Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 98

Pada pertemuan sebelumnya sudah dibahas bahwa sebab kesepuluh terkabulnya doa adalah bertawassul. Saat itu telah dijelaskan makna tawassul dan dua contoh cara tawassul yang dijelaskan dalam al-Qur’an dan Sunnah. Berikut contoh lainnya:

Ketiga: Bertawassul dengan doanya orang shalih yang masih hidup, hadir dan mampu.

Maksudnya adalah meminta bantuan kepadanya agar mendoakan kita.

Dalil disyariatkannya tawassul jenis ini, antara lain firman Allah ta’ala,

[arabic-font]”قَالُوا يَاأَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ . قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ”[/arabic-font]

Artinya: “Mereka (anak-anak Nabi Ya’qub) berkata, “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami. Sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah. Dia (Ya’qub) menjawab, “Aku akan memohonkan ampunan kepada Rabbku untuk kalian. Sungguh, Dia Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang”. QS. Yusuf (12): 97-98.

Dalam ayat di atas diceritakan bagaimana putra-putra Nabi Ya’qub bertawassul dengan doa ayah mereka. Yakni mereka memohon kepadanya agar mendoakan mereka, supaya Allah berkenan mengampuni kesalahan-kesalahan mereka.

Adapun dalil dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, di antaranya apa yang dituturkan Anas bin Malik radhiyallahu’anhu,

 “Ada seorang laki-laki masuk ke dalam masjid pada hari Jumat dari pintu yang berhadapan dengan mimbar, sedangkan saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berdiri menyampaikan khutbah. Orang itu kemudian menghadap ke arah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, hewan ternak telah binasa dan jalan-jalan terputus. Maka mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan kepada kami!”. Anas berkata, “Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya seraya berdoa,

[arabic-font]”اللَّهُمَّ اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا”.[/arabic-font]

“Ya Allah berilah kami hujan, Ya Allah berilah kami hujan, Ya Allah berilah kami hujan”.

Anas melanjutkan kisahnya, “Demi Allah, sebelum itu kami tidak melihat sedikitpun awan baik yang tebal maupun yang tipis. Juga tidak ada antara tempat kami dan bukit itu rumah atau bangunan satupun.” Anas berkata, “Tiba-tiba dari bukit itu tampaklah awan bagaikan perisai. Ketika sudah membumbung sampai ke tengah langit, awan itupun menyebar dan hujan pun turun.” Anas melanjutkan, “Demi Allah, sungguh kami tidak melihat matahari selama enam hari.” Anas berkata selanjutnya, “Kemudian pada Jumat berikutnya, ada seorang lelaki lagi yang masuk dari pintu yang sama sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berdiri menyampaikan khutbahnya. Kemudian orang itu menghadap beliau sambil berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan jalan-jalanpun terputus. Maka mintalah kepada Allah agar menahan hujan!” Anas berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas mengangkat kedua tangannya seraya berdoa,

[arabic-font]”اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالْآجَامِ وَالظِّرَابِ وَالْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ”[/arabic-font]

“Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami saja dan jangan membahayakan kami. Ya Allah turunkanlah dia di atas bukit-bukit, gunung-gunung, bendungan air (danau), dataran tinggi, jurang-jurang yang dalam serta pada tempat-tempat tumbuhnya pepohonan.” Anas berkata, “Maka hujan berhenti. Kami lalu keluar berjalan-jalan di bawah sinar matahari.” (HR. Bukhari dan Muslim).

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Ramadhan 1437 / 6 Juni 2016

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here