Khutbah Jumat: BUKAN SEKEDAR PUAS

Khutbah Jum’at di Masjid Agung Purbalingga, 24 Dzulhijjah 1441 / 14 Agustus 2020

 

KHUTBAH PERTAMA:

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ باَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah…

Marilah kita meningkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala secara serius. Yaitu dengan mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam. Serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam.

Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…

Beribadah dalam Islam bukan sekedar mengejar kepuasan pribadi. Namun juga harus memperhatikan efeknya terhadap sekitar kita. Poin penting ini kadang dilupakan oleh sebagian kalangan.

Mari kita bersama menyimak hadits berikut ini:

Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu menuturkan,

اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ، فَسَمِعَهُمْ يَجْهَرُونَ بِالْقِرَاءَةِ، فَكَشَفَ السِّتْرَ، وَقَالَ: «أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ، فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا، وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ»

Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf di masjid, beliau mendengar para sahabat membaca al-Qur’an dengan suara keras. Maka beliaupun membuka tirai seraya bersabda, “Ketahuilah bahwa semua kalian sedang bermunajat kepada Allah. Janganlah saling mengganggu sesama kalian. Jangan pula saling keras-kerasan bacaan”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Khuzaimah serta al-Albaniy.

Mengangkat suara saat membaca al-Qur’an memiliki banyak manfaat. Di antaranya: membuat hati lebih berkonsentrasi, membangkitkan semangat, telinga ikut fokus untuk mendengarkan, bisa mengusir rasa kantuk, dan berbagai manfaat lainnya.

Namun jika situasi dan kondisinya tidak mendukung, maka mengangkat suara bacaan al-Qur’an justru dilarang. Contohnya bilamana mengganggu orang lain. Terutama yang sedang menjalankan ibadah. Seperti shalat misalnya.

Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…

Di masa pandemi seperti ini, banyak ibadah yang tidak bisa kita jalankan dengan sempurna. Bahkan ibadah yang merupakan tiang agama sekalipun. Yaitu shalat lima waktu.

Saat wabah sedang memuncak, kita terpaksa menunaikan shalat lima waktu di rumah. Manakala agak mereda, kita bisa kembali menunaikan shalat secara berjamaah di masjid. Namun dengan berbagai protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh para ahli.

Contohnya keharusan membawa sajadah sendiri, mengenakan masker dan menjaga jarak antar jamaah. Akibatnya kita tidak bisa menjalankan sunnah merapatkan shaf sebagaimana biasanya. Juga tidak bisa membuka wajah seperti lazimnya.

Mau tidak mau ini harus dijalankan. Walaupun ada perasaan kurang puas di dalam hati kita. Karena tidak bisa maksimal dalam menjalankan tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.

Namun ingat, bahwa beribadah itu bukan sekedar mengejar kepuasan pribadi. Tapi juga harus mempertimbangkan dampak buruk yang mungkin ditimbulkan.

Sikap abai terhadap berbagai protokol kesehatan tersebut di atas, bukan hanya mengganggu orang lain. Bahkan bisa membahayakan nyawa mereka.

Bisa-bisa bukan pahala yang diraih. Malah justru dosa yang didapatkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain”. HR. Ibn Majah dan isnadnya dinilai sahih oleh al-Hakim.

 

أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

KHUTBAH KEDUA:

الْحَمْدُ للهِ وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه، إلى يوم القيامة، أما بعد؛

Sidang Jum’at yang kami hormati…

Mari berusaha menekan ego kita masing-masing. Dengan bersabar menghadapi kekurangnyamanan manakala harus mengenakan masker saat keluar rumah. Menjaga jarak dengan orang lain. Tidak berjabat tangan. Dan berbagai protokol kesehatan lainnya.

Lebih baik agak sulit bernapas, daripada hilang napas.

Ingatlah bahwa menjaga keselamatan bersama juga merupakan amal salih yang mulia. Sebagaimana yang telah dipesankan Ilahi Rabbi,

وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

Artinya: “Barang siapa menyelamatkan nyawa satu orang manusia, maka seakan-akan ia telah menyelamatkan nyawa seluruh manusia”. QS. Al-Ma’idah (5): 32.

 

 

هذا؛ وصلوا وسلموا رحمكم الله على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. 

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…

 

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Dzulqa’dah 1441 / 17 Juli 2020