Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 171 : BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-14)

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 171

BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-14)

Dzikir pagi dan petang amat beragam bacaannya. Antara lain:

BACAAN KEEMPATBELAS:

Membaca wirid “A’ûdzu bikalimâtillâhit tâmmâti min syarri mâ kholaq” setiap pagi tiga kali dan setiap petang tiga kali.

Dalil Landasan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا لَقِيتُ مِنْ عَقْرَبٍ لَدَغَتْنِي الْبَارِحَةَ، قَالَ: ” أَمَا لَوْ قُلْتَ حِينَ أَمْسَيْتَ: (أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ)؛ لَمْ تَضُرَّكَ

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bertutur, “Seseorang datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, semalam aku tersengat kalajengking”. Beliau bersabda, “Sekiranya saat sore hari engkau membaca ‘A’ûdzu bikalimâtillâhit tâmmâti min syarri mâ kholaq (Aku memohon perlindungan dengan kalimat-kalimat Allah dari kejahatan apa yang diciptakan-Nya)’; niscaya sengatan itu tidak akan membahayakanmu”. HR. Muslim.

Di dalam riwayat lain termaktub tambahan,

فَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ لَمْ تَضُرَّهُ

Barang siapa yang membacanya di sore dan pagi hari; niscaya sengatan itu tidak akan membahayakannya”. HR. Abu Ya’lâ dan isnadnya dinilai sahih oleh Husain Salîm Asad.

Adapun mengenai jumlah tiga kali pembacaannya, disebutkan dalam riwayat berikut,

مَنْ قَالَ حِينَ يُمْسِي ثَلاَثَ مَرَّاتٍ: (أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ)؛ لَمْ يَضُرَّهُ حُمَةٌ تِلْكَ اللَّيْلَةَ.

Barang siapa yang membaca di sore hari tiga kali: ‘A’ûdzu bikalimâtillâhit tâmmâti min syarri mâ kholaq’; niscaya sengatan berbisa malam itu tidak akan membahayakannya”. Suhail; salah satu perawi hadits ini bercerita, “Keluarga kami mempelajari bacaan ini lalu mengamalkannya setiap malam. Suatu saat salah satu putri kami tersengat binatang berbisa, ternyata ia sama sekali tidak merasa efek sakit sama sekali”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh al-Hakim.

Renungan Kandungan

Dzikir di atas menjelaskan tentang pentingnya memohon perlindungan kepada Allah dalam keseharian kita. Sebab di alam semesta ini banyak makhluk-makhluk yang berpotensi untuk mencelakai kita.

Jika masyarakat jahiliyah terbiasa mencari perlindungan dari jin, jimat dan tempat wingit, maka Islam datang memberikan alternatif yang jauh lebih baik dari itu. Yaitu memohon perlindungan kepada Rabbul alamin, Penguasa jagat raya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Yang di Tangan-Nya lah kendali segala sesuatu.

“Kalimat-kalimat Allah” yang disebutkan dalam dzikir ini maksudnya adalah ayat-ayat al-Qur’an. Ada juga yang berpendapat bahwa maksudnya adalah takdir Allah. Semua ini maha sempurna, tidak ada cela atau kekurangannya sedikitpun. Sehingga layak untuk dijadikan sebagai tujuan berlindung.

Kita memohon perlindungan dari apa? Dari potensi kejahatan yang ada dalam diri makhluk-makhluk Allah, siapapun dan apapun itu. Manusia, jin, binatang, angin, petir dan segala jenis malapetaka di dunia maupun di akhirat. 1

✍️ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 22 Sya’ban 1442 / 5 April 2021

1 Lihat: Taysîr al-‘Azîz al-Hamîd, karya Syaikh Sulaiman bin Abdullah (hal. 178-179).