Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA

 

Ada pepatah Melayu yang berkata “Nasi sudah menjadi bubur, yang artinya sudah kepalang basah, tidak dapat diperbaiki lagi. Ibarat nasi, saat ditanak ternyata kebanyakan air, akhirnya menjadi bubur dan tidak bisa dikembalikan jadi nasi lagi.

Namun apalah daya, semuanya sudah terjadi. Menyesalinyapun tidak ada gunanya lagi, karena memang waktu tidak bisa diputar kembali ke belakang.

Namun, janganlah merasa sedih dengan nasi yang jadi bubur, jadikan saja bubur ayam! Tinggal tambahkan suwiran daging ayam, daun bawang cincang, seledri cincang, potongan cakue (apalagi yang goreng garing), kacang goreng, kecap asin, sambal, kuah kuning dan kerupuk udang plus emping… Hmmm dengan aneka lauk lainnya, justru menjadi makin sedap sehingga mengundang orang untuk buru-buru memakannya. Jadi pepatah Melayu ini masihlah pas, namun ditambah saja: Nasi sudah menjadi bubur, maka jadikan saja bubur itu bubur ayam yang enak!!.

Penyesalan Total

Namun, di sana ada dua macam penyesalan yang tidak mungkin lagi diperbaiki.

Pertama: Penyesalan di waktu ajal tiba. Di antara contohnya apa yang termaktub dalam firman Allâh ‘azza wa jalla,

[arabic-font]

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِين

[/arabic-font]

Artinya: “Belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, “Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak mengundur (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang salih”. QS. Al-Munâfiqûn (63): 10.

Kedua: Penyesalan di hari kiamat saat azab tiba di depan mata.

[arabic-font]

وَتَرَى الظَّالِمِينَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ يَقُولُونَ هَلْ إِلَىٰ مَرَدٍّ مِنْ سَبِيلٍ

[/arabic-font]

Artinya: “Kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata, “Adakah kiranya jalan untuk kembali ke dunia?”. QS. Asy-Syûrâ (42): 44.

Permohonan Ahli Neraka

Setelah menyesali perbuatan mereka, apa gerangan permohonan para ahli neraka?

  1. Mereka meminta agar dikembalikan ke dunia supaya bisa melakukan amal salih.

“Mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan melakukan amal salih, berbeda dengan yang telah kami kerjakan dahulu”. QS. Fâthir (35): 37.

  1. Mereka mengharapkan ada yang mau memberi syafa’at (pertolongan) bagi mereka agar selamat dari siksa Allâh ‘azza wa jalla.

[arabic-font]

فَهَلْ لَنَا مِنْ شُفَعَاءَ فَيَشْفَعُوا لَنَا

[/arabic-font]

Artinya: “Adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami?”. QS. Al-A’râf (7): 53.

Apakah Jawaban Allah?

Allah menjawab permohonan mereka dengan firman-Nya,

[arabic-font]

أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

[/arabic-font]

“Bukankah kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan telah datang kepadamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada seorang penolongpun bagi orang-orang yang zalim”. QS. Fâthir (35): 37.

Bahkan dalam ayat lain Allah memerintahkan mereka untuk tutup mulut!

[arabic-font]

قَالَ اخْسَئُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ

[/arabic-font]

Artinya: Allâh berfirman, “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan-Ku”. QS. Al-Mu`minûn (23): 108.

Mari kita manfaatkan usia yang terbatas ini untuk beramal salih sebaik-baiknya. Semoga kelak kita terhindar dari penyesalan yang tiada guna…

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 16 R. Tsani 1436 / 6 Februari 2015

* Diringkas dari http://sasteralapar.blogspot.com/2012/08/catatan-sasteralapar-nasi-sudah-menjadi.html dan http://almanhaj.or.id/content/3540/slash/0/penyesalan-yang-tiada-berguna/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here