<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Yayasan Tunas Ilmu Purbalingga &#124; Hikmah dalam Berdakwah</title>
	<atom:link href="http://tunasilmu.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tunasilmu.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 May 2012 04:29:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
	<copyright>Copyright &#xA9; Yayasan Tunas Ilmu 2011 </copyright>
	<managingEditor>dreamcorner@gmail.com (Yayasan Tunas Ilmu Purbalingga &#124; Hikmah dalam Berdakwah)</managingEditor>
	<webMaster>dreamcorner@gmail.com (Yayasan Tunas Ilmu Purbalingga &#124; Hikmah dalam Berdakwah)</webMaster>
	<image>
		<url>http://tunasilmu.com/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress.jpg</url>
		<title>Yayasan Tunas Ilmu Purbalingga | Hikmah dalam Berdakwah</title>
		<link>http://tunasilmu.com</link>
		<width>144</width>
		<height>144</height>
	</image>
	<itunes:subtitle></itunes:subtitle>
	<itunes:summary></itunes:summary>
	<itunes:keywords></itunes:keywords>
	<itunes:category text="Society &#38; Culture" />
	<itunes:author>Yayasan Tunas Ilmu Purbalingga &#124; Hikmah dalam Berdakwah</itunes:author>
	<itunes:owner>
		<itunes:name>Yayasan Tunas Ilmu Purbalingga &#124; Hikmah dalam Berdakwah</itunes:name>
		<itunes:email>dreamcorner@gmail.com</itunes:email>
	</itunes:owner>
	<itunes:block>no</itunes:block>
	<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
	<itunes:image href="http://tunasilmu.com/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress_large.jpg" />
		<item>
		<title>Bebas Memilih Pintu Surga</title>
		<link>http://tunasilmu.com/bebas-memilih-pintu-surga.html</link>
		<comments>http://tunasilmu.com/bebas-memilih-pintu-surga.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 09:35:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat dan Faidah]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan Redaksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tunasilmu.com/?p=549</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillahi wahdah wash shalâtu was salâmu &#8216;alâ rasûlillâh. Siapa di antara kita yang tidak ingin masuk surga? Apalagi jika masuknya bebas dari pintu manapun! Adakah amalan yang bisa mengantarkan kita pada peluang emas tersebut? Jawabannya: ada, antara lain: 1. Berakidah yang benar Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, &#8220;مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillahi wahdah wash shalâtu was salâmu &#8216;alâ rasûlillâh.</p>
<p>Siapa di antara kita yang tidak ingin masuk surga? Apalagi jika masuknya bebas dari pintu manapun! Adakah amalan yang bisa mengantarkan kita pada peluang emas tersebut? Jawabannya: ada, antara lain:</p>
<p>1. Berakidah yang benar</p>
<p>Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,</p>
<p class="arab">&#8220;مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ، وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ؛ أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ&#8221;</p>
<p>”Barangsiapa mengucapkan ”Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Serta Isa adalah hamba Allah dan anak salah satu hamba-Nya. Kalimat-Nya disampaikan kepada Maryam dan ruhnya berasal dari Allah. (Ia juga bersaksi) bahwa surga adalah benar adanya, neraka juga benar adanya; niscaya Allah akan memasukkannya ke surga dari delapan pintunya manapun yang ia kehendaki”. HR. Muslim dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu’anhu.<span id="more-549"></span></p>
<p>2. Taat kepada pemerintah dalam kebaikan</p>
<p>Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjanjikan,</p>
<p class="arab">&#8220;مَنْ عَبَدَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، فَأَقَامَ الصَّلَاةَ، وَآتَى الزَّكَاةَ، وَسَمِعَ وَأَطَاعَ؛ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُدْخِلُهُ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَ، وَلَهَا ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ. وَمَنْ عَبَدَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَأَقَامَ الصَّلَاةَ، وَآتَى الزَّكَاةَ، وَسَمِعَ وَعَصَى؛ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى مِنْ أَمْرِهِ بِالْخِيَارِ؛ إِنْ شَاءَ رَحِمَهُ، وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ&#8221;.</p>
<p>”Barangsiapa menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, mendengar dan taat (kepada pemerintah); niscaya Allah akan memasukkannya lewat pintu surga manapun yang ia maui. Dan pintu surga itu ada delapan. Barangsiapa menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, mendengar namun tidak taat (kepada pemerintah); maka nasibnya terserah Allah. Jika Dia berkehendak maka akan merahmatinya, sebaliknya jika Dia berkehendak, maka akan menyiksanya”. HR. Ahmad dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albany.</p>
<p>3. Patuh kepada suami</p>
<p>Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bertutur,</p>
<p class="arab">&#8220;إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ&#8221;.</p>
<p>“Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany.</p>
<p>Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 27 Jumadal Ula 1433 H / 19 April 2012 M</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tunasilmu.com/bebas-memilih-pintu-surga.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penerimaan Santri Baru Angkatan Kedua, Program Pengkaderan Da&#8217;i</title>
		<link>http://tunasilmu.com/penerimaan-santri-baru-angkatan-kedua-program-pengkaderan-dai.html</link>
		<comments>http://tunasilmu.com/penerimaan-santri-baru-angkatan-kedua-program-pengkaderan-dai.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2012 22:19:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pilihan Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Ponpes Tunas Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tunasilmu.com/?p=541</guid>
		<description><![CDATA[PROLOG Sebagai pewaris para Nabi ‘alaihimussalâm, ulama dan da’i berkewajiban untuk mengemban amanah penyampaian ilmu agama dengan sebaik-baiknya. Demi menjalankan tugas mulia tersebut, mereka tertuntut untuk mumpuni dalam ilmu agama, berakhlak mulia, mandiri dalam ekonomi dan memiliki berbagai karakter ideal lainnya. Dengan memohon taufik dan pertolongan dari Allah ta’ala, Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” yang diselenggarakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PROLOG</strong></p>
<p>Sebagai pewaris para Nabi <em>‘alaihimussalâm, </em>ulama dan da’i berkewajiban untuk mengemban amanah penyampaian ilmu agama dengan sebaik-baiknya. Demi menjalankan tugas mulia tersebut, mereka tertuntut untuk mumpuni dalam ilmu agama, berakhlak mulia, mandiri dalam ekonomi dan memiliki berbagai karakter ideal lainnya.</p>
<p>Dengan memohon taufik dan pertolongan dari Allah <em>ta’ala,</em> Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” yang diselenggarakan oleh Yayasan Islam Tunas Ilmu Purbalingga dengan akta notaris Muhammad Fauzan Hidayat, SH, MKn. Nomor. 01 Tanggal 01 Juni 2010 dan SK Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI No: AHU-3926.AH.01.04.Tahun 2010, berusaha untuk turut bersumbangsih mencetak para da’i yang memiliki berbagai karakter ideal di atas. Sebagai salah satu sarana untuk mewujudkan misi <strong>“menumbuhkan generasi yang mumpuni dalam ilmu agama dan berakhlak mulia”.<span id="more-541"></span></strong><br />
<strong><br />
MATERI PELAJARAN DAN MASA PEMBELAJARAN</strong></p>
<p>Santri akan diajarkan berbagai bidang ilmu pokok agama, yangbahasa Arab akan dijadikan sebagai pengantarnya <em>insyaAllah, </em>selama <strong>tiga tahun.</strong> Di antara bidang studi tersebut:</p>
<ol>
<li>Akidah</li>
<li>Tafsir</li>
<li>Hadits</li>
<li>Fiqih</li>
<li>Sirah Nabawiyyah</li>
<li>Bahasa Arab</li>
<li>Metode Berdakwah, dll.</li>
</ol>
<p><strong>EKSTRA KURIKULER</strong></p>
<ol>
<li>Khithâbah (Seni berceramah)</li>
<li>Keterampilan menulis makalah ilmiah</li>
<li>Kewiraswastaan</li>
<li>Beladiri, dll.</li>
</ol>
<p><strong>FASILITAS PENDIDIKAN</strong></p>
<ol>
<li>Ruang belajar</li>
<li>Asrama</li>
<li>Perpustakaan dengan ribuan koleksi kitab Arab.</li>
<li>Sarana olahraga</li>
</ol>
<p><strong>TENAGA PENGAJAR:</strong></p>
<p>Pengajar <em>insyaAllah</em> terdiri dari para alumni S1 dan S2 Universitas Islam Madinah, Yaman, LIPIA Jakarta dan lain-lain.</p>
<p><strong> INFORMASI PENDAFTARAN</strong><br />
<strong><br />
SYARAT-SYARAT:</strong></p>
<ol>
<li>Pria</li>
<li>Foto copy ijazah SMU/sederajat dan NEM</li>
<li>Salinan akta kelahiran</li>
<li>Surat keterangan catatan kepolisian (SKCK)</li>
<li>Rekomendasi dari seorang ustadz/da’i/lembaga dakwah yang dikenal</li>
<li>Pas foto terbaru 2&#215;3 dan 4&#215;6 (@ dua lembar)</li>
<li>Surat keterangan sehat dari dokter</li>
<li>Foto copy KTP yang masih berlaku</li>
<li>Surat izin dari orang tua</li>
<li>Mengisi formulir pendaftaran</li>
<li>Bersedia mengikuti tata tertib pesantren.</li>
</ol>
<p><strong>KUOTA JUMLAH SANTRI</strong></p>
<p>Karena pertimbangan efesiensi pembelajaran, total santri yang akan diterima adalah<strong> 20 orang</strong> saja. Dan santri diberi keleluasaan untuk memilih berasrama atau tidak, terutama bagi yang telah berkeluarga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>WAKTU &amp; TEMPAT PENDAFTARAN</p>
<p>Pendaftaran dibuka di tanggal 23 April 2011 – 19 Juli 2011 (ditutup manakala kuota telah terpenuhi).</p>
<p>Bertempat di Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” Ds. Kedungwuluh RT/RW: 8/2 Kec. Kalimanah Kab. Purbalingga 53371 Jawa Tengah. Atau berkas-berkas persyaratan dikirim via pos ke alamat tersebut (cap pos).</p>
<p><strong><br />
SELEKSI, PENGUMUMAN, DAFTAR ULANG &amp; MULAI BELAJAR</strong></p>
<p>Ujian seleksi                : 21 Juli 2012<br />
Pengumuman               : 22 Juli 2012<br />
Daftar ulang                 : 22-23 Juli 2012<br />
Orientasi santri baru     : 24 Juli &#8211; 4 Agustus 2012<br />
Awal belajar                : 6 Agustus 2012<br />
<strong><br />
MATERI UJIAN</strong></p>
<ol>
<ol>
<li>Wawancara</li>
<li>Membaca al-Qur’an</li>
<li>Materi dasar agama</li>
</ol>
</ol>
<p><strong>BIAYA STUDI DAN PENDAFTARAN</strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="396">Pendaftaran</td>
