Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu juga telah dijelaskan beberapa rambu agar hadiah efektif. Berikut kelanjutannya:

  1. Hadiah tidak identik dengan materi

Banyak orang saat mendengar kata hadiah, yang terlintas di benaknya adalah sesuatu yang bersifat materi, barang berharga atau uang. Padahal sebenarnya pemberian hadiah berupa barang, ternyata sangat berpotensi menimbulkan ketergantungan terhadapnya. Apalagi jika dalam menerapkannya tidak sesuai dengan syarat-syarat yang harus diperhatikan.

Alternatif bentuk hadiah terbaik justru berupa perhatian, baik kata-kata atau isyarat fisik.

Perhatian dengan kata-kata misalnya ucapan: “MasyaAllah!”, “Alhamdulillah!”, “Kamu sayang sekali dengan adikmu”, “Gambarmu bagus banget”, dan semisal itu.

Adapun perhatian dengan perhatian fisik, bisa berupa pelukan hangat, elusan sayang di kepala, acungan jempol, senyuman bangga dan semisalnya.

Saat anak shalat dengan baik di masjid, peluklah dia sambil berkata, “MasyaAllah bagus sekali shalatmu anak salih. Alhamdulillah… Semoga kita semua dimasukkan ke surga”.

Bisa pula dengan ucapan selamat itu diberikan melalui lembaran surat-surat cantik atau memberikan tanda bintang yang dengan bangga bisa mereka tempel di dinding kamar. Bisa juga ayah-ibu sesekali menggoreskan pena di dalam buku harian anak, dengan kata-kata indah berupa penghargaan terhadap perilaku baik anak selama ini.

Hati-hati dengan uang!

Dibandingkan dengan bentuk hadiah materi lainnya, hadiah berupa uang justru lebih banyak memiliki dampak negatif. Masalahnya, uang ini dirasa anak sebagai benda ajaib. Sebab dengan uang, mereka bisa menukarnya dengan benda menarik yang mereka ingini. Sehingga anak menyimpulkan bahwa uang bisa dijadikan kunci penyelesaian untuk mewujudkan apapun keinginannya.

Padahal tidak semua anak siap memanfaatkan dengan benar uang yang ada di tangannya. Bila tidak cerdas, bisa jadi uang akan terbuang percuma atau bahkan mencelakakan anak.

Jika hadiah yang diberikan terpaksa berupa uang, maka harus diiringi bimbingan dan arahan agar anak mampu mengelola uangnya dengan baik. Misalnya, diarahkan agar uang tersebut ditabung atau untuk membeli keperluan sekolah atau untuk diinfakkan.

Bisa juga hadiah yang seharusnya berupa uang diwujudkan dalam bentuk benda yang memang menjadi kebutuhan anak. Seperti tas, sepatu, buku bacaan atau mainan edukatif.

  1. Musyawarahkan kesepakatannya

Tidak perlu merasa gengsi berdialog dengan anak. Beri anak kesempatan untuk memilih hadiah yang diinginkannya. Bila ternyata pilihannya di luar kemampuan kita, maka beri pengertian pada mereka bahwa tidak setiap keinginan kita bisa tercapai dengan mudah. Sambil berikan beberapa alternatif pengganti yang terjangkau.

Bila Anda menghadapi anak yang yang berkarakter manja dan keras kepala, ini memerlukan keahlian berdialog khusus untuk mematahkan argumentasi mereka yang keliru. Kepandaian berdiplomasi dan kecerdikan mencari berbagai alternatif jawaban sangat dibutuhkan di sini. Bersambung…

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Dzulqa’dah 1439 / 16 Juli 2018

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here