Fokus pada tujuan sangat penting dalam mendidik anak. Sebab jika demikian kita akan bergerak menuju arah yang benar. Fokus orang tua teladan tentunya adalah mendidik anak menjadi lebih baik, salih dan memiliki karakter positif. Kami yakin tidak ada perbedaan pendapat di antara para orang tua dalam poin ini.

Namun realitanya, banyak orang tua yang prakteknya justru lebih fokus kepada hal-hal negatif yang ada dalam diri anak. Misalnya lebih fokus pada perilaku buruk anak, bukan perilaku baiknya. Lebih fokus pada kekurangan anak, bukan kelebihannya. Lebih fokus pada masalah, bukan solusinya. Lebih fokus pada penyebab kegagalan, bukan pada hasil yang ingin dicapai.

Walaupun tujuannya baik. Yakni ingin anak memperbaiki diri. Namun karena caranya keliru dan porsi fokusnya tidak ideal, justru berakibat buruk.

Fokus pada Kelebihan, Bukan Kekurangan

Penting untuk dipahami bahwa mengakui kelebihan tidak bisa disamakan dengan memuji. Memuji biasanya bersifat umum. Yaitu ketika Anda memberikan pujian tentang seorang anak untuk membuatnya senang. “Aih masyaAllah, kamu cantik deh”. Atau “Wah, gagah benar nih anak Bunda. MasyaAllah”.

Pujian seperti itu seumpama permen. Terasa manis, namun kurang nutrisi. Dan jika dikonsumsi terlalu banyak, dapat merusak nafsu makan anak.

Pujian yang lebih berbobot adalah pujian spesifik. Yakni ketika Anda mengungkapkan persetujuan Anda terhadap perilaku tertentu. Selain membuat anak senang dan bangga, pujian dimaksudkan untuk penguatan hal-hal positif.

Misalnya, “Wah, kamu sudah membereskan tempat tidur. MasyaAllah, rapi ya. Jadi nyaman kamarmu”. Atau, “Terima kasih sudah berbagi dengan adik. Alhamdulillah, kakak baik hati deh”.

Mengakui kelebihan anak sebenarnya adalah menyadari secara spesifik tentang kemampuan anak Anda, apa yang dipelajarinya dan yang sudah dicapainya, serta potensinya untuk berhasil. Anda tinggal menggeser fokus Anda, mengalihkan perhatian Anda. Tidak perlu khawatir anak Anda tidak bisa mengimbangi anak-anak lain seusianya, tidak bisa masuk sekolah favorit, atau tidak mendapat nilai tinggi dalam ujian. Justru seharusnya Anda memikirkan apa yang bisa dilakukan anak dengan baik dan bagaimana menguatkannya.

Dalam sistem pendidikan di Indonesia, orangtua dan guru belum terbiasa mengamati kelebihan anak sejak dini. Karena mereka semua diarahkan secara akademis sampai di SMP atau SMU. Baru di tingkat lanjutan, anak dipersilahkan memilih jurusan yang diminati. Itupun jika orangtua memberikan kebebasan. Namun pada umumnya, anak-anak ini juga belum menyadari kelebihan diri. Bahkan tidak tahu minat sendiri. Sehingga mereka bingung menentukan pilihan. Atau mereka percaya anggapan bahwa hanya ada satu jalur pendidikan yang diakui. Sehingga mereka merasa tidak percaya diri dengan pilihan di luar jalur itu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Memetakan Potensi Sahabat

Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang memiliki kapasitas memimpin dan bersiasat ditunjuk menjadi panglima perang. Contohnya: Sa’ad bin Abi Waqqash dan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhum.

Sahabat yang piawai dalam berdakwah, diutus untuk menjadi da’i dan mubaligh. Contohnya: Mush’ab bin Umair dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma.

Sahabat yang encer otaknya, selain dipacu untuk menguasai ilmu syar’i, juga diarahkan untuk mempelajari bahasa asing. Contohnya Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu yang mempelajari bahasa Suryani hanya dalam 15 hari saja!

Arahkan dan Bantu Anak

Setelah Anda menemukan kelebihan anak, Anda bisa mengajaknya berdiskusi tentang minatnya dan pendidikan yang sesuai untuknya. Jika anak masih duduk di SD atau SMP, Anda bisa mencari cara untuk menguatkan kelebihan itu dan membantunya mengatasi kesulitannya terhadap pelajaran lain.

Jika dia tidak suka matematika, mungkin hanya karena cara pengajarannya yang kurang menarik. Anda bisa meyakinkan dirinya bahwa matematika juga penting untuk karir sebagai pebisnis sukses. Anda bisa berimprovivasi mengajarkan matematika sambil berdagang, misalnya.

Disarikan dengan beberapa tambahan oleh Abdullah Zaen dari buku Yuk, Jadi Orang Tua Shalih, karya Ihsan B. (hal. 108-115).

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Dzulqa’dah 1440 / 15 Juli 2019

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here