Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA

 

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.

“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah…

Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.

Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah…

Nikmat keamanan merupakan salah satu karunia Allah ta’ala terbesar bagi umat manusia. Sebab rasa aman merupakan kebutuhan primer seorang hamba. Tidak mungkin suatu umat atau sebuah bangsa hidup dengan baik, tanpa adanya stabilitas keamanan di dalamnya.

Keamanan lingkungan akan membuahkan ketenangan jiwa, ketentraman batin, kebahagiaan serta kedamaian hati.

Begitu urgennya faktor keamanan dalam kehidupan kita, sampai-sampai dalam beberapa kesempatan dia didahulukan atas faktor rizki.

Mari kita cermati doa yang dilantunkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tatkala beliau meninggalkan keluarganya di sebuah lembah yang gersang,

“رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ…”.

Artinya: “Ya Rabbi, jadikanlah (tempat) ini negeri yang aman dan berilah rizki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian”. QS. Al-Baqarah: 126.

Lihatlah bagaimana permintaan akan keamanan didahulukan atas permintaan akan rizki! Sebab seorang insan bisa saja hidup dengan rizki yang serba kekurangan, jika ia merasa aman. Namun sebaliknya ia tidak bisa hidup dengan baik, apabila senantiasa merasa takut, walaupun ia memiliki kekayaan sebesar dunia sekalipun![1]

Para hadirin dan hadirat rahimakumullah..

Berkat rasa aman seorang hamba bisa beribadah kepada Allah ta’ala dengan tenang dan sempurna. Lain halnya jika hidup seseorang diliputi rasa takut dan was-was, kondisi ini akan berdampak pada ketidaksempurnaan ibadah yang ia lakukan. Bahkan terkadang rutinitas peribadatannya harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi, karena merasa khawatir dengan intaian para musuh Allah ta’ala.

Berhubung pentingnya rasa aman demi perealisasian keimanan dalam kehidupan seorang mukmin, Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam dalam sebagian doanya, memohon agar dikaruniai keamanan di samping keimanan. Sebagaimana doa yang beliau panjatkan saat melihat rembulan di awal setiap bulan,

“الله أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيْمَانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَالْإِسْلاَمِ، وَالتَّوْفِيْقِ لِمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ الله”.

“Allah Maha besar! Ya Allah jadikanlah bulan ini penuh dengan keamanan dan keimanan, keselamatan dan keislaman, serta taufik kepada hal-hal yang dicintai Rabb kami dan diridhai-Nya. Rabbku dan Rabbmu adalah Allah”. HR. Ad-Darimi dan dinilai hasan oleh Ibn Hajar dan al-Albani[2]

Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati…

Kewajiban untuk menjaga stabilitas keamanan negara adalah tanggung jawab semua insan, sesuai dengan kapasitasnya. Kecil maupun besar, tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, muslim maupun non muslim, umara maupun ulama serta rakyat maupun aparat.

Amanah untuk menjaga keamanan negara ini harus ditanamkan para orang tua dalam jiwa anak-anak mereka sejak dini, juga oleh para guru dalam diri murid-murid mereka di sekolahan.

Maka jika ada oknum-oknum yang berusaha mengacaukan situasi yang telah kondusif, dengan melakukan berbagai tindak teror berupa pengeboman serta peledakan; wajib bagi setiap warga negara untuk mencegah tindak kriminal tersebut, sesuai dengan kemampuan dan kapasitas masing-masing.

Aparat keamanan menggunakan wewenang kekuasaan yang mereka miliki untuk melakukan tindakan preventif juga represif jika diperlukan. Para ulama, ustadz, da’i dan mubaligh memberikan pengarahan keagamaan kepada umat akan bahaya tindak teror tersebut dipandang dari sisi syariat. Masyarakat awam bekerja sama dengan pemerintah untuk melaporkan setiap hal yang mencurigakan. Para orang tua mengawasi anak-anak mereka, dengan siapakah mereka bergaul dan berteman? Pendek kata, semuanya bahu-membahu berusaha memadamkan kobaran api huru-hara itu!

Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah…

Andaikan para pelaku tindak teror tadi beralasan, bahwa perbuatan mereka merupakan bentuk nahi mungkar atas kemungkaran yang dilakukan sebagian oknum di pemerintahan, maka jawabannya: amar makruf nahi mungkar merupakan ibadah mulia, namun jangan lupa bahwa norma-normanya telah digariskan dengan jelas oleh agama kita.

Di antara norma yang diajarkan Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam dalam menasehati pemerintah kaum muslimin: menyampaikan nasehat tersebut bukan di depan umum. Sebagaimana dijelaskan dengan gamblang dalam sabda beliau,

“مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاَنِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ”.

Artinya: “Barang siapa ingin menyampaikan nasehat kepada penguasa, hendaklah jangan menyampaikannya di depan umum, akan tetapi genggamlah tangannya dan menyendirilah dengannya. Jika ia mau menerima nasehat tersebut, maka itulah (yang diharapkan), jika tidak maka sesungguhnya ia telah melaksanakan kewajibannya”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Albani [3].

Andaikan nasehat kepada pemerintah saja harus disampaikan secara sembunyi-sembunyi dan dilarang untuk disampaikan di depan khalayak umum, bisakah dibenarkan penyampaian nasehat dengan cara melakukan peledakan di mana-mana?

Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati…

Setali tiga uang dengan istilah “amar makruf nahi munkar”; istilah “jihad”. Istilah kedua ini juga diselewengkan maknanya oleh sebagian oknum yang kurang bertanggungjawab. Atas nama jihad mereka menumpahkan darah kaum muslimin dan membunuhi non muslim tanpa pandang bulu.

Padahal Allah ta’ala telah melarang tindak melampaui batas dalam segala sesuatu, termasuk dalam berjihad sekalipun. Allah berfirman,

“وَقَاتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ، وَلاَ تَعْتَدُواْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبِّ الْمُعْتَدِينَ”.

Artinya: “Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, (tetapi) janganlah kalian melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. QS. Al-Baqarah: 190.

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa tindak melampaui batas dalam berjihad, selain dalam bentuk membunuhi kaum wanita, anak kecil, para rahib dan orang tua yang tidak memiliki andil dalam memerangi kaum muslimin[4], juga termasuk tindak melampaui batas dalam berjihad: membunuhi orang-orang kafir yang memiliki perjanjian damai dengan kaum muslimin[5].

Sidang Jum’at waffaqakumullah…

Nikmat keamanan selain harus diusahakan dan diupayakan oleh umat manusia, juga merupakan karunia dari Yang Maha Kuasa, jika mereka memenuhi syarat-syarat yang telah digariskan oleh-Nya. Di antara syarat utama yang telah digariskan Sang Pencipta: menegakkan tauhid di muka bumi dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan.

Allah ta’ala berfirman,

“وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ، لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ، وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ، وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً، يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً”.

Artinya: “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku”. QS. An-Nur: 55.

Semua janji-janji Allah tersebut di atas, mulai dari kekuasaan di muka bumi, kekokohan dan kejayaan agama, sampai stabilitas keamanan negara, tidak akan dapat dicapai kecuali dengan syarat yang tersebut di akhir ayat tadi; yaitu menegakkan tauhid (hanya beribadah kepada Allah ta’ala) dan meninggalkan syirik.[6]

نَفَعَنِي اللهُ وَإِيَّاكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَبِسُنَّةِ سّيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُهُ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ لِي وَلَكُمْ، وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ…

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ، الرَّحِيْمِ الْغَفَّارِ، أَحْمَدُهُ تَعَالَى عَلَى فَضْلِهِ الْمِدْرَارِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْغِزَارِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّاُر، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُصْطَفَى الْمُخْتَارُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ الْأَطْهَارِ، وَإِخْوَانِهِ الْأَبْرَارِ، وَأَصْحَابِهِ الْأَخْيَارِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ مَا تَعَاقَبَ الَّليْلُ وَالنَّهَارُ.

Sidang Jum’at waffaqakumullah…

Berkenaan dengan korelasi antara keamanan dengan penegakkan tauhid, Allah ta’ala menjelaskan dalam ayat lain,

“الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ”.

Artinya: “Orang-orang beriman dan tidak mencampuri keimanannya dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan. Dan mereka adalah kaum yang mendapat petunjuk”. QS. Al-An’am: 82.

