Konsistensi mutlak dibutuhkan dalam proses mendidik anak. Orang tua harus konsisten memberikan perhatian dan ketenangan kepada anak. Juga konsisten dalam menegakkan aturan.

Ketika orang tua konsisten sejak awal, anak-anak belajar tentang apa yang diharapkan dari orang tua mereka. Ini membantu proses keterikatan. Konsistensi memberi anak rasa aman. Mereka tahu, jika mereka mengangis, orang tua segera datang dengan sebotol susu atau siap mengganti popoknya. Bayi dengan orang tua konsisten tidak sering merasakan kecemasan. Mereka belajar bahwa mereka bisa mengandalkan orang tua dan percaya bahwa kebutuhan mereka akan dipenuhi. Tentunya seizin Allah ta’ala.

Menjaga keteraturan rutinitas dengan seorang anak juga merupakan bagian penting dalam konsistensi. Keributan dan perdebatan berkurang; jika anak tahu apa yang diharapkan dari mereka sejak bangun tidur, sepulang sekolah, atau menjelang tidur malam. Konsistensi membantu anak merasa bertanggungjawab.

Berkurang pula keinginan anak-anak untuk menguji batasan yang sudah ditentukan dengan tegas, ketika mereka tahu ada konsekuensi untuk perilaku membantah. Mereka belajar bahwa “tidak” berarti “tidak”. Konsistensi pun mengajarkan hubungan sebab-akibat kepada anak. Dengan konsistensi, mereka mengembangkan kemampuan membuat keputusan lebih bijak.

Contoh Praktek Ketidakkonsistenan

Ketidakkonsistenan menimbulkan sejumlah masalah, akibat pesan-pesan negatif yang disampaikannya. Anda mungkin pernah membuat peraturan. Tetapi setelah gagal menegakkannya, Anda membiarkan anak-anak berbuat sesuka mereka tanpa konsekuensi.

  • Anda pernah berkata “tidak” terhadap permintaan anak. Tapi kemudian mengalah dan mengatakan “ya” ketika anak bersikeras dan merengek.
  • Masih ada ketidaksepakatan antara Ayah dan Ibu tentang aturan-aturan untuk anak-anak. Ayah berkata “ya”, sementara Ibu tegas mengatakan “tidak” untuk permintaan yang sama dari anak-anak.
  • Anda pernah mengancam anak-anak, tapi tidak benar-benar berniat melaksanakan ancaman itu.

Tantangan Konsistensi

Tidak mudah memang mempertahankan konsistensi di tengah-tengah kesibukan. Kadang kita sudah terlalu lelah bekerja, sehingga membiarkan jam tidur anak dilanggar. Sebab kita sendiri sudah ingin segera istirahat.

Apalagi faktor perasaan juga berpengaruh. Takut dikatain orang tua jahat, karena ketegasan dalam menegakkan aturan. Padahal, semakin banyak Anda membiarkan aturan dan rutinitas dilanggar, semakin besar peluang runtuhnya aturan dan rutinitas tersebut.

Itu sebabnya, konsistensi dalam rumah tangga perlu selalu dijaga dan diaktifkan. Walaupun Anda akan dihadapkan pada tantangan sulit ketika mulai mencanangkan aturan. Anda akan dihadapkan pada ujian kesabaran dan ketahanan ketika anak-anak mencoba keluar dari batasan. Jika Anda berhasil dalam ujian ini, insyaAllah Anda akan mengamati adanya perubahan positif dalam perilaku anak-anak.

Berubah Tapi Tetap Konsisten

Kehidupan kita senantiasa berubah. Ada yang bertambah dan berkurang di dalamnya. Rutinitas perlu diubah dan disesuaikan. Aturan-aturan baru perlu dibuat. Namun semua harus dikomunikasikan dengan baik kepada anak-anak, dan konsistensi dipertahankan.

Sebenarnya kunci keberhasilan bukan pada jumlah aturan, tapi pada pemahaman anak-anak dan konsistensi orang tua menegakkan aturan. Satu peraturan yang dilaksanakan dengan konsisten, lebih baik ketimbang banyak aturan tapi penerapannya angin-anginan.

Anak-anak harus paham kenapa aturan dibuat dan mengapa harus dipatuhi. Orang tua juga harus konsisten mengawasi pelaksanaannya serta mengevaluasi perkembangannya.

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Syawal 1440 / 1 Juli 2019

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here