Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7

Berdoa

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 188

DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7

Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:

BACAAN KETUJUH:

Membaca Surat al-Kafirun sebanyak satu kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 109. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 6 ayat.

Dalil Landasan

عَنْ فَرْوَةَ بْنِ نَوْفَلٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِنَوْفَلٍ: “اقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنْ الشِّرْكِ”.

Dari Farwah bin Naufal, dari ayahnya, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda kepada Naufal, “Bacalah “Qul yâ ayyuhal kâfirûn” (Surat al-Kafirun). Lalu tidurlah sesudah engkau selesai membacanya. Sungguh itu adalah bentuk berlepas diri dari kesyirikan”. HR. Abu Dawud (no. 5055). Isnâd hadits ini dinilai sahih oleh al-Hâkim (No. 2121) dan Ibn Hajar.

Renungan Kandungan

Tema umum surat mulia ini adalah: pemaparan prinsip barâ’ah (penolakan, berlepas diri) dari kekufuran dan para penganutnya. Serta penegasan akan tamâyuz (diferensiasi, pembedaan) total antara Islam dengan kesyirikan.

Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma menerangkan, “Di dalam al-Qur’an tidak ada yang lebih menjengkelkan dan dibenci Iblis, dibanding surat al-Kafirun. Karena isinya adalah tauhid dan penolakan terhadap syirik”.

Ayat-ayat surat al-Kafirun datang untuk mempertegas tema umum surat mulia ini. Karena tema tersebut sangat urgen dan prinsipil, maka didukunglah dengan berbagai penegasan berikut:

Penegasan pertama: Di ayat ke-1, Allah ta’ala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memanggil orang-orang kafir dengan panggilan “Yâ ayyuhal kâfirûn” (Wahai orang-orang kafir). Padahal Al-Qur’an tidak biasa memanggil mereka dengan cara yang ‘blak-blakan’ semacam ini. Yang lebih umum digunakan dalam Al-Qur’an adalah khitâb (sapaan) semacam “Yâ ayyuhan nâs” (Wahai sekalian manusia) dan semisalnya.

Penegasan kedua: Pada ayat ke-2 لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ dan ke-4 وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyatakan secara tegas, jelas dan terbuka kepada mereka—dan tentu sekaligus kepada setiap orang kafir sepanjang masa—bahwa beliau (begitu pula ummatnya) sama sekali tidak akan pernah (baca: tidak dibenarkan sama sekali) menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir.

Penegasan ketiga: Di ayat ke-3 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ dan ke-5 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ Allah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegaskan juga dengan jelas dan terbuka bahwa, orang-orang kafir pada hakikatnya tidak akan pernah benar-benar menyembah-Nya. Di mana hal ini bisa pula kita pahami sebagai larangan atas orang kafir untuk ikut-ikutan melakukan praktek peribadatan kepada Allah, sementara mereka masih berada dalam kekafirannya. Mereka baru boleh melakukan berbagai praktek peribadatan tersebut jika mereka sudah masuk ke dalam agama Islam.

Sebab tidak ada manfaatnya untuk mereka, ikut-ikutan menjalankan praktek peribadatan Islam, selama mereka belum memegang kunci masuk Islam, yakni syahadat.

Penegasan keempat: Allah lebih menegaskan hal kedua dan ketiga di atas dengan melakukan pengulangan ayat. Di mana kandungan makna ayat ke-2 لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ diulang dalam ayat ke-4 وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ dengan sedikit perubahan redaksi nash. Sedang ayat ke-3 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ diulang dalam ayat ke-5 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ dengan redaksi nash yang sama persis.

Adanya pengulangan ini merupakan peniadaan atas realitas, sekaligus larangan yang bersifat total dan menyeluruh; yang mencakup semua waktu; yang lalu, kini, yang akan datang dan selamanya. Serta mencakup seluruh bentuk dan macam peribadatan.

Penegasan kelima: Allah memungkasi dan menyempurnakan semua hal di atas dengan penegasan terakhir dalam firman-Nya: ’Lakum diinukum wa liya diin’ (Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku). Di mana kalimat penutup yang singkat ini memberikan sebuah penegasan sikap atas tidak bolehnya pencampuran antara agama Islam dan agama lainnya. Jika Islam ya Islam tanpa boleh dicampur dengan unsur-unsur agama lainnya. Demikian pula sebaliknya. Ayat ini juga memupus harapan orang-orang kafir yang menginginkan kita untuk mengikuti dan terlibat dalam peribadatan-peribadatan mereka.

Pluralitas Yes, Pluralisme No

Pluralisme agama adalah: suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.

Istilah yang mirip dengan “pluralisme agama” namun berbeda maknanya adalah “pluralitas agama”. Term kedua ini bermakna: sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.

Islam adalah agama yang sejak awal mengakui keberagaman. Salah satu aplikasi nyatanya adalah konsep “tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam”. Karena itu, kaum Muslim dilarang keras memaksa orang lain memeluk Islam, meskipun kaum Muslim diwajibkan menyampaikan dakwah Islam. Bahkan, kaum Muslim diwajibkan menghormati dan berbuat baik kepada orang tuanya yang belum masuk Islam. Sejarah Islam membuktikan bagaimana tingginya sikap toleran kaum Muslim terhadap pemeluk agama lain.

Namun, dalam konsepsi Islam adalah mustahil untuk menyatakan bahwa semua agama, paham, atau isme adalah benar dan jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan. Sebab faktanya, begitu banyak agama yang jelas-jelas salah dalam pandangan Islam. Maka, ada perbedaan mendasar antara mengakui “adanya keberagaman agama” dengan “mengakui kebenaran semua agama”. Yang pertama bisa dikatakan sebagai mengakui Pluralitas Agama, sedangkan yang kedua adalah mengakui Pluralitas Agama. Islam mengakui adanya perbedaan dan keberagaman, tetapi jelas tidak mengakui bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah dan benar menuju Tuhan yang satu.

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Dzulqa’dah 1443 / 27 Juni 2022