Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA

Khutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 28 Ramadhan 1433 / 17 Agustus 2012

 

KHUTBAH PERTAMA:

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.

“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah…

Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.

Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…

“Gemah ripah loh jinawi. Toto tentrem kerto raharjo”, begitulah orang tua kita dahulu mendeskripsikan negeri yang ideal. Kurang lebih maknanya, bahwa negeri idaman itu adalah negeri yang bertanah subur, adil, makmur, kaya dengan hasil buminya, tersusun rapi, damai dan sejahtera. Ungkapan tersebut mungkin dianggap sebagian kalangan cukup mewakili definisi negara yang ideal. Walaupun sebenarnya, sebagai seorang muslim, tentulah harus ditambahkan, bahkan diprioritaskan kriteria keimanan kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Untuk merealisasikan impian indah negeri idaman, tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu adanya sinergi antara rakyat dan penguasa, serta harus ada keseimbangan antara pembangunan mental dan fisik negara. Tidak lupa taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala adalah faktor mutlak penentu keberhasilan. Tanpa adanya itu semua, berbagai kriteria ideal tersebut di atas, hanya akan ada dalam mimpi, di negeri antah berantah.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Manusia terdiri dari dua bagian pokok; jasmani dan rohani atau tubuh dan hati. Kesempurnaan kesehatan seorang insan sangat tergantung kepada kesehatan kedua bagian pokok tersebut. Kesehatan hati seseorang akan membawa kepada kesehatan fisiknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda,

“أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ”.

“Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika ia baik maka seluruh jasad akan baik. Namun jika ia rusak maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah bahwa segumpal daging tersebut adalah: hati”. HR. Bukhari dan Muslim dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu.

Sebaliknya, kesehatan jasmani akan sangat membantu terbangunnya kesehatan rohani manusia. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ”.

“Mukmin yang kuat lebih baik daripada mukmin yang lemah. Dan masing-masing memiliki kebaikan“. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Di antara hal pokok yang perlu diperhatikan, dalam upaya menjaga kesehatan tubuh dan hati, adalah pemberian makanan yang cukup dan baik. Supaya tubuh kita sehat perlu asupan gizi yang memadai. Begitupula agar hati ini sehat, ia perlu diberi makanan, berupa ilmu dan iman.

Negara, sebagai wadah berkumpulnya sekian banyak manusia, juga dibangun di atas dua bagian pokok; fisik dan mental. Fisik antara lain diwakili oleh sarana dan prasarana, seperti bangunan gedung, jalan dan yang semisal. Adapun mental negara, terwakili oleh kepribadian para manusia yang hidup di negara tersebut. Keduanya harus mendapatkan porsi perhatian yang cukup, supaya negara menjadi kokoh dan kuat. Sebaliknya, ketimpangan antara pembangunan fisik dan mental hanya akan mengakibatkan kerapuhan yang berakhir kepada kehancuran sebuah negara. Walaupun barangkali pada awalnya, negara tersebut berpenampilan lahiriah yang lux dan wah!

Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ”

Artinya: “Andaikan penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka akibat perbuatannya”. QS. Al-A’raf (7): 96.

Sidang Jum’at yang berbahagia…

Pembangunan fisik pasar yang megah dan mall yang mewah, haruslah diiringi dengan pembangunan mental para pedagang dan pemain ekonomi di dalamnya. Jika tidak, maka praktek kecurangan, riba, klenik, sumpah palsu dan seabreg perilaku buruk lainnya, pasti akan merajalela di pusat perdagangan tersebut.

Karenanya, demi pembangunan mental para pelaku ekonomi, tidak jarang Rasulullah shallallahu’aihiwasallam melakukan ‘operasi pasar’ untuk melihat tingkat kejujuran mereka. Pernah Rasulullah shallallahu’aihiwasallam memasukkan tangan ke dalam onggokan gandum dan ternyata ditemuinya gandum yang bagian bawah basah, sementara si penjual gandum menghargainya dengan harga gandum kering yang bagus. Maka langsung Rasulullah shallallahu’aihiwasallam mengingatkan,

“مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي”

“Barang siapa menipu kami; maka bukan termasuk golonganku”. HR. Muslim.

Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah…

Pembangunan sarana prasarana para penegak hukum, harus diikuti dengan pembangunan mental para punggawa keadilan. Jika tidak, maka yang akan terjadi adalah praktek tebang pilih dalam menangani kasus dan merebaknya mafia peradilan. Dari situlah bangsa akan hancur berkeping-keping.

Pada zaman Rasul shallallahu’alaihwasallam dikisahkan, bahwa seorang wanita dari suku terpandang al-Makhzumiyah kedapatan mencuri. Tokoh-tokoh Quraisy kebingungan, karena wanita ini termasuk dari golongan bangsawan. Merekapun bermusyawarah, lalu mengutus Usamah bin Zaid, anak kesayangan Rasul shallallahu’alaihiwasallam, untuk menghadap kepada beliau. Meminta supaya si wanita itu diberi dinspensasi, dengan tidak dijatuhi hukuman potong tangan. Manakala mendengar paparan Usamah tersebut, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun marah besar, lalu bergegas naik mimbar dan berkhutbah,

إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ، أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ. وَايْمُ اللهِ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا”.

“Sesungguhnya perilaku yang menghancurkan bangsa-bangsa sebelum kalian, adalah karena apabila yang mencuri itu orang terpandang, maka ia akan dibebaskan. Tetapi jika yang mencuri adalah rakyat kecil, maka hukuman diterapkan atasnya. Demi Allah, andaikan Fatimah putriku mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha.

Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati…

Pembangunan fisik jalan-jalan dan jembatan, haruslah diiringi dengan pembangunan mental para kontraktor, pemborong dan semua yang punya tangan di situ. Jika tidak, maka anggaran proyek pekerjaan besar tersebut akan bocor di mana-mana. Akan terjadinya mark up dalam proyek, sebab yang menjadi target utama adalah meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, tanpa peduli dengan kualitas pekerjaan. Sehingga muncul jalan-jalan yang bertahan hanya seumur jagung dan jembatan yang ambruk hanya dalam hitungan bulan.

Padahal Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam, jauh-jauh hari telah mengingatkan bahaya uang haram, entah itu dinamakan fee kah, atau bonus kah, atau uang pelicin kah,  dalam sabda beliau,

“لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ أَبَدًا، النَّارُ أَوْلَى بِه”.

“Tidak akan masuk surga selamanya, daging yang tumbuh dari harta yang haram. Nerakalah yang pantas untuk menjadi tempat tinggalnya”. HR. Tirmidzy dari Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ’anhu dan dinilai sahih oleh adz-Dzahaby dan al-Albany.

Begitu pula pembangunan fasilitas birokrasi, wajib diikuti dengan pembangunan mental para birokrat. Apabila tidak, niscaya yang akan tumbuh subur adalah mentalitas “kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah?”. Kecenderungan untuk memelihara masalah, ketimbang menyelesaikannya. Juga maraknya tipe aparat yang ingin dilayani, ketimbang melayani masyarakat. Sehingga dalam setiap situasi selalu yang diperhitungkan adalah, “Saya dapat apa? Dan kamu wani piro?”.

Tidakkah mereka merasa khawatir, dengan doa yang dilantunkan baginda Rasul shallallahu ’alaihiwasallam,

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ. وَمَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ”

“Ya Allah, siapapun yang menangani urusan umatku lalu ia mempersulit mereka, maka timpakanlah kesulitan padanya. Dan barang siapa menangani urusan umatku lalu ia memberikan kemudahan kepada mereka, maka mudahkanlah urusannya”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ’anha.

Hadirin dan hadirat waffaqakumullah…

Tidak mudah memang menyeimbangkan antara pembangunan fisik dan mental, terlebih jika ketimpangan antara keduanya telah mengakar dan mengurat selama puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun. Namun jalan menuju cita-cita mulia tersebut akan terasa ringan insyaAllah, manakala kita berhasil menanamkan modal pondasi pertama dan utama dalam diri setiap anak bangsa. Yakni keimanan yang lurus dan akidah yang kokoh.

Artinya: setiap insan harus merdeka dari segala bentuk peribadatan kepada selain Allah. Jangan sampai mereka menghambakan diri kepada sesama manusia, atau makhluk lain. Sebab manusia adalah sama derajatnya di sisi Allah. Yang membedakan hanyalah ketaqwaan.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ”

Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah, ialah orang yang paling bertaqwa”. QS. Al-Hujurat: 13.

Jika dengan sesama manusia saja tidak boleh menghamba, maka bagaimanakah kiranya orang yang menghamba kepada makhluk lain selain manusia, yang kedudukannya lebih rendah. Baik itu makhluk hidup, makhluk ghaib, benda mati, maupun materi seperti harta dan kekuasaan.

Kemerdekaan pertama adalah kemerdekaan berakidah. Bahwa kita hanya beribadah kepada Allah, takut kepada Allah, dan berharap hanya pada Allah. Bertauhid dengan benar.

Saat itulah anak bangsa memiliki mental yang kuat. Tugas yang tersisa tinggal memoles bagian-bagian lain dalam karakter dirinya.

أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.


 KHUTBAH KEDUA:

الحمد لله الواحد القهار، الرحيمِ الغفار، أحمده تعالى على فضله المدرار، وأشكره على نعمه الغِزار، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له العزيز الجبار، وأشهد أن نبينا محمداً عبده ورسوله المصطفى المختار، صلى الله عليه وعلى آله الطيبين الأطهار، وإخونه الأبرار، وأصحابه الأخيار، ومن تبعهم بإحسان ما تعاقب الليل والنهار

Jama’ah Jum’at rahimakumullah

Mungkin timbul pertanyaan dalam benak kita, tindakan nyata apa gerangan yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan negeri impian tadi? Jawabannya, mari masing-masing dari kita berbuat sesuai dengan kapasitasnya.

Para pejabat berusaha mengembangkan budaya ngaji di pos-pos pemerintahan, bukan cuma di bulan suci Ramadhan saja, namun selama hayat masih di kandung badan. Terus menerus tanpa henti menempa mental yang islami, dengan menghidupkan majlis taklim. Membentengi diri dari setan-setan yang bergentayangan tanpa lelah sepanjang tahun. Ingat, sebagaimana perut kita membutuhkan makanan, hati juga membutuhkan asupan ‘gizi’ yang cukup!

Para tenaga pendidik, berusahalah untuk mengajar murid-murid dengan hati nurani. Jangan targetnya hanya sekedar mengejar selesainya kurikulum pelajaran. Namun juga berusahalah untuk menanamkan karakter yang islami dalam diri anak didik. Dengan memberikan suri teladan yang baik dan menyuntikkan nasehat-nasehat yang menyejukkan, di dalam setiap materi pelajaran. Bukan hanya di pelajaran agama saja, yang kerap dianaktirikan di berbagai lembaga pendidikan, dengan diberikan jam yang amat sedikit. Padahal ia merupakan pondasi utama dalam menciptakan pendidikan yang berkarakter.

Para orang tua, ketahuilah bahwa keluarga adalah miniatur sebuah negara. Untuk menciptakan negara yang baik, harus dimulai dari mewujudkan keluarga yang baik. Maka, wahai para bapak dan ibu, jikalau Anda mendidik putra-putri Anda dengan sebaik-baiknya, sejatinya Anda adalah pahlawan yang paling berjasa, dalam membangun negara yang mulia. Maka, jadilah pionir-pionir kebaikan!

ألا وصلوا وسلموا -رحمكم الله- على الهادي البشير، والسراج المنير، كما أمركم بذلك اللطيف الخبير؛ فقال في محكم التنـزيل: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Ramadhan 1433 / 16 Agustus 2012

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here