Doa dan dzikir yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam teramat sempurna dan memiliki begitu banyak kelebihan. Rata-rata redaksinya simpel, namun maknanya sangat dalam dan luas. Oleh karena itu setiap muslim seharusnya berusaha semaksimal mungkin untuk mempelajari, menghapal dan mengamalkan doa dan dzikir warisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Namun realita yang ada ternyata amat memprihatinkan. Tidak sedikit di antara kaum muslimin yang malah justru sibuk mengamalkan doa dan dzikir yang tidak dituntunkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam. Siang malam mereka mengamalkannya. Bahkan seringkali gara-gara itu, mereka menjadi jarang membaca al-Qur’an. Apalagi membaca doa dan wirid yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tidak diragukan lagi bahwa doa dan dzikir yang tidak sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menimbulkan begitu banyak dampak negatif. Di antaranya:

Pertama: Tidak mendatangkan ketenangan hati

Salah satu buah positif dzikir adalah menenangkan hati. Allah ta’ala berfirman,

“أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ”

Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. QS. Ar-Ra’du (13): 28.

Nah, dzikir yang tidak sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menghasilkan buah manis tersebut. Kalaupun ada orang yang mengklaim bahwa dengan dzikir tersebut ia merasa tenang, maka sejatinya itu adalah tipu daya setan. Yang menginginkan agar ia terus-menerus tenggelam dalam amalan yang tidak ada tuntunannya. Na’udzu billah min dzalik..

Kedua: Kehilangan pahala besar

Sebagaimana telah maklum, dalam rangka memotivasi para hamba-Nya, Allah ta’ala menjanjikan pahala dari amal salih yang mereka kerjakan. Allah ta’ala berfirman,

“مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ”

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan pasti akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. QS. An-Nahl (16): 97.

Pahala akan diberikan untuk orang yang amalannya diterima. Dan suatu amalan agar diterima harus memenuhi syarat yang digariskan agama.

Imam Ibn Katsir (w. 774 H) berkata, “Supaya amalan diterima harus memenuhi dua syarat. Yang pertama: ikhlas karena Allah semata. Syarat kedua: harus benar sesuai dengan syariat”.[1]

Alangkah meruginya orang yang beramal tapi tidak mendapatkan pahala. Gara-gara amalannya tidak sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bersambung…

[1] Tafsîr Ibn Katsîr (I/385).

* Disarikan dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkar karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr (II/54-55) oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dengan beberapa tambahan.* Tafsîr Ibn Katsîr (I/385).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here