<td valign="top" width="180">Rp. 20.000</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="396">Perlengkapan (sekali selama belajar, untuk santri berasrama)</td>
<td valign="top" width="180">Rp. 100.000</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="396">SPP / bulan</td>
<td valign="top" width="180">Rp. 50.000</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="396">Uang makan / bulan (khusus bagi santri berasrama)</td>
<td valign="top" width="180">Rp. 200.000</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="396">Uang gedung</td>
<td valign="top" width="180">Gratis</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="396"><strong>Total (untuk santri berasrama)</strong></td>
<td valign="top" width="180"><strong>Rp. 370.000</strong></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="396"><strong>Total (untuk santri non asrama)</strong></td>
<td valign="top" width="180"><strong>Rp. 70.000</strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div style="margin:15px 0 0 0">
<h5 style="color: #990000;">* Bea siswa untuk santri yang kurang mampu dan berprestasi</h5>
</div>
<p><strong><br />
INFORMASI:</strong><br />
Telp                 : (0281) 6597674<br />
Hp                   : 081319839320<br />
Website            : <a href="http://tunasilmu.com">http://tunasilmu.com</a><br />
Email               : <a href="mailto:pesantrentunasilmu@yahoo.co.id">info@t</a>unasilmu.com</p>
<p>&nbsp;</p>
<div style="color: #990000; text-align: center; padding: 25px 0;">
<h4><a href="http://tunasilmu.com/wp-content/uploads/2011/06/formulir_pendaftaran_santri_baru.pdf">Download Formulir Pendaftaran</a></h4>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tunasilmu.com/penerimaan-santri-baru-angkatan-kedua-program-pengkaderan-dai.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan Sembarang Dzikir</title>
		<link>http://tunasilmu.com/bukan-sembarang-dzikir.html</link>
		<comments>http://tunasilmu.com/bukan-sembarang-dzikir.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Apr 2012 10:03:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Metode Beragama]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat dan Faidah]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan Redaksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tunasilmu.com/?p=531</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Dzikir merupakan salah satu ibadah yang memiliki banyak keistimewaan, di antaranya: akan mendatangkan ketenangan bagi para pelakunya. Sebagaimana ditegaskan Allah ta’ala dalam firman-Nya, &#8220;أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ&#8221;. Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. QS. Ar-Ra’du: 28. Namun, yang kerap menjadi pertanyaan, sudahkah dzikir yang kita lantunkan mendatangkan ketenangan batin? Jika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Dzikir merupakan salah satu ibadah yang memiliki banyak keistimewaan, di antaranya: akan mendatangkan ketenangan bagi para pelakunya. Sebagaimana ditegaskan Allah ta’ala dalam firman-Nya,</p>
<p class="arab">&#8220;أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ&#8221;.</p>
<p>Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. QS. Ar-Ra’du: 28.<span id="more-531"></span></p>
<p>Namun, yang kerap menjadi pertanyaan, sudahkah dzikir yang kita lantunkan mendatangkan ketenangan batin? Jika belum, barangkali dikarenakan kita baru asal berdzikir. Berikut beberapa kriteria dzikir sempurna yang diharapkan akan membuahkan ketentraman hati:<sup><a href="#f1">1</a></sup></p>
<p>1. Dzikir yang banyak.</p>
<p>Dalil kriteria ini, antara lain: QS. Al-Ahzab: 41. Batas minimal seorang bisa dikatakan telah banyak berdzikir adalah: manakala dia rajin mengamalkan dzikir dan wirid yang telah ditentukan momen-momennya dalam al-Qur’an dan Sunnah<sup><a href="#f2">2</a></sup>. Adapun batas maksimalnya: lisan seseorang senantiasa basah dengan dzikrullah dalam setiap kesempatan, sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam QS. Ali Imran: 191.<sup><a href="#f3">3</a></sup></p>
<p>2. Dzikir yang memadukan antara amalan lisan dan peresapan hati.</p>
<p>Maksudnya, dzikir yang dilantunkan dengan lisan, berupa tasbîh, tahmîd, tahlîl, takbîr, istighfâr dan yang lainnya, diiringi dengan peresapan makna yang dikandung dalam berbagai kalimat mulia tersebut. Sehingga membuahkan perubahan perilaku seorang hamba menuju kepada kebaikan. Dan inilah tingkatan dzikir yang paling tinggi.<sup><a href="#f4">4</a></sup></p>
<p>3. Dzikir yang mengiringi seluruh amalan hamba.</p>
<p>Dzikir bukanlah suatu amalan tidak mungkin digabungkan dengan amalan lainnya<sup><a href="#f5">5</a></sup>. Bahkan dzikir bisa memasuki ranah seluruh amalan; shalat, puasa, zakat, haji, amar ma’ruf nahi mungkar dan ibadah lainnya. Justru manakala amalan tersebut dipadukan dengan dzikir, maka amalan tersebut akan melesat menuju puncak kualitasnya yang tertinggi<sup><a href="#f6">6</a></sup>.<br />
Maksud kriteria ketiga ini: manakala seorang hamba melakukan amal ibadah apapun ia tidak lupa untuk berdzikir alias mengingat Allah, dan menghadirkan keikhlasan niat di dalamnya.</p>
<p>4. Dzikir yang sesuai dengan tuntunan syariat.</p>
<p>Alangkah mengherankan praktek sebagian kalangan yang dengan rutin membaca wirid dan hizib yang sama sekali tidak ada dalilnya dari al-Qur’an dan Sunnah, padahal masih banyak dzikir yang jelas-jelas ada tuntunannya belum mereka amalkan.<br />
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,</p>
<p class="arab">&#8220;مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ&#8221;.</p>
<p>&#8220;Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak&#8221;. HR. Muslim (III/1344 no 1718).</p>
<hr size="1" />
<p>[1] <a name="f1"></a>Disarikan dari beberapa referensi, antara lain: <em>Fath al-Bâry </em>karya Imam Ibn Rajab (III/48), <em>Fath al-Bâry </em>karya al-Hafizh Ibn Hajar (XI/251-252) dan <em>Tajrîd al-Ittibâ’ fî Bayân Asbâb Tafâdhul al-A’mâl </em>karya Syaikh Prof. Dr. Ibrahim ar-Ruhaily (hal. 31-32).</p>
<p>[2] <a name="f2"></a>Lihat: <em>Tafsîr as-Sa’dy </em>(hal. 614).</p>
<p>[3] <a name="f3"></a>Cermati: <em>Ibid </em>(hal. 614 dan 128) dan <em>Jâmi’ al-Bayân fî Tafsîr al-Qur’an </em>karya al-Îjî (hal. 176).</p>
<p>[4] <a name="f4"></a>Baca: <em>Madârij as-Sâlikîn </em>karya Imam Ibn al-Qayyim (II/431).</p>
<p>[5] <a name="f5"></a><em>Fath al-Bâry </em>karya Imam Ibn Rajab (III/48).</p>
<p>[6] <a name="f6"></a><em>Fath al-Bâry </em>karya al-Hafizh Ibn Hajar (XI/252).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tunasilmu.com/bukan-sembarang-dzikir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mandi 5 Kali Sehari</title>
		<link>http://tunasilmu.com/mandi-5-kali-sehari.html</link>
		<comments>http://tunasilmu.com/mandi-5-kali-sehari.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Mar 2012 23:46:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan Redaksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tunasilmu.com/?p=526</guid>
		<description><![CDATA[Siapakah di antara kita yang mandi lima kali dalam sehari? Saya pikir, orang paling bersih pun, maksimal mandi tiga kali dalam sehari. Mengapa rata-rata dari kita, membutuhkan mandi hanya dua kali dalam sehari? Sebab jumlah itu telah cukup untuk membersihkan daki kotoran di tubuh kita. Namun, bagaimana halnya jika kotoran yang ada tidak bisa dibersihkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapakah di antara kita yang mandi lima kali dalam sehari? Saya pikir, orang paling bersih pun, maksimal mandi tiga kali dalam sehari. Mengapa rata-rata dari kita, membutuhkan mandi hanya dua kali dalam sehari? Sebab jumlah itu telah cukup untuk membersihkan daki kotoran di tubuh kita. Namun, bagaimana halnya jika kotoran yang ada tidak bisa dibersihkan kecuali dengan mandi lima kali sehari?! Tentunya, mau tidak mau, kita harus melakoninya. Ini bagi mereka yang peduli dengan kebersihan dirinya. Adapun yang tidak, ya akan tetap merasa nyaman dengan kotoran tebal tersebut.<span id="more-526"></span></p>
<p>Ngomong-ngomong, adakah kotoran yang tidak bisa dibersihkan kecuali dengan ‘mandi’ lima kali dalam sehari? Ada! Yaitu: dosa-dosa kita! Cara membersihkannya dengan shalat lima kali dalam sehari.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu’alaihiwasallam </em>bersabda,</p>
<p class="arab"><strong>&#8220;أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟&#8221; قَالُوا: &#8220;لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ&#8221; قَالَ: &#8220;فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا&#8221;</strong></p>
<p><em><br />
“Jika ada seorang yang mandi di sungai depan rumahnya lima kali setiap harinya, menurut kalian apakah akan tersisa kotoran di tubuhnya?”. </em>Para sahabat menjawab, <em>“Tidak tersisa sedikitpun!”. </em>Beliau menimpali, <em>“Itulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosa”. </em>HR. Muslim dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu.</em></p>
<p><em> Wah, </em>enak sekali ya jika begitu! Betul! Itulah kemurahan dari Allah <em>ta’ala. </em>Namun demikian perlu diingat bahwa shalat yang bermanfaat untuk menghapuskan dosa bukanlah sembarang shalat. Namun shalat yang ‘sempurna’, yang kriterianya telah diingatkan Rasulullah <em>shallallahu’alaihiwasallam</em> antara lain dalam sabdanya,</p>
<p class="arab"><strong>&#8220;مَا مِنْ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا؛ إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنْ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ&#8221;</strong></p>
<p><em><br />
“Setiap muslim yang menjumpai shalat wajib lalu ia menyempurnakan wudhunya, khusyu’nya dan ruku’nya, niscaya shalat tersebut akan menghapus dosa-dosanya yang telah lampau, selama ia tidak melakukan dosa besar. Dan keistimewaan ini akan terus ada selamanya”. </em>HR. Muslim dari Utsman <em>radhiyallahu’anhu.</em></p>
<p>Maka, setiap muslim yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah kelak, seyogyanya dari sekarang ia membersihkan dirinya di dunia, sebelum kelak di akhirat dibersihkan di neraka.</p>
