Mendidik anak bukan hanya tanggung jawab para ibu atau bapak saja, tapi keduanya. Masyarakat Indonesia umumnya masih meyakini bahwa pengasuhan dan pendidikan anak sepenuhnya merupakan tanggung jawab ibu. Ayah memang hadir secara fisik dalam keluarga, namun sering kali tidak secara psikologis. Ayah diyakini masih sekadar mencari nafkah. Padahal sesungguhnya, ayah memiliki peran utama lebih dari itu.

Sudah banyak dilakukan penelitian yang mengkaji efek ketidakhadiran ayah dalam pengasuhan anak. Misalnya saja, anak cenderung mudah gelisah, sedih, peragu, tidak percaya diri, suasana hati mudah berubah, fobia dan depresi. Ada pula yang memperlihatkan kemampuan akademis yang rendah atau menurun. Bahkan efek ayah yang tak terlalu ‘hadir’ membuat anak cenderung bersikap agresif terhadap orangtua.

Menentukan Pola Asuh yang Tepat

Sebelum memulai mendidik anak, Anda dan pasangan perlu saling berkomunikasi untuk menyamakan visi dan pola asuh yang tepat. Berikut langkah-langkahnya:

1. Tanyakan pada pasangan, bagaimana dulu dia dibesarkan. Karena biasanya gaya pengasuhan itu berulang. Kita mengambil banyak nilai yang ditanamkan oleh orang tua kita dulu. Mencari tahu latar belakang bagaimana dulu dia dibesarkan oleh orang tuanya, bisa memberi gambaran bagaimana gaya pengasuhan yang dianut pasangan. Tanyakan pada pasangan, mengapa dia memilih gaya pendidikan tersebut. Dengarkan penjelasannya tanpa diinterupsi. Tanyakan pada diri sendiri apakah ada hal-hal yang tidak Anda setujui dari gaya tersebut.

2. Jangan memendam uneg-uneg. Bila ada pola pendidikan yang tidak Anda setujui, jangan diam saja. Utarakan! Sebaiknya setiap sebulan sekali Anda dan pasangan duduk bersama membahas masalah ini. Tuliskan beberapa hal yang mengganjal. Ini kesempatan Anda jujur dan saling mendengarkan. Juga menghargai pendapat masing-masing. Tujuannya bukan untuk menguasai. Tapi Anda dan pasangan bisa menemukan pola asuh terbaik.

3. Terima sedikit perbedaan. Mustahil berharap pasangan akan mempunyai pandangan yang sama persis 100 % dalam mendidik anak. Begitu pula, dia juga tidak akan selalu mengikuti semua keinginan Anda. Maka saling menghormatilah dalam perbedaan tersebut. Selama itu bukan dalam hal prinsip.

4. Tidak di depan anak. Ketika Anda dan pasangan mulai berbicara strategi mendidik anak, pilih waktu dan tempat yang tenang, di mana hanya Anda berdua saja. Misalnya malam hari, saat anak sudah tidur. Berdiskusilah dengan kepala dingin.

5. Selalu satu kata di depan anak. Jangan tunjukkan ketidaksetujuan di depannya. Anak melihat Anda sebagai orang yang memberi keamanan dan cinta dalam hidup mereka. Bila anak melihat kedua orang tuanya beradu pendapat, terutama tentang dirinya, bisa berefek negatif. Anak akan marah atau ketakutan dan merasa menjadi penyebab pertengkaran orang tuanya. Ini bisa mengakibatkan kepercayaan dirinya berkurang.

6. Terus bereksplorasi. Ada berbagai pilihan dalam mendidik anak. Carilah pola terbaik. Yakni yang sesuai dengan tuntunan agama. Anda harus siap merevisi pola lama, bila di kemudian hari diketahui ternyata kurang sesuai dengan al-Qur’an dan Hadits.

7. Jangan menyerah bila pasangan tidak mau membicarakan cara mendidik anak. Memang dalam kondisi seperti itu, akan lebih sulit untuk menemukan cara menyatukan pandangan Anda dalam mendidik anak. Tapi Anda tak boleh diam saja. Anda adalah orang yang paling mengenal pasangan. Sehingga Anda tahu bagaimana cara mengajak dia mau membicarakan masalah tersebut. Misalnya, Anda bisa menanyakan apa saja perilaku anak yang membuat Anda kesal dan tanyakan apa ide dia untuk mengatasi masalah tersebut. Jangan lupa untuk menghargai masukannya.

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Rabi’ul Awwal 1441 / 25 Nopember 2019

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here