Sebab Terkabulnya Do’a bag. 6

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 96

Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:

Kesembilan: Mengawali doa dengan menyebut nama Allah yang mulia

Allah ta’ala berfirman,

[arabic-font]”وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا”[/arabic-font]

Artinya: “Allah memiliki nama-nama yang mulia; maka berdoalah kepada-Nya dengan menggunakan nama-nama itu”. QS. Al-A’raf (7): 180.

Ayat ini mengajarkan pada kita salah satu etika penting dalam berdoa. Yakni mengawali doa dengan menyebut nama-nama Allah. Adab ini biasa diistilahkan dengan tawassul menggunakan asma’ul husna. Yang maknanya adalah menjadikan nama-nama Allah sebagai perantara dalam berdoa.

Etika ini amat penting. Sebab selain memang diperintahkan agama, juga menunjukkan kesopanan seorang hamba dalam meminta kepada Rabbnya. Bila minta kepada manusia saja, kita memperhatikan tata krama, dengan tidak langsung minta saat bertemu. Namun diawali dengan pujian kepadanya. Sungguh Allah ta’ala jauh lebih berhak untuk di’sikapi’ dengan etika yang mulia.

Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkannya dalam doa-doa beliau. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menuturkan,

[arabic-font]قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِفَاطِمَةَ: ” مَا يَمْنَعُكِ أَنْ تَسْمَعِي مَا أُوصِيكِ بِهِ، أَنْ تَقُولِي إِذَا أَصْبَحْتِ وَإِذَا أَمْسَيْتِ: “يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ “[/arabic-font]

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Fathimah, “Apa yang menghalangimu untuk menyimak apa yang akan kuwasiatkan padamu. Ucapkanlah setiap pagi dan sore, “Ya Hayyu ya Qayyûm, bi rohmatika astaghîts, ashlih lî sya’nî kullah. Wa lâ takilnî ilâ nafsî thorfata ‘ain” (Wahai Yang Maha hidup dan Yang Maha mengurusi makhluk-Nya. Perbaikilah seluruh keadaanku. Dan janganlah Kau jadikan aku bergantung kepada diriku walaupun hanya sekejap mata)”. HR. An-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra. Al-Hakim menilai hadits ini sahih.

Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengawali doanya dengan menyebutkan dua nama Allah yang mulia. Yaitu al-Hayyu dan al-Qayyum. Baru setelah itu beliau meminta kepada-Nya agar diperbaiki urusannya.

Sebagaimana telah maklum bahwa nama-nama Allah itu amatlah banyak. Maka satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam menggunakan asma’ul husna saat berdoa adalah: sesuaikan nama Allah yang Anda pakai dengan isi doamu. Bila Anda meminta ampunan; maka gunakanlah nama al-Ghaffar (Yang Maha Pengampun) sebagai awalannya. Bila Anda meminta rahmat, maka awalilah doa Anda dengan nama ar-Rahmân dan ar-Rahîm. Demikian keterangan yang disampaikan Imam al-Qurthuby dalam kitab tafsir beliau, saat menafsirkan makna QS. Al-A’raf (7): 180 tersebut di atas.

Bersambung…

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 24 Rajab 1437 / 2 Mei 2016

Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://ar.islamway.net/article/20225/%D9%85%D9%86-%D8%A3%D8%B3%D8%A8%D8%A7%D8%A8-%D8%A7%D8%B3%D8%AA%D8%AC%D8%A7%D8%A8%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D8%B9%D8%A7%D8%A1-1-3

Leave a Reply