<p>Sebab hanya orang-orang yang bersihlah yang kelak akan dekat dengan Allah.<a id="_ftnref1" title="" name="_ftnref1" href="#_ftn1"></a><sup>1</sup> Sebagaimana yang telah diisyaratkan dalam firman-Nya,<br />
<strong><br />
</strong></p>
<p class="arab"><strong>&#8220;يَوْمَ لا يَنْفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ . إِلا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ</strong><strong>&#8220;</strong></p>
<p>Artinya: <em>“Pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. </em>QS. Asy-Syu’ara: 88-89.<br />
<span dir="ltr"><br />
@</span><span dir="ltr"> Pesantren “Tunas Ilmu”, Kedungwuluh Purbalingga, 12 Rabi’uts Tsani 1433 / 15 Maret 2012</span></p>
<div>
<div id="ftn1"><a name="_ftn1"></a><br />
Baca: <em>Ikhtiyâr al-Aulâ fî Syarh Hadîts Ikhtishâm al-Mala’ al-A’lâ </em>karya Imam Ibn Rajab, sebagaimana dalam <em>Majmû’ah Rasâ’il al-Hâfizh Ibn Rajab al-Hambaly </em>(IV/30).</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tunasilmu.com/mandi-5-kali-sehari.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Riba = Susah di Dunia dan Akhirat</title>
		<link>http://tunasilmu.com/riba-susah-di-dunia-dan-akhirat.html</link>
		<comments>http://tunasilmu.com/riba-susah-di-dunia-dan-akhirat.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Mar 2012 00:17:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Beragama]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan Redaksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tunasilmu.com/?p=514</guid>
		<description><![CDATA[• Prolog Andaikan ada berita yang mengabarkan tentang seorang anak yang memperkosa ibu kandungnya sendiri, penulis yakin gelombang kutukan terhadap pelaku perbuatan keji tersebut akan tak kuasa untuk dibendung! Bisa dipastikan tidak ada satupun orang yang berakal sehat mendukung perilaku munkar tersebut! Namun, bagaimana halnya jika ada iklan bank yang mempromosikan pinjaman dengan bunga lunak? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>• Prolog</strong></p>
<p>Andaikan ada berita yang mengabarkan tentang seorang anak yang memperkosa ibu kandungnya sendiri, penulis yakin gelombang kutukan terhadap pelaku perbuatan keji tersebut akan tak kuasa untuk dibendung! Bisa dipastikan tidak ada satupun orang yang berakal sehat mendukung perilaku munkar tersebut!</p>
<p>Namun, bagaimana halnya jika ada iklan bank yang mempromosikan pinjaman dengan bunga lunak? Akankah ada pengingkaran terhadap praktek ribawi tersebut? Ataukah justru hal itu dianggap sebagai berita yang lazim, atau bahkan akan menuai pujian lantaran lunaknya bunga yang ditawarkan? Lalu sebaliknya, ustadz yang memperingatkan umat dari bahaya berhubungan dengan bank dalam model transaksi seperti itu, akan dicap sebagai orang yang kaku, keras, <em>saklek</em>, dan segudang stigma lainnya?</p>
<p>Begitulah kira-kira sekelumit realita ketidaksadaran banyak umat dengan bahaya riba. Padahal menurut kacamata Islam, berzina dengan ibu kandung dan memakan riba dosanya adalah selevel! Rasulullah <em>shallallahu’alaihiwasallam </em>bersabda,<strong><br />
</strong></p>
<p class="arab" dir="RTL"><strong>&#8220;الرِّبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَاباً، أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ&#8221;</strong></p>
<p><em> “Riba ada tujuh puluh tiga tingkatan. Yang paling ringan adalah seperti seseorang yang menzinai ibunya”. </em>HR. Al-Hakim dan dinyatakan sahih oleh beliau dan al-Albany.<span id="more-514"></span><br />
<strong><br />
• <strong>Periodisasi Pengharaman Riba</strong><a id="_ftnref1" title="" name="_ftnref1" href="#_ftn1" style="color:#ff0000;"><sup>1</sup></a> </strong></p>
<p>Sebagaimana khamar, riba tidak Allah haramkan sekaligus, melainkan melalui tahapan yang hampir sama dengan tahapan pengharaman khamar.</p>
<p>Pengetahuan tentang hal ini bukan untuk merubah hukum riba; sebab riba sudah jelas haram berdasarkan al-Qur’an, Sunnah maupun ijma’. Namun untuk mengetahui sejarah turunnya ayat-ayat yang berbicara tentang riba, juga untuk mengenal besarnya hikmah dan kasih sayang Allah yang mempertimbangkan kondisi psikologis para hamba-Nya dan tingkat kesiapan mereka dalam menerima hukum. Tidak kalah pentingnya juga, untuk mempelajari berbagai sisi argumen al-Qur’an dalam mengharamkan riba.<br />
<strong><br />
1. Tahap pertama dengan mematahkan paradigma manusia bahwa riba akan melipatgandakan harta. </strong><strong> </strong></p>
<p>Pada tahap pertama ini, Allah <em>ta’ala</em> hanya memberitahukan pada mereka, bahwa cara yang mereka gunakan untuk mengembangkan uang melalui riba sesungguhnya sama sekali tidak akan berlipat di mata Allah <em>ta’ala</em>. Bahkan dengan cara seperti itu, secara makro berakibat pada tidak seimbangnya sistem perekonomian yang berujung pada penurunan nilai mata uang melalui inflasi. Dan hal ini justru akan merugikan mereka sendiri.</p>
<p>Pematahan paradigma ini Allah gambarkan dalam QS. Ar-Rum (30): 39; <em></em></p>
<p>“Sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar harta manusia bertambah, maka tidak bertambah dalam pandangan Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk memperoleh keridhaan Allah, maka itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya)”.<br />
<strong><br />
2. Tahap kedua: Pemberitahuan bahwa riba diharamkan atas umat terdahulu. </strong></p>
<p>Setelah mematahkan paradigma tentang melipat gandakan uang sebagaimana di atas, Allah <em>ta’ala</em> lalu menginformasikan bahwa karena buruknya sistem ribawi ini, maka umat-umat terdahulu juga telah dilarang untuk melakukannya. Bahkan karena mereka tetap bersikeras memakan riba, maka Allah kategorikan mereka sebagai orang-orang kafir dan Allah ancam mereka dengan azab yang pedih. Ayat ini juga mengisyaratkan kemungkinan akan diharamkannya riba atas umat Islam, sebagaimana telah diharamkan atas umat sebelumnya.</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman,<em></em></p>
<p>“Karena kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan bagi mereka makanan yang baik-baik yang (dahulu) pernah dihalalkan; dan karena mereka sering menghalangi (orang lain) dari jalan Allah. Dan karena mereka menjalankan riba, padahal sungguh mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan cara yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka azab yang pedih”.QS. An-Nisa’ (4): 160-161.</p>
<p><strong> 3. Tahap ketiga: Gambaran bahwa riba akan membuahkan kezaliman yang berlipat ganda. </strong></p>
<p>Pada tahapan yang ketiga, Allah <em>ta’ala</em> menerangkan bahwa riba mengakibat kezaliman yang berlipat ganda. Di antara bentuknya: si pemberi pinjaman akan membebani peminjam dengan bunga sebagai kompensasi dari pertangguhan waktu pembayaran hutang tersebut. Yang itu akan semakin bertambah dengan berjalannya waktu, apalagi manakala tenggat waktu yang telah disepakati tidak bisa dipenuhi oleh peminjam. Sehingga si peminjam akan sangat sengsara karena terbebani dengan hutang yang semakin berlipat ganda.<a id="_ftnref2" title="" name="_ftnref2" href="#_ftn2" style="color:#ff0000;"><sup>2</sup></a></p>
<p>Salah satu yang perlu digarisbawahi, sebagaimana dijelaskan antara lain oleh asy-Syaukany dalam <em>Tafsir</em>nya, bahwa ayat ini sama sekali tidak menggambarkan bahwa riba yang dilarang adalah yang berlipat ganda, sedangkan yang tidak berlipat ganda tidak dilarang. Pemahaman seperti ini adalah pemahaman yang keliru dan tidak dimaksudkan dalam ayat ini.<a id="_ftnref3" title="" name="_ftnref3" href="#_ftn3" style="color:#ff0000;"><sup>3</sup></a></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> mengingatkan, <em></em></p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kalian mendapat keberuntungan.”QS. Ali Imran (3):130.</p>
<p><strong> 4. Tahap keempat: Pengharaman segala macam dan bentuk riba. </strong></p>
<p>Ini merupakan tahapan terakhir dari seluruh rangkaian periodisasi pengharaman riba. Dalam tahap ini, seluruh rangkaian aktivitas dan muamalah yang berkaitan dengan riba, baik langsung maupun tidak langsung, berlipat ganda maupun tidak berlipat ganda, besar maupun kecil, semuanya adalah terlarang dan termasuk dosa besar.</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> menegaskan, <em></em></p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) bila kamu orang yang beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Tetapi jika kamu bertaubat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak pula dizalimi (dirugikan).”QS. Al-Baqarah (2): 278-279.</p>
<p><strong> • Kerugian duniawi pelaku riba</strong></p>
<p>Satu hal yang seharusnya selalu diingat setiap insan, manakala Islam melarang suatu perbuatan, pasti perilaku tersebut memuat kerusakan fatal atau mengakibatkan bahaya besar bagi pelakunya, baik di dunia maupun akhirat. Sekalipun barangkali perbuatan itu mengandung beberapa manfaat. Jika dicermati ulang dengan teliti, ternyata manfaat tadi bila dibandingan dengan keburukan yang ditimbulkannya, jelas tidak ada apa-apanya.</p>
<p>Banyak orang mengira bahwa dengan jual beli sistem riba atau meminjamkan uang yang berbunga akan menguntungkan dirinya, padahal sejatinya tidaklah demikian. Keuntungan yang nampaknya banyak, tidak lain hanyalah fatamorgana belaka. Allah <em>ta’ala </em>berfirman, <em>“Allah melenyapkan riba dan menyuburkan sedekah”. </em>QS. Al-Baqarah (2): 276.</p>
<p>Lenyapnya harta hasil riba, kata Imam Ibn Katsir dalam <em>Tafsir</em>nya, bisa jadi lenyap secara total dari tangan pemiliknya, atau keberkahan harta tersebut hilang, sehingga tidak bisa dipetik manfaatnya.</p>
<p>Di antara indikasi ketidakberkahan suatu harta, manakala dimakan, dia akan menumbuhkan berbagai macam penyakit di tubuh, menjadikan hati tidak tentram, membuat anak-anak nakal dan sulit diatur. Manakala digunakan untuk membangun rumah, maka tidak nyaman untuk ditinggali. Bahkan bisa jadi Allah akan memusnahkannya dalam sekejap, dengan mengirim api untuk membakarnya, atau mengutus air untuk menenggelamkannya, atau musibah lainnya.</p>
<p>Itu sekedar contoh dampak buruk riba yang berskala kecil (baca: pribadi). Adapun dampaknya yang lebih luas, kiranya krisis ekonomi di Amerika belum lama ini merupakan contoh paling mudah dan jelasnya.</p>
