“HAKIKAT KEBAHAGIAAN”

Para istri yang terhormat…

Rumah tangga yang bahagia adalah idaman setiap orang. Namun bila ditanyakan, “Apa itu bahagia?”. Mungkin pertanyaan ini sulit kita jawab. Sebab, kebahagiaan adalah sesuatu yang bisa dirasakan, namun sulit diungkapkan dengan kata-kata. Kebahagiaan adalah sesuatu yang bersifat maknawi, sebuah perasaan yang lahir dalam hati, membawa berjuta makna.

Kebahagiaan dapat dirasakan oleh siapa saja. Kebahagiaan bukanlah monopoli orang yang berduit saja.

Berapa banyak pasangan suami istri yang siang malam diperbudak oleh hartanya, sehingga hubungan cinta kasih di antara mereka terasa sangat gersang. Bahagiakah kehidupan seperti itu?

Bukankah rumah sederhana yang membuat seorang wanita selalu tersenyum lebih baik daripada istana megah yang selalu membuatnya menangis dan merintih? Nasibnya ibarat burung dalam sangkar emas.

Seorang ahli ibadah tersohor; Ibrahim bin Ad-ham, sebagaimana dinukil dalam kitab Hilyah al-Auliyâ’ dan Shifat ash-Shafwah, pernah berucap, “Andaikan para raja dan putra-putra mereka mengetahui apa yang kita rasakan berupa kebahagiaan dan kenikmatan; niscaya seluruh hidup mereka akan digunakan untuk berjuang keras dengan mengangkat pedang, demi merampas apa yang  kita miliki berupa kehidupan yang tenang dan sedikitnya keluh kesah”.

Lalu bagaimanakah sebenarnya rumah tangga yang bahagia dan siapa sebenarnya wanita yang bahagia?

Ketahuilah, kebahagiaan itu hanya dapat diraih dan dirasakan oleh sepasang suami istri yang senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat Allah, merasa berkecukupan dan taat beribadah.

Dalam al-Qur’an disebutkan: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. QS. Ar-Ra’du: 28.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,

“قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ”

“Beruntunglah orang yang berislam, dikaruniai rizki yang cukup dan dijadikan menerima apa pun yang dikaruniakan Allah”. (HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr).

 

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 J. Tsani 1432 / 9 Mei 2011

 


Diringkas dari buku “Surat Terbuka untuk Para Istri” karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan, penerbit Pustaka Darul Ilmi, Bogor (hal. 43-48).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here