Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA[1]

Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 2 Sya’ban 1433 / 22 Juni 2012

 

KHUTBAH PERTAMA:

الحمد لله ذي الفضل والإحسان، الذي جعل الحياء شعبة من شعب الإيمان، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، يسأله من في السماوات والأرض، كل يوم هو في  شأن.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah…

Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.

Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan,

عن عَطَاءٍ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ قَالَ: قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ: “أَلَا أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟” قُلْتُ: “بَلَى!” قَالَ: “هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللهَ لِي!”. قَالَ: “إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُعَافِيَكِ”. فَقَالَتْ: “أَصْبِرُ” فَقَالَتْ: “إِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللهَ لِي أَنْ لَا أَتَكَشَّفَ”، فَدَعَا لَهَا”.

Atha’ bin Abi Rabah bertutur, suatu saat Ibnu Abbas berkata padaku,“Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni surga?”

Aku menjawab, “Tentu”.

Beliau berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah agar Allah Menyembuhkanku.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jika engkau berkenan, bersabarlah niscaya engkau mendapatkan surga. Namun jika engkau menghendaki, maka aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.”

Wanita itu menjawab, “Aku pilih bersabar”. Lalu ia melanjutkan perkataannya, “Tatkala penyakit ayanku kambuh, auratku terbuka, maka tolong doakanlah agar auratku tidak tersingkap.”

Maka Nabi pun mendoakannya.” HR. Bukhari dan Muslim.

Subhanallah, alangkah mulia kedudukan yang berhasil diraih wanita itu? Apakah gerangan amalan yang mengantarkannya menjadi seorang wanita penghuni surga?

Apakah karena ia adalah wanita yang cantik jelita dan berparas elok? Ataukah karena ia wanita yang berkulit putih bak batu pualam?

Tidak! Bahkan Ibnu Abbas menyebutnya sebagai wanita yang berkulit hitam legam.

Wanita hitam itu, yang mungkin tidak ada harganya dalam pandangan masyarakat. Akan tetapi ia memiliki kedudukan mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam.

Namun, kecantikan iman yang terpancar dari hatinyalah, yang menghantarkan dia kepada kedudukan mulia. Dengan ketaqwaannya, keimanannya, keindahan akhlaqnya dan rasa malunya, seorang wanita yang buruk rupa di mata para manusia, pun akan menjelma menjadi secantik bidadari surga.

Ya, karena rasa malu yang tertanam kuat di dalam hatinya! Malu dari apa?

Wanita itu berkata, “Aku menderita penyakit ayan dan auratku tersingkap saat penyakitku kambuh. Doakanlah agar Allah Menyembuhkanku.”

Kaum muslimin, penyakit ayan bukanlah penyakit yang ringan. Terlebih penyakit itu diderita oleh seorang wanita. Betapa besar rasa malu yang sering ditanggung para penderita penyakit ayan, karena banyak anggota masyarakat yang masih menganggap penyakit ini sebagai sesuatu yang menjijikkan.

Tapi, lihatlah perkataan wanita hitam itu. Apakah ada satu kata saja yang menunjukkan bahwa ia benci terhadap takdir yang menimpanya? Apakah ia mengeluhkan betapa menderitanya dia? Betapa malunya ia karena menderita penyakit ayan? Tidak, bukan itu yang ia keluhkan. Justru ia mengeluhkan auratnya yang tersingkap saat penyakitnya kambuh.

Subhanallah. Ia adalah seorang wanita yang sangat khawatir bila auratnya tersingkap. Ia tahu betul akan kewajiban seorang wanita untuk menutup auratnya dan ia berusaha sekuat tenaga melaksanakannya, meski dalam keadaan sakit. Inilah salah satu ciri wanita salihah, calon penghuni surga. Yaitu mempunyai sifat malu dan senantiasa berusaha menjaga kehormatannya dengan menutup aurat. Bagaimana dengan wanita zaman sekarang, yang di saat sehat pun, dengan rela hati membuka auratnya? Alih-alih merasa malu manakala dilihat para lelaki, justru ia semakin bangga manakala pria yang memelototinya bertambah banyak. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un..

