Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 177 : Bacaan Dzikir Pagi (bagian-5)

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 177
Bacaan Dzikir Pagi (bagian-5)

Pada pertemuan sebelumnya, kita telah memulai pembahasan tentang bacaan yang khusus dibaca saat dzikir pagi. Ini kelanjutannya:

BACAAN KELIMA:

Membaca wirid berikut di pagi hari sebanyak tiga kali:
“سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ”

“Maha suci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya; sejumlah makhluk ciptaan-Nya, sebesar keridhaan-Nya, seberat bobot Arsy-Nya dan sebanyak tinta (yang menulis) kalimat-Nya”.

Dalil Landasan

Ummul Mukminin Juwairiyyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan, bahwa suatu pagi Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumah setelah shalat Shubuh, dalam keadaan Juwairiyyah sedang berdzikir di tempat shalatnya. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam baru kembali saat waktu Dhuha. Ternyata saat itu Juwairiyyah masih duduk berdzikir. Beliau bertanya, “Apakah engkau tetap dalam posisimu semenjak kutinggalkan tadi?”, “Ya” jawabnya. Beliau bersabda, “Sungguh, tadi aku telah mengucapkan empat kalimat sebanyak tiga kali. Jika itu ditimbang; niscaya akan sepadan atau lebih berat dibanding dzikir yang engkau ucapkan sejak tadi”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan wirid di atas. (HR. Muslim: No. 2726).

Renungan Kandungan

Mengapa dzikir yang pendek ini dan waktu yang dibutuhkan untuk mengucapkannya tidak sampai semenit; bisa mengalahkan dzikir panjang yang diucapkan selama berjam-jam? Jawabannya: karena dahsyatnya kandungan makna yang ada di dalamnya.

Wirid ini mengajarkan kita untuk menggabungkan antara tasbih dan tahmid. Sebagaimana yang telah dipelajari pada Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 45, bahwa kalimat tasbih bermakna: menjauhkan segala kekurangan dari dzat Allah. Serta mensucikan-Nya dari sifat dan perbuatan buruk yang tidak layak. Adapun tahmid, juga telah dibahas pada Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 58. Maknanya adalah: memuji Allah ta’ala dengan menyebutkan sifat-sifat-Nya yang agung dan mengingat nikmat-nikmat-Nya yang tak terhingga. Adapun pembahasan baru dalam Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 177 kali ini adalah:

  1. Sejumlah Makhluk Allah

Karena keagungan-Nya, Allah ta’ala berhak untuk disucikan dan dipuji sebanyak makhluk yang diciptakan-Nya. Berhubung jumlah makhluk-Nya tak terbatas; maka berarti pujian yang layak didapatkan Allah juga tak terbatas. Sehingga tambahlah kuantitas dzikir kita sebanyak-banyaknya.

  1. Sebesar Keridhaan Allah

Ridha Allah tentu tidak ada batasannya. Kebaikan dan karunia-Nya—yang merupakan manifestasi dari ridha-Nya—saja tak terhitung, apalagi ridha-Nya. Maka mari selalu meningkatkan kualitas dzikir kita. Tidak sekedar diucapkan di lisan. Namun dipahami kandungannya dan direnungi maknanya.

  1. Seberat Arsy Allah

Arsy adalah makhluk Allah yang paling berat bobotnya. Jika ada makhuk lain yang lebih berat, niscaya akan disebutkan di sini. Perpaduan antara kuantitas dengan kualitas yang tinggi; akan menghasilkan dzikir yang memiliki bobot berat di timbangan amal insyaAllah.

  1. Sebanyak Tinta Kalimat Allah

Kalimat Allah tidak ada habisnya. (Baca: QS. Al-Kahfi/18: 109 dan Luqman/31: 27). Maka seharusnya dzikir yang kita ucapkan juga demikian. Tidak ada habisnya dan tidak ada masa pensiunnya. Kecuali setelah kita dijemput ajal.

✍️ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Rabi’uts Tsani 1443 / 8 November 2021