Sebelum ini kita telah menyampaikan tentang urgensi mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beribadah, terutama dalam berdoa dan berdzikir. Hal ini tentu menuntut kita untuk lebih bersemangat lagi dalam mempelajari sunnah beliau dalam segala amalan. Agar kita bisa meneladaninya dengan lebih baik.

Tidak boleh bagi seorang muslim merutinkan suatu doa, wirid atau dzikir khusus, di waktu khusus, atau dengan cara yang khusus, kecuali bila hal itu ada tuntunannya dari Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam. Adapun bila sifatnya ‘kebetulan’ karena kondisi tertentu yang dialami seorang insan, maka tidak mengapa dia berdoa terserah dia, selama tidak menyelisihi syariat.

Oleh karena itu para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah bosan untuk menegur orang-orang yang berdzikir atau berdoa tidak sesuai dengan tuntunan beliau.

Nâfi’ rahimahullah menuturkan,

أَنَّ رَجُلاً عَطَسَ إِلَى جَنْبِ ابْنِ عُمَرَ، فَقَالَ: “الحَمْدُ لِلَّهِ، وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ”، قَالَ ابْنُ عُمَرَ: وَأَنَا أَقُولُ: “الحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ”، وَلَيْسَ هَكَذَا عَلَّمَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَلَّمَنَا أَنْ نَقُولَ: “الحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ”.

Suatu hari ada seseorang yang bersin di samping Ibnu Umar lalu ia mengucapkan, “Alhamdulillah was salâmu ‘alâ Rasûlillâh”. Maka Ibnu Umar pun berkomentar, “Aku juga membaca hamdalah dan shalawat. Namun bukan begitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kami. Beliau mengajarkan pada kami untuk mengucapkan, “Alhamdulillah ‘alâ kulli hâl”. HR. Tirmidziy dan isnadnya dinilai sahih oleh al-Hakim juga al-Albaniy.

Membaca hamdalah dan shalawat adalah sunnah. Namun menggabungkan antara keduanya setelah bersin, tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam. Oleh karena itu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menegur orang yang melakukan hal tersebut.

Padahal, baik bacaan hamdalah maupun bacaan shalawat, keduanya sama-sama ada tuntunannya. Namun karena kedua bacaan itu digabungkan dalam momen yang tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka amalan itu menjadi tidak benar.

Lantas bagaimana dengan orang yang membaca wirid-wirid yang redaksinya sama sekali tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Masih ditambah lagi dengan mengerjakannya menggunakan tata cara yang juga tidak diajarkan beliau!

Amalan itu akan dianggap baik, bukan diukur dari banyaknya, tapi dinilai dari sesuai atau tidaknya dengan tuntunan Rasul shallallahu ‘alahi wasallam.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menegaskan,

“اقْتِصَادٌ فِي سَنَةٍ خَيْرٌ مِنِ اجْتِهَادٍ فِي بِدْعَةٍ”

“Amalan yang sedikit tapi sesuai tuntunan, lebih baik daripada bersemangat (banyak beramal) tapi tidak sesuai tuntunan”. Diriwayatkan oleh ath-Thabaraniy dalam al-Mu’jam al-Kabîr.

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Dzulqa’dah 1437 / 29 Agustus 2016

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here