Tidak diragukan lagi bahwa setiap muslim yang berdoa, tentu menginginkan permintaannya terkabul. Namun perlu diketahui bahwa agar doa yang kita panjatkan itu dikabulkan, ada syarat-syarat dan etika-etika yang harus kita penuhi. Semua syarat dan etika itu penting. Namun levelnya tidak sama. Ada yang primer dan ada yang sekunder. Ada yang wajib dan ada yang sunnah.

Di antara syarat utama yang wajib dipenuhi, adalah doa tersebut harus ikhlas karena Allah. Yakni doa itu tertuju hanya kepada Allah saja.

Allah ta’ala berfirman,

.”فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ”

Artinya: “Berdoalah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Walaupun orang-orang kafir membenci hal itu.” QS. Ghafir (40): 14.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah berpesan,

    “إذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه. وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْ   لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ

“Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh manusia bersatu-padu untuk membantumu, keinginan mereka tidak akan tercapai, kecuali bila Allah telah takdirkan hal itu. Dan seandainya mereka bersatu-padu untuk mencelakaimu, niscaya keinginan mereka tidak akan tercapai, kecuali bila Allah telah takdirkan hal itu. Pena takdir telah diangkat dan tinta catatan takdir telah kering”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.

‘Auf bin Malik al-Asyja’iy radhiyallahu ‘anhu bertutur, “Suatu hari kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jumlah kami Sembilan, delapan atau tujuh orang. Beliau bersabda, “Tidakkah kalian berbaiat kepada Rasulullah?”. Saat itu kami baru saja berbaiat kepada beliau. Maka kami pun menjawab, “Bukankah kami telah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah?”. Beliau kembali bersabda, “Tidakkah kalian berbaiat kepada Rasulullah?”. Maka kami menjawab lagi, “Bukankah kami telah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah?”. Beliau kembali bersabda, “Tidakkah kalian berbaiat kepada Rasulullah?”. Maka kami menjawab lagi, “Bukankah kami telah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah? Kami membaiatmu dalam hal apa?”. Beliau menjawab,

“عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا”

“Kalian harus beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukannya dengan suatu apapun. Tunaikan shalat lima waktu. Patuhlah”. Lalu beliau membisikkan sebuah kata. “Jangan kalian meminta apapun kepada orang lain”.

Sungguh aku menyaksikan komitmen orang-orang tersebut dalam menunaikan baiat janji setia mereka kepada Rasulullah. Ada di antara mereka yang cemetinya terjatuh saat naik tunggangan. Ia tidak meminta orang lain untuk mengambilkannya”. HR. Muslim.

Maka, berlatihlah untuk hanya meminta kepada Allah, bukan kepada selain-Nya!

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Muharram 1439 / 25 September 2017

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here