجْمَعِيْنَ؛ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA:

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْأَرْبَابِ، وَمُسَبِّبِ الْأَسْبَابِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ الْعَزِيْزُ الْوَهَّابُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَفْضَلُ مَنْ قَامَ بِالدَّعْوَةِ وَالْاِحْتِسَابِ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أُوْلِي الْبَصَائِرِ وَالْأَلْبَابِ، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الْمَآبِ.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah

Itulah pondasi persatuan umat Islam yang direkomendasikan di dalam panduan hidup kita; al-Qur’an dan as-Sunnah.

Adapun upaya untuk mewujudkan persatuan umat tanpa pondasi tersebut, maka bagaikan menegakkan benang basah. Tidak pernah akan mengantarkan kepada cita-cita mulia itu.

Selama masing-masing golongan dan kelompok bersikukuh dengan berbagai prinsipnya yang tidak sejalan dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam, walaupun dilakukan pertemuan seratus kalipun, persatuan itu tidak akan terwujud.

 Kebersamaan yang nampak secara lahiriah, hanya merupakan fatamorgana belaka. Jangan sampai kita membuat model persatuan semu seperti model persatuan orang Yahudi dan kaum munafiqin, yang Allah sitir dalam firman-Nya,

“تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى، ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ”.

Artinya: “Kamu kira mereka itu bersatu, padahal hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti.” QS. Al-Hasyr: 14.

هذا؛ وصلوا وسلموا –رحكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Shafar 1433 / 30 Desember 2011



[1] Baca: Risâlah fî al-Hats ‘alâ Ijtimâ’ Kalimah al-Muslimîn, karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’dy (hal. 19).

[2] Baca: Tafsîr ath-Thabary (V/643 dst), Tafsîr al-Baghawy (II/78), Tafsîr al-Baidhawy (hal. 84), Syarh Shahih Muslim karya an-Nawawy (XII/237) dan ad-Durr al-Mantsûr karya as-Suyuthy (III/714).

Pendidikan Anak

October 18, 2014
by
0 comments

Menuai Ridha Ilahi Dengan Mendidik Buah Hati

Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc, MA

KHUTBAH PERTAMA:

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. (آل عمران: 102).

“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. (النساء: 1).

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. (الأحزاب: 70-71).

أما بعد، فإن خير الحديث كتاب الله, وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah…

Pertama, marilah kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebenar-benarnya; yaitu dengan mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang kami hormati…

Dikisahkan dalam kitab Wafayât al-A’yân  karya Ibnu Khallikân dan kitab Birr al-Wâlidain karya Ibn al-Jauzy, bahwa suatu saat al-Fadhl bin Yahya al-Burmuky beserta ayahnya dijebloskan ke dalam penjara. Berhubung Yahya telah lanjut usia maka ia tidak bisa berwudhu dengan air dingin. Berfikirlah al-Fadhl untuk menghangatkan seember air dingin yang tersedia di penjara.

Dia mengangkat ember air tadi lalu didekatkan ke lampu yang kebetulan tergantung di langit-langit penjara, dia terus bertahan begitu sampai ayam jantan berkokok.

Di hari berikutnya lampu penjara dicabut, sebagai bentuk hukuman atas perbuatan al-Fadhl dikategorikan penjaga penjara sebagai suatu pelanggaran. Namun al-Fadhl tidak kehabisan cara. Dia lepas bajunya, lalu duduk bersimpuh dan menempelkan perutnya ke air, supaya hawa hangat yang ada dalam tubuhnya mengalir dan berpindah ke air dingin tersebut. Dengan tubuh menggigil menahan rasa dingin dia bertahan semalam suntuk, demi menyediakan air hangat untuk bapaknya!

Jama’ah jum’at rahimakumullah…

Suatu potret luar biasa mengenai kebaktian seorang anak kepada orang tuanya, yang barangkali tidak kita dapatkan potret serupa di akhir zaman ini. Namun bukan berarti mewujudkan hal itu merupakan suatu kemustahilan! Bahkan mungkin kita bisa membuat anak kita lebih dari itu! Bagaimana caranya? Tentu dengan ikhtiar dan doa.

Berikut sedikit tentang kiat dan hal-hal perlu dijadikan prioritas dalam mendidik anak:

Pertama: Tanamkanlah akidah yang lurus sejak dini.

Anak bagaikan kertas putih, tergantung siapakah yang menggambar di atasnya. Jauh-jauh hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah menyinggung hal tersebut dalam sabdanya,

“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه”

           “Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.

            Jadi kewajiban pertama orang tua adalah menanamkan akidah yang benar dan lurus pada anak-anak mereka sejak kecil. Ajarkanlah, bahwa ibadah semata-mata merupakan hak Allah ta’ala, tidak ada satupun sosok makhluk yang berhak untuk disembah, semulia apapun makhluk tersebut, meskipun ia wali, nabi atau malaikat sekalipun.

Berilah pengertian bahwa dosa terbesar yang tidak terampuni adalah dosa syirik, sebutkan berbagai contoh agar mereka betul-betul memahaminya dan tidak terjerumus ke dalam kubangannya. Seperti ngalap berkah dari kuburan, memakai jimat, pergi ke dukun serta paranormal dan lain sebagainya.

            Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam juga mempraktekkan hal itu kepada anak-anak. Di antara contohnya: nasehat Nabi shallallahu’alaihiwasallam untuk Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,

“إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه”.

“Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.

Kedua: Biasakanlah anak untuk mendirikan shalat lima waktu.

Sebagai agama yang mengajarkan para pemeluknya untuk senantiasa menjaga benang merah dan menjalin hubungan dengan Sang Pencipta, Islam menggariskan berbagai cara untuk merealisasikan tujuan mulia tersebut. Di antaranya dengan pensyariatan shalat lima waktu dalam sehari.

Suatu ibadah yang nikmat dan ringan sebenarnya, bagi siapa yang diberi taufik oleh Allah dan terbiasa untuk menjalankannya. Yang jadi pertanyaan, sudahkah kita membiasakan anak-anak kita untuk mengerjakannya sejak dini?

 Sebagian orang mengatakan, biarkan saja anak tidak usah diajak ke masjid, nanti jika dewasa juga akan ke masjid sendiri!

Sebuah komentar yang keliru, baik jika ditinjau dari sisi syariat maupun dari sisi kenyataan yang ada.

Adapun ditinjau dari sisi kenyataan yang ada; maka jelas-jelas fenomena mendustakan omongan tersebut! Mana hasilnya orang-orang yang mengatakan hal tersebut? Apakah anak-anak mereka yang dahulu dibiarkan dan tidak diajak ke masjid dan sekarang telah dewasa, anak-anak tersebut sekarang rajin ke masjid, atau justru sebaliknya?

Sedangkan jika dipandang dari sisi syariat, maka amat jelas Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam telah memerintahkan anak untuk shalat sejak dini. Sebagaimana dalam sabdanya,

“مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْر”.

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat saat berumur tujuh tahun, dan pukullah jika enggan saat mereka berumur sepuluh tahun”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Albani.

Alangkah indahnya saat adzan dikumandangkan, para bapak beserta putra-putranya berbondong-bondong menuju ke masjid memenuhi panggilan suci itu. Namun kenyataan yang ada saat ini amat menyedihkan! Betapa banyak anak-anak yang telah menginjak usia dewasa, sama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya ke masjid! Tidakkah orang tua mereka khawatir tatkala mereka mempertanggungjawabkan amanah mendidik anak di hadapan Allah kelak?

Ketiga: Didiklah anak untuk berakhlak mulia.

Akhlak merupakan suatu bagian yang tidak terpisahkan dari Islam. Bahkan salah satu tujuan utama diutusnya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam ke muka bumi adalah dalam rangka perealisasian hal itu. Sebagaimana dijelaskan dalam sabdanya,

“بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلاَقِ”.

“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau serta adz-Dzahabi.

            Biasakanlah anak untuk berakhlak mulia dan beradab yang islami dengan orang tua, tetangga, guru, teman dan seluruh makhluk.

Dalam hal ini Nabi shallallahu’alaihiwasallam mempraktekkannya sendiri, antara lain ketika beliau bersabda menasehati seorang anak kecil,

“يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ”.

            “Wahai anak muda, ucapkanlah bismillah sebelum engkau makan dan gunakanlah tangan kananmu”. HR. Bukhari dan Muslim dari Umar bin Abi Salamah.

 

أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

 

KHUTBAH KEDUA:

الحمد لله حمداً كثيراً طيباً مباركاً فيه، كما يحب ربنا ويرضى، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الحمد في الآخرة والأولى، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمداً عبده ورسوله، الرسولُ المصطفى والنبي المجتبى، صلى الله عليه وعلى آله الأصفياء، وأصحابِه الأتقياء، والتابعين ومن تبعهم بإحسان وسار على نهجه واقتفى.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah

Keempat: Pilihlah untuk anak kita sekolah yang berkualitas dan islami

Andaikan kita termasuk orang yang merasa kurang ilmu dalam mendidik anak dan serta merasa banyak waktu yang tersita untuk bekerja mencari nafkah, maka titipkanlah anak ke sekolah Islam atau pondok pesantren yang betul-betul berpegang dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasul shallallahu’alaihiwasallam dengan pemahaman para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam.

Janganlah merasa berat untuk mengeluarkan biaya demi kebaikan dan pendidikan anak kita. Korbankanlah perasaan yang barangkali menghalangi kita untuk berpisah dengan anak sementara waktu; demi masa depan mereka dan kebahagiaan kita pula.

Alangkah indahnya, di saat kita semua nanti telah berada di ruangan gelap, pengap, sempit, ukuran satu kali dua meter, dengan ditemani hewan-hewan tanah, alias sudah berada di liang kubur, pahala tetap mengalir pada kita dari anak-anak kita yang selalu tidak pernah melupakan orang tua mereka, melantunkan doa,

اللهم اغفر لي ولوالدي وارحمهما كما ربياني صغيراً. اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه.

“Ya Allah, ampunilah kau dan kedua orang tuaku, serta sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua dahulu merawatku ketika kecil. Ya Allah, ampunilah beliau, kasihinilah, sehatkanlah dan maafkanlah beliau”.

