Monday , 1 September 2014

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 19: Anak Dan Rukun Iman Bagian 1

Orang tua seyogyanya berusaha mengajarkan ilmu agama sendiri kepada anak-anaknya. Agar mereka benar-benar menjadi anak hakiki orang tuanya, bukan sekedar menjadi anak biologisnya. Supaya bisa merealisasikan hal tersebut, maka para orang tua harus mengetahui hal-hal prinsip yang perlu diajarkan kepada anak pertama kali. Dalam agama kita, tentu yang dijadikan prioritas adalah rukun iman dan rukun islam. Berikut sedikit penjabaran tentang rukun iman. Semoga bisa sedikit membantu para orang tua dalam proses transfer ilmu agama kepada buah hati mereka, amien.

Setiap bayi yang lahir, diciptakan Allah ta’ala di atas fitrah keimanan. Allah berfirman,

إِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِى مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا

“Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan lurus. Setelah itu datanglah setan-setan yang menggelincirkan mereka dari agama mereka dan mengharamkan atas mereka apa yang sebenarnya Allah halalkan bagi mereka. Juga menyuruh mereka agar menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan tentangnya”.HR. Muslim dari ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”.HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Yang dimaksud adalah fitrah Islam berupa tauhid dan pengetahuan tentang Rabbnya. Artinya, apabila bayi itu dibiarkan berkembang dengan sendirinya (tanpa ada pengaruh apa-apa), niscaya ia akan memilih jalan iman. Karena memang ia tercipta di atas karakter yang siap untuk menerima syariat. Andaikan saja ia dibiarkan terus di atas fitrah tersebut, maka ia tetap akan berpegang padanya, ia tidak akan melepasnya dan tidak cenderung kepada yang lain.

Namun, karena bayi hidup di dunia ini tidak sendirian, banyak anasir-anasir luar yang mengintai untuk mempengaruhi mereka, maka orang tua harus siap siaga. Siap untuk membentengi anak dari faktor-faktor negatif luar. Caranya adalah mengajarkan keimanan kepada mereka sejak dini.

Namun satu hal penting yang harus diingat oleh siapapun yang ingin mengajar anak kecil, ia harus menyesuaikan bahasa penyampaian dengan tingkat pemahaman anak. Ia perlu menggunakan bahasa yang simpel, ungkapan yang mudah dicerna, juga dibumbui dengan contoh-contoh nyata yang bisa ditangkap oleh anak. Jika tidak, maka proses pembelajaran tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan.

InsyaAllah pada beberapa kajian ke depan, kita akan mencoba belajar cara menyampaikan rukun iman dengan kepada anak dengan bahasa yang sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Semoga bermanfaat!

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Shafar 1435 / 9 Desember 2013


* Disadur oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 63-64) dengan berbagai tambahan.

One comment

  1. Assalamualaykum warohmatullahi wabarokatuh Afwan Ustadz zaen, izin copas. Barakallahu fiik wa jazakallahu khoiron

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>