Oleh:

Abdullah Zaen, Lc., MA

Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 11 Dzulhijjah 1436 / 25 September 2015

 

KHUTBAH PERTAMA:

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.

“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah…

Tiada kata yang paling pantas kita senandungkan pada hari yang berbahagia ini melainkan kata-kata syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mencurahkan kenikmatan kepada kita sehingga kita berkumpul dalam majelis ini. Kita realisasikan rasa syukur kita dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Kemudian tidak lupa kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jamaah semuanya, marilah kita tingkatkan kualitas iman dan taqwa kita, karena keimanan dan ketaqwaan merupakan sebaik-baik bekal menuju akhirat kelak.

Jama’ah Jum’at ‘azzakumullah

Kisah keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah kisah teladan bagi setiap rumah tangga muslim dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Serentetan ujian bergulir tiada henti dalam kehidupan beliau. Namun semua itu tidak menjadikan bahtera rumah tangganya goncang, bahkan justru semakin bertambah kuat dan kokoh perkasa.

Sekian puluh tahun lamanya keluarga Ibrahim menanti kehadiran sang buah hati. Telah banyak linangan air mata dalam doanya untuk dikaruniai seorang putra sebagai penerus perjuangannya. Ketika sang buah hati telah hadir dan merekah dalam hatinya, ternyata Allah berhendak menguji keimanan Nabi-Nya.

Allah berfirman,

“فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”

Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, Ibrahim berkata padanya, “Wahai anakku sungguh aku telah bermimpi menyembelih dirimu. Apa gerangan pendapatmu mengenai mimpi tersebut?”. Ia menjawab, ‘Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash-Shaffat (37): 102.

Siapapun pasti akan merasa berduka ketika buah hatinya sakit dan terluka. Apalagi anak semata wayang yang sekian puluh tahun dinanti kehadirannya diperintahkan untuk disembelih, sebagai bukti keimanannya. Meski demikian, Nabi Ibrahim yakin bahwa mimpi yang dialaminya adalah wahyu dari Allah. Bukan sekedar halusinasi atau bisikan setan. Akhirnya beliaupun bertekad melaksanakan perintah Allah tersebut bersama anaknya.

Sidang Jum’at yang kami hormati

Setelah Nabi Ibrahim mengetahui bahwa hal tersebut adalah wahyu dari Allah, maka segera beliau kabarkan kepada Ismail putranya tercinta seraya meminta pendapatnya.

Ketika mendengar hal tersebut adalah wahyu Allah yang disampaikan pada ayahnya tercinta, maka ia tidak lagi berpikir panjang memberikan jawaban untuk melaksanakan perintah Allah. Isma’il yang masih belia itu dengan tegas mengatakan pada ayahnya,

“Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Bukan hanya itu saja, bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan[1], bahwa dengan tulus dan tabah sang anak berkata,

يَا أَبَتِ اشْدُدْ رِبَاطِيْ حَتَّى لاَ أَضْطَرِبَ…

“Wahai Ayahku, kencangkanlah ikatanku agar aku tak lagi bergerak.”

وَاكْفُفْ عَنِّي ثِيَابَكَ حَتَّى لاَ يَنْتَضِحَ عَلَيْهَا مِنْ دَمِيْ شَيْءٌ فَيَنْقُصَ أَجْرِيْ وَتَرَاهُ أُمِّيْ فَتَحْزَنُ…

“Wahai Ayahku, singsingkanlah baju engkau agar darahku tidak mengotori bajumu. Aku khawatir akan mengurangi pahalaku, dan (jika nanti) ibu melihat bercak darah itu niscaya beliau akan bersedih.”

وَيَا أَبَتِ اسْتَحِدَّ شَفْرَتَكَ وَأَسْرِعْ مَرَّ السِّكِّيْنِ عَلَى حَلْقِيْ لِيَكُوْنَ أَهْوَنُ عَلَيَّ فَإِنَّ الْمَوْتَ شَدِيْدٌ…

“Tajamkanlah pisau Ayah serta percepatlah gerakan pisau itu di leherku, agar terasa lebih ringan bagiku. Karena sungguh kematian itu amat dahsyat.”

وَإِذَا أَتَيْتَ أُمِّيْ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلاَمَ مِنِّيْ… وَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تَرُدَّ قَمِيْصِيْ عَلَى أُمِّيْ فَافْعَلْ…

“Wahai Ayah, apabila engkau telah kembali, maka sampaikan salam (kasih)ku kepada ibunda, dan apabila bajuku ini Ayah pandang baik untuk dibawa pulang maka bawalah.”

Maka saat itu, dengan penuh haru Ibrahim menjawab,

نِعْمَ الْعَوْنُ أَنْتَ يَا بُنَيَّ عَلَى أَمْرِ اللهِ تَعَالَى…

“Wahai anakku, sungguh engkau adalah anak yang sangat membantu dalam menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala “.

Para hadirin dan hadirat rahimakumullah..

