Pada artikel sebelumnya telah dipaparkan beberapa dampak buruk yang ditimbulkan oleh doa dan dzikir yang tidak sesuai tuntunan. Berikut kelanjutannya:

Ketiga: Peluang dikabulkan tipis

Rata-rata orang yang berdoa mengharapkan doanya dikabulkan. Entah ia meminta diberi sesuatu atau memohon dihindarkan dari sesuatu. Nah, orang yang berdoa tidak sesuai tuntunan, tipis harapan dikabulkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ’anha.

Keempat: Kebanyakan doa tersebut mengandung unsur penyimpangan

Berbeda dengan doa yang diajarkan dalam al-Qur’an maupun Hadits yang tidak mungkin keliru. Redaksi dan muatannya pasti benar.

Adapun doa dan dzikir bikinan manusia biasa, peluang untuk kelirunya besar. Bahkan sudah terbukti, banyak dari doa dan dzikir itu ternyata mengandung unsur penyimpangan. Dan penyimpangan yang paling parah adalah ketika doa tersebut bermuatan kesyirikan.

Ada sebagian kalangan yang dengan rutin dan khusyu’ melantunkan aurod (wirid-wirid) yang bermuatan permintaan tolong kepada selain Allah. Contohnya:

“الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدِي يَا رَسُوْلَ اللهِ خُذْ بِيَدِيْ قَلَّتْ حِيْلَتِيْ أَدْرِكْنِيْ”.

“Shalawat dan salam untukmu wahai sayyidi, wahai Rasulullah, gamitlah tanganku, kemampuanku amat terbatas, bantulah aku!”. Kalimat ini mereka baca 103 x.

“يَا شَيْخُ عَبْدَ الْقَادِرْ الْجَيْلاَنِي أَغِثْنِي”.

“Wahai Syaikh Abdul Qadir al-Jailany tolonglah aku”.

Dua kalimat wirid di atas begitu jelas berisikan permohonan tolong kepada selain Allah, dan ini merupakan kekeliruan yang amat besar. Walaupun yang dimintai pertolongan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sekalipun, maupun Syaikh Abdul Qadir al-Jailany rahimahullah. Karena itu merupakan ibadah yang tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada Allah.

Bukankah dalam setiap hari minimal 17 x kita membaca ayat,

“إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ”

Artinya: “Hanya kepada-Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada-Engkaulah kami memohon pertolongan”. QS. Al-Fatihah (1): 5.

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jelas-jelas pernah berpesan,

“إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه”.

“Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.

Bersambung…

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Muharram 1438 / 3 Oktober 2016

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here