Rasulullah shallallahu‘alaihiwasallam menjadikan akhlak kepada tetangga sebagai salah satu acuan penilaian kebaikan seseorang. Karena dari itu kita harus serius memperhatikan masalah ini.

Di antara etika dan adab dengan tetangga yang selayaknya ditanamkan pada diri juga anak kita:

1. Mencintai kebaikan tetangga sebagaimana menyukai kebaikan untuk diri sendiri.

Bergembira jika ia mendapat kebaikan dan kebahagiaan, serta menjauhi sikap dengki terhadapnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ أَوْ قَالَ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah seseorang beriman hingga ia mencintai untuk saudaranya –atau beliau bersabda- untuk tetangganya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” HR Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu.

2. Tidak menyakiti tetangga baik dengan perkataan dan perbuatan.

Bahkan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingkari keimanan seseorang, manakala tetangganya belum merasa aman dari gangguannya. Beliau bersabda,

وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ

“Demi Allah, tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman.” Ditanyakan kepada beliau; “Siapa yang tidak beriman wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Yaitu orang yang tetangganya tidak merasa aman dengan gangguannya.” HR. Bukhari dari Abu Syuraih radhiyallahu’anhu.

3. Berbuat baik terhadap tetangga.

Yaitu menolongnya ketika ia meminta pertolongan, membantunya jika ia meminta bantuan, menjenguknya jika ia sakit dan mengucapkan selamat jika ia mendapat kesenangan. Menghiburnya jika ia mendapat musibah, menyapanya, berbicara dengan lemah lembut, menjaga perasaannya serta memaafkan kesalahannya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menerangkan,

خَيْرُ الْأَصْحَابِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ

“Sebaik-baik sahabat di mata Allah adalah seorang yang terbaik terhadap temannya. Dan tetangga yang paling baik di mata Allah adalah seorang yang paling baik terhadap tetangganya.” HR Tirmidzi dari Abdullah bin ‘Amr, dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga Ibn Khuzaimah.

4. Gemar berbagi kepadanya.

Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu‘alaihiwasallam,

لَا يَحْقِرَنَّ أَحَدُكُمْ شَيْئًا مِنْ الْمَعْرُوفِ وَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيَلْقَ أَخَاهُ بِوَجْهٍ طَلِيقٍ وَإِنْ اشْتَرَيْتَ لَحْمًا أَوْ طَبَخْتَ قِدْرًا فَأَكْثِرْ مَرَقَتَهُ وَاغْرِفْ لِجَارِكَ مِنْهُ

“Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian meremehkan sesuatu pun dari amal kebaikan. Jika ia tidak mempunyai sesuatu (untuk berbuat baik), hendaklah ia berwajah ceria terhadap saudaranya. Apabila kamu membeli daging atau memasak makanan di atas periuk, maka perbanyaknya kuahnya dan berikanlah sebagiannya untuk tetanggamu.” HR. Tirmidzy dan beliau menilai hadits ini hasan sahih.

Bahkan tidak termasuk ciri seorang mukmin, bila ia membiarkan tetangganya kelaparan, sementara dirinya kenyang. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,

“Bukanlah seorang Mukmin, orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.” HR Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan dinilai sahih oleh al-Albany.

Maka, mari kita biasakan diri kita dan anak-anak kita untuk mempraktekkan berbagai adab di atas.

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Syawal 1435 / 25 Agustus 2014

————————

* Diringkas dengan proses editing oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://kaifahal.com/adab-terhadap-tetangga/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here