Sudah begitu banyak tulisan, ceramah dan pengajian yang mengupas berbagai pelajaran berharga dari kisah keteladanan di atas. Namun ada satu poin yang setahu kami belum banyak dibahas. Yakni adanya dialog dan diskusi antara orang tua dan anak dalam menjelaskan perintah-perintah agama. Sebuah kebiasaan yang sering diabaikan dalam kehidupan keluarga kita.

“Kalau anak-anak dulu ditengoki aja udah takut. Kalau anak sekarang, capek mulut awak becakap mereka tak peduli”. Begitu komentar seorang ayah terhadap perilaku anak-anaknya. Apa yang dia ucapkan  agaknya mewakili pernyataan para orang tua. Memang saat ini banyak orang tua bingung bagaimana cara berkomunikasi dengan anak-anaknya. Seringkali apa yang disampaikan orang tua tidak diindahkan anak-anaknya. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

Ketika kenakalan remaja meningkat, menjadi sangat penting bagi orang tua untuk memikirkan gaya berkomunikasi dengan anak-anaknya.  Sebetulnya, orang tua bisa meniru cara komunikasi Nabi Ibrahim dengan putranya ‘alaihimassalam. Karena memang seni berkomunikasi apik tersebut direkam dengan rapi di dalam al-Qur’an.

Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati…

Jika diper­hatikan, keluarga Nabi Ib­rahim merupakan salah satu profil keluarga ideal yang dikisahkan dalam al-Quran.

Tentu banyak poin yang dapat dipetik dari kisah perjalanan hidup keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yang bisa kita terapkan dalam kehidupan keseharian kita. Demi mensukseskan proses komunikasi antara orang tua dan putra-putrinya.

Di anta­ranya:

Poin Pertama: Faktor Keteladanan Nabi Ibrahim Sebagai Suami dan Ayah.

Dalam keluarganya, Nabi Ibrahim adalah kepala keluarga. Beliau membina keluar­ganya sesuai dengan tuntunan dan bimbingan Allah ta’ala.

Sebagai suami, Ibrahim berlaku adil kepada istrinya. Kedua istrinya, Sarah dan Hajar, taat kepada Nabi Ibrahim. Kepatuhan istri terse­but tentu tidak terlepas dari kemuliaan pribadi dan keta­atan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada Allah ta’ala.

Hal ini mengajarkan kepa­da kita bahwa jika ingin ditaati oleh istri, seorang suami harus mampu menam­pilkan dirinya sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab, berkepribadian luhur, cinta pada keluarga dan berperilaku sesuai dengan tuntunan agama.

Akan sulit bagi seorang suami yang menginginkan istrinya taat dan shalehah, sementara suami sendiri memiliki akhlak yang buruk. Akan sia-sia jika suami lebih menginginkan istrinya beru­bah ke arah yang lebih baik, sementara pribadi sang sua­mi tersebut tidak pula mampu mengubah kebiasaan-kebia­saan buruk yang ia lakukan. Sejatinya, ubahlah diri sendiri, maka Allah akan memper­mu­dah jalannya untuk mengubah orang-orang yang dipimpinnya, termasuk istri dan anak-anaknya.

Adapun sebagai seorang ayah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tampil menjadi pendidik yang penuh kasih sayang dan menjadi teladan.

Ibrahim membawa Ismail untuk membangun Ka’bah lalu tinggal di sekitarnya [QS. Ibrahim (14): 37]. Nabi Ibrahim memberi contoh secara lang­sung bagaimana cara beri­badah kepada Allah, bukan sekedar nasihat.

Upaya ini seharusnya kita teladani, dengan konsisten menjadi contoh yang baik bagi anak keturunan kita; bukan sekedar menceritakan contoh kebaikan saja.

Poin Kedua: Adanya Dialog Kasih Sayang

Perhati­kanlah isi dialog di awal khutbah ketika Nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah untuk menyembelih Ismail.

Dalam dialog yang dike­mu­kakan al-Quran di atas, terlihat Nabi Ibrahim sangat menyayangi anaknya dan memberi kesempatan padanya untuk bertukar pikiran. Sifat kasih sayang itu tergambar dari pilihan kata yang diguna­kannya ketika menyeru buah hatinya: “Ya bunayya (wahai anakku)”. Penggunakan kata “Ya bunayya” merupakan pang­gi­lan penuh kasih sayang kepada anaknya.

Di antara tujuan yang ingin dicapai Ibrahim dalam proses komunikasi adalah kerelaan Ismail untuk ‘dikorbankan’. Selain itu, Ibrahim berharap Ismail mengetahui bahwa ‘penyembelihan’ itu sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Dua target yang ingin dicapai Ibrahim dalam komunikasi itu ternyata berhasil dicapai. Hal itu disebabkan, antara lain karena adanya kesamaan pola keimanan antara keduanya dan kepercayaan tinggi Ismail terhadap ayahnya, yang muncul dari keteladanan Ibrahim.

Ismail percaya betul bahwa ayahnya tidak mempunyai kepentingan pribadi, kecuali semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Dengan pemahaman seperti itu, Ismail juga harus mengerjakan perintah Allah, karena Ismail juga mengakui dirinya sebagai hamba Allah.

