Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 194 – Dzikir Dan Doa Sebelum Tidur Bagian-13

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 194
Dzikir Dan Doa Sebelum Tidur Bagian-13

Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:

BACAAN KETIGABELAS:

Membaca doa berikut ini sekali:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا، وَكَفَانَا وَآوَانَا، فَكَمْ مِمَّنْ لَا كَافِيَ لَهُ وَلَا مُؤْوِيَ
“Alhamdulillaahil ladzii ath’amanaa wa saqoonaa, wa kafaanaa wa aawaanaa. Fa kam mimman laa kaafiya lahu, wa laa mu’wiy”.

Dalil Landasan

Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu menuturkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bila akan tidur, beliau biasa membaca doa berikut: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, serta melindungi, mencukupi dan mengaruniakan kepada kami tempat tinggal. Betapa banyak orang yang tak berkecukupan dan tidak memiliki tempat tinggal”. HR. Muslim (no. 2715).

Renungan Kandungan

Barangkali banyak di antara kita belum familiar dengan doa ini. Padahal sejatinya termaktub dalam kitab Shahih Muslim. Realita ini memotivasi kita untuk selalu terus belajar dan mendalami ilmu agama.

Simpelnya redaksi doa di atas tidak mengurangi kedalaman kandungan maknanya. Inti doa ini adalah ajakan untuk merenungi limpahan nikmat-nikmat Allah yang tak terhingga. Sehingga kita tergerak untuk mensyukurinya. Karena banyak orang menderita kegelisahan hidup, bukan sebab sedikitnya nikmat yang diterimanya. Namun akibat mereka kurang mensyukuri nikmat-nikmat tersebut.

Doa ini dibuka dengan hamdalah, atau pujian kepada Allah ta’ala. Karena Dialah Yang telah mencurahkan begitu banyak nikmat kepada para hamba-Nya. Di antara nikmat tersebut adalah: makanan, minuman, kecukupan, perlindungan dan tempat tinggal.
Sebelum memejamkan mata di malam hari, kita diajak untuk merenungi karunia Allah yang telah kita nikmati hari ini. Bisa sarapan pagi, makan siang dan makan malam, dengan berbagai macam menu makanan juga minuman. Di saat banyak orang hanya bisa makan sekali dalam sehari semalam. Bahkan ada yang terpaksa berpuasa, sebab tidak memiliki apapun untuk dimakan.

Lalu kita merenungi nikmat kecukupan. Banyak orang mengeluhkan kekurangan hidupnya. Padahal jika dicermati, bisa jadi itu gara-gara mereka tidak bisa memilah antara kebutuhan dan keinginan. Tidak bisa membedakan antara hidup dengan gaya hidup. Biasanya orang seperti ini adalah korban iklan produk dan promo dagangan yang setiap saat muncul di HP. Kepengin beli ini dan itu, padahal bukan kebutuhan primer.

Selanjutnya kita diajak untuk merenungi nikmat perlindungan. Banyak orang tidak menyadari betapa mahalnya nikmat ini. Tubuh kita masih utuh, istri dan anak kita tidak berkurang, barang-barang milik kita tidak hilang. Ini semua adalah karena perlindungan dari Allah ta’ala. Lihatlah orang yang kecelakaan, hingga anggota tubuhnya berkurang. Atau rumahnya ambruk akibat gempa, hingga kehilangan istri dan anaknya. Atau kebakaran, hingga harta bendanya ludes. Adapun kita, bisa melewati hari ini tanpa kurang suatu apapun. Bukankah ini adalah nikmat tiada tara?

Nikmat berikutnya adalah rumah. Memiliki tempat bernaung—sekalipun ngontrak—adalah nikmat yang kerap terlupakan. Biasanya itu terjadi gara-gara terlalu fokus dengan kekurangan. Mengeluhkan sempitnya rumah, genteng bocor, gas habis, daun pintu-jendela lapuk, pulsa listrik hampir habis dan yang semisal dengan itu. Sebenarnya tidak masalah memikirkan itu semua, guna mencari solusi perbaikan. Namun yang keliru adalah terlalu fokus dengan hal-hal tadi, hingga melupakan bahwa di sana-sini masih banyak orang tak punya tempat tinggal. Dikhawatirkan perilaku itu adalah bentuk kufur nikmat. Boro-boro memikirkan genteng bocor, berhasil mendapatkan emperan toko yang tak terkena tampiasan air hujan saja, sudah merupakan keberuntungan bagi mereka. Boro-boro memikirkan gas yang habis, bisa menemukan remah-remah sisa makanan di tong sampah saja, sudah membuat mereka senang. “Nikmat Allah yang mana lagi, yang akan kau ingkari”. (QS. Ar-Rahman/55 : 13).

✍️ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Rabi’ul Awwal 1444 / 17 Oktober 2022