Serial Fiqih Doa dan Dzikir No – 192: Dzikir Dan Doa Sebelum Tidur Bagian-11

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 192
Dzikir Dan Doa Sebelum Tidur Bagian-11

Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:

BACAAN KESEBELAS:

Membaca doa berikut ini sekali:
«بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا»
“Bismika Allâhumma amûtu wa ahyâ”.

Dalil Landasan

Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ’anhu menuturkan,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ: «بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا»

“Biasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila hendak tidur beliau membaca: “Bismika Allâhumma amûtu wa ahyâ” (Dengan menyebut nama-Mu aku mati dan aku hidup)”. HR. Bukhari.

Renungan Kandungan

Doa di atas walaupun redaksinya simpel, namun kandungannya sangat dalam. Diawali dengan basmalah. Tujuan dari menyebut nama Allah di sini adalah: untuk memohon pertolongan dan perlindungan dari Allah. Karena tanpa pertolongan Allah, tidak mungkin kita mampu melakukan aktivitas apapun, termasuk tidur. Bukankah banyak orang yang mengalami insomnia alias susah tidur atau tidur tidak nyenyak? Doa di atas mengingatkan kita bahwa tanpa bantuan Allah, manusia tidak bisa tidur. Karena itulah kita memohon kepada Allah pertolongan agar bisa tidur dengan nyaman, berkualitas serta bermanfaat. Hal lain yang kita minta dari Allah adalah perlindungan. Sebab orang yang sedang tidur, dia tidak sadar. Dalam kondisi seperti itu makhluk-makhluk jahat memiliki peluang untuk mencelakainya. Maka satu-satunya benteng perlindungan terkuat adalah perlindungan dari Allah ta’ala.

Sesudah mengawali doa dengan menyebut nama Allah, kita menyatakan bahwa mati dan hidup di tangan Allah. Sehingga sudah seharusnya hidup ini diisi dengan dzikir dan mengingat-Nya. Sebab kita selalu membutuhkan Allah dalam segala kondisi. Tidak sepantasnya seorang muslim lalai dari mengingat-Nya, walau hanya sekejap mata. Siapapun yang konsisten mengingat Allah dalam hari-hari kehidupannya, ia berpeluang besar mengakhiri hidupnya juga dengan menyebut nama-Nya.

Alias meninggal dalam keadaan husnul khatimah.

Sangat menarik untuk direnungkan, mengapa aktivitas tidur dikaitkan dengan kematian. Sebab ada kemiripan antara keduanya. Dalam dua kondisi ini—yakni tidur dan kematian—manusia tidak menyadari kejadian-kejadian yang ada di dekatnya. Persamaan lainnya adalah: tidur diakhiri dengan bangun setelah beberapa jam terlelap. Sedangkan kematian diakhiri dengan kebangkitan kelak di hari kiamat sesudah sekian lama tinggal di alam kubur.

Merenungi nikmat tidur dan realita adanya kematian, menumbuhkan dalam hati kita keyakinan tentang keagungan Allah ta’ala. Sungguh besar kemampuan-Nya untuk menidurkan dan membangunkan milyaran makhluk-Nya setiap saat, juga kuasa-Nya untuk menghidupkan dan mematikan mereka. Fakta ini membuat kita semakin yakin bahwa satu-satunya yang layak untuk disembah adalah Allah. Sebab Dialah Dzat Yang Maha Kuasa, Maha Hidup Yang tidak pernah mengantuk, tidur apalagi mati, dan Maha Kekal Yang kehidupan-Nya tidak akan berakhir.

Wajarlah bila Allah menyatakan bahwa tidur adalah salah satu tanda kekuasaan-Nya;
“وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ”

Artinya: “Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah tidurnya kalian di malam dan siang hari, juga upaya kalian untuk mengais karunia-Nya. Sungguh di dalam itu semua terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya, bagi kaum yang mendengar”. QS. Ar-Rum (30): 23.

✍️ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Shafar 1444 / 12 September 2022