Seorang wanita yang ingatannya sedang dalam keadaan tidak sadar, kemudian auratnya tak sengaja terbuka, maka tak ada dosa baginya. Karena hal ini di luar kemampuannya. Akan tetapi, lihatlah wanita tersebut. Bahkan di saat sakitnya, ia ingin supaya auratnya tetap tertutup. Di saat ia sedang tak sadar disebabkan penyakitnya, ia ingin agar kehormatannya sebagai seorang muslimah tetap terjaga.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Begitulah sekelumit tentang kekuatan positif sifat malu dan pengaruh baiknya. Sifat malu termasuk di antara sifat terpuji yang amat disayangkan sudah ditinggalkan banyak orang. Padahal sifat ini bisa mendatangkan banyak kebaikan bagi orang yang memilikinya. Juga membentengi dirinya agar tidak terjerumus kepada perilaku buruk.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْر

“Sesungguhnya rasa malu itu tidak lain, hanya akan mendatangkan kebaikan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Imran bin Hushain.

Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam pernah bertemu dengan seseorang yang sedang mengkritik saudaranya yang pemalu. Maka beliau pun menegurnya seraya berkata,

دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنَ الْإِيمَانِ

“Biarkan dia, karena sesungguhnya malu itu adalah bagian dari iman”. HR. Bukhari dari Ibnu Mas’ud.

Beberapa hadits di atas menunjukkan, bahwa malu bukanlah suatu yang buruk, bahkan sebaliknya termasuk sifat yang terpuji.

Sidang Jum’at yang berbahagia…

Rasa malu itu ada dua, yaitu malu kepada Allah dan malu kepada manusia.

Malu kepada Allah ta’ala maksudnya, adalah merasa malu dilihat Allah saat melakukan perbuatan maksiat. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya,

اسْتَحْيُوا مِنَ اللهِ حَقَّ الحَيَاءِ. قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالحَمْدُ لِلَّهِ ، قَالَ : لَيْسَ ذَاكَ ، وَلَكِنَّ الاِسْتِحْيَاءَ مِنَ اللهِ حَقَّ الحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى ، وَالبَطْنَ وَمَا حَوَى ، وَلْتَذْكُرِ الْمَوْتَ وَالبِلَى ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الحَيَاءِ.

“Hendaklah kalian benar-benar merasa malu kepada Allah!”. Para sahabat menyahuti, “Alhamdulillah, kami telah memiliki sifat malu, wahai Rasulullah!”. Beliau menimpali, “Bukan itu maksudnya, akan tetapi perasaan malu yang hakiki kepada Allah, adalah manakala engkau menjaga kepala beserta isinya, menjaga perut beserta isinya dan terus mengingat kematian. Orang yang merindukan akhirat, pasti dia akan meninggalkan keindahan dunia. Barang siapa mempraktekkan ini berarti ia telah dikategorikan benar-benar merasa malu kepada Allah”. HR. Tirmidzy dari Ibnu Mas’ud dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim.

Orang yang merasa malu kepada Allah, dia akan menjauhi semua larangan-Nya dalam segala kondisi. Baik saat sendiri maupun di tengah keramaian. Sebuah rasa yang merupakan buah dari ma’rifatullah (mengenal Allah).

Rasa malu yang muncul karena menyadari keagungan dan kedekatan Allah. Rasa malu yang timbul karena sadar bahwa Allah itu Maha Mengetahui seluruh perbuatan, yang nampak maupun tersembunyi dalam hati. Rasa malu seperti inilah yang masuk dalam tingkat keimanan tertinggi, yakni ihsan.

Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah…

Di samping rasa malu kepada Allah ta’ala, kita juga harus memiliki sifat malu kepada manusia. Rasa malu ini akan mencegah kita dari perbuatan yang tidak layak dan tercela. Rasa malu membuat kita tidak suka jika aib dan keburukan kita diketahui orang lain. Oleh karena itu, orang yang memiliki rasa malu tidak akan menyeret dirinya untuk menjadi tukang cela, penyebar fitnah, juru gunjing dan berbagai tindak maksiat lainnya yang nampak.

Singkat kata, rasa malu kepada Allah akan mencegah seseorang dari keburukan batin, sedangkan malu kepada manusia akan mencegahnya dari kerusakan lahiriah. Dengan demikian, dia akan menjadi orang yang baik secara lahir dan batin. Dia akan tetap baik ketika sendiri, maupun di tengah khalayak umum. Malu seperti inilah yang merupakan bagian dari iman.

Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati…

Lalu bagaimana dengan orang yang tidak memiliki rasa malu? Orang yang tidak memiliki rasa malu, berarti dia tidak memiliki benteng dalam dirinya yang bisa mencegahnya dari perbuatan dosa dan maksiat. Dia akan berbuat sekehendaknya sendiri, seakan-akan tidak ada iman yang tersisa dalam hati.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya di antara ungkapan kenabian pertama yang diketahui para manusia ialah, “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu”. HR. Bukhari dari Abu Mas’ud.

