Agar Idhul Fitri Kita Lebih Bermakna

Di hari-hari ini kita merasakan kebahagiaan dan kegembiraan yang luar biasa, karena Allah ta’ala kembali mempertemukan kita dengan Idhul Fitri yang penuh berkah. Pada hari-hari ini kaum muslimin memanjatkan rasa syukur mereka kepada Allah jalla wa ‘azza dan tidak henti-henti memuji-Nya karena Dia telah memberikan taufiq-Nya sehingga kita bisa menyempurnakan puasa di bulan suci Ramadhan.

Namun, di sela-sela kegembiraan kita dalam merayakan Idhul Fitri ini, sekurang-kurangnya ada tujuh hal yang seyogyanya tidak dilupakan; agar perayaan Idhul Fitri kita lebih berbobot dan bermakna. Di antara hal-hal tersebut[1]:

Pertama: Di sela-sela kegembiraan merayakan Idhul Fitri, ingatlah saudara-saudara kita yang telah dipanggil oleh Allah ta’ala sehingga mereka tidak lagi menjumpai hari bahagia ini. Hari ini, mereka terkungkung di alam kubur, mempertanggungjawabkan apa yang dulu diperbuat di dunia lalu diganjar sesuai dengan amalan mereka. Maka janganlah kita lupa untuk mendoakan mereka, semoga Allah menerima amal kebajikan mereka dan mengampuni kekhilafannya. Serta yakinlah bahwa cepat atau lambat, kita pun akan menyusul mereka menuju alam kubur, maka perbanyaklah bekal mulai dari sekarang!

Kedua: Di sela-sela kesehatan kita di hari yang penuh kebahagiaan ini, ingatlah saudara-saudara kita yang sedang terbaring di ranjang-ranjang putih menderita sakit, sehingga terhalang untuk turut serta bergembira merayakan Idhul Fitri di samping kita. Di antara mereka ada yang telah terbaring tak berdaya selama berhari-hari, berminggu-minggu bahkan mungkin berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Maka bersyukurlah kepada Allah ‘azza wa jalla atas nikmat sehat yang telah dilimpahkan-Nya kepada kita, dan jangan lupa doakan mereka semoga Allah segera mengaruniakan kesembuhan dan kebugaran.

Ketiga: Di sela-sela ketentraman dan keamanan yang kita rasakan sekarang, ingatlah akan sebagian saudara-saudara kita di berbagai penjuru dunia yang saat ini dirundung peperangan dan dicekam dengan rasa takut. Mereka telah kehilangan tempat tinggal, harta mereka telah dirampas, nyawa orang yang mereka cintai melayang, banyak ibu yang menjadi janda, dan tidak sedikit anak-anak tak berdosa yang menjadi yatim piatu. Maka bersyukurlah kepada Allah yang telah mengaruniakan ketentraman serta keamanan pada kita, dan jangan lupa berdoalah agar Allah subhanahu wa ta’ala segera mengangkat cobaan tersebut dari negeri mereka.

Keempat: Di sela-sela kebahagiaan memakai baju baru indah dan menyantap makanan lezat, ingatlah bahwa di sana-sini banyak saudara kita yang dililit kemiskinan dan kesusahan. Jangankan guna membeli baju baru, sekedar untuk menutup tubuh dengan baju lusuhpun mereka tidak mampu. Jangankan guna memasak makanan enak, untuk mencari sesuap nasi pengganjal perut saja mereka kesusahan. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka yang mati kelaparan! Maka bersyukurlah kepada Allah atas kenikmatan yang telah dilimpahkan-Nya pada kita dan janganlah lupa mengulurkan tangan membantu apa yang kita bisa berikan, baik itu pakaian pantas pakai, makanan, uang atau apa saja yang bisa kita sumbangkan.

Kelima: Di sela-sela kebahagiaan karena telah berhasil menyelesaikan puasa sebulan penuh dan menjaga shalat lima waktu diiringi dengan shalat tarawih, ingatlah bahwa di sana-sini masih ada saudara-saudara kita yang terbelenggu dengan dosa-dosa dan lumpur maksiat. Di saat kaum mukminin dan orang-orang shalih berlomba-lomba beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla, justru saudara-saudara kita tersebut tenggelam dalam kubangan maksiat, memuaskan syahwat yang tak ada habisnya! Musim-musim ibadah yang bertabur pahala berlalu di depan mata mereka, namun hati mereka sama sekali tidak tergerak untuk menunaikan shalat lima waktu, berpuasa, berzakat ataupun ibadah-ibadah mulia lainnya. Maka bersyukurlah wahai kaum mukminin atas hidayah dan taufiq yang telah Allah limpahkan, mohonlah agar Allah mengaruniakan keistiqamahan. Serya jangan lupa, doakan saudara-saudara kita yang hingga kini masih tenggelam dalam kubangan maksiat; agar Allah subhanahu wa ta’ala segera menyelamatkan mereka sebelum ajal datang menjemput.

