Menyambut Ramadhan Dengan Tekad Dan Ilmu

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA

Tidak semua orang mendapatkan kesempatan umur untuk bersua dengan Ramadhan. Juga tidak semua orang yang berjumpa dengan bulan mulia ini, menghargai karunia tersebut. Maka agar tidak menjadi manusia yang menyia-nyiakan nikmat agung itu; sekurang-kurangnya ada dua hal prinsipiil yang perlu diwujudkan untuk menyambut kedatangan Ramadhan. Yaitu: tekad dan ilmu.

Hal Pertama: Tekad untuk Taat

Dikisahkan dalam kitab Manâqib Imam Ahmad, bahwa suatu hari Abdullah; putra Imam Ahmad bin Hambal meminta nasehat kepada ayahnya. Maka Imam Ahmad rahimahullah pun menjawab, “Anakku, hendaklah engkau selalu berniat untuk melakukan kebaikan. Sebab engkau akan senantiasa dalam kebaikan, selama engkau berniat melakukan kebaikan”.

Sebab siapapun yang telah berniat untuk melakukan kebaikan, lalu tidak jadi melakukannya—karena ada halangan—niscaya ia tetap akan mendapatkan pahala. Dalam hadits sahih dijelaskan,

“مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ”

“Barang siapa telah bertekad untuk melakukan kebaikan, namun ia tidak jadi melakukannya; niscaya Allah akan menuliskan untuknya pahala sempurna. Jika ia bertekad melakukan kebaikan, lalu ia melakukannya; maka Allah akan menuliskan baginya sepuluh pahala hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan berlipat-lipat lebih banyak lagi”. HR. Bukhari (no. 6491) dan Muslim (no. 206).

Maka salah satu modal utama menghadapi bulan suci Ramadhan, adalah berniat untuk melakukan kebaikan di dalamnya. Yakni bertekad bulat untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dimulai dari perintah Allah yang berlevel wajib dan larangan-Nya yang berlevel haram. Lalu dilengkapi dengan yang sunnah dan meninggalkan yang makruh.

Contohnya: bertekad untuk menjalankan perintah shalat fardhu tepat waktu secara berjamaah di masjid, terutama bagi kaum pria. Bertekad untuk menjaga puasa dari perbuatan yang bisa mengotorinya. Yakni dosa dan maksiat, serta hal-hal tidak bermanfaat. Seperti menghabiskan waktu untuk bermain gadget, nonton TV dan lainnya.

Hal Kedua: Ilmu Agama

Sekedar bersemangat dan memiliki tekad untuk melakukan kebaikan, belum cukup. Namun harus diiringi dengan ilmu tentang kebaikan yang akan dikerjakannya tersebut. Sebab jika tidak, sangat mungkin ia melakukan sesuatu yang dikiranya kebaikan, ternyata adalah keburukan, atau sebaliknya. Karena itulah belajar ilmu agama hukumnya wajib bagi setiap orang Islam.

“طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ”.

“Mencari ilmu hukumnya wajib atas setiap muslim”. HR. Ibnu Majah (no. 224), dan dinyatakan hasan oleh al-Mizziy serta as-Suyuthiy. Sedangkan al-Albâniy menilai hadits ini sahih.

Maka pelajarilah detil amalan-amalan Ramadhan yang disyariatkan dalam Islam. Semisal shalat, puasa, membaca al-Qur’an, zakat, sedekah, i’tikaf dan lain-lain, sebelum datangnya tamu agung ini. Semoga Allah menerima amal salih kita semua. Amien…

Terinspirasi dari ceramah singkat Syaikh Prof. Dr. Abdussalam asy-Syuwai’ir yang berjudul Ahwâl as-Salaf fî Istiqbâl Syahr Ramadhan.

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 30 Sya’ban 1445 / 11 Maret 2024

AGEN KEBAIKAN
REG:NAMA#JENIS KELAMIN#KOTA = 0812-2291-0404

Facebook
www.facebook.com/UstadzAbdullahZaen/

Telegram
https://t.me/ustadzabdullahzaen

Soundcloud
https://soundcloud.com/ustadzabdullahzaen

Instagram
https://www.instagram.com/abdullahzaenofficial/

Youtube
https://www.youtube.com/c/ustadzabdullahzaenma