Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor pertama yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor rumah.

Faktor berikutnya adalah:

  1. Sekolah.

Lingkungan sekolah merupakan lingkungan kedua setelah keluarga, tentu saja jika anak Anda sudah pada masa sekolah. Oleh karena itu, Anda harus benar-benar jeli dalam memilih tempat sekolah untuk anak. Jangan gegabah atau asal-asalan. Bagaimanapun, lingkungan sekolah akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan karakter anak Anda.

Sekolah merupakan lingkungan baru bagi anak. Tempat bertemunya ratusan anak dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda, baik status sosial maupun agamanya. Di sekolah inilah anak akan terwarnai oleh berbagai corak pendidikan, kepribadian dan kebiasaan, yang dibawa masing-masing anak dari lingkungan dan kondisi rumah tangga yang berbeda-beda.

Karena itu berusahalah mencari sekolah yang siswa-siswanya baik perilakunya. Meskipun mencari sekolah yang  perilaku siswanya baik semua, tentu mustahil atau amat sulit. Namun setidaknya kita harus memilih sekolah yang tidak didominasi oleh anak yang nakal. Dengan melihat trakrecord sekolahan tersebut.

Begitu juga para pengajar sekolahan harus pula menjadi bahan pertimbangan pemilihan suatu sekolah. Sebab mereka berasal dari berbagai latar belakang pemikiran, budaya dan kepribadian. Bagaimanakah keadaan mereka? Apakah memiliki komitmen terhadap akidah yang lurus? Atau justru sebagai pengagum berat budaya dan pemikiran barat yang rusak? Apakah para pengajar memiliki pemikiran dan keyakinan yang dibangun berdasarkan nilai agama? Ataukah hanya sekedar pengajar yang menebarkan pemikiran tidak baik, sehingga menghancurkan anak-anak kita?

Seorang pengajar adalah merupakan figur dan tokoh yang menjadi panutan anak-anak dalam mengambil semua nilai dan pemikiran. Yang kerap tanpa memilah antara yang baik dengan yang buruk. Karena anak-anak memandang, guru adalah sosok yang disanjung, didengar dan ditiru. Sehingga pengaruh guru sangat besar terhadap kepribadian dan pemikiran anak. Oleh sebab itu, seorang pengajar harus membekali diri dengan ilmu agama yang sahih sesuai dengan pemahaman ulama salaf dan akhlak yang mulia, serta rasa sayang kepada anak didik.

Dan tidak kalah penting, dalam membentuk kepribadian anak di sekolah, adalah kurikulum pendidikan. Apakah kurikulum tersebut bersumber dari ajaran Islam, sehingga dapat mendukung untuk menegakkan ajaran Allah dan sunnah Rasul dan ajaran ulama salaf? Ataukah hanya sekedar mementingkan kesuksesan duniawi belaka?

Teramat disayangkan ternyata banyak anak yang justru rusak akhlak dan pemikirannya justru saat masuk sekolah. Hal itu terjadi karena banyak faktor. Mungkin karena faktor pertemanan yang salah. Atau guru yang tidak benar. Atau bisa jadi pula gara-gara kurikulum yang kurang memperhatikan sisi pembangunan karakter dan akhlak anak didik.

Karena itulah, orang tua tidak bisa berlepas diri hanya dengan alasan bahwa anak sudah dimasukkan ke sekolah. Namun juga harus terus mengikuti perkembangan perilaku anaknya. Selalu mengarahkan mereka. Bersambung…

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Syawal 1437 / 25 Juli 2016

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here