Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 186: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-5

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 186
DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-5

Pada pertemuan lalu, kita telah mulai mengkaji bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:

BACAAN KELIMA:

Membaca Surat aZ-Zumar sebanyak satu kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 39. Terletak di juz 23. Jumlah ayatnya sebanyak 75 ayat.

Dalil Landasan

Ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan,

“كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَالزُّمَرَ”

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak tidur (malam) hingga membaca “Bani Israil” (Surat al-Isra) dan surat az-Zumar”. HR. Tirmidziy (No. 2920) dan dinilai sahih oleh Ibn Khuzaimah (No. 1163) serta al-Albaniy.

Renungan Kandungan

Kandungan global surat ini terdiri dari tiga poin:

Pertama: Pendahuluan (Ayat 1-7)

Surat mulia ini dibuka dengan menyebutkan karunia diturunkannya al-Qur’an kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kitab yang berisikan perintah untuk menegakkan tauhid dan kebajikan lainnya. Namun kaum musyrikin justru kufur dan mendustakan ajaran mulia tersebut.

Kedua: Penjelasan mengenai perbedaan antara kaum mukminin dengan orang-orang kafir (Ayat 8-66)

Ada delapan perbedaan yang dipaparkan di sini:

1. Orang kafir jauh dari ilmu agama, sehingga terbiasa mengingkari nikmat Allah. Sedangkan orang yang beriman selalu mendalami ilmu agama, sehingga tekun beribadah kepada Allah.

2. Orang kafir tenggelam dalam kesyirikan. Adapun orang yang beriman selalu berupaya mentauhidkan Allah, dengan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya.

3. Orang kafir hatinya keras dan sulit menerima nasehat. Sedangkan orang yang beriman mudah menerima nasehat, pesan-pesan keagamaan dan ayat-ayat al-Qur’an; sebab hatinya lembut.

4. Orang kafir gagal fokus karena menyembah banyak tuhan. Adapun orang yang beriman senantiasa fokus dalam beribadah, sebab hanya menyembah satu Tuhan saja.

5. Orang kafir terbiasa mendustakan ayat-ayat Allah dan kebenaran yang datang dari-Nya. Sedangkan orang yang beriman selalu mempercayai kebenaran dari Allah.

6. Orang kafir mencari pertolongan dan bantuan dari makhluk yang tidak memiliki apapun dan tidak berkuasa atas apapun. Adapun orang yang beriman ia hanya meminta pertolongan kepada Allah saja, sebab seluruh alam semesta adalah milik-Nya dan di bawah kendali-Nya.

7. Orang kafir menyia-nyiakan kesempatan umur yang diberikan Allah, sehingga kelak di akhirat ia bakal menyesali perilakunya tersebut. Sedangkan orang yang beriman, ia senantiasa berusaha memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk memperbaiki diri.

8. Orang kafir identik dengan kejahilan, sebab menyembah selain Allah. Adapun orang yang beriman cerdas karena hanya menyembah Allah saja.

Ketiga: Penutup (Ayat 67-75)

Di penghujung surat mulia ini dipaparkan balasan yang didapatkan oleh orang kafir dan orang yang beriman di akhirat. Kelak orang kafir akan digiring ke neraka dalam keadaan hina-dina. Sedangkan orang yang beriman akan diarak menuju surga dalam keadaan terhormat dan penuh kemuliaan.

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Ramadhan 1443 / 18 April 2022

Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Dalâlah Asmâ’ as-Suwar al-Qur’âniyyah ‘alâ Mahâwiriha, karya Dr. Umar Ali Arafat (hal. 394-401).

Artikel: tunasilmu.com