Adapun kaum muslimin yang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah non muslim, maka amat sangat jauh panggang dari apinya untuk membuat anak-anak mereka mendoakan orang tuanya. Minimal akidah mereka akan didangkalkan, maksimal mereka akan dimurtadkan dari agama Islam, na’udzubillah min dzalik.

ألا وصلوا وسلموا -رحمكم الله- على الهادي البشير, والسراج المنير, كما أمركم بذلك اللطيف الخبير؛ فقال في محكم التنـزيل: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً” (الأحزاب: 56).

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…

 

@ Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at 16 Sya’ban 1430 H / 7 Agustus 2009 M

Nikmatnya mereguk telaga rusulullah

October 18, 2014
by
0 comments

Alangkah Nikmatnya Mereguk Air Telaga Rasul shallallahu’alaihiwasallam

Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc, MA

Khutbah Jum’at di Masjid Agung Purbalingga, 17 Ramadhan 1431 / 27 Agustus 2010

KHUTBAH PERTAMA:

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.

“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah…

Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.

Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…

Kejadian alam akhirat merupakan rentetan dari sekian peristiwa besar. Dimulai dari ditiupnya sangkakala pertama untuk membinasakan seluruh makhluk, dan diakhiri antara lain dengan disembelihnya kematian di suatu tempat antara surga dan neraka.

Imam al-Qurthuby menjelaskan, setelah para manusia dibangkitkan dari alam kubur, sebelum penghitungan amalan, dalam keadaan rasa dahaga yang luar biasa, mereka digiring ke arah telaga yang dimiliki oleh para nabi[1]. Namun ternyata sesampainya di sana tidak semua orang diberi karunia untuk minum air telaga tersebut. Siapakah gerangan mereka yang beruntung mereguk segarnya air telaga para nabi, dan siapa pulakah yang bernasib malang terkungkung dalam kehausan luar biasa akibat terusir dari telaga-telaga tersebut? Bagaimana pulakah sifat telaga Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam yang dikatakan sebagai telaga terbesar di antara telaga-telaga para nabi lainnya? Tema inilah yang insyaAllah akan kita kupas dalam khutbah jum’at pada kesempatan mulia kali ini.

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang kami hormati…

Keyakinan akan adanya telaga di hari kiamat merupakan suatu akidah yang dilandasi hadits sahih bahkan mutawatir dan ijma’ para ulama. Imam as-Suyuthy menyebutkan bahwa hadits yang menceritakan adanya telaga di hari kiamat, telah diriwayatkan oleh lebih dari lima puluh sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam.[2]

Telaga yang ada di padang mahsyar kelak jumlahnya bukanlah hanya satu saja, namun jumlahnya banyak sekali sebanyak para nabi yang Allah utus ke muka bumi. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

“إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوْضًا، وَإِنَّهُمْ يَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ وَارِدَةً، وَإِنِّي أَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ وَارِدَةً”.

“Sesungguhnya setiap nabi memiliki telaga. Dan mereka saling membanggakan siapakah yang telaganya paling banyak dikunjungi. Aku berharap telagakulah yang paling banyak pengunjungnya”. HR. Tirmidzi dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.

Telaga Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bermata air dari sebuah sungai di surga yang bernama sungai al-Kautsar.[3] Darinyalah gemercik air surga mengaliri telaga tersebut, melewati dua pancuran istimewa, yang pertama terbuat dari emas dan yang lainnya dari perak.

Beliau shallallahu’alaihiwasallam bercerita,

“يَغُتُّ فِيهِ مِيزَابَانِ يَمُدَّانِهِ مِنْ الْجَنَّةِ؛ أَحَدُهُمَا مِنْ ذَهَبٍ، وَالْآخَرُ مِنْ وَرِقٍ”.

“Air mengalir dengan deras ke dalamnya melalui dua pancuran dari surga. Salah satunya terbuat dari emas dan yang kedua dari perak”. HR. Muslim dari Tsauban.

Telaga Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam berbentuk bujur sangkar dan amat sangat besar luasnya. Beliau shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan,

“حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ, وَزَوَايَاهُ سَوَاءٌ”.

“Telagaku sepanjang perjalanan satu bulan. Ukuran seluruh sisinya sama”. HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr.

Karena telaga Rasul shallallahu’alaihiwasallam paling banyak pengunjung yang akan mereguk airnya, maka gelas-gelas yang tersedia di sana pun amatlah banyak. Beliau shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,

“أَكْوَابُهُ مِثْلُ نُجُومِ السَّمَاء”.

“Gelas-gelas telagaku sebanyak bintang-bintang di langit”. HR. Ahmad dari Ibnu Umar dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim.

Siapakah yang akan melayani kita tatkala minum dari telaga tersebut? Yang melayani kita bukanlah sembarang orang, namun ia adalah orang paling mulia di muka bumi ini! Ya, dialah kekasih kita Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Beliau bersabda,

“أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ”.

“Aku akan mendahului kalian ke telaga dan melayani kalian”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud.

Adapun mengenai sifat air yang ada dalam telaga tersebut, maka jauh lebih menakjubkan dari segala keterangan di atas. Bagaimana tidak, sedangkan air telaga Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, lebih dingin dari es dan lebih harum dibanding minyak misik. Barangsiapa meminum satu teguk darinya; maka ia tidak akan pernah merasa haus selamanya!

Adakah di muka bumi ini air yang memadukan keistimewaan-keistimewaan tersebut di atas? Susu yang kita minum bisa saja berwarna putih, namun ia berbau amis. Madu yang kita konsumsi memang manis, namun warnanya kurang menarik. Air es memang menyegarkan, namun ia tidak beraroma wangi. Dan adakah air di dunia ini, seajaib apapun, yang jika diminum seteguk, kita tidak akan merasakan dahaga selamanya??

Kaum muslimin dan muslimat yang kami muliakan…

Air telaga rasul shallallahu’alaihiwasallam menggabungkan antara warna, rasa, kesegaran dan aroma yang luar biasa!

Beliau shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan sifat air telaganya,

“مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنْ اللَّبَنِ، وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنْ الْمِسْكِ … مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلَا يَظْمَأُ أَبَدًا”.

“Airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih harum dibandingkan minyak misik … Barang siapa minum darinya; niscaya ia tidak akan pernah merasa dahaga selamanya!”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin ‘Amr.

Beliau juga menambahkan,

“أَبْرَدُ مِنْ الثَّلْجِ، وَأَحْلَى مِنْ الْعَسَل“.

“(Airnya) lebih dingin dari es dan lebih manis dari madu”. HR. Ahmad dan sanadnya dinilai hasan oleh al-Mundziry.[4]

Sidang jum’at yang kami cintai…

Begitulah sekelumit tentang telaga Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam di padang mahsyar… Alangkah bahagianya orang-orang yang diperkenankan untuk mencicipi air telaga tersebut, semoga kita termasuk golongan beruntung itu. Dan alangkah sedihnya orang yang terhalang untuk menikmatinya, semoga kita dihindarkan dari golongan yang amat malang itu…

Ya, ada di antara umat manusia yang tidak diberi kesempatan untuk mereguk telaga Rasul shallallahu’alaihiwasallam, padahal saat itu mereka berada dalam kondisi amat dahaga! Siapakah mereka yang bernasib begitu naas?

Mereka adalah orang-orang kafir, kaum munafikin, orang-orang Islam yang murtad dan juga para pelaku bid’ah![5]

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

“لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي، ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ … فَأَقُولُ: إِنَّهُمْ مِنِّي!. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ! فَأَقُولُ: “سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي”.  

“Akan datang ke (telaga)ku orang-orang yang kukenal dan mereka mengenaliku, namun kemudian mereka terhalang dariku”.

Akupun berkata, “Mereka adalah bagian dariku!”.

Dijawab, “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan setelah engkau (meninggal dunia)”.

Aku berkata, “Menjauhlah orang-orang yang mengubah-ubah (agamaku) sesudahku!”. HR. Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa’d.

Setelah menukil berbagai pendapat para ulama mengenai siapakah yang dimaksud dengan orang yang terhalang untuk minum dari telaga Rasul shallallahu’alaihiwasallam, Imam an-Nawawy menutup keterangannya dengan menukil perkataan Imam Ibn Abdil Bar,

“كُلّ مَنْ أَحْدَث فِي الدِّين فَهُوَ مِنْ الْمَطْرُودِينَ عَنْ الْحَوْض، كَالْخَوَارِجِ، وَالرَّوَافِض، وَسَائِر أَصْحَاب الْأَهْوَاء. وَكَذَلِكَ الظَّلَمَة الْمُسْرِفُونَ فِي الْجَوْرِ، وَطَمْسِ الْحَقِّ، وَالْمُعْلِنُونَ بِالْكَبَائِرِ. وَكُلّ هَؤُلَاءِ يُخَاف عَلَيْهِمْ أَنْ يَكُونُوا مِمَّنْ عَنُوا بِهَذَا الْخَبَر. وَاللَّهُ أَعْلَم”.

“Setiap orang yang mengada-adakan hal baru dalam agama, mereka termasuk golongan yang terusir dari telaga. Semisal orang-orang Khawarij, Syi’ah dan segenap ahlul bid’ah. Begitu pula orang-orang zalim yang melampaui batas dalam ketidakadilan dan mengaburkan kebenaran, serta para pelaku dosa besar yang terang-terangan melakukannya di hadapan umum. Mereka semua dikhawatirkan termasuk orang-orang yang dimaksud hadits ini. Wallahu a’lam.[6]

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا, وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ حَمْداً كَثِيْراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَالْأُوْلَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الرَّسُوْلُ الْمُصْطَفَى وَالنَّبِيُّ الْمُجْتَبَى، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ الْأَصْفِيَاءِ، وَأَصْحَابِهِ الْأَتْقِيَاءِ، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَسَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَاقْتَفَى.

Jama’ah Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati Allah ta’ala…

Pemaparan singkat di atas memberikan pada kita berbagai pelajaran penting nan berharga. Di antaranya: betapa bahayanya beribadah dengan sesuatu yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam.

Karena itulah, wahai kaum muslimin dan muslimat, seorang muslim dituntut untuk bersikap cerdas dalam menerima segala sesuatu, apalagi yang berkenaan dengan masalah agama. Beribadah kepada Allah bukanlah dengan cara mengikuti tradisi yang umum di masyarakat atau dengan mempertahankan warisan nenek moyang. Namun seharusnya beribadah itu sesuai dengan aturan yang diajarkan panutan kita, nabi besar Muhammad shallallahu’alaihiwasallam.

