Banyak pelajaran berharga dan hikmah mulia yang bisa kita ambil dari mengangkat tangan saat berdoa. Di antaranya:

Pertama: Menunjukkan kebutuhan hamba kepada Allah

Kita semua fakir dan butuh terhadap rahmat Allah ta’ala. Dengan mengangkat tangan saat berdoa, sejatinya kita sedang menampakkan kerendahan, ketundukan dan ketergantungan kepada Allah ‘azza wa jalla. Menyadari bahwa tanpa bantuan dari-Nya, kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Allah ta’ala mengingatkan,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ، وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Artinya: “Wahai para manusia, kalianlah yang memerlukan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dan Maha Terpuji”. QS. Fâthir (35): 15.

Semakin besar keperluan dan kebutuhan kita, maka semakin tinggi pula kita mengangkat tangan. Dari sini kita bisa memahami mengapa saat berdoa memohon hujan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangan lebih tinggi dibandingkan biasanya. Sebab kebutuhan umat manusia terhadap air sangatlah primer.

Kedua: Mengakui kekuasaan Allah

Dengan mengangkat tangan saat berdoa, sejatinya kita sedang mengakui betapa besarnya kekuasaan Allah. Dialah yang mengatur segala urusan dan menguasai seluruh makhluk. Dzat yang memiliki keistimewaan seperti inilah yang layak untuk disembah. Dialah yang berhak untuk diibadahi, dicintai secara total dan dipatuhi secara mutlak.

Allah ta’ala berfirman,

“ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ”

Artinya: “Demikianlah karena sesungguhnya Allah Dialah (sesembahan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka sembah selain-Nya adalah batil. Sungguh Allah Dialah yang Mahatinggi, Mahabesar”. QS. Al-Hajj (22): 62.

Maka setiap penyembahan kepada selain Allah; pasti batil, meletihkan dan menyesatkan.

Setiap kecintaan total kepada selain Allah; pasti akan menyakitkan.

Setiap ketergantungan kepada selain Allah; pasti akan mengantarkan kepada kemiskinan.

Setiap kekuasaan tanpa melibatkan Allah; pasti akan berakhir dengan kehinaan.

Hanya kepada Allah lah kita menggantungkan keinginan kita. Hanya kepada-Nya lah kita mengajukan permohonan. Hanya pintu-Nya lah yang kita ketuk, saat kita memiliki kebutuhan.

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

Artinya: “Apa yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan”. QS. Ar-Rahman (55): 29.

Dalam Tafsîr as-Sa’diy dijelaskan bahwa setiap saat Allah memberi yang fakir, membantu yang membutuhkan, menghidupkan dan mematikan, mengangkat dan merendahkan. Satu pekerjaan tidak mengganggu pekerjaan lain. Allah tidak pernah keliru dalam melayani permintaan para hamba-Nya. Dan tidak pernah merasa letih dalam melayani mereka.

Bersambung…

 @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Sya’ban 1439 / 7 Mei 2018

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here