Setiap muslim tertuntut mengingat Allah dalam segala kondisi. Berdzikir di malam dan siang hari, saat berdiri, duduk dan berbaring, serta dalam setiap aktivitasnya. Sebagaimana yang dicontohkan oleh panutan kita; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: “كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berdzikir mengingat Allah dalam segala kondisi”. HR. Muslim.

Siapapun yang memperhatikan keseharian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dia akan menemukan betapa lengkapnya panduan dzikir. Ada dzikir pagi dan petang. Doa akan dan bangun tidur. Doa dan dzikir saat shalat dan sesudahnya. Doa sebelum dan sesudah makan-minum. Doa menaiki kendaraan dan bepergian. Dzikir mengusir kegelisahan dan kegalauan. Doa saat melihat sesuatu yang disukai atau tidak disukai. Dan masih banyak lagi panduan doa-dzikir di setiap momen yang kita alami.

Mempraktekkan berbagai doa-dzikir tersebut adalah bagian dari upaya memperbaharui keimanan kita kepada Allah. Usaha memperkuat hubungan kita dengan-Nya. Pengakuan terhadap karunia-Nya kepada kita yang tanpa henti dan tak terhitung jumlahnya. Ketergantungan kita kepada Allah dalam melindungi diri dari kejahatan setan, gangguan makhluk jahat, musibah dan godaan nafsu.

Maka seharusnya setiap muslim berusaha menjaga semaksimal mungkin semua doa dan dzikir yang mulia ini di siang dan malamnya. Sesuai dengan yang dicontohkan dalam al-Qur’an dan hadits. Sehingga bisa masuk dalam kategori golongan yang dipuji Allah dalam firman-Nya,

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا 

Artinya: “Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. QS. Al-Ahzab (33): 35.

Batas minimal seorang bisa dikatakan telah banyak berdzikir adalah: manakala dia rajin mengamalkan dzikir dan wirid yang telah ditentukan momen-momennya dalam al-Qur’an dan Sunnah.

Adapun batas maksimalnya: saat lisan seseorang senantiasa basah dengan dzikrullah dalam setiap kesempatan. Sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam QS. Ali Imran: 191. 

Dzikir Sehari-hari

Para ulama kita memberikan perhatian spesial terhadap bab ini. Yakni dzikir dan doa keseharian seorang muslim. Mereka banyak menulis buku khusus untuk memuat dan menjelaskan hal ini.

Di antara contoh karya tulis mereka: kitab ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah, karya Imam an-Nasa’iy rahimahullah (w. 303 H), kitab ad-Du’a al-Kabîr karya Imam al-Baihaqiy rahimahullah (w. 458 H), kitab al-Adzkâr karya Imam an-Nawawiy rahimahullah (w. 676 H), kitab al-Kalim ath-Thayyib karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah (w. 728 H), kitab al-Wâbil ash-Shayyib karya Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H), kitab Tuhfah adz-Dzâkirîn karya Imam asy-Syaukaniy rahimahullah (w. 1250 H), kitab Tuhfah al-Akhyâr karya Syaikh Ibn Baz rahimahullah (w. 1420 H) dan lain-lain.

Maka sudah sepantasnya kita berusaha mempraktekkan doa dan dzikir harian tersebut. Tentunya dengan memilih yang jelas berlandaskan dalil sahih, serta berusaha memahami dan merenungi kandungannya. Sehingga betul-betul mewarnai kehidupan dan perilaku kita. Sebab dzikir yang paling afdal adalah yang memadukan antara ucapan lisan dengan peresapan hati, redaksinya sesuai panduan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, serta dipahami maknanya. Demikian keterangan yang disampaikan Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah.

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Ramadhan 1440 / 20 Mei 2019

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here