Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 104 AKIBAT DOA DAN DZIKIR TIDAK SESUAI TUNTUNAN Bagian 3

Pada artikel sebelumnya telah dipaparkan beberapa dampak buruk yang ditimbulkan oleh doa dan dzikir yang tidak sesuai tuntunan. Berikut kelanjutannya:

Kelima: Itu sama saja mengganti sesuatu yang baik dengan yang kurang baik

Doa dan dzikir yang termaktub dalam al-Qur’an dan Sunnah adalah yang terbaik. Sebab sumbernya adalah wahyu dari langit. Adapun selain itu, adalah doa dan dzikir bikinan manusia biasa, yang berpeluang besar untuk salah atau keliru.

Menggunakan doa dan dzikir yang tidak ada tuntunannya, lalu meninggalkan doa dan dzikir yang jelas-jelas ada tuntunannya; sama saja mengganti sesuatu yang baik dengan sesuatu yang tidak atau kurang baik.

Perilaku seperti itu adalah kebiasaan orang-orang yang tidak beriman. Allah ta’ala berfirman,

“قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ”

Artinya: “(Musa) berkata (kepada kaumnya), “Apakah kalian meminta sesuatu yang buruk untuk mengganti sesuatu yang baik?”. QS. Al-Baqarah (2): 61.

Dalam ayat lain, Allah ‘azza wa jalla menasehatkan,

“وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ”

Artinya: “Janganlah kalian menukar yang baik dengan yang buruk”. QS. An-Nisa’ (4): 2.

Tentu amat aneh bila kita telah memiliki barang berharga yang amat mahal dan istimewa, lalu kita tinggalkan dan kita ganti dengan barang murah yang banyak kekurangannya. Tanpa alasan yang bisa diterima.

Keenam: Biasanya orang yang membaca doa dan dzikir yang tak ada tuntunannya, tidak memahami apa yang ia baca

Orang yang mempraktekkan wirid-wirid yang tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kebanyakan mereka tidak mengerti makna apa yang dibacanya. Sebab seringkali mereka hanya tertarik dengan bacaan-bacaan itu, karena menurut mereka redaksinya indah. Sehingga konsentrasi mereka tertuju kepada indahnya lafal bacaan itu dan usaha agar saat membacanya berbarengan dengan rekan-rekannya yang lain. Bukan bagaimana memahami dan meresapi makna wirid itu.

Padahal inti dari doa dan dzikir adalah meresapi makna yang dikandung dalam bacaan tersebut. Agar terwujud dzikir yang memadukan antara amalan lisan dan peresapan hati. Maksudnya: dzikir yang dilantunkan dengan lisan, berupa tasbîh, tahmîd, tahlîl, takbîr, istighfâr dan yang lainnya, diiringi dengan peresapan makna yang dikandung dalam berbagai kalimat mulia tersebut. Sehingga membuahkan perubahan perilaku seorang hamba menuju kepada kebaikan. Dan inilah tingkatan dzikir yang paling tinggi.[1]

Dzikir yang menggabungkan antara gerakan lisan dengan peresapan hati inilah yang akan membuahkan ma’rifatullah, kecintaan-Nya dan pahala yang berlimpah.[2]

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Muharram 1438 / 17 Oktober 2016

[1] Baca: Madârij as-Sâlikîn karya Imam Ibn al-Qayyim (II/431).

[2] Baca: Tafsîr as-Sa’dy (hal. 57).

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *