Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 73: Anak dan Sifat Pengecut

Sifat pengecut adalah salah satu sifat negatif yang harus dihilangkan dari diri anak sejak dini. Caranya adalah dengan menumbuhkan rasa percaya diri, berani mengambil resiko (dalam sesuatu yang positif) dan berani bertanggung jawab. Tidak boleh bagi orang tua untuk selalu menganggap remeh anaknya. Sehingga berakibat si anak senantiasa merasa kecut, kerdil dan cenderung lari dari tanggung jawab.

Serahkanlah tugas kepadanya sesuai dengan kemampuan yang  ia miliki. Bukankah di dalam Islam, anak-anak dibolehkan untuk mengumandangkan adzan, bahkan juga sah untuk menjadi imam shalat? Beri dia kesempatan untuk memikul tanggung jawab agar terbiasa.

Banyak orang tua yang meremehkan anaknya, padahal si anak memiliki kemampuan. Kalau begitu keadaannya, kapan ia akan mampu dan berani mencoba?

‘Amr bin Salamah radhiyallahu ‘anhu menceritakan pengalamannya, “Dahulu ketika masih kecil, aku sudah memiliki hafalan yang kuat. Saat itu aku banyak menghafal al-Qur’an. Ketika ayahku dan beberapa orang kaumku pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengajari mereka shalat. Di antara yang beliau sampaikan,

“Hendaklah yang mengimami kalian adalah orang yang paling banyak hafalan al-Qur’annya”.

Saat itu akulah orang yang paling banyak hafalan al-Qur’annya dibandingkan mereka. Maka akupun ditugasi untuk mengimami mereka. Ketika menjadi imam, aku hanya memakai kain yang pendek. Sehingga bila aku sujud terlihatlah sebagian auratku. Salah satu wanita Anshar berkata, “Mengapa kalian tidak menutupi aurat imam kalian dari pandangan kami?”. Maka merekapun membelikan untukku baju gamis. Sungguh tidak ada kegembiraan yang melebihi kegembiraanku saat memperoleh gamis tersebut”. HR. Bukhari dan lainnya.

Itulah didikan yang ditanamkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada anak-anak muda. Beliau memberi mereka tanggung jawab. Bahkan terkadang beliau memberikan tanggung jawab yang besar kepada mereka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menunjuk Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma yang kala itu masih sangat muda untuk memimpin sebuah pasukan besar. Padahal di antara anggota pasukan tersebut ada Abu Bakar, Umar dan beberapa sahabat senior lainnya. Tahukah Anda siapa lawan yang akan dihadapi pasukan tersebut? Mereka adalah pasukan Romawi! Ya, musuh yang sangat besar jumlahnya dan kuat. Sebagian orang sempat meragukan kepemimpinan Usamah. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap pada pendirian beliau. Padahal saat itu usia Usamah baru 18 tahun![1]

Semua itu dilakukan, antara lain dalam rangka menumbuhkan keberanian dan kedewasaan. Maka latihlah putra-putri Anda untuk mengemban sebuah tanggung jawab menurut kapasitas dan kemampuan yang dimilikinya. Tidak dibebani melebihi kemampuannya. Juga tidak diremehkan kemampuan yang dimilikinya.

Tentu ada saatnya pula orang tua turun tangan membantu si anak. Bila ternyata dia terlihat tidak mampu atau akan putus asa. Sambil terus dibimbing agar bisa menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik. Selamat mempraktekkan!

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Sya’ban 1437 / 9 Mei 2016

[1] Kisah selengkapnya bisa dibaca dalam Sirah Ibn Hisyam (IV/328) dan Fath al-Bâriy (VIII/152).

You may also like...

1 Response

  1. PRIANTO says:

    trim ustadz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *