Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Di antara metode tersebut:

Ketujuh: Metode motivasi hadiah dan hukuman

Ada surga, ada neraka. Allah ta’ala janjikan surga sebagai hadiah bagi orang beriman. Sedangkan neraka disediakan sebagai hukuman bagi para pelanggar perintah-Nya.

Teladan dari Allah Yang Maha Agung memberikan penjelasan pada kita, bahwa metode pemberian hadiah dan hukuman boleh kita terapkan untuk memotivasi anak agar mau berbuat baik. Namun tentunya ini bukan metode satu-satunya yang perlu diterapkan pada anak. Sebab bisa menimbulkan ketergantungan kepada faktor eksternal, yaitu hadiah dan hukuman itu sendiri.

Akan lebih baik lagi bila kita bisa menumbuhkan motivasi internal. Yakni kesadaran yang muncul dari diri anak sendiri. Sehingga ia tak memiliki ketergantungan kepada faktor eksternal. Buahnya anak akan lebih mudah mengelola dirinya sendiri kapan dan di mana saja.

Namun, sebagai langkah awal, metode hadiah dan hukuman ini tidak mengapa digunakan. Manakala sudah terlihat munculnya motivasi internal, maka metode pemberian hadiah dan hukuman bisa diakhiri.

Berikut beberapa rambu agar hadiah efektif:

  1. Sesuaikan dosisnya

Pemberian hadiah dan hukuman memiliki aturan, syarat dan ukuran tertentu. Yang dosisnya bisa jadi berbeda antara anak yang satu dengan lainnya. Tergantung kasus spesifik yang dihadapi masing-masing. Kekurangan atau kelebihan dosis pemberian hadiah dan hukuman bisa jadi membuatnya kehilangan fungsi sebagai obat. Bahkan bisa berubah menjadi racun yang justru semakin merusak kepribadian anak.

Ada kasus di mana perilaku anak justru semakin buruk setelah diberi hukuman. Kasus lain, muncul ketergantungan anak terhadap keberadaan hadiah. Tidak mau berbuat kebaikan kecuali bila ada hadiahnya.

Aturan pertama yang harus diperhatikan adalah harus ada keseimbangan antara hadiah dan hukuman. Seimbang itu bukan berarti porsinya sama, satu-satu. Namun hadiah harus lebih banyak dan didahulukan dari hukuman.

Aturan berikutnya adalah membedakan karakter satu anak dengan yang lain. Ada anak yang begitu mudah diatur. Saat berbuat kesalahan, hanya dengan sedikit peringatan dan hukuman, ia sudah bisa berubah dan memperbaiki perilakunya. Namun ada anak yang sangat bengal. Karena sering dihukum, ia jadi kebal hukuman. Bahkan kadang ia menikmati hukuman.

Selanjutnya adalah memaksimalkan perhatian positif dan meminimalkan perhatian negatif. Maksudnya kita tertuntut untuk menangkap basah sebanyak mungkin saat anak berbuat baik. Lalu secepatnya memberikan penghargaan kepada dia. Sebaliknya jika ditemukan kekurangan atau kesalahan anak, berilah teguran secukupnya. Tanpa harus menyertainya dengan omelan panjang lebar. Serta jangan terlalu cepat memberikan hukuman.

  1. Harus ada batasnya

Kita sepakat, bahwa pemberian hadiah sebaiknya tidak dipergunakan selamanya. Proses ini cukup difungsikan hingga tahapan menumbuhkan kebiasaan saja. Manakala anak dirasa telah memiliki pembiasaan yang cukup, maka pemberian hadiah bisa diakhiri.

Maka hal terpenting yang harus dilakukan adalah memberikan pengertian sedini mungkin kepada anak tentang pembatasan ini. Untuk menghindari tumbuhnya harapan anak yang terlalu besar terhadap perolehan hadiah ini. Sangat mungkin anak akan protes. Namun di sinilah saatnya kita menunjukkan sikap tegas. Orang tua harus bisa mengendalikan anak, bukan dikendalikan anak. Bersambung…

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Ramadhan 1439 / 28 Mei 2018

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here