Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA

Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 19 Dzulqa’dah 1433 / 5 Oktober 2012

 

KHUTBAH PERTAMA:

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.

“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah…

Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.

Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…

Di tahun 15 atau 16 Hijriah, setelah panglima kaum muslimin Abu Ubaidah radhiyallahu’anhu selesai menaklukkan kota Dimasyq, beliau mengirim surat kepada kaum Nasrani kota Elia (Baitul Maqdis)[1]. Mengajak mereka untuk masuk Islam, atau membayar jizyah (upeti), atau berperang.

Secarik surat itu berisi:

بسم الله الرحمن الرحيم. مِنْ أَبِيْ عُبَيْدَةَ بْنِ الْجَرَّاحِ إِلَى بَطَارِقَةِ أَهْلِ إِيْلِيَاء وسكانِها…فإنا ندعوكم إلى شهادة أن لا إله إلا الله…فإن أبيتم فأقروا لنا بإعطاء الجزية…وإن أبيتم سِرْتُ إليكم بقوم، هم أشدُّ حبًّا للموت منكم للحياة ولشربِ الخمر وأكلِ الخنـزير، ثم لا أرجع عنكم -إن شاء الله- حتى أقتل مُقَاتِلَتَكم وأَسْبِيَ ذرارِيَكم.

Bismillahirrahmanirrahim. Dari Abu Ubaidah bin al-Jarrah untuk para pembesar Elia dan penduduknya … Kami mengajak kalian untuk bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah … Jika kalian enggan, maka bayarlah jizyah kepada kami … Jika kalian enggan pula, niscaya aku akan mendatangi kalian dengan pasukan yang kecintaan mereka terhadap kematian lebih besar daripada kecintaan kalian terhadap kehidupan, minuman keras dan daging babi. Kemudian aku tidak akan kembali insyaAllah hingga aku membinasakan pasukan kalian dan menawan anak-anak kalian…”[2].

Namun, orang-orang salibis enggan memenuhi seruan mulia itu. Maka Abu Ubaidah pun menugaskan Sa’id bin Zaid radhiyallahu’anhu untuk mengurusi pemerintahan kota Dimasyq sementara waktu. Lalu beliau membawa pasukannya ke kota Elia dan mengepung orang-orang Nasrani hingga sempat terjadi beberapa pertempuran. Namun senantiasa berakhir dengan kemenangan kaum muslimin. Akhirnya kaum Salibis menawarkan perdamaian, dengan syarat Khalifah kaum muslimin; Umar bin Khathab radhiyallahu’anhu sendiri yang menandatangani perjanjian damai tersebut.

Maka, Abu Ubaidah segera mengirim surat ke Umar bin Khathab mengharapkan kedatangan beliau. Sesampainya surat tersebut di tangan Umar, beliau meminta pertimbangan para sahabat lain. Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu mengusulkan agar Umar berangkat sendiri tanpa disertai pasukan; agar tidak menjadikan kaum Salibis merasa besar kepala. Adapun Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, beliau berpendapat agar Umar berangkat beserta pasukan; sebagai bala bantuan bagi pasukan kaum muslimin yang sedang mengepung kota Elia. Umar memilih pendapat yang disampaikan Ali. Lalu beliau berangkat beserta pasukannya dan menugaskan Ali untuk mengambil alih sementara kekuasaan di Madinah.

Tatkala mereka mendekati perbatasan kota Elia, terlihatlah para panglima kaum muslimin. Semisal Abu Ubaidah, Khalid bin al-Walid dan Yazid bin Abu Sufyan, juga para pembesar kaum Nasrani. Mereka telah menunggu kedatangan Umar dan pasukannya[3].

Beberapa saat sebelum sampai di tanah kota Elia, jalan di depan Umar terhalang genangan air. Maka beliaupun turun dari ontanya lalu melepas kedua sandal dan menentengnya dengan kedua tangannya. Beliau melewati genangan air itu dengan telanjang kaki sambil menuntun ontanya. Tatkala melihat perbuatan sang Khalifah, Abu Ubaidah bergegas mendatangi beliau dan berkata, “Wahai khalifah, pada hari ini, paduka telah melakukan suatu perbuatan yang amat hina di mata orang-orang Nasrani! Paduka berjalan dengan telanjang kaki melewati genangan air sambil menuntun onta! Padahal paduka adalah pemimpin kaum muslimin! Bagaimana jika para pembesar Nasrani dan tentara mereka melihat paduka seperti ini?”.

Ketika mendengar komentar Abu Ubaidah, serta merta dengan tegas Umar berkata,

أوَّه لو غيرُك يقولها يا أبا عبيدة! إنكم كنتم أذلَّ الناس وأحقرَ الناس وأقلَّ الناس، فأعزكم الله بالإسلام, فمهما تطلبون العزَّ بغيره يذِلُّكم الله عز وجل!

“Abu Ubaidah! Andaikan orang lain yang mengucapkan perkataan tadi (niscaya sudah aku beri pelajaran). Dulu, kalian adalah orang yang paling hina, paling rendah dan paling sedikit. Lantas Allah muliakan kalian dengan Islam. Andaikan kalian mencari kemuliaan dengan selain Islam; niscaya Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian!”[4].

Untaikan kata-kata yang berhak ditorehkan dengan tinta emas, agar senantiasa diingat oleh kaum muslimin hingga akhir zaman!

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Adalah sunnatullah bahwa kejayaan tidak akan abadi. Terkadang suatu kaum mencapai puncak kejayaannnya, namun suatu saat ia akan terpuruk ke dalam lembah kehinaan. Walaupun demikian sunnatullah yang berlaku, namun kita tetap tertuntut untuk mengambil pelajaran dari sejarah yang terjadi, dan berusaha untuk meraih kemuliaan kembali.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menggariskan aturan apakah yang jika diikuti kaum muslimin, mereka akan meraih kejayaan. Sebaliknya, jika mereka enggan untuk mentaatinya, maka kehinaan akan segera menimpa mereka. Semakin jauh meninggalkan aturan, semakin dalam dan parah pula keterpurukan mereka.

Ungkapan Amirul Mukminin Umar bin al-Khatthab tersebut dalam kisah di atas, merumuskan aturan tersebut. “Allah telah memuliakan kalian dengan Islam. Andaikan kalian mencari kemuliaan dengan selain Islam; niscaya Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian!” demikian tutur beliau.

Sidang Jum’at yang berbahagia…

Kunci kejayaan itu terletak dalam keteguhan berpegang dengan ajaran Islam. Semakin teguh umat ini dalam berpegang dengan ajaran agamanya, maka semakin terangkat pula harga diri dan harkat martabat mereka. Inilah rumus yang harus kita pahami benar.

Berpegang teguh dengan agama, berarti berusaha setia dengan ajarannya dalam setiap bagiannya. Terutama dalam masalah akidah, ibadah maupun akhlak. Akidah merupakan pondasi kokoh dasar beragama. Ibadah adalah bangunan yang didirikan di atasnya. Sedangkan akhlak merupakan penghias bangunan tersebut agar nampak terlihat indah.

Bangunan tanpa pondasi akan rapuh dan mudah untuk runtuh. Adapun bangunan tanpa hiasan akan terasa hambar dan tidak enak dipandang.

Setiap permasalahan yang membelit umat ini, entah itu problematika ekonomi, sosial, politik, moral dan keamanan, semuanya bersumber dari ketimpangan dalam salah satu dari tiga bagian pokok agama; akidah, ibadah dan akhlak. Terlebih apabila umat ini terjerumus dalam penyimpangan di ketiga unsur utama tadi, niscaya keterpurukan mereka akan semakin menjadi-jadi.

Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah…

Manakala umat ini menjauh dari akidah yang diwariskan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam maka Allah akan mencabut rasa segan dari hati para musuh. Seakan umat ini tidak ada lagi harganya di mata mereka. Kehormatan agama ini mereka injak-injak dan harga diri Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mereka nodai berkali-kali. Mulai dari terbitnya novel The Satanic Verses karya Salman Rushdie, harian Denmark; Jylands-Posten yang memuat karikatur Nabi shallallahu’alaihi wasallam, hingga dirilisnya film The Innocence of Muslims.

Terjadilah apa yang diprediksikan Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam sejak empat belas abad yang lalu;

«يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا». فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: «بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ. وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».

“Akan datang suatu masa di mana musuh-musuh (bersatu-padu dan) berlomba-lomba untuk memerangi kalian. Sebagaimana berebutnya orang-orang yang sedang menyantap makanan di atas nampan”. Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena saat itu jumlah kami sedikit?”. Beliau menjawab, “Justru saat itu kalian banyak, namun kalian bagaikan buih di lautan. Allah akan membuang rasa takut mereka kepada kalian, dan akan memasukkan wahn di dalam hati kalian.

“Apakah wahn itu wahai Rasul?” tanya salah satu sahabat.

Beliau menjawab, “Cinta dunia dan benci kematian”… HR. Imam Abu Dawud dari Tsauban dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani.[5]

Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati…

Kita tidak pernah diperintahkan untuk menyerah dengan keadaan dan pasrah dengan keterpurukan. Justru sebaliknya, masing-masing dari kita tertuntut untuk mengembalikan kejayaan umat ini kepada puncaknya. Dan kelak kita semua akan ditanya tentang kewajiban tersebut.

Lantas, modal apakah yang diperlukan, untuk meraih kembali kejayaan umat dan menepis tipu daya para musuh Islam? Apakah cukup bermodalkan emosional yang mendorong untuk berdemo, merusak, membakar, membunuh dan berbagai tindakan anarkis lainnya? Tentu tidak!

Mari kita kembalikan kepada kitab panduan kita semua; al-Qur’an al-Karim. Allah ta’ala berfirman,

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا

Artinya: “Jika kalian bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka (musuh-musuh kalian) tidak akan membahayakan kalian sedikitpun”. QS. Ali Imran (3): 120.

Ya, sabar dan takwa, inilah dua modal utama kita dalam menghadapi tipu daya para musuh Islam.

Sabar di sini berarti sabar dalam menghadapi kejahatan para musuh, sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan sabar dalam membela kaum muslimin.

Adapun takwa adalah: menjalankan perintah agama serta menjauhi larangannya.

Inilah dua kekuatan raksasa, bagaikan benteng kokoh yang menjulang tinggi, yang akan melindungi umat Islam dari setiap serangan dan tipu daya para musuh.

أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

 

KHUTBAH KEDUA:

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْأَرْبَابِ، وَمُسَبِّبِ الْأَسْبَابِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ الْعَزِيْزُ الْوَهَّابُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَفْضَلُ مَنْ قَامَ بِالدَّعْوَةِ وَالْاِحْتِسَابِ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أُوْلِي الْبَصَائِرِ وَالْأَلْبَابِ، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الْمَآبِ.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah

Sebagai umat yang cerdas, kita perlu memahami trik dan tipu muslihat para musuh Islam. Banyak tujuan yang ingin mereka capai dari makar yang tidak hentinya mereka kobarkan. Antara lain adalah untuk memancing emosi kaum muslimin.

Namun amat disayangkan, kenyataannya masih banyak umat Islam saat ini yang begitu mudah untuk dipanas-panasi. Lalu terpancing untuk melampiaskan keamarahan tersebut dengan merusak dan tindakan destruktif lainnya.

Tanpa disadari, mereka telah turut berpartisipasi dalam melariskan propaganda kaum kuffar. Yakni membangun citra orang Islam yang kasar, gampang tersulut emosinya dan cepat melakukan tindakan perusakan dan kekerasan.

Bahkan kekerasan yang dilakukan kaum muslimin itu, bisa jadi digunakan sebagai alasan pembenaran bagi negara-negara barat untuk menyerang negara Islam.

Konon saat ini di perairan Libya sudah ada dua kapal tempur Amerika yang bersiaga. Dan tidak menutup kemungkinan, Amerika berencana menjadikan Libya seperti Irak dan Afghanistan. Na’udzubillah min dzalik…

Tindak nyata apapun yang hendak dilakukan, perlu untuk dipikir masak-masak buntut dan akibatnya. Ya, benar, kita tidak boleh mendiamkan penghinaan kaum kuffar terhadap ajaran Islam dan nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam. Namun, hendaknya kita tetap berusaha menyelesaikan persoalan tanpa menimbulkan persoalan baru yang lebih parah.

Negara sebagai institusi, bisa mengusulkan adanya protokol internasional untuk mencegah adanya penistaan agama, serta mendesak munculnya aturan yang mengkriminalisasi segala tindakan yang mengejek para Nabi dan Rasul.

Adapun kita sebagai umat Islam, marilah berusaha untuk terus mempelajari ajaran agama kita, mengamalkannya dan menampilkan ajaran Islam yang selalu menjunjung tinggi prinsip kasih sayang dan kelemahlembutan. Tidak lupa untuk menghadapi perang ideologi dengan ideologi.

Semoga Allah ta’ala berkenan mengembalikan kemuliaan dan kejayaan kaum muslimin. Allahumma amien..

هذا؛ وصلوا وسلموا –رحكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Dzulqa’dah 1433 / 5 Oktober 2012



[1] Elia adalah salah satu nama lain kota Baitul Maqdis. Kata Elia berasal dari kata Elius yang berarti matahari. Lihat: Mu’jam al-Buldan karya Yaqut al-Hamawi (I/293).

[2] Futuh asy-Syam, karya al-Azdi (hal. 234) dinukil dari catatan kaki kitab al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibn Katsir (VII/65) dari situs Ya’sub, sebagaimana dalam al-Maktabah asy-Syamilah.

[3] Al-Bidayah wa an-Nihayah (VII/64-65).

[4] Tarikh Dimasyq karya Ibn Asakir (XLIV/5) dari situs http://www.ahlalhdeeth.com sebagaimana dalam al-Maktabah asy-Syamilah.

[5] Sunan Abi Dawud (IV/315 No: 4297) dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (II/647-648 No: 958).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here