<p>Banyak orang merasa heran bagaimana Amerika Serikat yang konon memiliki sistem ekonomi dan keuangan yang kuat, bisa mengalami krisis yang begitu parah, hingga total hutang negeri Paman Sam saat ini mencapai 15 triliun dolar, sebagaimana dilansir blog ekonomi, The Economy Collapse (TEC).</p>
<p>Usut punya usut, biang keladi dari krisis tersebut tidak lain adalah lembaga keuangan di Amerika Serikat, terutama perbankan. Bahwa negara Amerika menjalan sistem ekonomi riba tentu kita semua sudah tahu. Tapi bukan hanya itu masalahnya. Ada tindakan negatif yang dilakukan bank-bank di Amerika untuk meraup keuntungan lebih. Tindakan ini berkaitan dengan pemberian kredit rumah.</p>
<p>Permisalan gampangnya seperti ini. Para nasabah seharusnya membayar cicilan bunga kredit sebesar 200 ribu setiap bulan. Ternyata bank memberikan keringanan semu kepada nasabah dengan menarik cicilan bunga kredit sebesar 100 ribu setiap bulan. Tentu 100 ribu sisanya tidak direlakan begitu saja. Lebih kejamnya sisa cicilan bunga tersebut dimasukkan ke dalam hutang kredit pokok. Secara otomatis, pokok kredit yang bertambah akan menyebabkan nominal bunga pinjaman pun bertambah. Intinya bisa dikatakan, bunga pinjaman kemudian berbunga lagi. Tentu hal ini membuat para nasabah tidak mampu membayar cicilan karena nilainya terus membengkak.</p>
<p>Akibatnya, banyak nasabah yang harus kehilangan rumah kredit tersebut. Lebih lanjut hal ini berdampak pada merosotnya bisnis properti yang ada di Amerika. Bak bola salju, krisis ini terus menggelinding sambil menyeret gumpalan-gumpalan krisis yang lain hingga terus menjalar ke benua Eropa. Sungguh benar firman Allah <em>ta’ala</em> dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 276 tersebut di atas.</p>
<p>Cukup kiranya bagi umat manusia krisis ekonomi di Asia, Amerika, dan Eropa menjadi pelajaran yang berharga. Terutama sekali bagi kita sebagai umat Islam yang diberikan sistem ekonomi terbaik dari sisi Allah. Dan sudah saatnya bagi kita untuk hijrah dari ekonomi kapitalis atau riba kepada ekonomi Islam atau syariah. Ini semua untuk kemaslahatan kita di dunia terutama di akhirat kelak. <a id="_ftnref4" title="" name="_ftnref4" href="#_ftn4" style="color:#ff0000;"><sup>4</sup></a></p>
<p><strong> • </strong><strong>Kerugian ukhrawi pelaku riba</strong></p>
<p>Keterangan di atas baru membahas tentang sebagian kecil dampak buruk riba di dunia, yang ini tidak ada apa-apanya dibanding dengan akibatnya di akhirat.</p>
<p>Sejak awal kebangkitan para pemakan riba dari alam kubur saja, mereka sudah berpenampilan mengenaskan; seperti orang gila yang kesurupan setan!<br />
<em><br />
“Orang-orang yang memakan riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.</em> QS. Al-Baqarah (2): 275.</p>
<p>Kelanjutannya, mereka terancam dengan siksaan yang sangat pedih di neraka.<br />
<em><br />
“Barangsiapa mendapat peringatan dari Rabbnya, lalu ia berhenti (dari memakan riba), maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Namun barang siapa yang kembali (memakan riba), maka bagi mereka adalah azab neraka dan mereka kekal di dalamnya”. </em>QS. Al-Baqarah (2): 275.</p>
<p>Sunnah Nabi <em>shallallahu’alaihiwasallam </em>mendeskripsikan berbagai jenis siksaan yang disiapkan Allah untuk para pemakan riba.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu’alaihiwasallam </em>menuturkan ‘kunjungannya’ ke neraka, <em></em></p>
<p>“Kami mendatangi sungai yang airnya merah seperti darah. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang yang berenang di dalamnya, dan di tepi sungai ada orang yang mengumpulkan batu banyak sekali. Lalu orang yang berenang itu mendatangi orang yang telah mengumpulkan batu, sembari membuka mulutnya dan memakan batu-batu tersebut … Orang tersebut tidak lain adalah pemakan riba”.HR. Bukhari (no. 7047) dari Samurah bin Jundub <em>radhiyallahu’anhu</em>.</p>
<p>Dalam hadits lain diceritakan,<strong><br />
</strong></p>
<p class="arab" dir="RTL"><strong>&#8220;أَتَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى قَوْمٍ بُطُونُهُمْ كَالْبُيُوتِ فِيهَا الْحَيَّاتُ تُرَى مِنْ خَارِجِ بُ</strong><strong>طُونِهِمْ</strong><strong>،</strong><strong> فَقُلْتُ: &#8220;مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرَائِيلُ؟&#8221; قَالَ: &#8220;هَؤُلَاءِ أَكَلَةُ الرِّبَا&#8221;</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Pada malam Isra’ aku mendatangi suatu kaum yang perutnya sebesar rumah, dan dipenuhi dengan ular-ular. Ular tersebut terlihat dari luar. Akupun bertanya, “Siapakah mereka wahai Jibril?”. “Mereka adalah para pemakan riba” jawab beliau”. </em>HR. Ibn Majah (no. 2273) dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu </em>dan dinilai lemah oleh al-Albany.</p>
<p>Semoga tulisan sederhana ini bisa lebih menyadarkan kaum muslimin bahwa riba hanyalah akan membawa kesusahan di dunia dan akhirat, maka ayo bersegeralah untuk meninggalkan riba!<br />
<strong></strong></p>
<p><strong><span dir="ltr"><br />
@</span></strong><strong><span dir="ltr"> Pesantren “Tunas Ilmu” Purbalingga, 08 Rabi’ul Awwal 1433 / 31 Januari 2012</span></strong></p>
<div>
<div id="ftn1">1. <a id="_ftn1" title="" name="_ftn1"></a> <em>At-Tadarruj fî Tahrîm ar-Ribâ </em>dalam http://www.hablullah.com/?p=1133 dan <em>Bahaya Riba </em>makalah <strong>Rikza Maulan, </strong><strong>Lc., M.Ag sebagaimana dalam http://www.eramuslim.com/syariah/tafsir-hadits/bahaya-riba.htm, dengan berbagai tambahan dan perubahan.</strong><strong> </strong></div>
<div id="ftn2">
<p>2. <a id="_ftn2" title="" name="_ftn2"></a> Baca: <em>Ar-Ribâ, Khatharuhu wa Sabîl al-Khalâsh minhu, </em>karya Dr. Hamd al-Hammad (hal. 10).</p>
</div>
<div id="ftn3">
<p>3. <a id="_ftn3" title="" name="_ftn3"></a> Bahkan penafsiran seperti itu teranggap sebagai penafsiran yang <em>syâdz </em>(ganjil). Lihat: <em>Al-Aqwâl asy-Syâddzah fî at-Tafsîr</em> karya Dr. Abdurrahman ad-Dahsy (hal. 304-306).</p>
</div>
<div id="ftn4">4. <a id="_ftn4" title="" name="_ftn4"></a> http://antonramdan.wordpress.com/2011/12/11/riba-dibalik-krisis-ekonomi-eropa-saat-ini.</div>
<p><br clear="all" /><br clear="all" />
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tunasilmu.com/riba-susah-di-dunia-dan-akhirat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Paling Kuat</title>
		<link>http://tunasilmu.com/orang-paling-kuat.html</link>
		<comments>http://tunasilmu.com/orang-paling-kuat.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Feb 2012 01:48:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat dan Faidah]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan Redaksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tunasilmu.com/?p=509</guid>
		<description><![CDATA[• Parameter kekuatan menurut Islam Mungkin banyak di antara kita yang masih ingat pertandingan eksibisi antara raja tinju dunia; Muhammad Ali dengan juara gulat dunia; Antonio Inoki di tahun 1976. Banyak kalangan kecewa dengan hasil akhir sabung manusia tesebut, karena ternyata draw! Mereka penasaran ingin mengetahui siapakah yang lebih KUAT? Begitulah ukuran kekuatan di mata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>• Parameter kekuatan menurut Islam</strong></p>
<p>Mungkin banyak di antara kita yang masih ingat pertandingan eksibisi antara raja tinju dunia; Muhammad Ali dengan juara gulat dunia; Antonio Inoki di tahun 1976. Banyak kalangan kecewa dengan hasil akhir sabung manusia tesebut, karena ternyata draw! Mereka penasaran ingin mengetahui siapakah yang lebih KUAT? Begitulah ukuran kekuatan di mata kebanyakan orang; kuat secara fisik dan duel semata.</p>
<p>Islam memiliki parameter lain dalam menilai kekuatan. Kata Nabi <em>shallallahu’alaihiwasallam,</em></p>
<p dir="RTL"><strong>&#8220;لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ</strong><strong>&#8220;</strong></p>
<p><em> “Orang yang kuat bukanlah jago gulat, namun orang yang kuat adalah yang mampu menahan diri manakala marah”. </em>HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.<span id="more-509"></span><br />
<strong><br />
• Manajemen marah</strong></p>
<p>Kami pikir tidak ada di antara kita yang tidak pernah marah. Itu hal yang manusiawi, tapi sudahkah kita memenej emosi kita dengan aturan agama? Berikut beberapa ajaran Islam dalam hal ini:<br />
<strong><br />
1. Jangan melampiaskan kemarahan dengan perkataan atau perbuatan</strong></p>
<p>Salah satu kriteria orang yang beriman adalah mampu menahan marah, sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali Imran: 134. Para ahli tafsir semisal an-Naisâbûry (w. setelah 850 H) menerangkan bahwa maksud dari menahan amarah adalah tidak melampiaskannya dengan perkataan atau perbuatan.</p>
<p>Apalagi Rasulullah <em>shallallahu’alaihiwasallam </em>bersabda,<strong><br />
</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>&#8220;وَإِذَا غَضِبْتَ فَاسْكُت&#8221;</strong></p>
<p><em> “Jika engkau marah diamlah”. </em>HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Albany.</p>
<p><strong> 2. Beristi’adzah</strong></p>
<p>Sulaiman bin Shurad <em>radhiyallahu’anhu</em> bercerita, “Aku duduk bersama Nabi <em>shallallahu ’alaihiwasallam</em> saat ada dua orang saling mencaci hingga salah seorang memerah mukanya dan mengembang urat-urat lehernya. Maka beliau bersabda, <em>“Sungguh aku tahu satu kalimat yang sekiranya dibaca seseorang maka akan lenyap apa yang dialaminya. Sekiranya membaca a’udzubillahiminasyaithonirrojim maka hilanglah apa yang dijumpainya”.</em> HR. Bukhari.<strong></strong><br />
<strong><br />
3</strong><strong>. Merubah posisi</strong><strong><br />
</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>&#8220;إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ  وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ، وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ&#8221; </strong></p>
<p><em>“Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah. </em>(HR. Bukhari).</p>
<p><strong>• </strong><strong>Marah yang berpahala</strong></p>