Artinya, orang yang tidak memiliki rasa malu sedikitpun, dia pasti akan berbuat semaunya, tanpa peduli maksiat atau bukan, apakah itu etis atau tidak? Hidup semaunya sendiri.

Hadirin dan hadirat waffaqakumullah…

Itulah sekelumit tentang urgensi sifat malu dalam kehidupan manusia. Lalu, bagaimana dengan realita banyak manusia di zaman ini? Ternyata tidak sedikit di antara mereka, yang telah mencampakkan rasa malu sampai ke akar-akarnya, seakan tidak tersisa secuilpun di dalam hatinya. Sehingga akibatnya berbagai kemungkaran menjamur di mana-mana.

Aurat yang mestinya ditutup, justru dipertontonkan dan diumbar di depan khalayak ramai. Sorot mata jalang yang seharusnya membuat risih dan malu, justru semakin menimbulkan rasa bangga.

Perbuatan amoral dilakukan terang-terangan di media informasi, cetak maupun elektronik.

Rasa cemburu pada pasangan sirna bak tak tersisa.

Tindakan asusila nan hina dianggap baik dan dibanggakan, bahkan diusahakan mati-matian untuk dilegalkan. Ketika ini dipermasalahkan, malah banyak orang sontak membelanya. Sungguh ironis, namun inilah realita yang ada.

Di manakah rasa malu, dari pejabat yang mendapatkan amanah untuk mengayomi rakyatnya, justru ia menghisap harta mereka dengan perbuatan korupsi dan kolusi?

Di manakah rasa malu, dari pedagang yang mengurangi takaran dan timbangan, serta bersumpah palsu untuk melariskan dagangannya?

Di manakah rasa malu, dari para orang kaya yang menyerobot jatah orang miskin? Manakala merasa iri dengan jatah raskin yang diterima kaum papa, sehingga ia pun menuntut untuk mendapatkan jatah serupa. Sehingga orang-orang lemah yang seharusnya perbulan menerima jatah raskin sebanyak 15 kg, ia harus rela menerimanya hanya 3 kg saja!

 Di manakah rasa malu, dari seorang pelajar yang berbuat curang dalam ujian, demi mengejar fatamorgana nilai palsu?

Benarlah sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam tersebut di atas,

إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

 “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu”. HR. Bukhari dari Abu Mas’ud.

أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.


 

KHUTBAH KEDUA:

الحمد لله الواحد القهار، الرحيمِ الغفار، أحمده تعالى على فضله المدرار، وأشكره على نعمه الغِزار، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له العزيز الجبار، وأشهد أن نبينا محمداً عبده ورسوله المصطفى المختار، صلى الله عليه وعلى آله الطيبين الأطهار، وإخونه الأبرار، وأصحابه الأخيار، ومن تبعهم بإحسان ما تعاقب الليل والنهار

Jama’ah Jum’at rahimakumullah

Rasa malu yang terpuji adalah rasa malu yang mencegah seseorang dari perbuatan buruk, dan rasa malu yang bisa mendorong dia untuk melakukan kebaikan.

Adapun rasa malu yang menghalangi seseorang dari amal salih, maka itu merupakan jenis malu yang tercela. Seperti malu untuk berjilbab, malu untuk menunaikan shalat berjama’ah di masjid, malu untuk bertutur kata jujur, malu untuk bertanya tentang permasalahan agama, malu untuk menyuarakan kebenaran, malu untuk menghadiri majlis taklim, malu untuk beramar ma’ruf nahi munkar dan yang semisal. Seluruh ini adalah jenis malu yang tercela.

Rasa malu yang terpuji merupakan anugerah berharga dari Allah, sementara rasa malu yang tercela adalah tipuan setan la’natullah.

Semoga Allah berkenan mengaruniakan pada kita rasa malu yang terpuji, dan menghindarkan kita dari rasa malu yang tercela, amien.

ألا وصلوا وسلموا -رحمكم الله- على الهادي البشير، والسراج المنير، كما أمركم بذلك اللطيف الخبير؛ فقال في محكم التنـزيل: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…

 

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Sya’ban 1433 / 22 Juni 2012



[1] Hasil modifikasi dari makalah berjudul “Wanita Penghuni Surga Itu” tulisan Ummu Rumman Siti Fatimah yang dimuat dalam website muslimah.or.id dan khutbah Jum’at berjudul “Esensi Malu dalam Kehidupan” yang dimuat dalam Majalah as-Sunnah edisi 09/Thn. XIV (hal. 62-64), dengan beberapa tambahan dan perubahan.

BAGIKAN
Artikulli paraprakKEZALIMAN ADALAH KEGELAPAN
Artikulli tjetërNegeri Idaman

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here