Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 153: KEAJAIBAN ISTIGHFAR

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 153

KEAJAIBAN ISTIGHFAR

Banyak orang belum tahu bahwa istighfar itu ajaib! Dzikir yang satu ini bukan hanya menguntungkan di akhirat, namun juga menghasilkan berbagai keuntungan dahsyat di dunia.

Keuntungan Duniawi

Allah ta’ala menjelaskan,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً . يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً

Artinya: “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dia juga akan memperbanyak harta serta anak-anakmu. Serta memberikan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu”. QS. Nuh (71): 10-12.

Keuntungan Ukhrawi

Orang yang memperbanyak istighfar akan dimasukkan ke surga dan dihindarkan dari azab.

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18)“.

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan mata air. Mereka selalu menikmati semua yang disediakan bagi mereka oleh Rabb mereka di surga. Sungguh mereka dahulu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit tidur pada waktu malam. Dan pada waktu sahur mereka beristighfar”. QS. Adz-Dzariyat (51): 15-17.

وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Artinya: Tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedang mereka (masih) beristighfar”. QS. Al-Anfal (8): 33.

Istighfar Sejati

Seluruh keistimewaan istighfar tersebut di atas tidak bisa kita raih, kecuali bila kita serius dalam beristighfar. Bukan asal-asalan. Para ulama menjelaskan bahwa orang yang mengucapkan “Astaghfirullah wa atubu ilahi (Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya)” terbagi menjadi dua kondisi:

Pertama: Lisannya mengucapkan istighfar, tapi hatinya tetap berkeinginan kuat untuk mengulangi dosa. Orang seperti ini belum masuk kategori taubat nasuha. Dia hanya berdoa dengan lisannya memohon ampunan. Sehingga bisa jadi diampuni, bisa jadi tidak. Akibat kekurangseriusannya dalam bertaubat.

Kedua: Lisannya mengucapkan istighfar, dan hatinya bertekad bulat untuk tidak mengulangi dosa.Inilah yang masuk kategori istighfar sejati. Seluruh dosanya akan diampuni Allah ta’ala. Baik dosa yang kecil maupun yang besar. Jika di kemudian hari dia kembali melakukan dosa, maka ia segera beristighfar dan bertaubat nasuha lagi. Walau hal ini berulang kali ia lakukan, Allah tetap berkenan mengampuninya. Sebagaimana yang dijanjikan-Nya,

اعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ

Berbuatlah sekehendakmu. Aku pasti akan mengampunimu”. HR. Bukhari dan Muslim.

✍️ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Sya’ban 1440 / 22 April 2019

Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari dari buku “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (II/275-278).

Leave a Comment