Makanya, jangankan mengajak un­tuk kebaikan yang mengun­tungkan secara lahiriah, keti­ka diajak untuk mengor­bankan nyawa sekali pun, sang anak pun rela tanpa banyak protes.

Namun, tentu kita berhak untuk bertanya, upaya lain apa yang dilakukan oleh Ibrahim sehingga putranya bisa setaat itu?

Inilah pembahasan poin berikutnya:

Poin Ketiga: Untaian Doa

Seluruh kesuksesan proses pendidikan yang dilakukan Nabi Ibrahim, semua itu tidak terlepas dari doa, usaha dan ketela­danan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim.

Al-Quran me­nga­­badikan doa Nabi Ibrahim,

  رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ”

Artinya: “Wahai Rabbku, anugerahkan kepadaku keturunan yang shalih”. QS. Ash-Shaffat (37): 100.

Hal ini mengajarkan kepa­da kita agar senantiasa ber­doa untuk memperoleh anak yang shalih dan shalihah. Anak adalah amanah. Namun ia bisa juga menjadi fitnah [QS. Al-Anfal (8): 28]. Karena itu, berdoa dan berlindunglah kepada Allah agar kita diberi kekuatan dan kemampuan untuk mendidik anak yang shalih dan shalihah sehingga ia tidak men­jadi fitnah yang merugi­kan.

Poin Keempat: Memilih Ibu yang Baik

Doa itu juga harus diiringi de­ngan usaha. Usaha itu bisa berupa upaya yang ditempuh Nabi Ibrahim dalam memilih jodoh. Hâjar adalah sosok wanita yang dihiasi keimanan yang teguh, akhlak yang mulia, taat bera­gama dan patuh pada suami­nya.

Usaha seperti inilah yang diajarkan dalam al-Quran.

Banyak orang di zaman ini dalam memilih pasangan terlalu silau dengan penampilan luar dan mengabaikan inner beauty (kecantikan dalam) seseorang.

Padahal Allah menegaskan bahwa seorang budak yang beriman jauh lebih berharga dari pada seseorang yang musyrik, mes­ki­pun menarik hati.

وَلَا تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ

Artinya: “Janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu ” QS. Al-Baqarah (2): 221.

Karena itu, jika mengi­nginkan anak yang shaleh, mulailah dari memilih jodoh. Jika istri yang dipilih biasa mengabaikan perintah Allah, bagaimana mungkin ia akan mampu mendidik anak yang shaleh. Bukankah ibu merupa­kan guru pertama bagi seorang anak?

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِكَافَةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

-=-

KHUTBAH KEDUA:

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإِسْلاَمِ، وَوَفَّقَنَا لِلصِّيَامِ وَالْقِياَمِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْبَدْءِ وَالْخِتَامِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى خَيْرِ مَنْ صَلَّى وَصَامَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْكِرَامِ، أَمَّا بَعْدُ؛

Sidang Jum’at yang kami hormati…

Banyak dari kita sudah berpuluh tahun mengarungi kehidupan berumah tangga. Suka dan duka sudah kita lalui. Namun, pernahkah kita mendiskusi tentang rencana akhirat bersama istri dan anak-anak kita? Ataukah hari-hari kita hanya dihabiskan untuk membicarakan target-target duniawi semata. Bisnis, rumah, kendaraan, sawah, sarjana dan yang semisalnya?

Pernahkah kita meluangkan waktu untuk memperbincangkan rencana masuk surga bersama keluarga dan jalan untuk mensukseskan rencana prestisius tersebut?

Sejauh mana kita memperhatikan ibadah, terutama shalat wajib lima waktu pasangan dan putra-putri kita? Ataukah kita acuh tak acuh manakala sampai usia dewasa mereka belum juga menunaikannya?

Pernahkan kita bertanya sudah berapa surat al-Quran yang anak-anak kita sudah hafal? Di mana itu semua bisa menjelma menjadi mahkota kebesaran dan jubah kebanggaan kelak di hari kiamat.

Pernahkah kita menumbuhkan kegemaran berpuasa sunnah pada buah hati kita, setelah mendidik mereka untuk berpuasa Ramadhan?

Sejauh mana kita mengawasi tutur kata yang keluar dari lisan mereka? Pantaskah? Kotorkah?

Mari masing-masing dari kita menjawab berbagai pertanyaan di atas dan juga pertanyaan-pertanyaan lain sekarang, saat masih hidup di dunia ini. Mungkin upaya itu bisa membantu kita untuk mempersiapkan jawaban yang tepat, bila kelak ternyata kita dihadang dengan pertanyaan-pertanyaan itu di hari kiamat di hadapan Allah ta’ala…

هذا؛ وصلوا وسلموا –رحمكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة

* Diramu dari berbagai sumber.

 [1] Lihat: Tafsir al-Baghawi (VII/ 48) dan Tafsir al-Qurthubi (XVIII/ 69).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here