Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 – DOA KELUAR TOILET

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208
DOA KELUAR TOILET

Di serial sebelumnya telah dibahas doa masuk toilet. Untuk melengkapinya, di serial kali ini, kita akan membahas doa keluar toilet. Yaitu mengucapkan bacaan berikut satu kali:

غُفْرَانَكَ

Ghufrônaka”

Dalil Landasan

Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ ‌مِنَ ‌الْخَلَاءِ، ‌قَالَ: «‌غُفْرَانَكَ».

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari tempat buang hajat, beliau mengucapkan, “Ghufônaka” (Ya Allah ampunilah aku)”. HR. Tirmidziy (no. 7) dan beliau berkata, “Hasan gharib”. Ibn Hibban, al-Hakim, adz-Dzhabiy dan al-Albaniy menyatakan hadits ini sahih.

Renungan Kandungan

Bila kita cermati, inti kandungan doa di atas adalah permohonan ampun. Atau yang lazim diistilahkan dengan istighfar. Selama ini yang kita ketahui, istighfar adalah bacaan yang biasanya diucapkan saat kita melakukan kesalahan, dosa dan maksiat. Pertanyaannya: mengapa kita disunnahkan membaca istighfar setelah buang hajat? Bukankah buang hajat itu bukan merupakan kesalahan?

Al-Mubârakfûriy rahimahullah memberi beberapa jawaban atas pertanyaan tadi. Salah satu jawaban terbaiknya adalah: kita meminta ampun kepada Allah; karena belum maksimal bersyukur kepada-Nya. Aktivitas buang hajat sejatinya mengingatkan tentang banyaknya nikmat Allah yang belum kita syukuri.

Makanya dalam sebuah hadits—yang masih diperselisihkan keabsahannya—disebutkan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْخَلَاءِ، قَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ ‌الَّذِي ‌أَذْهَبَ ‌عَنِّي الْأَذَى وَعَافَانِي»

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila keluar dari tempat buang hajat beliau membaca: “Alhamdulillâhil ladzî adzhaba ‘annil adzâ wa ‘âfânî (Segala puji bagi Allah Yang telah menghilangkan dariku kotoran dan telah menyehatkanku)”. HR. Ibn Majah (no. 301). Hadits ini menurut Ibn Hajar al-‘Asqlaniy hasan. As-Suyuthiy memberi kode sahih. Adapun ad-Dâraquthniy, al-Bûshîriy, an-Nawawiy, al-Mundziriy dan al-Albaniy; mereka semua menilai hadits ini lemah.

Di antara nikmat Allah yang kerap belum kita syukuri secara maksimal adalah:

  • Nikmat kemudahan mendapatkan makanan
  • Nikmat kemudahan mengambil manfaat dari makanan
  • Nikmat kemudahan mengeluarkan sisa makanan dari tubuh

Untuk mendapatkan makanan dan minuman, Allah ta’ala telah menyediakan begitu banyak sumber makanan di sekitar kita. Sumber karbohidrat, sumber protein hewani maupun nabati, buah-buahan, sayur-sayuran, air dan lain-lain. Kita juga dibekali oleh Allah akal untuk mengolah makanan dan minuman tersebut sesuai dengan kebutuhan dan selera kita.

Guna memudahkan tubuh mengambil manfaat dari makanan, Allah membuat berbagai macam sistem dalam tubuh. Diawali dengan sistem pengunyahan oleh mulut. Yang tujuannya untuk melembabkan makanan sehingga mudah ditelan, juga agar tercampur dengan enzim liur guna memecah kandungan pati serta gula. Lalu makanan itu melewati kerongkongan dan masuk ke lambung. Asam dan enzim lambung bekerjasama dengan otot-otot lambung untuk mengolah makanan tersebut. Kemudian makanan yang telah halus tadi berjalan melalui usus kecil; guna diserap zat gizinya ke dalam aliran darah.

Setelah itu, ampas sisanya tiba di usus besar. Lalu dipilah-pilah; ampas cairnya dibuang melalui jalur pembuangan depan dan ampas padatnya dibuang melalui jalur belakang. Sistem terakhir inilah yang kita istilahkan dengan buang air kecil dan buang air besar.

✍️ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Jumadal Ula 1445 / 4 Desember 2023

Buku Pintar Hidup Sehat, The Doctor (hal. 105-108).