Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 99

Ikhlas dalam berdoa maksudnya adalah: bahwa doa yang kita panjatkan harus tertuju murni kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja. Bukan kepada selain-Nya.

Sebab;

Pertama: Doa adalah ibadah

Sedangkan ibadah itu harus ditujukan dan dipersembahkan kepada Allah ta’ala semata. Banyak dalil yang menyebutkan bahwa doa itu ibadah. Di antaranya:

Firman Allah ta’ala,

[arabic-font]”وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ”[/arabic-font]

Artinya: “Rabb kalian berkata, “Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kukabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang sombong (enggan) beribadah kepada-Ku; niscaya mereka akan masuk ke dalam neraka dengan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.

Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

[arabic-font]”الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ”[/arabic-font]

“Doa adalah ibadah”. HR. Tirmidzy dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzy.

Kedua: Perintah agar memurnikan doa untuk Allah saja

Selain telah menjelaskan bahwa doa adalah ibadah, dalam beberapa kesempatan bahkan Allah ‘azza wa jalla juga secara tegas memerintahkan kita agar berdoa kepada-Nya saja. Dia berfirman,

[arabic-font]”هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”.[/arabic-font]

Artinya: “Dialah yang Maha hidup, tidak ada yang berhak disembah selain Dia. Maka berdoalah kepada-Nya dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam”. QS. Al-Mu’min / Ghafir (40): 65.

Ketiga: Peringatan agar tidak berdoa kepada selain Allah

Tidak cukup hanya memerintahkan para hamba agar berdoa kepada-Nya, Allah jalla wa ‘ala juga dengan tegas melarang untuk berdoa kepada selain-Nya,

[arabic-font][arabic-font][/arabic-font]”وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا”[/arabic-font]

Artinya: “Sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allah. Maka janganlah kalian berdoa kepada siapapun bersama Allah”. QS. Al-Jinn (72): 18.

Sebab selain Allah tidak memiliki apa-apa. Dia berfirman,

[arabic-font]”قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ”[/arabic-font]

Artinya: “Katakanlah (Muhammad) “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai sesembahan) selain Allah. Mereka tidak memiliki sebesar zarrah pun di langit dan di bumi”. QS. Saba’ (34): 22.

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Ramadhan 1437 /20 Juni 2016

* Diringkas dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkar karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr (II/39-43) oleh Abdullah Zaen, Lc., MA.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here