Siapapun boleh berdoa kepada Allah, apapun kondisinya. Sekalipun dia Iblis.

قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (14) قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (15)

Artinya: “(Iblis) memohon, “Berilah aku penangguhan umur, sampai hari kiamat”. (Allah) berfirman, “Ya. Kamu termasuk yang diberi penangguhan umur”. QS. Al-A’raf (7): 14-15.

Karena itu Imam Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah (w. 198 H) menjelaskan, “Jangan sekali-kali meninggalkan doa. Apapun kondisimu jangan sampai menghalangimu untuk berdoa. Sungguh Allah telah mengabulkan doanya Iblis, padahal ia adalah makhluk terburuk”.

Walaupun demikian, perlu diketahui bahwa di sana ada manusia-manusia istimewa yang diberi perhatian spesial oleh Allah ta’ala. Sehingga doa mereka lebih cepat untuk dikabulkan oleh-Nya.

Di antara mereka:

Pertama: Para orang tua

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ.

“Tiga doa yang akan dikabulkan tidak ada keraguan sedikitpun. Doanya orangtua, doanya orang yang bepergian dan doanya orang yang dizalimi”. HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan dinilai hasan oleh al-Albaniy.

Bukan hanya doa kebaikan orang tua untuk anaknya yang mudah dikabulkan. Namun juga termasuk doa keburukan yang dia panjatkan. Dalam riwayat lain disebutkan,

دَعْوَةُ الوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ.

“Doa keburukan orang tua untuk anaknya”. HR. Tirmidziy dan dinilai hasan oleh beliau. 

Kedua: Orang yang dizalimi

Dalilnya banyak. Antara lain adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tersebut di atas, juga hadits berikut ini,

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ

“Berhati-hatilah dari doanya orang yang terzalimi. Sesungguhnya antara dia dan Allah tidak ada penghalang”. HR. Bukhari dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Ketiga: Orang yang sedang bepergian

Dalilnya antara lain adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu yang tersebut di atas.

Keempat: Anak salih

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ“.

“Jika manusia mati, maka terputuslah amalannya kecuali tiga. (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat dan (3) Anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah. Bersambung…

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here