Setelah menjelaskan keimanan kepada hari akhir, maka berikutnya adalah rukun iman keenam yaitu:

6. Beriman kepada Qadha dan Qadar

Maksudnya adalah meyakini dengan pasti bahwa segala sesuatu, yang baik maupun yang buruk, semuanya terjadi dengan takdir Allah ta’ala.

Beriman dengan takdir mencakup empat perkara:

Pertama: Meyakini bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, baik secara global maupun rinci. Baca dalilnya antara lain dalam QS. Ath-Thalaq (65): 12.

Di antara buah positif dari poin pertama ini, seorang hamba akan mengetahui betapa luasnya ilmu dan pengetahuan Allah ta’ala, sehingga ia terdorong untuk mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya.

Kedua: Meyakini bahwa Allah ta’ala telah menulis segala sesuatu sebelum kejadiannya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam QS. Al-Hadîd (57): 22.

Maka kita harus menyadari bahwa rizki yang akan kita dapatkan di dunia ini, semuanya telah diatur Allah ta’ala. Begitu pula jodoh, umur, ajal, bahkan tempat kembali kita kelak, apakah ke surga atau neraka, semuanya telah ditentukan Allah ‘azza wa jalla.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,

“مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ” قَالُوا: “يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ؟” قَالَ: “اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ!”.

“Setiap dari kalian pasti telah ditulis tempat tinggalnya kelak apakah di neraka atau di surga”. Para sahabat menimpali, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita bergantung saja dengan takdir tersebut, lalu tidak usah beramal?”. Beliau menjawab, “Tetaplah beramal! Masing-masing akan dimudahkan sesuai dengan takdirnya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Ketiga: Meyakini bahwa segala sesuatu terjadi karena kehendak dan kekuasaan Allah. Hal ini antara lain dijelaskan dalam QS. Al-Insân (76): 30.

Dengan memahami hal ini, kita akan lebih bersikap ridha menerima segala keputusan Allah. Maka, jika anak sakit, tertimpa musibah atau kehilangan sesuatu, tunjukkanlah sikap tenang. Lalu katakan padanya, “Nak, ini semua adalah ketentuan Allah. Dia ingin menguji kita dikarenakan rasa sayang-Nya pada kita. Maka berbahagialah atas ujian tersebut”.

Keempat: Meyakini bahwa Allahlah yang menciptakan segala sesuatu. Di antara dalilnya adalah QS. Ar-Ra’du (13): 16.

Sehingga kita bisa mengkikis berbagai penyakit sosial yang menimpa masyarakat dan meminimalisir penyakit kedengkian di antara kaum mukminin. Seorang hamba tidak boleh iri dan dengki atas karunia Allah kepada orang lain. Sebab Allahlah yang memberi mereka rizki dan menakdirkannya. Jika ia iri, maka secara tidak langsung ia protes terhadap Allah dan tidak menerima takdir-Nya.

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Jumadal Ula 1435 / 3 Maret 2014

 


* Diramu oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai referensi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here