<p>Tidak semua kemarahan tercela. Bahkan ada kemarahan yang diperbolehkan, bahkan terpuji, yakni marah manakala kehormatan Allah <em>ta’ala</em> dan ajaran Islam dilanggar. Ini merupakan bagian dari pengagungan syiar Allah yang berupakan bukti ketaqwaan. (Baca: QS. Al-Hajj: 32).  Sehingga tatkala ajaran Islam dinodai dan larangan Allah diterjang, kemudian sebagian orang <em>adem ayem </em>saja, keimanan mereka perlu dipertanyakan.</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu’anha </em>menuturkan salah satu karakter Rasul <em>shallallahu’alaihiwasallam,</em><strong><br />
</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>&#8220;مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً، وَلَا خَادِمًا، إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. وَمَا نِيلَ مِنْهُ شَيْءٌ قَطُّ فَيَنْتَقِمَ مِنْ صَاحِبِهِ، إِلَّا أَنْ يُنْتَهَكَ شَيْءٌ مِنْ مَحَارِمِ اللَّهِ فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ&#8221;</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam tidak pernah memukul dengan tangannya sesuatupun, istri atau pembantunya, kecuali manakala berjihad di jalan Allah. </em><em>Beliau juga tidak pernah disakiti seseorang lalu membalasnya. <strong>Kecuali apabila larangan Allah dilanggar, maka saat itu beliau akan membalas karena Allah</strong>”.</em> HR. Muslim.</p>
<p>Bedakan karakter panutan kita di atas, dengan tipe banyak orang yang jika nama baik pribadinya dicemarkan ia akan naik pitam dan marah sejadi-jadinya, namun sebaliknya tatkala ajaran Islam yang dinodai dan dilecehkan maka ia akan tenang-tenang saja tanpa reaksi! Hanya kepada Allah sajalah kita mengadu…</p>
<p><strong>@</strong><strong>Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Rabi’ul Awwal 1433 / 9 Februari 2012</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tunasilmu.com/orang-paling-kuat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laporan Tahap Ke Empat</title>
		<link>http://tunasilmu.com/laporan-tahap-ke-empat.html</link>
		<comments>http://tunasilmu.com/laporan-tahap-ke-empat.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 09:48:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pilihan Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Ponpes Tunas Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tunasilmu.com/?p=502</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, berkat taufiq dari Allah ta’ala lalu bantuan dari kaum muslimin dan muslimat, pembangunan lantai dasar telah memasuki tahap finishing. Dan saat ini telah memulai penggarapan lantai berikutnya. Berikut kami sampaikan laporan sementara pemasukan dan pengeluaran hingga tanggal 20 Februari 2012. Kami ucapkan jazakumullah khairal jaza’ bagi seluruh pihak yang telah turut berpartisipasi dalam bentuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Alhamdulillah, </em>berkat taufiq dari Allah <em>ta’ala</em> lalu bantuan dari kaum muslimin dan muslimat, pembangunan lantai dasar telah memasuki tahap finishing. Dan saat ini telah memulai penggarapan lantai berikutnya.</p>
<p>Berikut kami sampaikan laporan sementara pemasukan dan pengeluaran hingga tanggal 20 Februari 2012.</p>
<p>Kami ucapkan <em>jazakumullah khairal jaza’ </em>bagi seluruh pihak yang telah turut berpartisipasi dalam bentuk apapun.</p>
<p>Peluang untuk investasi akhirat dalam proyek kebaikan ini masih terbuka lebar. Selamat berinvestasi!<span id="more-502"></span></p>
<p><strong>LAPORAN SINGKAT:</strong></p>
<p><strong>Spesifikasi bangunan</strong>            : Bangunan kontruksi 3 lantai ukuran 7 x 19 m untuk kelas dan asrama</p>
<p><strong>Estimasi biaya                        </strong>: Rp. 508.563.000</p>
<p><strong>Pemasukan dana</strong>       : Rp. 259.398.916</p>
<p><strong>Pengeluaran               : </strong>Rp. 234.384.600</p>
<p><strong>Kekurangan                : Rp. 249.164.084</strong><strong> </strong></p>
<div style="text-align: center; margin: 15px 0 15px 0;">
<h3># <a href="http://tunasilmu.com/wp-content/uploads/2012/02/Tahap-4-laporan-pemasukan.pdf">Download Laporan Pemasukkan Tahap 4 &#8211; PDF</a> #</h3>
</div>
<div style="text-align: center;">
<h3># <a href="http://tunasilmu.com/wp-content/uploads/2012/02/Tahap-4-pengeluaran.pdf">Download Laporan Pengeluaran Tahap 4 &#8211; PDF</a> #</h3>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><img src="http://tunasilmu.com/wp-content/uploads/2012/02/tahap-4-lantai-dua-e1329730746353.jpg" alt="" /></p>
<p style="text-align: center;"><img src="http://tunasilmu.com/wp-content/uploads/2012/02/tahap-4-lantai-satu-tampak-utara-e1329730774153.jpg" alt="" /></p>
<p style="text-align: center;"><img src="http://tunasilmu.com/wp-content/uploads/2012/02/tahap-4-lantai-satu-tampak-selatan-e1329730795999.jpg" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tunasilmu.com/laporan-tahap-ke-empat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mereka Berebut Sayap Seekor Nyamuk!</title>
		<link>http://tunasilmu.com/mereka-berebut-sayap-seekor-nyamuk.html</link>
		<comments>http://tunasilmu.com/mereka-berebut-sayap-seekor-nyamuk.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Feb 2012 00:48:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat dan Faidah]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan Redaksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tunasilmu.com/?p=493</guid>
		<description><![CDATA[Dunia memang selalu menggoda. Dunia selalu tampak indah dan menawan. Ia cantik mempesona dan memikat hati banyak manusia. Namun, dunia juga merupakan cobaan, untuk menguji siapa di antara hamba Allah yang beriman dan siapa yang tidak. (QS. Al Kahfi: 7 dan QS. Al Mulk: 2) Sebenarnya, banyak orang yang telah memahami hakikat dunia ini, namun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dunia memang selalu menggoda. Dunia selalu tampak indah dan menawan. Ia cantik mempesona dan memikat hati banyak manusia.</p>
<p>Namun, dunia juga merupakan cobaan, untuk menguji siapa di antara hamba Allah yang beriman dan siapa yang tidak. (QS. Al Kahfi: 7 dan QS. Al Mulk: 2)<span id="more-493"></span></p>
<p>Sebenarnya, banyak orang yang telah memahami hakikat dunia ini, namun masih banyak pula yang terjebak di dalamnya. Yang paling menyedihkan adalah, orang yang tidak mengerti sama sekali hakikat dunia. Mereka adalah orang-orang yang terombang-ambing dalam pusaran gelombang hawa nafsu yang sengaja dipasang oleh setan untuk dijadikan perangkap dalam menyesatkan manusia. Padahal harga dunia seisinya telah digambarkan oleh Nabi <em>shallallahu’alaihiwasallam </em>dalam sabdanya,</p>
<p class="arab" style="font-size: 18px;">&#8220;لَوْ كَانَتْ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ؛ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ&#8221;.</p>
<p><em><br />
“Andaikan dunia di sisi Allah seharga sayap seekor nyamuk; niscaya Allah tidak akan memberikan seteguk air pun untuk orang kafir”. </em>HR. Tirmidzy dari Sahl bin Sa’ad <em>radhiyallahu’anhu </em>dan <em>isnad</em>nya dinyatakan sahih oleh al-Hakim.</p>
<p>Sayap seekor nyamuk, siapa yang mau? Diberi gratispun kita tidak mau. Namun anehnya tidak sedikit di antara manusia yang mati-matian berebut sayap nyamuk tersebut, bahkan sampai mempertaruhkan surga mereka sekalipun! Berikut beberapa contoh praktek nyatanya:</p>
<p><strong>1. Mengorbankan tali silaturrahim karena berebut warisan.</strong></p>
<p>Dari Jubair bin Muth&#8217;im bahwa Rasulullah <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam </em>bersabda,</p>
<p class="arab" style="font-size: 18px;">&#8220;لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ&#8221;.</p>
<p><em>Tidak akan masuk surga pemutus (silaturrahim)&#8221;. </em>HR. Bukhari dan Muslim.<br />
<strong><br />
2. Menghalalkan segala cara demi meraih kursi panas jabatan.</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu&#8217;alahiwasallam </em>menasehatkan,</p>
<p class="arab" style="font-size: 18px;">&#8220;لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ! فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُوتِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا</p>
<p>&#8220;.<br />
<em><br />
&#8220;Janganlah meminta-minta jabatan, sebab jika engkau mendapatkan suatu jabatan lantaran permintaan darimu niscaya engkau tidak akan mendapatkan pertolongan dari Allah ta&#8217;ala. Namun jika engkau mendapatkannya bukan karena permintaan darimu niscaya engkau akan mendapatkan bantuan (dari Allah ta&#8217;ala) dalam mengembannya&#8221;. </em>HR. Bukhari dan Muslim dari Abdurrahman bin Samurah <em>radhiyallahu’anhu</em>.<br />
<strong><br />
3. Mengorbankan prinsip-prinsip agama untuk menjaga kedudukan sosial.</strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> menggambarkan akibat perilaku tersebut dalam firman-Nya,</p>
<p class="arab" style="font-size: 18px;">&#8220;أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآَخِرَةِ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ&#8221;.</p>
<p>Artinya: <em>“Mereka itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat. Maka tidak akan diringankan azabnya dan mereka tidak akan ditolong”. </em>QS. Al-Baqarah: 86.</p>
<p dir="rtl"><span dir="ltr">@</span><span dir="ltr"> Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, </span><span dir="ltr">14 Dzulhijjah 1431 / 10 November 2011</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tunasilmu.com/mereka-berebut-sayap-seekor-nyamuk.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Empat Kunci Masuk Surga</title>
		<link>http://tunasilmu.com/empat-kunci-masuk-surga.html</link>
		<comments>http://tunasilmu.com/empat-kunci-masuk-surga.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 00:26:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Beragama]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat dan Faidah]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan Redaksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tunasilmu.com/?p=474</guid>
		<description><![CDATA[Rasululullah shallallahu&#8217;alaihiwasallam bercerita, &#8220;سَأَلَ مُوسَى رَبَّهُ: مَا أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً؟ قَالَ: هُوَ رَجُلٌ يَجِىءُ بَعْدَ مَا أُدْخِلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ فَيُقَالُ لَهُ: ادْخُلِ الْجَنَّةَ. فَيَقُولُ: أَىْ رَبِّ كَيْفَ وَقَدْ نَزَلَ النَّاسُ مَنَازِلَهُمْ وَأَخَذُوا أَخَذَاتِهِمْ؟ فَيُقَالُ لَهُ: أَتَرْضَى أَنْ يَكُونَ لَكَ مِثْلُ مُلْكِ مَلِكٍ مِنْ مُلُوكِ الدُّنْيَا؟ فَيَقُولُ: رَضِيتُ رَبِّ. فَيَقُولُ: لَكَ ذَلِكَ وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rasululullah <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam</em> bercerita,</p>
