Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 184 Dzikir Dan Doa Sebelum Tidur Bagian-3

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 184
Dzikir Dan Doa Sebelum Tidur Bagian-3

Pada pertemuan sebelumnya, kita telah mulai mengkaji bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:

BACAAN KETIGA:

Membaca Surat al-Isra’ sebanyak satu kali. Surat ini adalah urutan nomor 17 di dalam mushaf al-Qur’an. Jumlah ayatnya sebanyak 111 ayat. Terletak di juz 15.

Dalil Landasan

Ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan,
“كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَالزُّمَرَ”
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak tidur (malam) hingga membaca “Bani Israil” (Surat al-Isra) dan surat az-Zumar”. HR. Tirmidziy (No. 2920) dan dinilai sahih oleh Ibn Khuzaimah (No. 1163) serta al-Albaniy.

Renungan Kandungan

Kandungan global surat ini ada tiga poin:

Pertama: Pendahuluan (Ayat 1-8)

Surat ini diawali dengan penjelasan mengenai salah satu keutamaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di mana beliau mengalami kejadian perjalanan Isra’ dari Masjidil Haram di Mekah menuju ke Masjidil Aqsha di Palestina hanya dalam semalam.

Di mukadimah ini juga dijelaskan tentang perilaku Bani Israil yang membuat kerusakan sebanyak dua kali di bumi yang mereka tinggali, yaitu di Baitul Maqdis dan sekitarnya. Mereka akan berkuasa dengan penuh kezaliman dan penindasan. Di masa lalu mereka membunuh para nabi, kemudian berlanjut setelah diutusnya Nabi terakhir yang membawa agama Islam.

Kedua: Penjelasan mengenai sikap kaum musyrikin Mekah terhadap diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan al-Qur’an (Ayat 9-98)
Poin kedua ini diawali dengan penjelasan bahwa al-Qur’an itu jika diikuti akan mengantarkan kepada jalan yang lurus. Juga memberikan kabar gembira berupa pahala yang besar untuk kaum mukminin yang gemar beramal salih.

Allah juga menjelaskan jalan kejayaan, siapapun menitinya maka ia akan memperoleh kemenangan atas musuh-musuh mereka. Yaitu: tauhid, alias memurnikan ibadah hanya untuk Allah saja. Lalu berbakti kepada orang tua, berbuat baik kepada kerabat, anak yatim dan musafir.

Lalu Allah menerangkan sikap kaum musyrikin Mekah terhadap al-Qur’an dan prinsip keimanan terhadap akhirat. Sikap mereka adalah menolak untuk mengimani al-Qur’an, serta selalu berupaya menebarkan keraguan tentang adanya hari kebangkitan.

Ketiga: Penutup (ayat 99-111)

Di penghujung surat mulia ini ditegaskan kembali tentang prinsip akidah tauhid. Siapapun yang berpegang teguh dengannya niscaya akan dikaruniai kejayaan dan kemenangan atas para musuh. Lalu disampaikan motivasi untuk senantiasa menegakkan shalat.

✍️ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Sya’ban 1443 / 7 Maret 2022