Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 130
ORANG TUA SAHABAT ANAK Bag-1

“Dulu anakku penurut sekali. Sekarang setelah bergaul dengan teman-temannya, dia jadi nakal luar biasa!”. Sering kita mendengar keluhan semisal dari sebagian orang tua.

Daripada sibuk mencari kambing hitam, lebih baik kita introspeksi diri. Koq bisa, anak berubah menjadi lebih dekat dengan teman-temannya, padahal kitalah orang tuanya? Mengapa bukan kita saja yang memposisikan diri sebagai teman baik untuk anak kita?

Cara Menjadi Sahabat bagi Anak

Ayah dan ibu sebaiknya tidak hanya memposisikan diri sebagai orang tua. Karena posisi itu sangat sakral bagi anak-anak dan membuat ada sekat dalam berinteraksi bersama mereka. Posisi sebagai sahabat akan dirasakan sebagai hubungan yang tidak terlalu formal, tidak teramat sakral, dan lebih nyaman bagi anak-anak. Tentu tanpa mengurangi penghormatan anak kepada orang tuanya.

Bukankah dahulu manusia paling mulia di muka bumi; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa bermain dengan anak-anak kecil? Bahkan saat sujud, pundak beliau ditunggangi cucunya!

Berikut langkah-langkah praktis orang tua menjadi sahabat baik untuk anaknya:

Pertama: Istri Menjadi Sahabat bagi Suami

Sebelum menjadi sahabat bagi anak, hal pertama yang harus dilakukan para istri adalah menjadi sahabat bagi suami. Bersahabat dengan suami akan mempermudah penyamaan visi, menyatukan persepsi, juga mendiskusikan serta mencari solusi atas berbagai problematika dalam mendidik anak. Jika istri tidak bisa bersahabat baik dengan suami, bagaimana akan bisa menjadi sahabat bagi anak?

Kedua: Terimalah Anak dengan Segala Potensinya

Sebagai sahabat, hendaknya orang tua mampu menerima anak dengan sepenuh hati. Mereka adalah buah hati Anda, bagaimanapun kondisi fisiknya. Penerimaan Anda kepada mereka, akan menjadi kunci keberhasilannya. Anak yang merasa diterima oleh orang tua, akan tumbuh dalam kondisi nyaman dan penuh percaya diri. Sebaliknya, anak yang merasa tertolak atau tidak diterima oleh kedua orang tua, akan tumbuh dalam suasana yang tidak nyaman dan dipenuhi penyesalan bahkan pemberontakan.

Jangan menunggu anak memberontak, baru berusaha menjadi sahabat bagi anak. Jangan menunggu anak melarikan diri dari rumah, baru bisa menerima kondisi anak apa adanya. Jangan menunggu anak melawan orang tua, baru menyadari kesalahan pola asuh selama ini.

Jika perilaku mereka belum baik, sikap penerimaan orang tua itu akan membuat anak merasa nyaman dan lebih mudah untuk diarahkan. Hendaknya orang tua menunjukkan siap penerimaan sepenuhnya atas kondisi anak, yang membuat anak merasa nyaman berada di rumah bersama keluarga. Kalau anak merasa tidak diterima di rumah, ia akan kabur dari rumah dan akan semakin sulit diajak kembali kepada kebaikan.

Ketiga: Jadilah Pendengar yang Baik untuk Anak

Hendaknya para orang tua bisa telaten dan sabar untuk menjadi pendengar yang baik untuk anak-anak. Sehingga mereka merasa dihargai dan dicintai. Menjadi sahabat yang baik, artinya selalu siap mendengarkan keluhan dan cerita anak-anak. Berikan respon yang positif saat anak-anak bercerita atau tengah curhat. Karena dengan respon itu membuat mereka mengerti bahwa Anda tengah memperhatikan pembicaraannya. Ajukan berbagai pertanyaan ringan seputar ceritanya. Namun jangan sampai membuat mereka merasa diinterogasi dan tidak nyaman.

Berikan pendapat yang bisa dimengerti sebagai anak-anak. Tanpa meluapkan emosi dan kemarahan saat mereka melakukan kesalahan. Luruskan kesalahan mereka dengan cara lembut dan bijak. Cobalah menggali pendapat mereka dengan berbagai pertanyaan yang menggugah. Apalagi pada anak remaja, pada dasarnya mereka tidak suka didikte dan digurui. Mereka ingin belajar. Mereka mau berubah. Namun mereka juga ingin diakui hak-haknya untuk memiliki masa muda yang indah. Bersambung…

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Rajab 1440 / 1 April 2019

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here