Pada pertemuan sebelumnya telah kita sampaikan bahwa ketika berdoa, supaya diterima Allah, seorang hamba harus ikhlas dalam menjalankannya. Namun, ikhlas ‘saja’ belum cukup. Dia wajib memenuhi syarat berikutnya, yakni harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Imam al-Fudhail bin ‘Iyâdh (w. 187 H) menerangkan, “Agama Allah itu yang paling ikhlas dan paling benar”. Ada yang bertanya, “Wahai Fudhail, apa yang dimaksud dengan paling ikhlas dan paling benar?”. Beliau menjawab, “Amalan itu bila ikhlas, namun tidak benar; maka tidak akan diterima. Dan bila amalan tersebut benar, tapi tidak ikhlas; juga tidak akan diterima. Hingga amalan itu ikhlas dan benar. Maksud dari ikhlas adalah yang dikerjakan semata-mata karena mengharap ridha-Nya. Sedangkan benar itu berarti sesuai dengan tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam”. Diriwayatkan oleh Ibn Abi Dun-ya dalam Kitab al-Ikhlash wa an-Niyyah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan pada kita hal-hal yang berkaitan dengan doa. Mulai dari redaksi doa atau dzikir yang dibaca, kapan waktu membacanya?, berapa jumlahnya?, etika yang harus diperhatikan saat berdoa dan berbagai aturan lain yang berhubungan dengan doa.

Beliau telah mengajarkan bacaan doa dan dzikir pagi-petang, saat shalat dan sesudahnya, ketika masuk dan keluar masjid, saat akan tidur dan bangun tidur, bahkan bila terbangun mendadak di malam hari pun, beliau sudah ajarkan doanya. Ketika akan makan dan sesudahnya, saat naik kendaraan, bila melihat sesuatu yang menyenangkan atau juga sesuatu yang tidak kita suka. Doa bepergian, ketika ditimpa musibah, saat sedih dan galau, serta masih banyak momen dan keadaan lainnya yang telah dijelaskan Rasul shallalalhu ‘alaihi wasalam redaksi doanya.

Tidak lupa beliau juga menjelaskan tingkatan-tingkatan doa, macam-macamnya, syarat-syaratnya, adab-adabnya, dengan begitu gamblang. Seluruh hal yang berkenaan dengan agama telah beliau terangkan seterang-terangnya.

Oleh karena itu, seorang muslim seharusnya mencukupkan diri dengan tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut. Tidak perlu ber’inovasi’ dengan membuat aturan-aturan baru yang tidak dicontohkan beliau.

Kita ini diperintahkan Allah ta’ala untuk masuk ke dalam agama Islam secara totalitas. Dia berfirman,

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً”

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, masuk Islamlah kalian secara kâffah (totalitas)”. QS. Al-Baqarah (2): 208.

Bila Islam boleh diumpamakan dengan rumah, kita ini diperintahkan untuk memasuki rumah tersebut dan menerima apapun yang ada di dalamnya. Kita tidak disuruh untuk mengkritisi rumah itu apalagi merehabnya. Terimalah apa adanya. Sebab ‘desain’ rumah tersebut, itulah yang terbaik. Karena yang ‘merancangnya’ adalah Rabb semesta alam yang Maha mengetahui apa yang terbaik untuk para hamba-Nya. Jangan sampai kita yang serba terbatas ilmunya ini, bersikap tidak sopan mengkritisi Allah tabaraka wa ta’ala…

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Syawal 1437 / 1 Agustus 2016

* Disarikan dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkar karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr (II/44-48) oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dengan beberapa tambahan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here