Keenam: Di sela-sela kebahagiaan merayakan Idhul Fitri, ingatlah bahwa Allah tabaraka wa ta’ala telah melimpahkan kemuliaan kepada kita dengan dibelenggunya setan-setan di bulan Ramadhan, sehingga mereka tidak bisa menggoda manusia dengan bebas. Namun, di hari ini, dengan berakhirnya bulan Ramadhan, setan-setan telah lepas dari belenggu tersebut, dan kini mereka menyebar dan merajalela, dengan penuh kedengkian dan permusuhan mereka ingin membalas dendam karena terkekang di bulan Ramadhan.

Seorang tidak mungkin selamat dari perangkap setan kecuali dengan senantiasa berdzikir kepada Allah, menjaga ibadah, menjauhi maksiat dan terus memohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla dari godaan mereka.

Ketujuh: Di sela-sela kebahagiaan merayakan Idhul Fitri, ingatlah bahwa bulan Ramadhan yang baru saja kita tinggalkan, adalah musim yang begitu mulia untuk membiasakan diri menjalankan ketaatan kepada Allah, menguatkan keimanan dan bersemangat dalam beribadah. Bahkan Ramadhan adalah madrasah keimanan yang begitu agung, di dalamnya kita mereguk pelajaran-pelajaran bermanfaat, dan ibrah-ibrah berharga, sehingga keimanan kita bertambah dan semangat untuk beribadah naik tajam.

Namun amat disayangkan, tidak sedikit di antara kaum muslimin yang dengan berlalunya bulan Ramadhan, semangat mereka untuk beribadah turut berlalu. Padahal kenikmatan, rizki, kesehatan dan karunia lain Allah limpahkan kepada kita bukan hanya di bulan Ramadhan, tapi juga di luar Ramadhan. Lantas mengapa kita mensyukurinya hanya di dalam bulan Ramadhan? Bukankah kita juga berkewajiban untuk mensyukuri nikmat-nikmat tersebut di luar Ramadhan, dengan cara tekun beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala?

Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua dan kepada kaum muslimin untuk senantiasa gemar beribadah hingga ajal menjemput.

Sudah merupakan suatu hal yang lazim di hari ini, kaum muslimin saling bersalam-salaman dan saling mengucapkan selamat hari raya, hal itu merupakan kebiasaan yang baik; karena akan menumbuhkan rasa kasih sayang di antara kita, juga mengikis rasa iri dan dengki yang terkadang muncul di hati sebagian kita[2].

Namun, meskipun demikian, dalam melestarikan budaya baik di atas, hendaknya kita mencontoh para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam ucapan selamat, dengan saling mengucapkan: “taqabbalallah minna wa minkum”; karena kalimat di atas tidak semata-mata ucapan selamat, namun juga mengandung doa agar Allah menerima amalan orang yang mengucapkan selamat maupun yang diberi selamat.

Di antara yang disunnahkan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam di bulan Syawal ini: mengiringi puasa Ramadhan dengan puasa enam hari di bulan Syawal. Pahala yang begitu besar menanti orang-orang yang mengamalkannya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

“مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ”.

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengiringinya dengan (puasa) enam hari bulan Syawal; maka hal itu bagaikan puasa satu tahun penuh”. HR. Muslim dari hadits Abu Ayub al-Anshari.

Tidak lupa, kita berusaha untuk banyak-banyak berdoa kepada Allah agar Dia berkenan menerima puasa dan ibadah kita lainnya di bulan Ramadhan. Di antara teladan ulama salaf dalam hal ini; mereka enam bulan sebelum datangnya Ramadhan berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan, lalu enam bulan setelah Ramadhan mereka berdoa kepada Allah agar Dia berkenan untuk menerima amalan shalih mereka.

Semoga Allah berkenan untuk menerima amal shalih kita di bulan Ramadhan, mengampuni segala kekurangan yang kita lakukan di dalamnya dan semoga Allah berkenan untuk mempertemukan kita kembali dengan bulan suci itu dan perayaan Idhul Fitri di masa-masa yang akan datang, dengan penuh ketaatan dan amal shalih yang mulia, amien..

Wallahu ta’ala a’lam.

 Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA

 


[1]  Diterjemahkan secara bebas dari Madza Yanbaghi an Natadzakkar Yaum al-‘Ied, makalah dalam buku al-Fawa’id al-Mantsurah – Khuthab wa Nasha’ih Kalimat wa Maqalat, karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-‘Abbad al-Badr (hal: 185-188).

[2]  Lihat: Adh-Dhiya’ al-Lami’ min al-Khuthab al-Jawami’ oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (I/179) sebagaimana dalam al-Jawahir min  Khuthab al-Manabir (II/871).

Leave a Reply