<p class="arab">&#8220;سَأَلَ مُوسَى رَبَّهُ: مَا أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً؟ قَالَ: هُوَ رَجُلٌ يَجِىءُ بَعْدَ مَا أُدْخِلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ فَيُقَالُ لَهُ: ادْخُلِ الْجَنَّةَ. فَيَقُولُ: أَىْ رَبِّ كَيْفَ وَقَدْ نَزَلَ النَّاسُ مَنَازِلَهُمْ وَأَخَذُوا أَخَذَاتِهِمْ؟ فَيُقَالُ لَهُ: أَتَرْضَى أَنْ يَكُونَ لَكَ مِثْلُ مُلْكِ مَلِكٍ مِنْ مُلُوكِ الدُّنْيَا؟ فَيَقُولُ: رَضِيتُ رَبِّ. فَيَقُولُ: لَكَ ذَلِكَ وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ. فَقَالَ فِى الْخَامِسَةِ: رَضِيتُ رَبِّ. فَيَقُولُ: هَذَا لَكَ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ وَلَكَ مَا اشْتَهَتْ نَفْسُكَ وَلَذَّتْ عَيْنُكَ. فَيَقُولُ: رَضِيتُ رَبِّ&#8230;&#8221;.</p>
<p><em>&#8220;(Suatu saat) Nabi Musa bertanya kepada Allah, ”Bagaimanakah keadaan penghuni surga yang paling rendah derajatnya?&#8221;. Allah menjawab, &#8220;Seorang yang datang (ke surga) setelah seluruh penghuni surga dimasukkan ke dalamnya, lantas dikatakan padanya, &#8220;Masuklah ke surga!&#8221;. &#8220;Bagaimana mungkin aku masuk ke dalamnya wahai Rabbi, padahal seluruh penghuni surga telah menempati tempatnya masing-masing dan mendapatkan bagian mereka&#8221; jawabnya. Allah berfirman, &#8220;Relakah engkau jika diberi kekayaan seperti raja-raja di dunia?&#8221;. &#8220;Saya rela wahai Rabbi&#8221; jawabnya. Allah kembali berfirman, &#8220;Engkau akan Kukaruniai kekayaan seperti itu, ditambah seperti itu lagi, ditambah seperti itu, ditambah seperti itu, ditambah seperti itu dan ditambah seperti itu lagi&#8221;. Kelima kalinya orang itu menyahut, &#8220;Aku rela dengan itu wahai Rabbi&#8221;. Allah kembali berfirman, &#8220;Itulah bagianmu ditambah sepuluh kali lipat darinya, plus semua yang engkau mauim serta apa yang indah di pandangan matamu&#8221;. Orang tadi berkata, &#8220;Aku rela wahai Rabbi&#8221;…&#8221;.</em> HR. Muslim (I/176 no 312) dari al-Mughîrah bin Syu&#8217;bah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>.<span id="more-474"></span></p>
<p>Seorang muslim yang mendengar hadits di atas atau yang semisal, ia akan semakin merindukan untuk meraih kemenangan masuk ke surga Allah kelak. Bagaimana tidak? Sedangkan orang yang paling rendah derajatnya di surga saja sedemikian mewah kenikmatan yang akan didapatkan di surga, lantas bagaimana dengan derajat yang di atasnya? Bagaimana pula dengan orang yang menempati derajat tertinggi di surga? Pendek kata mereka akan mendapatkan kenikmatan yang disebutkan oleh Allah dalam al-Qur&#8217;an,</p>
<p class="arab">&#8220;فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ&#8221;.</p>
<p>Artinya: <em>&#8220;Seseorang tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka; yaitu (bermacam-macam kenikmatan) yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan&#8221;.</em> QS. As-Sajdah: 17.</p>
<p>Namun anehnya ternyata masih banyak di antara kaum muslimin yang tidak ingin masuk surga, sebagaimana telah disinggung oleh Rasulullah <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam</em> dalam haditsnya,</p>
<p class="arab">&#8220;كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى&#8221; قَالُوا: &#8220;يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى؟&#8221; قَالَ: &#8220;مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى&#8221;.</p>
<p><em><br />
&#8220;Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang enggan&#8221;. Para sahabat bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, siapakah yang enggan (untuk masuk surga)?&#8221;. Beliau menjawab, &#8220;Barang siapa yang taat padaku maka ia akan masuk surga, dan barang siapa yang tidak mentaatiku berarti ia telah enggan (untuk masuk surga)&#8221;.</em> HR. Bukhari<em> </em>dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>.<br />
Jadi tidak setiap yang mendambakan surga, kelak akan mendapatkannya; karena surga memiliki kunci untuk memasukinya; barang siapa yang berhasil meraihnya di dunia; niscaya ia akan merasakan manisnya kenikmatan surga kelak di akhirat, sebaliknya barang siapa yang gagal merengkuhnya; maka ia akan tenggelam dalam kesengsaraan siksaan neraka.</p>
<p>Kunci tersebut ada empat, yang secara ringkas adalah:</p>
<p>1.Ilmu.</p>
<p>2.Amal.</p>
<p>3.Dakwah.</p>
<p>4.Sabar.</p>
<p>Empat kunci ini telah Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> isyaratkan dalam surat al-&#8217;Ashr:</p>
<p class="arab">&#8220;وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ&#8221;.</p>
<p>Artinya: <em>&#8220;Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang (1) beriman<sup><a href="#_ftn1">[1]</a></sup>, (2) beramal shalih, (3) saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan (4) saling nasehat menasehati dalam kesabaran&#8221;.</em> QS. Al-&#8217;Ashr: 1-3.</p>
<p>Sedemikian agungnya surat ini, sampai-sampai Imam Syafi&#8217;i <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Seandainya Allah tidak menurunkan <em>hujjah </em>atas para hamba-Nya melainkan hanya surat ini; niscaya itu telah cukup&#8221;<sup><a href="#_ftn2">[2]</a></sup>.</p>
<p>Berikut penjabaran ringkas, masing-masing dari empat kunci tersebut di atas:</p>
<p style="font-weight: bold;">1. Kunci Pertama: Ilmu:</p>
<p>Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu agama, yaitu ilmu yang berlandaskan al-Qur&#8217;an dan Hadits dengan pemahaman para sahabat Nabi <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam</em>.</p>
<p>Ilmu yang dibutuhkan oleh seorang insan untuk menjalankan kewajiban-kewajiban agama, wajib hukumnya untuk dicari oleh setiap muslim dan muslimah, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam</em> dalam sabdanya,</p>
<p class="arab">&#8220;طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ&#8221;</p>
<p>.</p>
<p><em>&#8220;Mencari ilmu hukumnya wajib atas setiap muslim&#8221;.</em> HR. Ibnu Majah dari Anas bin Mâlik ط, dan dinyatakan sahih oleh Syaikh al-Albâni dalam <em>tahqiq</em>nya atas <em>Misykâh al-Mashâbîh.</em></p>
<p>Di antara beragam disiplin mata ilmu agama, yang seharusnya mendapatkan prioritas pertama dan utama untuk dipelajari dan didalami terlebih dahulu oleh setiap muslim adalah: ilmu tauhid. Karena itulah pondasi Islam dan inti dakwah seluruh rasul dan nabi. Allah <em>ta&#8217;ala </em>berfirman,</p>
<p class="arab">&#8220;وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ&#8221;.</p>
<p>Artinya: <em>&#8220;Dan telah Kami utus seorang rasul di setiap umat (untuk menyerukan) sembahlah Allah semata dan jauhilah thaghut&#8221;. </em>QS. An-Nahl: 36.</p>
<p><strong>2. Kunci Kedua: Amal:</strong></p>
<p>&#8216;Perjalanan suci&#8217; seorang hamba setelah memiliki ilmu belum usai, namun masih ada &#8216;fase sakral&#8217; yang menantinya; yaitu mengamalkan ilmu yang telah ia miliki tersebut. Ilmu hanyalah sarana yang mengantarkan kepada tujuan utama yaitu amal.</p>
<p>Demikianlah urutan yang ideal antara dua hal ini; ilmu dan amal. Sebelum seorang beramal ia harus memiliki ilmu tentang amalan yang akan ia kerjakan, begitupula jika kita telah memiliki ilmu, kita harus mengamalkan ilmu tersebut.</p>
<p>Seorang yang memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya akan dicap menyerupai orang-orang Yahudi, dan mereka merupakan golongan yang dimurkai oleh Allah <em>ta&#8217;ala,</em> sebaliknya orang-orang yang beramal namun tidak berlandaskan ilmu, mereka akan dicap menyerupai orang-orang Nasrani, dan merupakan golongan yang tersesat. Dua golongan ini Allah singgung dalam ayat terakhir surat al-Fatihah:</p>
<p class="arab">&#8220;اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ . صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ&#8221;.</p>
<p>Artinya: <em>&#8220;Tunjukkanlah pada kami jalan yang lurus. Yaitu jalan golongan yang engkau karuniai kenikmatan atas mereka, bukan (jalannya) <strong>golongan yang dimurkai ataupun golongan yang tersesat</strong>&#8220;.</em> QS. Al-Fatihah: 6-7.</p>
<p><strong>3. Kunci Ketiga: Dakwah:</strong></p>
<p>Setelah seorang hamba membekali dirinya dengan ilmu dan amal, dia memiliki kewajiban untuk &#8216;melihat&#8217; kanan dan kirinya, peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Kepedulian itu ia apresiasikan dengan bentuk &#8216;menularkan&#8217; dan mendakwahkan ilmu yang telah ia raih dan ia amalkan kepada orang lain.</p>
<p>Inilah fase ketiga yang seharusnya dititi oleh seorang muslim, setelah ia melewati dua fase di atas. Dia berusaha untuk mengajarkan ilmu yang ia miliki kepada orang lain, terutama keluarganya terlebih dahulu, dalam rangka meneladani metode dakwah Rasulullah <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam</em> yang Allah ceritakan dalam firman-Nya,</p>
<p class="arab">&#8220;وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ&#8221;.</p>
<p>Artinya: <em>&#8220;Dan berilah peringatan (terlebih dahulu) kepada keluarga terdekatmu&#8221;.</em> QS. Asy-Syu&#8217;arâ&#8217;: 214.</p>
<p>Tidak sepantasnya seorang da&#8217;i menyibukkan dirinya untuk mendakwahi orang lain di mana-mana lalu &#8216;menterlantarkan&#8217; keluarganya sendiri; sebab sebelum ia &#8216;mengurusi&#8217; orang lain, ia memiliki kewajiban untuk &#8216;mengurusi&#8217; keluarganya terlebih dahulu, sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah <em>ta&#8217;ala </em>dalam firman-Nya,</p>
<p class="arab">&#8220;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً&#8221;.</p>
<p>Artinya: <em>&#8220;Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka&#8221;.</em> QS. At-Ta<span style="text-decoration: underline;">h</span>rîm: 6.</p>
<p>Dalam berdakwah terhadap keluarga maupun kepada orang lain, kita dituntut untuk senantiasa mengedepankan sikap hikmah, dalam rangka mengamalkan firman Allah <em>ta&#8217;ala,</em></p>
<p class="arab">&#8220;ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ&#8221;.</p>
<p>Artinya: <em>&#8220;Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan jalan yang baik&#8221;. </em>QS. An-Nahl: 125.</p>
