Di antara pelajaran SD yang masih sering kita ingat adalah istilah dalam pelajaran biologi; simbiosis mutualisme. Suatu istilah yang menggambarkan adanya hubungan saling menguntungkan antara dua makhluk. Misalnya ‘persahabatan’ antara lebah dengan bunga. Di mana si lebah mendapatkan madu dari bunga. Ketika menghisap madu tersebut, serbuk bunga melekat pada lebah. Jika lebah tersebut berpindah bunga, serbuk bunga yang telah melekat pada lebah akan melekat pada bunga yang lain. Terjadilah penyerbukan oleh lebah.

Itu simbiosis mutualisme dalam urusan duniawi. Dalam Islam pun, banyak ibadah yang memiliki konsep saling menguntungkan antara subjek dengan objeknya. Berikut beberapa contohnya:

1. Antara orang tua dengan anaknya.

Saat orang tua dibebani agama dengan kewajiban mendidik anak, sebenarnya hal itu bukanlah untuk kepentingan si anak belaka. Namun orang tua juga akan mendulang keuntungan ganda, di dunia dan di akhirat. Di dunia ini ia akan menikmati bakti anak-anaknya. Sedangkan di akhirat kelak ia akan mendapatkan aliran pahala yang tak putus.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menerangkan,

“إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ”.

“Jika manusia mati, terputuslah amalannya kecuali tiga. (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat dan (3) Anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim (no. 4199) dari Abu Hurairah.

2. Antara si kaya dan si miskin.

Sebagian kalangan mengira bahwa manakala Islam mewajibkan orang kaya untuk menunaikan zakatnya guna diberikan kepada fakir miskin, hal itu semata-mata untuk kepentingan pihak yang menerima. Rasul shallallahu’alaihiwasallam menepis anggapan keliru tersebut dalam sabdanya,

“ابْغُونِي الضُّعَفَاءَ؛ فَإِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ”.

“Bantulah aku untuk mencari dan menolong orang-orang lemah; sesungguhnya kalian dikaruniai rizki dan meraih kemenangan lantaran adanya orang-orang lemah di antara kalian“. HR. Abu Dawud (no. 2594) dari Abu Darda’, dan sanadnya dinilai jayyid (baik) oleh an-Nawawy[1].

3. Antara ustadz dengan jamaah pengajiannya.

Hubungan antara da’i dengan objek dakwahnya pun juga merupakan hubungan saling menguntungkan antara kedua belah pihak. Masyarakat diuntungkan dengan mendapatkan ilmu yang akan membimbing mereka menuju ke jalan yang benar. Sedangkan sang mubaligh mendapat keuntungan aliran pahala yang tak ada hentinya.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

“مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ”.

“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya”. HR. Muslim (no. 4876) dari Abu Mas’ud al-Anshary.

Keterangan di atas membantu kita untuk memberikan gambaran betapa sempurnanya agama kita, dan betapa berimbangnya ajaran yang ada di dalamnya. Semua akan diuntungkan!

@  Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 2 Jumadal Awwal 1434 / 14 Maret 2013

 


[1] Lihat: Riyâdh ash-Shâlihîn (hal. 146).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here