Bersikap kritislah tatkala disodori suatu amalan! Tanyakanlah dalil yang melandasinya dari al-Qur’an maupun hadits Rasul shallallahu’alaihiwasallam. Kalaupun dikatakan amalan tersebut ada haditsnya, pastikan bahwa hadits tersebut adalah sahih atau minimal hasan, bukan hadits yang lemah, apalagi palsu.

Kita hidup di dunia hanya sekali, jangan sampai di kesempatan yang tak terulang ini, kita melakukan amalan-amalan yang tidak jelas landasannya atau bahkan sama sekali tidak ada landasannya. Sehingga justru malah amalan tersebut ditolak alias tidak diterima oleh Allah ta’ala. Sebagaimana ditegaskan Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“.

“Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak”. HR. Muslim dari Aisyah.

Semoga kita tidak termasuk golongan tersebut, amien ya Rabbal ‘alamin…

أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ اللهُ- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْرِ, وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْرِ, كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـزِيْلِ: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ, اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّاب

رَبَّناَ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

أَقِيْمُوا الصَّلاَةَ…

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Ramadhan 1431 / 27 Agustus 2010

 


[1] Lihat: Kitâb at-Tadzkirah bi Ahwâl al-Mautâ wa Umûr al-Âkhirah (II/703).

[2] Lihat: Al-Buhûr az-Zâkhirah fî ‘Ulûm al-Âkhirah karya as-Saffârîny (I/747).

[3] Lihat: Kitâb at-Tadzkirah (II/704).

[4] Lihat: At-Targhîb wa at-Tarhîb (III/1310 no. 5194).

[5] Cermati: Kitâb at-Tadzkirah (II/710-711), Syarh Shahih Muslim karya Imam an-Nawawy (III/130) dan Fath al-Bâry karya al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalâny (XI/468-469).

[6] Syarh Shahih Muslim (III/130).

tenang

October 18, 2014
by
0 comments

Nikmat Keamanan dan Jalan Untuk Menggapainya

Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA

 

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.

“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah…

Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.

Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah…

Nikmat keamanan merupakan salah satu karunia Allah ta’ala terbesar bagi umat manusia. Sebab rasa aman merupakan kebutuhan primer seorang hamba. Tidak mungkin suatu umat atau sebuah bangsa hidup dengan baik, tanpa adanya stabilitas keamanan di dalamnya.

Keamanan lingkungan akan membuahkan ketenangan jiwa, ketentraman batin, kebahagiaan serta kedamaian hati.

Begitu urgennya faktor keamanan dalam kehidupan kita, sampai-sampai dalam beberapa kesempatan dia didahulukan atas faktor rizki.

Mari kita cermati doa yang dilantunkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tatkala beliau meninggalkan keluarganya di sebuah lembah yang gersang,

“رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ…”.

Artinya: “Ya Rabbi, jadikanlah (tempat) ini negeri yang aman dan berilah rizki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian”. QS. Al-Baqarah: 126.

Lihatlah bagaimana permintaan akan keamanan didahulukan atas permintaan akan rizki! Sebab seorang insan bisa saja hidup dengan rizki yang serba kekurangan, jika ia merasa aman. Namun sebaliknya ia tidak bisa hidup dengan baik, apabila senantiasa merasa takut, walaupun ia memiliki kekayaan sebesar dunia sekalipun![1]

Para hadirin dan hadirat rahimakumullah..

Berkat rasa aman seorang hamba bisa beribadah kepada Allah ta’ala dengan tenang dan sempurna. Lain halnya jika hidup seseorang diliputi rasa takut dan was-was, kondisi ini akan berdampak pada ketidaksempurnaan ibadah yang ia lakukan. Bahkan terkadang rutinitas peribadatannya harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi, karena merasa khawatir dengan intaian para musuh Allah ta’ala.

Berhubung pentingnya rasa aman demi perealisasian keimanan dalam kehidupan seorang mukmin, Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam dalam sebagian doanya, memohon agar dikaruniai keamanan di samping keimanan. Sebagaimana doa yang beliau panjatkan saat melihat rembulan di awal setiap bulan,

“الله أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيْمَانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَالْإِسْلاَمِ، وَالتَّوْفِيْقِ لِمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ الله”.

“Allah Maha besar! Ya Allah jadikanlah bulan ini penuh dengan keamanan dan keimanan, keselamatan dan keislaman, serta taufik kepada hal-hal yang dicintai Rabb kami dan diridhai-Nya. Rabbku dan Rabbmu adalah Allah”. HR. Ad-Darimi dan dinilai hasan oleh Ibn Hajar dan al-Albani[2]

Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati…

Kewajiban untuk menjaga stabilitas keamanan negara adalah tanggung jawab semua insan, sesuai dengan kapasitasnya. Kecil maupun besar, tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, muslim maupun non muslim, umara maupun ulama serta rakyat maupun aparat.

Amanah untuk menjaga keamanan negara ini harus ditanamkan para orang tua dalam jiwa anak-anak mereka sejak dini, juga oleh para guru dalam diri murid-murid mereka di sekolahan.

Maka jika ada oknum-oknum yang berusaha mengacaukan situasi yang telah kondusif, dengan melakukan berbagai tindak teror berupa pengeboman serta peledakan; wajib bagi setiap warga negara untuk mencegah tindak kriminal tersebut, sesuai dengan kemampuan dan kapasitas masing-masing.

Aparat keamanan menggunakan wewenang kekuasaan yang mereka miliki untuk melakukan tindakan preventif juga represif jika diperlukan. Para ulama, ustadz, da’i dan mubaligh memberikan pengarahan keagamaan kepada umat akan bahaya tindak teror tersebut dipandang dari sisi syariat. Masyarakat awam bekerja sama dengan pemerintah untuk melaporkan setiap hal yang mencurigakan. Para orang tua mengawasi anak-anak mereka, dengan siapakah mereka bergaul dan berteman? Pendek kata, semuanya bahu-membahu berusaha memadamkan kobaran api huru-hara itu!

Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah…

Andaikan para pelaku tindak teror tadi beralasan, bahwa perbuatan mereka merupakan bentuk nahi mungkar atas kemungkaran yang dilakukan sebagian oknum di pemerintahan, maka jawabannya: amar makruf nahi mungkar merupakan ibadah mulia, namun jangan lupa bahwa norma-normanya telah digariskan dengan jelas oleh agama kita.

Di antara norma yang diajarkan Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam dalam menasehati pemerintah kaum muslimin: menyampaikan nasehat tersebut bukan di depan umum. Sebagaimana dijelaskan dengan gamblang dalam sabda beliau,

“مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاَنِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ”.

Artinya: “Barang siapa ingin menyampaikan nasehat kepada penguasa, hendaklah jangan menyampaikannya di depan umum, akan tetapi genggamlah tangannya dan menyendirilah dengannya. Jika ia mau menerima nasehat tersebut, maka itulah (yang diharapkan), jika tidak maka sesungguhnya ia telah melaksanakan kewajibannya”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Albani [3].

Andaikan nasehat kepada pemerintah saja harus disampaikan secara sembunyi-sembunyi dan dilarang untuk disampaikan di depan khalayak umum, bisakah dibenarkan penyampaian nasehat dengan cara melakukan peledakan di mana-mana?

Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati…

Setali tiga uang dengan istilah “amar makruf nahi munkar”; istilah “jihad”. Istilah kedua ini juga diselewengkan maknanya oleh sebagian oknum yang kurang bertanggungjawab. Atas nama jihad mereka menumpahkan darah kaum muslimin dan membunuhi non muslim tanpa pandang bulu.

Padahal Allah ta’ala telah melarang tindak melampaui batas dalam segala sesuatu, termasuk dalam berjihad sekalipun. Allah berfirman,

“وَقَاتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ، وَلاَ تَعْتَدُواْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبِّ الْمُعْتَدِينَ”.

Artinya: “Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, (tetapi) janganlah kalian melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. QS. Al-Baqarah: 190.

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa tindak melampaui batas dalam berjihad, selain dalam bentuk membunuhi kaum wanita, anak kecil, para rahib dan orang tua yang tidak memiliki andil dalam memerangi kaum muslimin[4], juga termasuk tindak melampaui batas dalam berjihad: membunuhi orang-orang kafir yang memiliki perjanjian damai dengan kaum muslimin[5].

Sidang Jum’at waffaqakumullah…

Nikmat keamanan selain harus diusahakan dan diupayakan oleh umat manusia, juga merupakan karunia dari Yang Maha Kuasa, jika mereka memenuhi syarat-syarat yang telah digariskan oleh-Nya. Di antara syarat utama yang telah digariskan Sang Pencipta: menegakkan tauhid di muka bumi dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan.

Allah ta’ala berfirman,

“وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ، لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ، وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ، وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً، يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً”.

Artinya: “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku”. QS. An-Nur: 55.

Semua janji-janji Allah tersebut di atas, mulai dari kekuasaan di muka bumi, kekokohan dan kejayaan agama, sampai stabilitas keamanan negara, tidak akan dapat dicapai kecuali dengan syarat yang tersebut di akhir ayat tadi; yaitu menegakkan tauhid (hanya beribadah kepada Allah ta’ala) dan meninggalkan syirik.[6]

نَفَعَنِي اللهُ وَإِيَّاكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَبِسُنَّةِ سّيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُهُ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ لِي وَلَكُمْ، وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ…

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ، الرَّحِيْمِ الْغَفَّارِ، أَحْمَدُهُ تَعَالَى عَلَى فَضْلِهِ الْمِدْرَارِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْغِزَارِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّاُر، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُصْطَفَى الْمُخْتَارُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ الْأَطْهَارِ، وَإِخْوَانِهِ الْأَبْرَارِ، وَأَصْحَابِهِ الْأَخْيَارِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ مَا تَعَاقَبَ الَّليْلُ وَالنَّهَارُ.

Sidang Jum’at waffaqakumullah…

Berkenaan dengan korelasi antara keamanan dengan penegakkan tauhid, Allah ta’ala menjelaskan dalam ayat lain,

“الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ”.

Artinya: “Orang-orang beriman dan tidak mencampuri keimanannya dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan. Dan mereka adalah kaum yang mendapat petunjuk”. QS. Al-An’am: 82.