“Kezaliman” yang disebutkan dalam ayat di atas, telah ditafsirkan oleh Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam sebuah hadits sahih[7], dengan “kesyirikan”.

Berdasarkan dua ayat di atas juga dalil-dalil lain yang senada, dapat disimpulkan bahwa syarat utama tercapainya keamanan di muka bumi adalah dengan memurnikan segala macam bentuk ibadah untuk Allah semata, alias dengan menegakkan panji-panji tauhid.

Jika syarat vital ini tidak terpenuhi, maka rasa takut, ketidaktentraman dan kegelisahanlah yang akan merebak di bumi dan memenuhi relung-relung hati para hamba.

Allah ta’ala berfirman,

“سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُواْ الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُواْ بِاللّهِ …”.

Artinya: “Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka melakukan perbuatan syirik…”. QS. Ali Imran: 151.

Dalam ayat di atas Allah ta’ala menjelaskan dengan gamblang bahwa faktor utama penyebab rasa takut yang timbul dalam hati orang-orang kafir adalah dikarenakan mereka melakukan perbuatan syirik.[8]

Maka jangan berharap keamanan akan membumi di tanah air, jika para dukun masih bebas beriklan di media massa, entah mereka yang beraliran hitam maupun mereka yang mengklaim dirinya dukun putih!

Jangan bermimpi ketentraman akan dicapai, jika tindak obral jimat masih marak di mana-mana, sehingga tidak sedikit di antara kaum muslimin yang seluruh maslahat hidup dan kemudaratannya tergantung pada benda-benda mati tersebut!

Bagaimana mungkin rasa takut dan kegelisahan jiwa akan hilang, seandainya masih ada oknum-oknum, atas nama agama, mengkultuskan para wali, sehingga mengangkat derajat mereka mendekati derajat Yang Maha Kuasa, dengan meminta-minta berbagai hajat; kelancaran rizki, keturunan, kenaikan pangkat dll, kepada para makhluk mulia tersebut?!

Kemerdekaan mereka telah terjajah untuk bisa langsung berhubungan dengan Rabb semesta alam!. Hanya kepada Allah sajalah kita mengadu…

أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ اللهُ- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْرِ, وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْرِ, كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـزِيْلِ: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ, اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّاب

رَبَّناَ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

أَقِيْمُوا الصَّلاَةَ…

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Jumadal Ula 1432 / 19 April 2011



[1] Lihat: Muqawwimât Hubb al-Wathan fî Dhau’i Ta’âlîm al-Islâm, karya Prof. Dr. Sulaiman bin Abdullah Aba al-Khail, hal. 51.

[2] HR. Ad-Darimi, II/1050 no. 1729, ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabîr, XII/356 no. 13330 dan Ibn Hibban, III/171 no. 888 dari Ibn Umar. Juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, hal. 784 no. 3451, Ahmad, III/17 no. 1397, al-Hakim, IV/385 dan adh-Dhiya’, III/22. Masing-masing jalur periwayatan di atas ‘bermasalah’. At-Tirmidzi mengomentari hadits ini, “Hasan gharîb”. Dalam Natâ’ij al-Afkâr sebagaimana dinukil Ibn ‘Allân di al-Futûhât ar-Rabbâniyyah, IV/329, Ibn Hajar al-‘Asqalâni menilainya hasan. Syaikh al-Albâni dalam Zhilâl al-Jannah, I/165 no. 376 berpendapat serupa.

[3] HR. Ahmad, III/403 dan Ibnu Abi ‘Ashim, II/737 no. 1130, 1131. Al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawâ’id berkomentar: “Para perawinya terpercaya, dan sanadnya bersambung”, sedangkan syaikh al-Albani menilai hadits ini sahih.

[4] Lihat: Tafsir al-Qurthubi, III/239-240 dan Tafsir Ibn Katsir, I/524.

[5] Lihat: Tafsir as-Sa’di, hal. 71.

[6]  Lihat: Tafsir al-Qurthubi, XV/326 dan Tafsir as-Sa’di, hal. 521-522.

[7]  HR. Bukhari (I/87 no. 32 –Fath al-Bâri) dan Muslim (I/114-115 no. 197) dari Ibnu Mas’ud.

[8]  Lihat: Tafsir ar-Razi, IX/34.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here