Hidup di dunia bagaikan roda. Kadang di atas dan kadang di bawah. Hari ini senang, mungkin besok susah. Hari ini tertawa, bisa jadi besok menangis. Hari ini sehat, mungkin besok sakit. Siklus kehidupan ini akan dialami oleh siapapun yang tinggal di muka bumi. Termasuk putra-putri kita. Oleh karena itu amat perlu, sejak dini kita kenalkan adab-adab saat sakit kepada mereka. Di antaranya:

Pertama: Bersabar

Ujian yang ditimpakan oleh Allah kepada para hamba-Nya bila dihadapi dengan sabar apalagi ridha, insyaAllah akan membuahkan pahala yang melimpah. Allah ta’ala berfirman,

“وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ”

Artinya: “Kami (Allah) pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa juga buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”. QS. Al-Baqarah (2): 155.

Kedua: Berobat

Segera obati anak bila sakit. Jangan biarkan sakit berlarut-larut. Islam sangat memperhatikan kesehatan. Manfaatkan cara penanganan yang disyariatkan atau diperbolehkan dalam agama kita. Mulai dari ruqyah (bacaan al-Qur’an dan dzikir nabawi), pengobatan ala Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam (bekam, habbatus sauda’, madu dll), obat-obatan tradisional/herbal dan pengobatan dokter.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk berobat dalam sabdanya,

تَدَاوَوْا! فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً، غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ؛ الْهَرَمُ”.

“Berobatlah! Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidaklah menurunkan penyakit melainkan menciptakan obatnya. Kecuali satu penyakit, yaitu penyakit tua”. HR. Abu Dawud dari Usamah bin Syarik radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan sahih oleh at-Tirmidzy.

Allah ta’ala berfirman,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ”

Artinya: “Kami turunkan al-Qur’an sebagai penyembuh”. QS. Al-Isra’ (17): 82.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata,

“عَلَيْكُمْ بِالشِّفَاءَيْنِ؛ الْعَسَلِ وَالْقُرْآنِ”

“Manfaatkanlah dua jenis terapi penyembuhan; madu dan al-Qur’ân.” Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan isnadnya dinilai baik oleh Ibn Katsir.

Ketiga: Jauhkan dari penyakit menular

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يُورِدَنَّ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

“Janganlah yang sakit dicampur dengan yang sehat”. HR. Bukhari dan Muslim.

Jauhkan anak dari teman-temannya yang terserang penyakit menular. Adapun guna menghindari perasaan tersinggung pada hati teman yang sakit, maka jelaskan bahwa ini adalah tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bukan karena kita tidak menyayanginya.

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Sya’ban 1438 / 15 Mei 2017

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here