“Kezaliman” yang disebutkan dalam ayat di atas, telah ditafsirkan oleh Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam sebuah hadits sahih[7], dengan “kesyirikan”.

Berdasarkan dua ayat di atas juga dalil-dalil lain yang senada, dapat disimpulkan bahwa syarat utama tercapainya keamanan di muka bumi adalah dengan memurnikan segala macam bentuk ibadah untuk Allah semata, alias dengan menegakkan panji-panji tauhid.

Jika syarat vital ini tidak terpenuhi, maka rasa takut, ketidaktentraman dan kegelisahanlah yang akan merebak di bumi dan memenuhi relung-relung hati para hamba.

Allah ta’ala berfirman,

“سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُواْ الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُواْ بِاللّهِ …”.

Artinya: “Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka melakukan perbuatan syirik…”. QS. Ali Imran: 151.

Dalam ayat di atas Allah ta’ala menjelaskan dengan gamblang bahwa faktor utama penyebab rasa takut yang timbul dalam hati orang-orang kafir adalah dikarenakan mereka melakukan perbuatan syirik.[8]

Maka jangan berharap keamanan akan membumi di tanah air, jika para dukun masih bebas beriklan di media massa, entah mereka yang beraliran hitam maupun mereka yang mengklaim dirinya dukun putih!

Jangan bermimpi ketentraman akan dicapai, jika tindak obral jimat masih marak di mana-mana, sehingga tidak sedikit di antara kaum muslimin yang seluruh maslahat hidup dan kemudaratannya tergantung pada benda-benda mati tersebut!

Bagaimana mungkin rasa takut dan kegelisahan jiwa akan hilang, seandainya masih ada oknum-oknum, atas nama agama, mengkultuskan para wali, sehingga mengangkat derajat mereka mendekati derajat Yang Maha Kuasa, dengan meminta-minta berbagai hajat; kelancaran rizki, keturunan, kenaikan pangkat dll, kepada para makhluk mulia tersebut?!

Kemerdekaan mereka telah terjajah untuk bisa langsung berhubungan dengan Rabb semesta alam!. Hanya kepada Allah sajalah kita mengadu…

أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ اللهُ- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْرِ, وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْرِ, كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـزِيْلِ: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ, اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّاب

رَبَّناَ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

أَقِيْمُوا الصَّلاَةَ…

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Jumadal Ula 1432 / 19 April 2011



[1] Lihat: Muqawwimât Hubb al-Wathan fî Dhau’i Ta’âlîm al-Islâm, karya Prof. Dr. Sulaiman bin Abdullah Aba al-Khail, hal. 51.

[2] HR. Ad-Darimi, II/1050 no. 1729, ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabîr, XII/356 no. 13330 dan Ibn Hibban, III/171 no. 888 dari Ibn Umar. Juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, hal. 784 no. 3451, Ahmad, III/17 no. 1397, al-Hakim, IV/385 dan adh-Dhiya’, III/22. Masing-masing jalur periwayatan di atas ‘bermasalah’. At-Tirmidzi mengomentari hadits ini, “Hasan gharîb”. Dalam Natâ’ij al-Afkâr sebagaimana dinukil Ibn ‘Allân di al-Futûhât ar-Rabbâniyyah, IV/329, Ibn Hajar al-‘Asqalâni menilainya hasan. Syaikh al-Albâni dalam Zhilâl al-Jannah, I/165 no. 376 berpendapat serupa.

[3] HR. Ahmad, III/403 dan Ibnu Abi ‘Ashim, II/737 no. 1130, 1131. Al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawâ’id berkomentar: “Para perawinya terpercaya, dan sanadnya bersambung”, sedangkan syaikh al-Albani menilai hadits ini sahih.

[4] Lihat: Tafsir al-Qurthubi, III/239-240 dan Tafsir Ibn Katsir, I/524.

[5] Lihat: Tafsir as-Sa’di, hal. 71.

[6]  Lihat: Tafsir al-Qurthubi, XV/326 dan Tafsir as-Sa’di, hal. 521-522.

[7]  HR. Bukhari (I/87 no. 32 -Fath al-Bâri) dan Muslim (I/114-115 no. 197) dari Ibnu Mas’ud.

[8]  Lihat: Tafsir ar-Razi, IX/34.

Pengadilan Akhirat

October 11, 2014
by
0 comments

Pengadilan Akhirat

Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA

Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 11 Rabi’ul Awwal 1433 / 3 Januari 2011

 

KHUTBAH PERTAMA:

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.

“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah…

Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.

Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…

Islam telah mengajarkan bahwa perbuatan dan perilaku kita di dunia ada konsekuensinya, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.

Ada penegakan hukum dan keadilan di dunia, sebagaimana ada penegakan hukum dan keadilan di akhirat. Walaupun realitanya antara keduanya ada perbedaan yang sangat jauh.

Pengadilan Allah ta’ala di padang mahsyar nanti amatlah dahsyat dan maha adil. Adapun pengadilan manusia di dunia seringkali jauh dari potret ideal keadilan.

Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati

Setiap apa yang kita lakukan sekecil apapun, pasti akan ditulis oleh para malaikat yang mulia. Perkataan, perbuatan, pandangan, keputusan, prasangka, semuanya tidak terlewatkan oleh pena para malaikat.

“مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ”

Artinya: “Tiada suatu ucapan yang dia ucapkan, melainkan ada di dekatnya malaikat yang selalu hadir”. QS. Qaf: 18.

“وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ، وَيَقُولُونَ: “يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا” وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا”.

Artinya: “Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar tercatat semuanya”. Mereka mendapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Rabbmu tidak menzalimi seorang jua pun”. QS. Al-Kahfi: 49.

Perbuatan kita bukan hanya dicatat, namun juga akan diganjar sesuai dengan kadar, kualitas dan jenis yang kita lakukan.

“فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ”.

Artinya: “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat debu, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat debu, niscaya dia pun akan melihat (balasan)nya”. QS. Az-Zalzalah: 7-8.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Bagaimanakah prosesi pertanggungjawaban kita di hadapan Allah ‘azza wa jalla kelak? Bagaimana pula gerangan pengadilan akhirat akan digelar?

Berikut sekelumit gambaran tentang kejadian mengerikan itu:

Kelak, setiap manusia akan maju sendiri-sendiri di hadapan pengadilan Allah Yang Maha adil, untuk mempertanggungjawabkan ucapan dan perbuatannya. Tidak akan ditemani siapapun, walaupun ia orang terdekatnya sekalipun.

Setiap manusia pada pengadilan akhirat nanti, tidak akan bisa menyewa pengacara, tidak pula didampingi keluarga, sanak saudara ataupun siapapun jua. Tak satupun di antara mereka yang dapat menolong kita sebagaimana halnya saat hidup di dunia. Setiap kita akan maju sendiri-sendiri di hadapan pengadilan Allah yang Maha Adil, untuk mempertanggungjawabkan ucapan dan perbuatan kita.

“وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا“.

Artinya: “Pada hari kiamat, setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri”. QS Maryam [19]: 95.

Saat itu, mulut kita akan dibungkam dan dikunci rapat. Jikalau pada pengadilan dunia, lisan kita bisa berbicara, bersilat lidah, berkelit atau bahkan bisa berdusta, maka pada pengadilan akhirat nanti mulut ini akan terdiam, kelu dan tak bisa berucap, kendati hanya sepatah kata. Sebaliknya seluruh anggota tubuh kita dipersilahkan untuk bersaksi. Mata, telinga, tangan, kaki, bahkan kulit, semuanya berbicara membeberkan dan membuka apa yang pernah kita lakukan di dunia.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ”.

Artinya: “Pada hari ini, Kami kunci mulut-mulut mereka, dan yang akan berbicara adalah tangan-tangan mereka, dan yang akan bersaksi adalah kaki-kaki mereka terhadap apa yang mereka kerjakan (dulu di dunia)”. QS. Yasin (36): 65.

Bahkan bumi tempat kita berpijak pun tidak ketinggalan untuk melaporkan kepada Allah jalla wa ‘ala tentang apa yang kita lakukan di atasnya.[1]

“يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا . بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا”.

Artinya: “Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya. Karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) padanya”. QS. Az-Zalzalah (99): 4-5.

Keadilan hari itu akan dijunjung tinggi dan timbangan akan ditegakkan dengan sangat akurat. Tidak ada yang dapat berkelit, menyogok ataupun merubah keputusannya. Karena yang bertindak sebagai hakim di padang mahsyar nanti adalah Allah subhanahu wa ta’ala sendiri, Pencipta manusia dan alam semesta ini.

Tidak akan ada lagi sogok menyogok, beking membeking, ngeles mengeles, kongkalikong maupun pasal-pasal karet, yang dapat ditafsirkan semau sendiri. Semuanya tunduk dan bertekuk lutut di hadapan kekuasaan dan keperkasaan Allah.

Selihai apapun manusia mempermainkan hukum di dunia, dan walaupun mereka sering lepas dari pengadilan dunia, mereka tak akan pernah bisa melepaskan diri dari jeratan hukuman di pengadilan akhirat. Di dunia boleh saja mereka bisa terhindar dari sel penjara. Namun, di akhirat mustahil mereka bisa lari dari hukuman dan azab Allah ‘azza wa jalla.

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا، وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا، وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ”

Artinya: “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit. Sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya. Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan”. QS. Al-Anbiya’: 47.

“يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ لَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ، لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ، لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ . الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ، لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ، إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ”

Artinya: “(Yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur dan menuju mahsyar); tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman), “Kepunyaan siapakah kekuasaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang dilakukannya. Tidak ada yang dizalimi pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya”. QS. Ghofir (40): 16-17.

Di pengadilan dunia
Uang dapat membungkam
Ketenaran berkuasa untuk mengurangi tuntutan
Kepandaian lidah juga mampu untuk merubah

Namun di pengadilan akhirat
Uang sudah tak mempan
Ketenaran laksana debu yang beterbangan
Bersilat lidah pun hanya angan-angan

Karena mulut tlah terkunci
Tangan angkat bicara
Kaki bersaksi
Atas segala yang tlah terlaksana
Semua terkuak
Tak terlewatkan walau seberat debu pun

Maka,
Takutlah akan pengadilan akhirat…[2]

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…

Pengadilan akhirat begitu menegangkan. Salah satu bekal utama yang kita bawa saat itu adalah amal salih yang kita tabung dan kumpulkan sedikit demi sedikit saat ini.

Adapun harta, jabatan, kedudukan, pangkat, keturunan, pengikut dan apapun yang dibanggakan di dunia ini, tidak akan berguna sama sekali saat itu.

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ . إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ”

Artinya: “Pada hari (akhirat) tidak akan bermanfaat lagi harta dan anak-anak. Kecuali mereka yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih”. QS. Asy-Syua’râ’ (26): 88-89.

Sungguh beruntung orang-orang yang berat timbangannya, dan merugilah orang-orang yang ringan timbangannya.

“فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ . وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآَيَاتِنَا يَظْلِمُونَ”

Artinya: ”Barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya, mereka itulah orang yang beruntung. Dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami”. QS. Al-A’raf [7]: 8-9.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِسُنَّةِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA:

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْأَرْبَابِ، وَمُسَبِّبِ الْأَسْبَابِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ الْعَزِيْزُ الْوَهَّابُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَفْضَلُ مَنْ قَامَ بِالدَّعْوَةِ وَالْاِحْتِسَابِ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أُوْلِي الْبَصَائِرِ وَالْأَلْبَابِ، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الْمَآبِ.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah

Pada hari itu, banyak orang yang merugi. Namun, di antara mereka yang merugi itu, ada yang amat sangat merugi, yakni orang-orang yang bangkrut. Siapakah orang-orang tersebut? Mereka adalah para pelaku dosa yang berupa pelanggaran hak sesama manusia. Kezaliman terhadap orang lain. Mencaci, menyakiti, dan memakan atau mengkorupsi harta sesama.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟”. قَالُوا: “الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ”. فَقَالَ: “إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ؛ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ”.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut / jatuh pailit?”. Para sahabat menjawab, “Orang yang pailit di antara kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang perniagaan…”.

Maka Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun menimpali, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat, dengan membawa amalan shalat, puasa dan zakat. Akan tetapi dia telah memaki orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain dan memukul orang lain.

Maka diambillah pahala amalannya dan diberikan kepada ini dan itu (yakni orang lain yang dia zalimi tersebut -pen). Apabila amal kebaikannya sudah habis, sedangkan tanggungan dosanya belum juga tuntas, maka dosa-dosa mereka akan dicampakkan kepadanya, lalu ia dimasukkan ke dalam neraka“. HR. Muslim.

Pada mulanya orang-orang tersebut merasa bangga dan takjub kepada dirinya, bahwa ia telah shalat, puasa, zakat, haji dan lainnya. Namun mereka lupa atau pura-pura lupa, bahwa dalam waktu yang sama mereka juga melakukan dosa-dosa sosial dan moral.

Amal kebaikan dan pahala yang dikumpulkannya dengan susah payah selama ini, harus terhapus dan habis untuk ‘membayar’ kejahatan yang dia lakukan. Bahkan juga masih harus menanggung dosa dari kesalahan yang diperbuat oleh orang-orang yang telah dizaliminya semasa di dunia!

Hadirin dan hadirat rahimakumullah

Jika itu adalah nasib mereka yang memiliki amal salih cukup banyak, namun menzalimi satu, dua, tiga orang, bagaimanakah gerangan nasib mereka yang amal salihnya pas-pasan, atau bahkan seringkali minus, namun mereka menzalimi dua ratus juta penduduk Indonesia, dengan mengkorupsi uang mereka!?

Andaikan orang-orang tersebut mau berfikir dan merenung…

هذا؛ وصلوا وسلموا –رحكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…

 

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rabi’ul Awwal 1433 / 3 Januari 2011



[1] Baca: Tafsîr as-Sa’dy (hal. 861).

Negeri idaman

October 11, 2014
by
0 comments

Negeri Idaman

Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA

Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 28 Ramadhan 1433 / 17 Agustus 2012

 

KHUTBAH PERTAMA:

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.

“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah…

Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.

Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…

“Gemah ripah loh jinawi. Toto tentrem kerto raharjo”, begitulah orang tua kita dahulu mendeskripsikan negeri yang ideal. Kurang lebih maknanya, bahwa negeri idaman itu adalah negeri yang bertanah subur, adil, makmur, kaya dengan hasil buminya, tersusun rapi, damai dan sejahtera. Ungkapan tersebut mungkin dianggap sebagian kalangan cukup mewakili definisi negara yang ideal. Walaupun sebenarnya, sebagai seorang muslim, tentulah harus ditambahkan, bahkan diprioritaskan kriteria keimanan kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Untuk merealisasikan impian indah negeri idaman, tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu adanya sinergi antara rakyat dan penguasa, serta harus ada keseimbangan antara pembangunan mental dan fisik negara. Tidak lupa taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala adalah faktor mutlak penentu keberhasilan. Tanpa adanya itu semua, berbagai kriteria ideal tersebut di atas, hanya akan ada dalam mimpi, di negeri antah berantah.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Manusia terdiri dari dua bagian pokok; jasmani dan rohani atau tubuh dan hati. Kesempurnaan kesehatan seorang insan sangat tergantung kepada kesehatan kedua bagian pokok tersebut. Kesehatan hati seseorang akan membawa kepada kesehatan fisiknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda,

“أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ”.

“Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika ia baik maka seluruh jasad akan baik. Namun jika ia rusak maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah bahwa segumpal daging tersebut adalah: hati”. HR. Bukhari dan Muslim dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu.

Sebaliknya, kesehatan jasmani akan sangat membantu terbangunnya kesehatan rohani manusia. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ”.

“Mukmin yang kuat lebih baik daripada mukmin yang lemah. Dan masing-masing memiliki kebaikan“. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Di antara hal pokok yang perlu diperhatikan, dalam upaya menjaga kesehatan tubuh dan hati, adalah pemberian makanan yang cukup dan baik. Supaya tubuh kita sehat perlu asupan gizi yang memadai. Begitupula agar hati ini sehat, ia perlu diberi makanan, berupa ilmu dan iman.

Negara, sebagai wadah berkumpulnya sekian banyak manusia, juga dibangun di atas dua bagian pokok; fisik dan mental. Fisik antara lain diwakili oleh sarana dan prasarana, seperti bangunan gedung, jalan dan yang semisal. Adapun mental negara, terwakili oleh kepribadian para manusia yang hidup di negara tersebut. Keduanya harus mendapatkan porsi perhatian yang cukup, supaya negara menjadi kokoh dan kuat. Sebaliknya, ketimpangan antara pembangunan fisik dan mental hanya akan mengakibatkan kerapuhan yang berakhir kepada kehancuran sebuah negara. Walaupun barangkali pada awalnya, negara tersebut berpenampilan lahiriah yang lux dan wah!

Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ”

Artinya: “Andaikan penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka akibat perbuatannya”. QS. Al-A’raf (7): 96.

Sidang Jum’at yang berbahagia…

Pembangunan fisik pasar yang megah dan mall yang mewah, haruslah diiringi dengan pembangunan mental para pedagang dan pemain ekonomi di dalamnya. Jika tidak, maka praktek kecurangan, riba, klenik, sumpah palsu dan seabreg perilaku buruk lainnya, pasti akan merajalela di pusat perdagangan tersebut.

Karenanya, demi pembangunan mental para pelaku ekonomi, tidak jarang Rasulullah shallallahu’aihiwasallam melakukan ‘operasi pasar’ untuk melihat tingkat kejujuran mereka. Pernah Rasulullah shallallahu’aihiwasallam memasukkan tangan ke dalam onggokan gandum dan ternyata ditemuinya gandum yang bagian bawah basah, sementara si penjual gandum menghargainya dengan harga gandum kering yang bagus. Maka langsung Rasulullah shallallahu’aihiwasallam mengingatkan,

“مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي”

“Barang siapa menipu kami; maka bukan termasuk golonganku”. HR. Muslim.

Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah…

Pembangunan sarana prasarana para penegak hukum, harus diikuti dengan pembangunan mental para punggawa keadilan. Jika tidak, maka yang akan terjadi adalah praktek tebang pilih dalam menangani kasus dan merebaknya mafia peradilan. Dari situlah bangsa akan hancur berkeping-keping.

Pada zaman Rasul shallallahu’alaihwasallam dikisahkan, bahwa seorang wanita dari suku terpandang al-Makhzumiyah kedapatan mencuri. Tokoh-tokoh Quraisy kebingungan, karena wanita ini termasuk dari golongan bangsawan. Merekapun bermusyawarah, lalu mengutus Usamah bin Zaid, anak kesayangan Rasul shallallahu’alaihiwasallam, untuk menghadap kepada beliau. Meminta supaya si wanita itu diberi dinspensasi, dengan tidak dijatuhi hukuman potong tangan. Manakala mendengar paparan Usamah tersebut, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun marah besar, lalu bergegas naik mimbar dan berkhutbah,

إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ، أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ. وَايْمُ اللهِ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا”.

“Sesungguhnya perilaku yang menghancurkan bangsa-bangsa sebelum kalian, adalah karena apabila yang mencuri itu orang terpandang, maka ia akan dibebaskan. Tetapi jika yang mencuri adalah rakyat kecil, maka hukuman diterapkan atasnya. Demi Allah, andaikan Fatimah putriku mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha.

Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati…

Pembangunan fisik jalan-jalan dan jembatan, haruslah diiringi dengan pembangunan mental para kontraktor, pemborong dan semua yang punya tangan di situ. Jika tidak, maka anggaran proyek pekerjaan besar tersebut akan bocor di mana-mana. Akan terjadinya mark up dalam proyek, sebab yang menjadi target utama adalah meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, tanpa peduli dengan kualitas pekerjaan. Sehingga muncul jalan-jalan yang bertahan hanya seumur jagung dan jembatan yang ambruk hanya dalam hitungan bulan.

Padahal Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam, jauh-jauh hari telah mengingatkan bahaya uang haram, entah itu dinamakan fee kah, atau bonus kah, atau uang pelicin kah,  dalam sabda beliau,

“لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ أَبَدًا، النَّارُ أَوْلَى بِه”.

“Tidak akan masuk surga selamanya, daging yang tumbuh dari harta yang haram. Nerakalah yang pantas untuk menjadi tempat tinggalnya”. HR. Tirmidzy dari Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ’anhu dan dinilai sahih oleh adz-Dzahaby dan al-Albany.

Begitu pula pembangunan fasilitas birokrasi, wajib diikuti dengan pembangunan mental para birokrat. Apabila tidak, niscaya yang akan tumbuh subur adalah mentalitas “kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah?”. Kecenderungan untuk memelihara masalah, ketimbang menyelesaikannya. Juga maraknya tipe aparat yang ingin dilayani, ketimbang melayani masyarakat. Sehingga dalam setiap situasi selalu yang diperhitungkan adalah, “Saya dapat apa? Dan kamu wani piro?”.

Tidakkah mereka merasa khawatir, dengan doa yang dilantunkan baginda Rasul shallallahu ’alaihiwasallam,

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ. وَمَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ”

“Ya Allah, siapapun yang menangani urusan umatku lalu ia mempersulit mereka, maka timpakanlah kesulitan padanya. Dan barang siapa menangani urusan umatku lalu ia memberikan kemudahan kepada mereka, maka mudahkanlah urusannya”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ’anha.

Hadirin dan hadirat waffaqakumullah…

Tidak mudah memang menyeimbangkan antara pembangunan fisik dan mental, terlebih jika ketimpangan antara keduanya telah mengakar dan mengurat selama puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun. Namun jalan menuju cita-cita mulia tersebut akan terasa ringan insyaAllah, manakala kita berhasil menanamkan modal pondasi pertama dan utama dalam diri setiap anak bangsa. Yakni keimanan yang lurus dan akidah yang kokoh.

Artinya: setiap insan harus merdeka dari segala bentuk peribadatan kepada selain Allah. Jangan sampai mereka menghambakan diri kepada sesama manusia, atau makhluk lain. Sebab manusia adalah sama derajatnya di sisi Allah. Yang membedakan hanyalah ketaqwaan.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ”

Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah, ialah orang yang paling bertaqwa”. QS. Al-Hujurat: 13.

Jika dengan sesama manusia saja tidak boleh menghamba, maka bagaimanakah kiranya orang yang menghamba kepada makhluk lain selain manusia, yang kedudukannya lebih rendah. Baik itu makhluk hidup, makhluk ghaib, benda mati, maupun materi seperti harta dan kekuasaan.

Kemerdekaan pertama adalah kemerdekaan berakidah. Bahwa kita hanya beribadah kepada Allah, takut kepada Allah, dan berharap hanya pada Allah. Bertauhid dengan benar.

Saat itulah anak bangsa memiliki mental yang kuat. Tugas yang tersisa tinggal memoles bagian-bagian lain dalam karakter dirinya.

أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.


 KHUTBAH KEDUA:

الحمد لله الواحد القهار، الرحيمِ الغفار، أحمده تعالى على فضله المدرار، وأشكره على نعمه الغِزار، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له العزيز الجبار، وأشهد أن نبينا محمداً عبده ورسوله المصطفى المختار، صلى الله عليه وعلى آله الطيبين الأطهار، وإخونه الأبرار، وأصحابه الأخيار، ومن تبعهم بإحسان ما تعاقب الليل والنهار

Jama’ah Jum’at rahimakumullah

Mungkin timbul pertanyaan dalam benak kita, tindakan nyata apa gerangan yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan negeri impian tadi? Jawabannya, mari masing-masing dari kita berbuat sesuai dengan kapasitasnya.

Para pejabat berusaha mengembangkan budaya ngaji di pos-pos pemerintahan, bukan cuma di bulan suci Ramadhan saja, namun selama hayat masih di kandung badan. Terus menerus tanpa henti menempa mental yang islami, dengan menghidupkan majlis taklim. Membentengi diri dari setan-setan yang bergentayangan tanpa lelah sepanjang tahun. Ingat, sebagaimana perut kita membutuhkan makanan, hati juga membutuhkan asupan ‘gizi’ yang cukup!

Para tenaga pendidik, berusahalah untuk mengajar murid-murid dengan hati nurani. Jangan targetnya hanya sekedar mengejar selesainya kurikulum pelajaran. Namun juga berusahalah untuk menanamkan karakter yang islami dalam diri anak didik. Dengan memberikan suri teladan yang baik dan menyuntikkan nasehat-nasehat yang menyejukkan, di dalam setiap materi pelajaran. Bukan hanya di pelajaran agama saja, yang kerap dianaktirikan di berbagai lembaga pendidikan, dengan diberikan jam yang amat sedikit. Padahal ia merupakan pondasi utama dalam menciptakan pendidikan yang berkarakter.

Para orang tua, ketahuilah bahwa keluarga adalah miniatur sebuah negara. Untuk menciptakan negara yang baik, harus dimulai dari mewujudkan keluarga yang baik. Maka, wahai para bapak dan ibu, jikalau Anda mendidik putra-putri Anda dengan sebaik-baiknya, sejatinya Anda adalah pahlawan yang paling berjasa, dalam membangun negara yang mulia. Maka, jadilah pionir-pionir kebaikan!

ألا وصلوا وسلموا -رحمكم الله- على الهادي البشير، والسراج المنير، كما أمركم بذلك اللطيف الخبير؛ فقال في محكم التنـزيل: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Ramadhan 1433 / 16 Agustus 2012

mutiara

October 11, 2014
by
0 comments

Malu, Mutiara yang Semakin Pudar

Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA[1]

Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 2 Sya’ban 1433 / 22 Juni 2012

 

KHUTBAH PERTAMA:

الحمد لله ذي الفضل والإحسان، الذي جعل الحياء شعبة من شعب الإيمان، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، يسأله من في السماوات والأرض، كل يوم هو في  شأن.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah…

Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.

Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan,

عن عَطَاءٍ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ قَالَ: قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ: “أَلَا أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟” قُلْتُ: “بَلَى!” قَالَ: “هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللهَ لِي!”. قَالَ: “إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُعَافِيَكِ”. فَقَالَتْ: “أَصْبِرُ” فَقَالَتْ: “إِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللهَ لِي أَنْ لَا أَتَكَشَّفَ”، فَدَعَا لَهَا”.

Atha’ bin Abi Rabah bertutur, suatu saat Ibnu Abbas berkata padaku,“Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni surga?”

Aku menjawab, “Tentu”.

Beliau berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah agar Allah Menyembuhkanku.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jika engkau berkenan, bersabarlah niscaya engkau mendapatkan surga. Namun jika engkau menghendaki, maka aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.”

Wanita itu menjawab, “Aku pilih bersabar”. Lalu ia melanjutkan perkataannya, “Tatkala penyakit ayanku kambuh, auratku terbuka, maka tolong doakanlah agar auratku tidak tersingkap.”

Maka Nabi pun mendoakannya.” HR. Bukhari dan Muslim.

Subhanallah, alangkah mulia kedudukan yang berhasil diraih wanita itu? Apakah gerangan amalan yang mengantarkannya menjadi seorang wanita penghuni surga?

Apakah karena ia adalah wanita yang cantik jelita dan berparas elok? Ataukah karena ia wanita yang berkulit putih bak batu pualam?

Tidak! Bahkan Ibnu Abbas menyebutnya sebagai wanita yang berkulit hitam legam.

Wanita hitam itu, yang mungkin tidak ada harganya dalam pandangan masyarakat. Akan tetapi ia memiliki kedudukan mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam.

Namun, kecantikan iman yang terpancar dari hatinyalah, yang menghantarkan dia kepada kedudukan mulia. Dengan ketaqwaannya, keimanannya, keindahan akhlaqnya dan rasa malunya, seorang wanita yang buruk rupa di mata para manusia, pun akan menjelma menjadi secantik bidadari surga.

Ya, karena rasa malu yang tertanam kuat di dalam hatinya! Malu dari apa?

Wanita itu berkata, “Aku menderita penyakit ayan dan auratku tersingkap saat penyakitku kambuh. Doakanlah agar Allah Menyembuhkanku.”

Kaum muslimin, penyakit ayan bukanlah penyakit yang ringan. Terlebih penyakit itu diderita oleh seorang wanita. Betapa besar rasa malu yang sering ditanggung para penderita penyakit ayan, karena banyak anggota masyarakat yang masih menganggap penyakit ini sebagai sesuatu yang menjijikkan.

Tapi, lihatlah perkataan wanita hitam itu. Apakah ada satu kata saja yang menunjukkan bahwa ia benci terhadap takdir yang menimpanya? Apakah ia mengeluhkan betapa menderitanya dia? Betapa malunya ia karena menderita penyakit ayan? Tidak, bukan itu yang ia keluhkan. Justru ia mengeluhkan auratnya yang tersingkap saat penyakitnya kambuh.

Subhanallah. Ia adalah seorang wanita yang sangat khawatir bila auratnya tersingkap. Ia tahu betul akan kewajiban seorang wanita untuk menutup auratnya dan ia berusaha sekuat tenaga melaksanakannya, meski dalam keadaan sakit. Inilah salah satu ciri wanita salihah, calon penghuni surga. Yaitu mempunyai sifat malu dan senantiasa berusaha menjaga kehormatannya dengan menutup aurat. Bagaimana dengan wanita zaman sekarang, yang di saat sehat pun, dengan rela hati membuka auratnya? Alih-alih merasa malu manakala dilihat para lelaki, justru ia semakin bangga manakala pria yang memelototinya bertambah banyak. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un..

Seorang wanita yang ingatannya sedang dalam keadaan tidak sadar, kemudian auratnya tak sengaja terbuka, maka tak ada dosa baginya. Karena hal ini di luar kemampuannya. Akan tetapi, lihatlah wanita tersebut. Bahkan di saat sakitnya, ia ingin supaya auratnya tetap tertutup. Di saat ia sedang tak sadar disebabkan penyakitnya, ia ingin agar kehormatannya sebagai seorang muslimah tetap terjaga.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Begitulah sekelumit tentang kekuatan positif sifat malu dan pengaruh baiknya. Sifat malu termasuk di antara sifat terpuji yang amat disayangkan sudah ditinggalkan banyak orang. Padahal sifat ini bisa mendatangkan banyak kebaikan bagi orang yang memilikinya. Juga membentengi dirinya agar tidak terjerumus kepada perilaku buruk.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْر

“Sesungguhnya rasa malu itu tidak lain, hanya akan mendatangkan kebaikan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Imran bin Hushain.

Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam pernah bertemu dengan seseorang yang sedang mengkritik saudaranya yang pemalu. Maka beliau pun menegurnya seraya berkata,

دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنَ الْإِيمَانِ

“Biarkan dia, karena sesungguhnya malu itu adalah bagian dari iman”. HR. Bukhari dari Ibnu Mas’ud.

Beberapa hadits di atas menunjukkan, bahwa malu bukanlah suatu yang buruk, bahkan sebaliknya termasuk sifat yang terpuji.

Sidang Jum’at yang berbahagia…

Rasa malu itu ada dua, yaitu malu kepada Allah dan malu kepada manusia.

Malu kepada Allah ta’ala maksudnya, adalah merasa malu dilihat Allah saat melakukan perbuatan maksiat. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya,

اسْتَحْيُوا مِنَ اللهِ حَقَّ الحَيَاءِ. قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالحَمْدُ لِلَّهِ ، قَالَ : لَيْسَ ذَاكَ ، وَلَكِنَّ الاِسْتِحْيَاءَ مِنَ اللهِ حَقَّ الحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى ، وَالبَطْنَ وَمَا حَوَى ، وَلْتَذْكُرِ الْمَوْتَ وَالبِلَى ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الحَيَاءِ.

“Hendaklah kalian benar-benar merasa malu kepada Allah!”. Para sahabat menyahuti, “Alhamdulillah, kami telah memiliki sifat malu, wahai Rasulullah!”. Beliau menimpali, “Bukan itu maksudnya, akan tetapi perasaan malu yang hakiki kepada Allah, adalah manakala engkau menjaga kepala beserta isinya, menjaga perut beserta isinya dan terus mengingat kematian. Orang yang merindukan akhirat, pasti dia akan meninggalkan keindahan dunia. Barang siapa mempraktekkan ini berarti ia telah dikategorikan benar-benar merasa malu kepada Allah”. HR. Tirmidzy dari Ibnu Mas’ud dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim.

Orang yang merasa malu kepada Allah, dia akan menjauhi semua larangan-Nya dalam segala kondisi. Baik saat sendiri maupun di tengah keramaian. Sebuah rasa yang merupakan buah dari ma’rifatullah (mengenal Allah).

Rasa malu yang muncul karena menyadari keagungan dan kedekatan Allah. Rasa malu yang timbul karena sadar bahwa Allah itu Maha Mengetahui seluruh perbuatan, yang nampak maupun tersembunyi dalam hati. Rasa malu seperti inilah yang masuk dalam tingkat keimanan tertinggi, yakni ihsan.

Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah…

Di samping rasa malu kepada Allah ta’ala, kita juga harus memiliki sifat malu kepada manusia. Rasa malu ini akan mencegah kita dari perbuatan yang tidak layak dan tercela. Rasa malu membuat kita tidak suka jika aib dan keburukan kita diketahui orang lain. Oleh karena itu, orang yang memiliki rasa malu tidak akan menyeret dirinya untuk menjadi tukang cela, penyebar fitnah, juru gunjing dan berbagai tindak maksiat lainnya yang nampak.

Singkat kata, rasa malu kepada Allah akan mencegah seseorang dari keburukan batin, sedangkan malu kepada manusia akan mencegahnya dari kerusakan lahiriah. Dengan demikian, dia akan menjadi orang yang baik secara lahir dan batin. Dia akan tetap baik ketika sendiri, maupun di tengah khalayak umum. Malu seperti inilah yang merupakan bagian dari iman.

Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati…

Lalu bagaimana dengan orang yang tidak memiliki rasa malu? Orang yang tidak memiliki rasa malu, berarti dia tidak memiliki benteng dalam dirinya yang bisa mencegahnya dari perbuatan dosa dan maksiat. Dia akan berbuat sekehendaknya sendiri, seakan-akan tidak ada iman yang tersisa dalam hati.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya di antara ungkapan kenabian pertama yang diketahui para manusia ialah, “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu”. HR. Bukhari dari Abu Mas’ud.

Artinya, orang yang tidak memiliki rasa malu sedikitpun, dia pasti akan berbuat semaunya, tanpa peduli maksiat atau bukan, apakah itu etis atau tidak? Hidup semaunya sendiri.

Hadirin dan hadirat waffaqakumullah…

Itulah sekelumit tentang urgensi sifat malu dalam kehidupan manusia. Lalu, bagaimana dengan realita banyak manusia di zaman ini? Ternyata tidak sedikit di antara mereka, yang telah mencampakkan rasa malu sampai ke akar-akarnya, seakan tidak tersisa secuilpun di dalam hatinya. Sehingga akibatnya berbagai kemungkaran menjamur di mana-mana.

Aurat yang mestinya ditutup, justru dipertontonkan dan diumbar di depan khalayak ramai. Sorot mata jalang yang seharusnya membuat risih dan malu, justru semakin menimbulkan rasa bangga.

Perbuatan amoral dilakukan terang-terangan di media informasi, cetak maupun elektronik.

Rasa cemburu pada pasangan sirna bak tak tersisa.

Tindakan asusila nan hina dianggap baik dan dibanggakan, bahkan diusahakan mati-matian untuk dilegalkan. Ketika ini dipermasalahkan, malah banyak orang sontak membelanya. Sungguh ironis, namun inilah realita yang ada.

Di manakah rasa malu, dari pejabat yang mendapatkan amanah untuk mengayomi rakyatnya, justru ia menghisap harta mereka dengan perbuatan korupsi dan kolusi?

Di manakah rasa malu, dari pedagang yang mengurangi takaran dan timbangan, serta bersumpah palsu untuk melariskan dagangannya?

Di manakah rasa malu, dari para orang kaya yang menyerobot jatah orang miskin? Manakala merasa iri dengan jatah raskin yang diterima kaum papa, sehingga ia pun menuntut untuk mendapatkan jatah serupa. Sehingga orang-orang lemah yang seharusnya perbulan menerima jatah raskin sebanyak 15 kg, ia harus rela menerimanya hanya 3 kg saja!

 Di manakah rasa malu, dari seorang pelajar yang berbuat curang dalam ujian, demi mengejar fatamorgana nilai palsu?

Benarlah sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam tersebut di atas,

إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

 “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu”. HR. Bukhari dari Abu Mas’ud.

أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.


 

KHUTBAH KEDUA:

الحمد لله الواحد القهار، الرحيمِ الغفار، أحمده تعالى على فضله المدرار، وأشكره على نعمه الغِزار، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له العزيز الجبار، وأشهد أن نبينا محمداً عبده ورسوله المصطفى المختار، صلى الله عليه وعلى آله الطيبين الأطهار، وإخونه الأبرار، وأصحابه الأخيار، ومن تبعهم بإحسان ما تعاقب الليل والنهار

Jama’ah Jum’at rahimakumullah

Rasa malu yang terpuji adalah rasa malu yang mencegah seseorang dari perbuatan buruk, dan rasa malu yang bisa mendorong dia untuk melakukan kebaikan.

Adapun rasa malu yang menghalangi seseorang dari amal salih, maka itu merupakan jenis malu yang tercela. Seperti malu untuk berjilbab, malu untuk menunaikan shalat berjama’ah di masjid, malu untuk bertutur kata jujur, malu untuk bertanya tentang permasalahan agama, malu untuk menyuarakan kebenaran, malu untuk menghadiri majlis taklim, malu untuk beramar ma’ruf nahi munkar dan yang semisal. Seluruh ini adalah jenis malu yang tercela.

Rasa malu yang terpuji merupakan anugerah berharga dari Allah, sementara rasa malu yang tercela adalah tipuan setan la’natullah.

Semoga Allah berkenan mengaruniakan pada kita rasa malu yang terpuji, dan menghindarkan kita dari rasa malu yang tercela, amien.

ألا وصلوا وسلموا -رحمكم الله- على الهادي البشير، والسراج المنير، كما أمركم بذلك اللطيف الخبير؛ فقال في محكم التنـزيل: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…

 

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Sya’ban 1433 / 22 Juni 2012



[1] Hasil modifikasi dari makalah berjudul “Wanita Penghuni Surga Itu” tulisan Ummu Rumman Siti Fatimah yang dimuat dalam website muslimah.or.id dan khutbah Jum’at berjudul “Esensi Malu dalam Kehidupan” yang dimuat dalam Majalah as-Sunnah edisi 09/Thn. XIV (hal. 62-64), dengan beberapa tambahan dan perubahan.

1181563-bigthumbnail

October 11, 2014
by
0 comments

KEZALIMAN ADALAH KEGELAPAN

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA

Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 6 Rabi’uts Tsani 1435 / 7 Februari 2014

 KHUTBAH PERTAMA:

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي حَرَّمَ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِهِ وَحَعَلَهُ بَيْنَ عِبَادِهِ مُحَرَّماً، وَجَعَلَ عَاقِبَةَ الظُّلْمِ دَمَاراً عَلَى أَهْلِهِ وَهَلاَكاُ وَمَأْثَماً، فَتِلْكُ بُيُوْتُهُمْ خَاوِية بِمَا ظَلَمُوْا فَبِئْسَ الْمَصِيْرُ لِمَنْ بَغَى، وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً نَرْجُوْ بِهَا عَالِي الْجِنَانِ نُزُلاً، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى كَافَّةِ الْقُرَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ أَقَامُوا الْعَدْلَ فِيْمَا وُلُّوْا عَلَيْهِ، فَأَكْرِمْ بِهِمْ أَوْلِيَاءَ!

أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاحْذَرُوْا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ، ظُلُمَاتٌ فِي الْقَلْبِ، وَظُلُمَاتٌ عَلَى الْوَجْهِ، وَظُلُمَاتٌ فِي الْقَبْرِ، وَظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah…

Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.

Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…

Panas yang maha dahsyat, ketakutan yang menghantui, kebingungan yang berlipat-lipat, dan ketidakpedulian manusia terhadap para kekasih terdekatnya, ini hanyalah sekelumit gambaran tentang mengerikannya keadaan di hari kiamat.

Dalam kondisi yang begitu menyeramkan, selain merasakan berbagai keadaan tersebut di atas, tidak sedikit para manusia yang harus terjebak di dalam kegelapan yang mencekam. Tidak mengetahui arah atau jalan yang seharusnya dititi.

