Banyak pelajaran berharga dan hikmah mulia yang bisa kita ambil dari mengangkat tangan saat berdoa. Pada pertemuan sebelumnya telah disampaikan beberapa hikmah tersebut. Berikut kelanjutannya:

Ketiga: Mengakui luasnya ilmu Allah

Saat kita berdoa sambil mengangkat tangan, disadari atau tidak, sejatinya kita sedang mengakui bahwa Allah mengetahui segala sesuatu tentang makhluk-Nya.

Bayangkan, dalam satu waktu yang sama, betapa banyak doa yang dipanjatkan manusia seluruh dunia kepada-Nya! Padahal tempat tinggal mereka berbeda-beda, isi permintaannya dan bahasa yang mereka gunakan juga tidak sama.

Seluruhnya di sisi Allah, bagaikan satu suara! Semua bisa dikabulkan Allah dengan sangat teliti. Tidak akan tertukar-tukar antara satu permintaan dengan yang lainnya.

Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan, bahwa Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَسِعَ سَمْعُهُ الأَصْوَاتَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا} [المجادلة: 1]

“Segala puji bagi Allah yang bisa mendengar seluruh suara. Sehingga Allah menurunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam firman-Nya, “Sungguh Allah telah mendengar ucapan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya”. QS Al-Mujadilah (58): 1.

Bandingkan dengan kita yang sangat lemah ini! Andaikan ada dua orang saja yang mengajak kita berbicara dalam waktu yang sama, pasti kita akan kesulitan dan kebingungan untuk memahami keduanya. Padahal mereka berdua menggunakan bahasa yang sama!

Keempat: Mengakui bahwa Allah berada di atas

Manakala kita berdoa mengangkat tangan ke atas, itu berarti pengakuan dari kita bahwa Allah berada di atas. Sebab yang kita tuju dalam berdoa adalah Allah ta’ala, bukan yang lain-Nya.

Imam Abu al-Hasan al-Asy’ariy rahimahullah (w. 324 H) menjelaskan, “Kita melihat seluruh muslimin mengangkat tangan mereka ke arah langit saat berdoa. Karena Allah ‘azza wa jalla berada di atas ‘Arsy, sedangkan ‘Arsy berada di atas langit. Kalau bukan karena Allah berada di atas ‘Arsy, kaum muslimin tidak akan mengangkat tangan mereka ke arah ‘Arsy. Makanya saat berdoa, mereka tidak mengarahkan tangannya ke bumi (bawah)”.

Bila kita meyakini ini, maka kita akan merasa memiliki Dzat tempat kita bergantung dan berkeluh kesah. Merasa bahwa amal salih dan kebajikan kita diangkat kepada-Nya.

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

Artinya: “Kepada-Nyalah akan naik ucapan-ucapan mulia. Dan amal kebajikan akan mengangkatnya”. QS. Fathir (35): 11.

Saat kita mengimani bahwa segala perbuatan dan ucapan kita akan dilaporkan kepada Allah, maka kita pun merasa malu untuk melakukan dan mengucapkan keburukan. Sehingga hanya kebaikanlah yang keluar dari lisan kita.

 @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Ramadhan 1439 / 21 Mei 2018

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here