Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA

 

Setiap hamba yang tinggal di dunia harus siap untuk menghadapi ujian dan cobaan. Sebab itu sudah merupakan sunnatullah yang tidak mungkin bisa dihindari. Dalam hal ini, tidak ada bedanya antara orang yang beriman dengan yang tidak, antara orang Islam maupun orang kafir. Semuanya berpotensi untuk ditimpa ujian. Allah ta’ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Artinya: “Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa serta buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”. QS. Al-Baqarah (2): 155.

Jika memang demikian, lantas apa yang membedakan antara orang yang beriman dengan yang tidak beriman saat ditimpa musibah? Bedanya: orang yang beriman untung, sedangkan yang tidak beriman akan buntung!

Keuntungan orang yang beriman

Orang yang beriman, walaupun ditimpa musibah, ia akan beruntung di dunia maupun akhirat.

Di dunia, dia akan bersegera untuk introspeksi dan memperbaiki diri, sebab ia sadar betul bahwa musibah itu adalah akibat dari dosa-dosa yang dikerjakannya.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar)”. QS. Ar-Rum (30): 41.

Dia juga akan tetap menghadapi musibah tersebut dengan hati yang tenang, karena dia yakin betul bahwa hal itu merupakan bagian dari takdir Allah. Dan takdir Allah pasti adalah yang terbaik untuknya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,

إِنَّ اللهَ لَا يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh Allah tidaklah menakdirkan sesuatu bagi seorang mukmin; melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya”. HR. Ahmad dari Anas radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth.

Adapun keuntungan di akhirat adalah pahala tak terbatas yang dijanjikan untuknya.

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas”. QS. Az-Zumar (39): 10.

‘Kebuntungan’ orang yang tidak beriman

Sudah jatuh, masih tertimpa tangga pula. Kira-kira begitulah perumpamaan orang-orang yang tidak beriman saat ditimpa musibah. Sudah merasa sakit karena tertimpa musibah, masih juga mereka ‘buntung’ alias rugi di dunia dan akhirat.

Di dunia, mereka tidak bisa menerima musibah tersebut dengan hati yang lapang. Sehingga ia selalu hidup dalam kegundahgulanaan. Perilakunya tetap saja buruk pasca musibah. Bahkan malah ia senantiasa menjadikan orang lain sebagai kambing hitam.

Sedangkan di akhirat, mereka terancam siksa Allah yang pedih karena tidak terima dengan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah ta’ala.

Semoga Allah senantiasa menjadikan kita semua orang-orang yang beruntung bukan yang buntung!

@ Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rabi’ul Awwal 1435 / 2 Januari 2015
BAGIKAN
Artikulli paraprakHidup Suri
Artikulli tjetërAnak dan Sifat Lapang Dada

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here