Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas dalil larangan melampaui batas dalam berdoa. Juga beberapa contohnya. Berikut pembahasan tentang contoh lain dari praktek melampaui batas:

Kelima: Kurang sopan dalam berdoa

Bila dalam kehidupan keseharian dengan sesama, kita selalu berusaha menjaga etika, seharusnya dalam berinteraksi dengan Allah ta’ala kita harus lebih menjaga etika. Sebagaimana ibadah-ibadah yang lain, dalam berdoa pun kita perlu beretika. Terkadang orang tidak sadar bahwa dia telah berlaku kurang sopan dalam berdoa. Misalnya dia berdoa dalam kondisi yang kurang layak, atau dengan cara yang tidak sesuai dengan kemuliaan doa dan Allah yang sedang kita mintai.

Contoh sikap kurang sopan dalam berdoa:

  • Mengangkat suara terlalu keras saat berdoa

Sebab aslinya dalam berdoa kita dianjurkan untuk melirihkan suara. Allah ta’ala berpesan,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Artinya: “Berdoalah kepada Rabbmu dengan merendahkan diri dan suara yang lirih. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. QS. Al-A’raf (7): 55. 

Imam Ibn al-Munayyir rahimahullah (w. 683 H) berkata, “Digandengkannya perintah untuk merendahkan diri dengan perintah untuk bersuara lirih; sudah cukup untuk menerangkan keharusan melirihkan suara dalam berdoa. Sebab ketidaklirihan dalam berdoa menunjukkan kekurangrendahan diri dalam berdoa. Doa tanpa diiringi sikap merendah dan kekhusyuan, sedikit manfaatnya. Begitu pula doa yang tidak lirih dan tidak disertai ketenangan”.

Allah ta’ala menutup ayat di atas dengan pernyataan bahwa Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Sebagian ulama salaf menjelaskan bahwa salah satu potret melampaui batas dalam berdoa adalah mengangkat suara berlebihan saat berdoa.

Imam Ibnu Juraij rahimahullah (w. 150 H) menjelaskan, “Termasuk praktek melampaui batas dalam berdoa adalah: meninggikan suara dan berteriak dalam berdoa”.

Merendahkan suara dalam berdoa mencerminkan nilai-nilai positif. Di antaranya: (1) Etika ini menunjukkan keimanan yang lebih besar, karena ia meyakini bahwa Allah mendengar suara lirih dan dekat dengannya. (2) Cara ini lebih beradab dan sopan. Jika Allah ta’ala mendengar suara yang pelan, maka tidak sepantasnya berada di hadapan-Nya kecuali dengan suara yang rendah. (3) Lebih mendatangkan keikhlasan. Sebab doa dengan suara keras membuat orang lain terganggu dan terpancing perhatiannya kepada suara-suara keras tadi. (4) Cara ini membantu untuk konsisten dan terus berdoa. Karena bibir tidak merasa bosan dan anggota tubuh tidak penat. (5) Cara ini membantu hati untuk lebih konsentrasi dengan apa yang diucapkan lisan.

  • Tidak merendahkan diri dalam berdoa

Ketika berdoa seharusnya kita menunjukkan sikap butuh, tunduk, merendahkan diri dan lemah di hadapan Allah ta’ala. Itulah etika yang seharusnya kita praktekkan. Saat sikap tersebut tidak kita indahkan, maka kita akan terjerumus ke praktek melampaui batas dalam berdoa.

Imam Ibn Taimiyyah rahimahullah (w. 728 H) menerangkan, “Di antara praktek melampaui batas dalam berdoa adalah ketika seseorang berdoa tanpa merendahkan diri. Perilaku seperti ini menunjukkan sikap ketidakbutuhannya kepada Allah. Dan ini merupakan salah satu praktek terparah melampaui batas dalam berdoa. Siapapun yang saat berdoa tidak bersikap merasa butuh, merendah dan takut, maka dia telah melampaui batas”.

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Jumadal Akhir 1438 / 27 Maret 2017

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here