<p>Inilah kunci ketiga yang akan mengantarkan seorang hamba ke surga. Namun seseorang tidak dibenarkan untuk langsung meloncat ke fase ketiga ini (yakni dakwah) tanpa melalui dua fase sebelumnya (yakni ilmu dan amal); karena jika demikian halnya ia akan menjadi seorang yang sesat dan menyesatkan ataupun menjadi seorang yang amat dibenci oleh Allah <em>ta&#8217;ala.</em></p>
<p>Mereka yang berdakwah tanpa ilmu, Rasulullah <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam</em> sifati dalam sabdanya sebagai  orang yang sesat dan menyesatkan,</p>
<p class="arab">&#8220;إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا؛ اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا&#8221;</p>
<p>.</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Allah tidak melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan cara mencabut ilmu tersebut dari para hamba-Nya, namun Allah akan melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan meninggalnya para ulama; hingga jika tidak tersisa seorang ulamapun, para manusia menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai panutan, mereka menjadi rujukan lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga<strong> sesat dan menyesatkan</strong>&#8220;</em>. HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin &#8216;Amr <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, dengan redaksi Bukhari.</p>
<p>Sedangkan mereka yang berdakwah kemudian tidak mengamalkan apa yang didakwahkannya, Allah <em>ta&#8217;ala </em>cela dalam firman-Nya,</p>
<p class="arab">&#8220;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتاً عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ&#8221;.</p>
<p>Artinya: <em>&#8220;Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika laian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan&#8221;. </em>QS. Ash-Shaff: 2-3.</p>
<p><strong>4. Kunci Keempat: Sabar:</strong></p>
<p><strong>Kesabaran dibutuhkan oleh setiap muslim ketika ia mencari ilmu, mengamalkannya dan mendakwahkannya; karena tiga fase ini susah dan berat.</strong></p>
<p><strong>Proses pencarian ilmu membutuhkan semangat &#8216;empat lima&#8217; dan kesungguhan, sebagaima disitir oleh Yahya bin Abi Katsir :, &#8220;Ilmu tidak akan didapat dengan santai-santai&#8221;.</strong></p>
<p>Pengamalan ilmu juga membutuhkan kesabaran, karena hal itu merupakan salah satu jalan yang utama yang mengantarkan seorang hamba ke surga, dan jalan menuju ke surga diliputi dengan hal-hal yang tidak disukai oleh nafsu. Dalam hadits shahih disebutkan,</p>
<p class="arab">&#8220;حُفَّتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ&#8221;.</p>
<p><em>&#8220;(Jalan menuju ke) surga diliputi dengan hal-hal yang dibenci (nafsu), sedangkan (jalan menuju ke) neraka diliputi dengan hal-hal yang disukai hawa nafsu&#8221;.</em> HR. Muslim dari Anas bin Mâlik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>.</p>
<p>Tidak ketinggalan, dakwah juga membutuhkan kesabaran, karena itu merupakan jalan yang dititi para rasul dan nabi.</p>
<p>Sa&#8217;ad <em>radhiyallahu’anhu </em>bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya? Beliau <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam</em> menjawab, <em>&#8220;Para nabi lalu mereka yang memiliki keutamaan yang tinggi, lalu yang di bawah mereka…&#8221;.</em> HR. Tirmidzi dan beliau berkata, &#8220;Hasan shahih&#8221;, demikian pula komentar Syaikh al-Albani.</p>
<p>Inilah empat kunci masuk surga, semoga Allah <em>ta&#8217;ala </em> melimpahkan taufiq-Nya kepada kita semua untuk bisa meraihnya, <em>amin.</em></p>
<p><em>Wallahu ta&#8217;ala a&#8217;lam. Wa shallallahu &#8216;ala nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi ajma&#8217;in.</em></p>
<p><strong>@</strong>Kedungwuluh Purbalingga, 1Ramadhan 1430 H / 22 Agustus 2009 M</p>
<p><strong>Daftar Pustaka:</strong></p>
<ol>
<li><em>Al-Qur&#8217;an dan Terjemahannya</em>.</li>
<li><em>Kitab al-&#8217;Ilm,</em> oleh al-&#8217;Utsaimîn.</li>
<li><em>Misykâh al-Mashâbîh,</em> karya at-Tibrîzî..</li>
<li><em>4. </em><em>Shahih Bukhari.</em></li>
<li><em>5. </em><em>Shahih Muslim.</em></li>
<li><em>6. </em><em>Sunan Ibn Mâjah.</em></li>
<li><em>7. </em><em>Sunan Tirmîdzi.</em></li>
<li><em>Tafsir al-Imam asy-Syafi&#8217;i, </em>dihimpun oleh Dr. Ahmad bin Mushthafa al-Farrân.</li>
</ol>
<div>
<hr size="1" />
<div><a name="_ftnref1"></a>[1] Di dalam ayat tersebut disebutkan bahwa hal pertama yang akan menyelamatkan manusia dari kerugian adalah iman, lantas mengapa disimpulkan darinya bahwa kunci pertama dari empat kunci masuk surga adalah ilmu? Karena iman yang benar adalah iman yang dilandaskan di atas ilmu yang benar, jadi yang menjadi asas dan pondasi adalah ilmu. Lihat: <em>Kitab al-&#8217;Ilm </em>karya Syaikh Muhammad al-&#8217;Utsaimîn.</p>
<div><a name="_ftnref2"></a>[2] <em>Tafsîr al-Imâm asy-Syâfi&#8217;i </em>(III/1461).</div>
</div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tunasilmu.com/empat-kunci-masuk-surga.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmatnya Mereguk Air Telaga Rasul</title>
		<link>http://tunasilmu.com/nikmatnya-mereguk-air-telaga-rasul-shallallahualaihiwasallam.html</link>
		<comments>http://tunasilmu.com/nikmatnya-mereguk-air-telaga-rasul-shallallahualaihiwasallam.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 00:55:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat dan Faidah]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan Redaksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tunasilmu.com/?p=468</guid>
		<description><![CDATA[Prolog Kejadian alam akhirat merupakan rentetan dari sekian peristiwa besar. Dimulai dari ditiupnya sangkakala pertama untuk membinasakan seluruh makhluk, dan diakhiri antara lain dengan disembelihnya kematian di suatu tempat antara surga dan neraka. Imam al-Qurthuby menjelaskan, setelah para manusia dibangkitkan dari alam kubur, sebelum penghitungan amalan, dalam keadaan rasa dahaga yang luar biasa, mereka digiring [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Prolog</strong></p>
<p>Kejadian alam akhirat merupakan rentetan dari sekian  peristiwa besar. Dimulai dari ditiupnya sangkakala pertama untuk membinasakan  seluruh makhluk, dan diakhiri antara lain dengan disembelihnya kematian di  suatu tempat antara surga dan neraka.</p>
<p>Imam al-Qurthuby menjelaskan, setelah para manusia dibangkitkan  dari alam kubur, sebelum penghitungan amalan, dalam keadaan rasa dahaga yang  luar biasa, mereka digiring ke arah telaga yang dimiliki oleh para nabi <a id="_ftnref1" name="_ftnref1" href="#_ftn1"><sup>1</sup></a>. Namun  ternyata sesampainya di sana  tidak semua orang diberi karunia untuk minum air telaga tersebut. Siapakah  gerangan mereka yang beruntung mereguk segarnya air telaga para nabi, dan siapa  pulakah yang bernasib malang  terkungkung dalam kehausan luar biasa akibat terusir dari telaga-telaga  tersebut? Bagaimana pulakah sifat telaga Nabi kita Muhammad <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam </em>yang dikatakan sebagai telaga terbesar di antara telaga-telaga para nabi  lainnya?<br />
<strong><span id="more-468"></span><br />
Telaga di  akhirat itu ada</strong></p>
<p>Keyakinan  akan adanya telaga di hari kiamat merupakan suatu akidah yang dilandasi hadits  sahih bahkan mutawatir dan ijma&#8217; para ulama. Imam as-Suyuthy menyebutkan bahwa  hadits yang menceritakan adanya telaga di hari kiamat, telah diriwayatkan oleh  lebih dari lima  puluh sahabat Nabi <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam.</em> <a id="_ftnref2" name="_ftnref2" href="#_ftn2"><sup>2</sup></a></p>
<p>Telaga  yang ada di padang  mahsyar kelak jumlahnya bukanlah hanya satu saja, namun jumlahnya banyak sekali  sebanyak para nabi yang Allah utus ke muka bumi. Rasulullah <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam </em>bersabda,</p>
<p class="arab">&#8220;إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوْضًا، وَإِنَّهُمْ  يَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ وَارِدَةً، وَإِنِّي أَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ  وَارِدَةً&#8221;.</p>
<p><span dir="ltr"> </span><em><span dir="ltr"> </span><br />
&#8220;Sesungguhnya setiap nabi memiliki telaga. Dan mereka  saling membanggakan siapakah yang telaganya paling banyak dikunjungi. Aku  berharap telagakulah yang paling banyak pengunjungnya&#8221;. </em>HR.  Tirmidzi dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.</p>
<p><strong><br />
Telaga  nabi kita Muhammad <em>shallallahu’alaihiwasallam</em></strong></p>
<p>Telaga  Rasulullah <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam </em>bermata air dari sebuah sungai di  surga yang bernama sungai al-Kautsar. <a id="_ftnref3" name="_ftnref3" href="#_ftn3"><sup>3</sup></a> Darinyalah gemercik air surga mengaliri telaga  tersebut, melewati dua pancuran istimewa, yang pertama terbuat dari emas dan  yang lainnya dari perak.</p>
<p>Beliau <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam</em> bercerita,</p>
<p class="arab">&#8220;يَغُتُّ فِيهِ مِيزَابَانِ يَمُدَّانِهِ مِنْ الْجَنَّةِ؛  أَحَدُهُمَا مِنْ ذَهَبٍ، وَالْآخَرُ مِنْ وَرِقٍ&#8221;.</p>
<p><span dir="ltr"> </span><em><span dir="ltr"> </span><br />
&#8220;Air mengalir dengan deras ke dalamnya melalui dua pancuran  dari surga. Salah satunya terbuat dari emas dan yang kedua dari perak&#8221;. </em>HR. Muslim  dari Tsauban.</p>
<p>Telaga  Nabi kita <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam </em>berbentuk bujur sangkar dan amat  sangat besar luasnya. Beliau <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam</em> menggambarkan,</p>
<p class="arab">&#8220;حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ, وَزَوَايَاهُ  سَوَاءٌ&#8221;.</p>
<p><span dir="ltr"> </span><em><span dir="ltr"> </span><br />
&#8220;Telagaku sepanjang perjalanan satu bulan. Ukuran seluruh  sisinya sama&#8221;. </em>HR. Muslim dari Abdullah bin &#8216;Amr.</p>
<p>Karena  telaga Rasul <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam </em>paling banyak pengunjung yang  akan mereguk airnya, maka gelas-gelas yang tersedia di sana pun amatlah banyak. Beliau <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam</em> menjelaskan,</p>