Siapakah mereka yang begitu malang nasibnya? Mereka antara lain adalah: orang-orang yang gemar melakukan kezaliman. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,

“اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ”.

“Hati-hatilah dari perbuatan zalim. Sesungguhnya kezaliman itu adalah kegelapan yang sangat gelap di hari kiamat”. HR. Muslim dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhu.

Sidang Jum’at yang berbahagia…

Dalam bahasa Arab, zalim bermakna meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya.[1] Asal kata zalim adalah kejahatan dan perbuatan yang melampaui batas. Demikian keterangan yang dibawakan Imam Ibn al-Atsir dalam kitabnya an-Nihâyah fî Gharîb al-Hadîts.

Kezaliman itu amat beragam dan bertingkat-tingkat keparahannya. Kezaliman yang paling parah dan paling berat azabnya adalah perbuatan syirik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“إِنَّ ٱلشّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ”

Artinya: “Sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang berat”. QS. Luqman (31): 13.

Mengapa perbuatan mempersekutukan Allah dikategorikan termasuk kezaliman, bahkan merupakan kezaliman yang paling parah? Pertanyaan ini akan terjawab, bilamana kita kembalikan kepada definisi kezaliman. Yakni meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Pelaku kesyirikan sejatinya telah meletakkan ibadah bukan pada tempatnya yang benar. Sebab ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah ta’ala. Sedangkan mereka justru mempersembahkannya kepada benda-benda mati atau para makhluk yang lemah.

Sangat naïf memang perbuatan mereka! Allah tabaraka wa ta’ala yang telah begitu banyak memberikan karunia nikmat kepada mereka, justru mereka balas dengan bersyukur kepada selain-Nya.

Allah yang telah mengaruniakan panen padi yang melimpah-ruah kepada mereka. Justru mereka berterimakasih kepada Dewi Sri, dengan memaparkan berbagai sesaji di pojok-pojok sawah.

Allah yang telah mengaruniakan hasil laut yang begitu beragam kepada mereka. Malah mereka berterima kasih kepada Nyi Roro Kidul dengan mempersembahkan kepala sapi yang dilarung dalam upacara yang begitu khidmatnya.

Allah yang telah mengaruniakan kesuksesan bisnis, kelulusan anak dan kemajuan perusahaan. Mereka justru melakukan safari berbagi nazar ke berbagai kuburan keramat.

Begitulah kezaliman yang paling zalim. Maka wajar, bila dosa ini tidak akan diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala bila seorang hamba meninggal dalam keadaan belum bertaubat darinya. Sebagaimana ditegaskan di dalam al-Qur’an,

“إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ، وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا”

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. Dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar”. QS. An-Nisa’ (4): 48.

Para hadirin dan hadirat rahimakumullah..

Jenis kezaliman kedua adalah: kezaliman seorang hamba terhadap dirinya sendiri. Yakni dengan melakukan berbagai perbuatan dosa dan maksiat, yang hanya merugikan dirinya sendiri.

Saat seorang berzina dan menenggak minuman keras, walaupun ia merasakan kenikmatan saat itu, sejatinya ia sedang menganiaya dan menyakiti dirinya sendiri. Sebab setelah kenikmatan sesaat itu, ia akan menuai kegelisahan, kegundahgulanaan dan ketergantungan akut terhadap perbuatan nista tersebut. Itu baru akibat yang akan dirasakannya di dunia. Belum lagi kehinaan dan azab yang tak terperikan kelak di alam kubur serta di neraka jahannam. Na’udzubillah min dzalik…

Barangsiapa yang terjerumus dalam perbuatan menganiaya diri sendiri, tetapi ia segera sadar lalu mengingat Allah dengan bertobat dan beramal salih; niscaya akan diampuni oleh Allah ta’ala Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

“وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ . أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ”.

Artinya: “Orang-orang yang apabila mengerjakan pekerjaan keji atau menzalimi diri sendiri, segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa pula yang dapat mengampuni dosa-dosa selain dari Allah? Mereka juga tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui. Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Rabb mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal”. QS. Ali Imran (3): 135-136.

Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati…

Adapun jenis kezaliman yang ketiga, adalah bentuk perbuatan zalim yang sering diremehkan oleh banyak manusia, padahal resikonya amatlah berat. Kezaliman yang tidak akan pernah diabaikan oleh Allah tabaraka wa ta’ala. Dan tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa pembalasan.

Yakni kezaliman seorang hamba terhadap sesamanya. Dalam sebuah hadits qudsi Allah jalla wa ‘ala mengingatkan,

“يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا”

“Wahai para hamba-Ku, sungguh Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku juga mengharamkan kezaliman atas kalian. Maka janganlah kalian saling menzalimi!”. HR. Muslim dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu.

Kezaliman jenis ini amat banyak potretnya dan bertebaran di mana-mana. Mulai dari lingkungan terdekat dengan kita, hingga yang berada di nun jauh sana. Pelakunya pun amat beragam, mulai dari orang cilik hingga para pembesar, mulai dari perampok hingga yang berpenampilan alim.

Para suami yang sewenang-wenang terhadap isterinya; memperlakukannya dengan kasar, menceraikannya tanpa sebab, menelantarkannya dengan tidak memberinya nafkah baik lahir maupun batin.

Orang tua yang mengabaikan putra-putrinya. Tidak memberikan perhatian yang layak terhadap pendidikan mereka. Membiarkan mereka meninggalkan shalat dan puasa. Bahkan memfasilitasi di dalam rumahnya berbagai sarana yang merusak kepribadian mereka.

Guru yang tidak memberikan perhatian yang proporsional terhadap anak didiknya. Targetnya hanyalah mengejar selesainya kurikulum, tanpa peduli dengan perilaku murid-muridnya. Masih ditambah pula sering menjatuhkan hukuman berlebihan dan kurang memperhatikan kaidah-kaidah yang benar di dalam penjatuhan sanksi.

Tetangga yang berbuat semaunya terhadap kanan dan kirinya. Membuat bising telinga dengan suara tape yang keras dan lagu-lagu yang menggila. Menguping rahasia rumah tangga orang lain dan usil membicarakan kejelekannya dari belakang. Mengadu domba antar tetangga dan yang juga banyak sekali terjadi adalah mencaplok tanah tetangga tanpa hak, berapapun ukurannya.

Penguasa yang lalim dan berbuat sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Seperti yang dialami saudara-saudara kita para penduduk negeri Suriah. Mereka telah terusir dari kampung halamannya sendiri. Di negeri orang mereka tercekam ketakutan, kelaparan, ketidaktentuan dan kedinginan yang luar biasa. Kaum muslimat dinodai kehormatannya. Dan jangan tanyakan mengenai korban yang terbunuh di sana. Tidak tanggung-tanggung 136 ribu nyawa manusia ‘tak berdosa’ melayang di negeri tersebut. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Kezaliman bukan hanya dilakukan oleh orang-orang fasik atau orang kafir, tapi juga amat disayangkan menjangkiti sebagian mereka yang terlihat berpenampilan alim dan berbusana islami.

Sebagian mereka begitu mudah memvonis sesat saudaranya. Melontarkan tuduhan dan fitnah, hanya berdasarkan berita burung yang tidak jelas kebenarannya. Menjauhkan ummat dari para dai penyeru kebaikan. Parahnya, semua itu dibungkus dengan label amar makruf dan nahi mungkar.

Sadarlah wahai saudaraku, bahwa setiap ucapan yang kita lontarkan, atau sms yang kita kirimkan, atau tulisan yang yang kita upload di jejaring sosial, semuanya ini akan kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah yang Maha adil!

“وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ، إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا”

Artinya: “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya”. QS. Al-Isra’ (17): 36.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم ولكافة المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

KHUTBAH KEDUA:

الْحَمْدُ للهِ “غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ”، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ لاَ نِدَّ لَهُ سُبْحَانَهُ وَلاَ شَبِيْهَ وَلاَ مَثِيْلَ وَلاَ نَظِيْرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَكُلِّ تَابِعٍ مُسْتَنِيْرٍ.

Sidang Jum’at yang kami hormati…

Pelaku kezaliman cepat atau lambat pasti akan menuai akibat buruk dari perbuatannya. Bila belum ia rasakan di dunia, pasti dan pasti kelak akan ia akan merasakannya di akhirat. Maka, sebelum matahari terbit dari arah Barat, sebelum pintu taubat ditutup rapat dan sebelum ajal datang menjemput, sebelum terlambat; bertaubatlah kepada Allah! Mintalah maaf kepada orang-orang yang dizalimi. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mewanti-wanti,

“مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ ، أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ؛ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ”

“Barang siapa yang menzalimi seseorang, baik itu dalam harga dirinya atau yang lainnya; hendaklah ia meminta maaf padanya hari ini juga. Sebelum datang hari di mana saat itu emas dan perak tidak lagi berguna”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Adapun mereka yang merasa enggan atau gengsi untuk meminta maaf kepada saudaranya, maka nantikanlah kebangkrutan total kelak di hari kiamat. Saat pahala mereka habis dilimpahkan kepada orang-orang yang dizaliminya, dan tumpukan dosa orang-orang yang dizaliminya  akan dibebankan kepada mereka.

Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bertutur,

« أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ». قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ ».

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut / jatuh pailit itu?”, para sahabat menjawab, “Orang yang pailit di antara kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang perniagaan…”.  Maka Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun berkata, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa, dan zakat. Akan tetapi dia telah memaki orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain, memukul orang lain. Maka diambillah pahala amalan-amalannya dan diberikan kepada ini dan kepada itu (orang lain yang dia dzalimi tersebut -pen), apabila amal kebaikannya sudah habis, sedangkan tanggungan dosanya belum juga tuntas, maka dosa-dosa mereka akan dicampakkan kepadanya, lalu ia dimasukkan ke dalam neraka”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Untaian nasehat nabawi yang menjadi peringatan keras bagi para pelaku kezaliman, sekaligus hiburan yang menenangkan hati orang-orang yang dizalimi.

هذا؛ وصلوا وسلموا –رحمكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…

 

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Rabi’uts Tsani 1435 / 7 Februari 2014


[1] Mufradât Alfâzh al-Qur’ân karya ar-Raghib al-Ashfahany (hal. 537).