Kita sering mendengar istilah “taubat sambel”. Yakni ungkapan yang menggambarkan tentang taubat yang kurang serius. Atau bermain-main dalam taubat. Ini adalah fenomena yang tidak baik. Sebab taubat adalah ibadah. Sehingga harus dijalankan sebaik mungkin.

Supaya taubat sempurna perlu diperhatikan tiga unsur. Pertama: si pelaku taubat. Kedua: dosa-dosa yang akan ditaubati. Ketiga: kepada siapa bertaubat.

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ 

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Semoga Rabb kamu menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai“. QS. At Tahrim (66): 8.

Dalam Madârij as-Sâlikîn, Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H) menjelaskan, bahwa taubat nasuha adalah yang memenuhi tiga unsur:

Pertama: Tekad bulat pelaku taubat

Seseorang akan dinilai serius dalam bertaubat, manakala ia bertekad bulat untuk meninggalkan dosa. Tidak tersisa keraguan di hatinya. Jujur dalam keinginan untuk tidak mengulangi dosa yang sama.  

Kedua: Mencakup seluruh dosa

Taubat akan dianggap sempurna, manakala mencakup semua dosa. Maksudnya si pelaku bertaubat dari seluruh dosa-dosa yang pernah dia kerjakan. Yang besar maupun yang kecil. Yang terasa maupun yang tidak terasa.

Mari kita perhatikan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berdoa dalam sujudnya, “Allôhummaghfirlî dzambî kullah; diqqohu wa jillah, wa awwalahu wa âkhiroh, wa ‘alâniyyatahu wa sirroh” (Ya Allah, ampunilah semua dosaku. Yang kecil maupun yang besar. Yang dahulu maupun yang sekarang. Yang kulakukan terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi”. HR. Muslim.

Ketiga: Ikhlas karena Allah saja

Agar taubat sempurna, maka harus dilakukan karena Allah semata. Murni dan ikhlas mengharap ridha dan pahala dari-Nya. Karena takut pada-Nya.

Membersihkan niat taubat dari misi-misi yang bersifat duniawi. Misalnya bertaubat dalam rangka menjaga kedudukannya di mata manusia. Mempertahankan jabatannya. Mencari pujian orang. Menghindari celaan khalayak. Atau karena ketidakmampuannya. Seperti orang yang tidak judi lagi, karena bangkrut. Tidak punya uang untuk modal berjudi.

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Rajab 1440 / 25 Maret 2019

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here