<p class="arab">&#8220;أَكْوَابُهُ مِثْلُ نُجُومِ السَّمَاء&#8221;.</p>
<p><span dir="ltr"> </span><em><span dir="ltr"> </span><br />
&#8220;Gelas-gelas telagaku sebanyak bintang-bintang di  langit&#8221;. </em>HR. Ahmad dari Ibnu Umar dan <em>sanad</em>nya dinilai  sahih oleh al-Hakim.</p>
<p>Siapakah  yang akan melayani kita tatkala minum dari telaga tersebut? Yang melayani kita  bukanlah sembarang orang, namun ia adalah orang paling mulia di muka bumi ini!  Ya, dialah kekasih kita Rasulullah <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam. </em>Beliau  bersabda,</p>
<p class="arab">&#8220;أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ&#8221;.</p>
<p><span dir="ltr"> </span><em><span dir="ltr"> </span><br />
&#8220;Aku akan mendahului kalian ke telaga dan melayani  kalian&#8221;.</em> HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas&#8217;ud.</p>
<p>Adapun  mengenai sifat air yang ada dalam telaga tersebut, maka jauh lebih menakjubkan  dari segala keterangan di atas. Bagaimana tidak, sedangkan air telaga Nabi kita <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam </em>lebih putih dari susu, lebih manis dari madu,  lebih dingin dari es dan lebih harum dibanding minyak misik. Barangsiapa  meminum satu teguk darinya; maka ia tidak akan pernah merasa haus selamanya!</p>
<p>Adakah di  muka bumi ini air yang memadukan keistimewaan-keistimewaan tersebut di atas?  Susu yang kita minum bisa saja berwarna putih, namun ia berbau amis. Madu yang  kita konsumsi memang manis, namun warnanya kurang menarik. Air es memang  menyegarkan, namun ia tidak beraroma wangi. Dan adakah air di dunia ini,  seajaib apapun, yang jika diminum seteguk, kita tidak akan merasakan dahaga  selamanya??</p>
<p>Air telaga  rasul <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam </em>menggabungkan antara warna, rasa,  kesegaran dan aroma yang luar biasa!</p>
<p>Beliau <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam</em> menggambarkan sifat air telaganya,</p>
<p class="arab">&#8220;مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنْ اللَّبَنِ، وَرِيحُهُ  أَطْيَبُ مِنْ الْمِسْكِ &#8230; مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلَا يَظْمَأُ أَبَدًا&#8221;.</p>
<p><span dir="ltr"> </span><em><span dir="ltr"> </span><br />
&#8220;Airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih harum  dibandingkan minyak misik … Barang siapa minum darinya; niscaya ia tidak akan  pernah merasa dahaga selamanya!&#8221;. </em>HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah  bin &#8216;Amr.</p>
<p>Beliau  juga menambahkan,</p>
<p class="arab">&#8220;أَبْرَدُ مِنْ الثَّلْجِ، وَأَحْلَى مِنْ  الْعَسَل&#8221;.</p>
<p><span dir="ltr"> </span><em><span dir="ltr"> </span><br />
&#8220;(Airnya) lebih dingin dari es dan lebih manis dari  madu&#8221;. </em>HR.  Ahmad dan <em>sanad</em>nya dinilai <em>hasan </em>oleh al-Mundziry. <a id="_ftnref4" name="_ftnref4" href="#_ftn4"><sup>4</sup></a></p>
<p>Begitulah  sekelumit tentang telaga Nabi kita <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam</em> di padang mahsyar… Alangkah  bahagianya orang-orang yang diperkenankan untuk mencicipi air telaga tersebut,  semoga kita termasuk golongan beruntung itu. Dan alangkah sedihnya orang yang  terhalang untuk menikmatinya, semoga kita dihindarkan dari golongan yang amat malang itu…</p>
<p><strong>Orang yang  terhalang dari telaga Rasul <em>shallallahu’alaihiwasallam</em></strong></p>
<p>Ya, ada di  antara umat manusia yang tidak diberi kesempatan untuk mereguk telaga Rasul <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam,</em> padahal saat itu mereka berada dalam kondisi amat dahaga! Siapakah mereka yang  bernasib begitu naas?</p>
<p>Mereka  adalah orang-orang kafir, kaum munafikin, orang-orang Islam yang murtad dan  juga para pelaku bid&#8217;ah! <a id="_ftnref5" name="_ftnref5" href="#_ftn5"><sup>5</sup></a></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam </em>bersabda,</p>
<p class="arab">&#8220;لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي،  ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ &#8230; فَأَقُولُ: إِنَّهُمْ مِنِّي!. فَيُقَالُ:  إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ! فَأَقُولُ: &#8220;سُحْقًا سُحْقًا  لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي&#8221;.</p>
<p><span dir="ltr"> </span><em><span dir="ltr"> </span><br />
&#8220;Akan datang ke (telaga)ku orang-orang yang kukenal dan  mereka mengenaliku, namun kemudian mereka terhalang dariku&#8221;. </em></p>
<p><em>Akupun  berkata, &#8220;Mereka adalah bagian dariku!&#8221;.</em></p>
<p><em>Dijawab,  &#8220;Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan setelah  engkau (meninggal dunia)&#8221;.</em></p>
<p><em>Aku  berkata, &#8220;Menjauhlah orang-orang yang mengubah-ubah (agamaku)  sesudahku!&#8221;. </em>HR. Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa&#8217;d.</p>
<p>Setelah  menukil berbagai pendapat para ulama mengenai siapakah yang dimaksud dengan  orang yang terhalang untuk minum dari telaga Rasul <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam, </em>Imam an-Nawawy menutup keterangannya dengan menukil perkataan Imam Ibn  Abdil Bar, &#8220;Setiap orang yang mengada-adakan hal baru dalam agama, mereka  termasuk golongan yang terusir dari telaga. Semisal orang-orang Khawarij,  Syi&#8217;ah dan segenap ahlul bid&#8217;ah. Begitu pula orang-orang zalim yang melampaui  batas dalam ketidakadilan dan mengaburkan kebenaran, serta para pelaku dosa  besar yang terang-terangan melakukannya di hadapan umum. Mereka semua  dikhawatirkan termasuk orang-orang yang dimaksud hadits ini. <em>Wallahu a&#8217;lam</em>&#8220;<em>.</em> <a id="_ftnref6" name="_ftnref6" href="#_ftn6"><sup>6</sup></a></p>
<p><strong></p>
<p>Pelajaran  berharga</strong></p>
<p>Pemaparan singkat di atas  memberikan pada kita berbagai pelajaran penting nan berharga. Di antaranya:  betapa bahayanya beribadah dengan sesuatu yang tidak diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam.</em></p>
<p>Karena itulah, seorang  muslim dituntut untuk bersikap cerdas dalam menerima segala sesuatu, apalagi  yang berkenaan dengan masalah agama. Beribadah kepada Allah bukanlah dengan  cara mengikuti tradisi yang umum di masyarakat atau dengan mempertahankan  warisan nenek moyang. Namun seharusnya beribadah itu sesuai dengan aturan yang  diajarkan panutan kita, nabi besar Muhammad <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam.</em></p>
<p>Bersikap kritislah tatkala disodori  suatu amalan! Tanyakanlah dalil yang melandasinya dari al-Qur&#8217;an maupun hadits  Rasul <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam. </em>Kalaupun dikatakan amalan tersebut ada  haditsnya, pastikan bahwa hadits tersebut adalah sahih atau minimal hasan,  bukan hadits yang lemah, apalagi palsu.</p>
<p>Kita hidup di dunia hanya  sekali, jangan sampai di kesempatan yang tak terulang ini, kita melakukan  amalan-amalan yang tidak jelas landasannya atau bahkan sama sekali tidak ada  landasannya. Sehingga justru malah amalan tersebut ditolak alias tidak diterima  oleh Allah <em>ta&#8217;ala. </em>Sebagaimana ditegaskan Nabi kita <em>shallallahu&#8217;alaihiwasallam </em>dalam sabdanya,</p>
<p><span dir="rtl"> </span><span dir="rtl"> </span></p>
<p class="arab">&#8220;مَنْ عَمِلَ  عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ&#8221;.</p>
<p><span dir="ltr"> </span><em><span dir="ltr"> </span><br />
&#8220;Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang  tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak&#8221;</em>. HR. Muslim dari Aisyah.</p>
<p>Semoga  kita tidak termasuk golongan tersebut, <em>amien ya Rabbal &#8216;alamin&#8230;</em></p>
<p dir="rtl"><strong><span dir="ltr">@</span></strong><strong><span dir="ltr"> Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh  Purbalingga, 17 Ramadhan 1431 / 27 Agustus 2010</span></strong></p>
<p><strong>Daftar Pustaka:</strong></p>
<ul type="1">
<li><em>Al-Qur&#8217;an dan Terjemahannya.</em></li>
<li><em>Al-Buhûr az-Zâkhirah fî &#8216;Ulûm       al-Âkhirah </em>karya as-Saffârîny.</li>
<li><em>At-Targhib wa at-Tarhib, </em>karya       al-Mundziry.</li>
<li><em>Fath al-Bary Syarh Shahih       al-Bukhari, </em>karya Ibn Hajar al-&#8217;Asqalany.</li>
<li><em>Kitab at-Tadzkirah bi Ahwal       al-Mauta wa Umur al-Akhirah, </em>karya Abu Abdillah al-Qurthuby.</li>
<li><em>Musnad Ahmad.</em></li>
<li><em>Shahih Bukhari.</em></li>
<li><em>Shahih Muslim.</em></li>
<li><em>Sunan at-Tirmidzy.</em></li>
<li><em>Syarh Shahih Muslim, </em>karya       an-Nawawy.</li>
<li>Dan lain-lain.</li>
</ul>
<p dir="rtl">&nbsp;</p>
<div>
<p>Footnote:</p>
<ol>
<li><a id="_ftn1" name="_ftn1" href="#_ftnref1"> </a><span dir="rtl"> </span><span dir="rtl"><span dir="rtl"> </span> </span>Lihat: <em>Kitâb at-Tadzkirah bi Ahwâl  al-Mautâ wa Umûr al-Âkhirah </em>(II/703).</li>
<li><a id="_ftn2" name="_ftn2" href="#_ftnref2"> </a><span dir="rtl"> </span><span dir="rtl"><span dir="rtl"> </span> </span>Lihat: <em>Al-Buhûr az-Zâkhirah fî &#8216;Ulûm  al-Âkhirah </em>karya as-Saffârîny (I/747).</li>
<li><a id="_ftn3" name="_ftn3" href="#_ftnref3"> </a><span dir="rtl"> </span><span dir="rtl"><span dir="rtl"> </span> </span>Lihat: <em>Kitâb at-Tadzkirah </em>(II/704).</li>
<li><a id="_ftn4" name="_ftn4" href="#_ftnref4"> </a><span dir="rtl"> </span><span dir="rtl"><span dir="rtl"> </span> </span>Lihat: <em>At-Targhîb wa at-Tarhîb </em>(III/1310  no. 5194).</li>
<li><a id="_ftn5" name="_ftn5" href="#_ftnref5"> </a><span dir="rtl"> </span><span dir="rtl"><span dir="rtl"> </span> </span>Cermati: <em>Kitâb at-Tadzkirah </em>(II/710-711), <em>Syarh Shahih Muslim </em>karya Imam an-Nawawy (III/130) dan <em>Fath al-Bâry </em>karya  al-Hafizh Ibn Hajar al-&#8217;Asqalâny (XI/468-469).</li>
<li><a id="_ftn6" name="_ftn6" href="#_ftnref6"> </a> <em>Syarh Shahih Muslim</em> (III/130).</li>
</ol>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tunasilmu.com/nikmatnya-mereguk-air-telaga-rasul-shallallahualaihiwasallam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

